
.
.
.
Didalam mobil...
"Apakah kekacauan ini ulah kalian?" tanya Diva.
Si kembar terdiam lalu saling pandang satu sama lain.
"Iya Mom, itu rencana kami...!" Ray.
"Sayang jangan ter...." Darmendra belum selesai ngomong sudah dipotong oleh Diva.
"Mas...!" Diva.
Gleek... Darmendra menelan silivanya yang terasa tercekat. nada bicaranya terdengar lembut tapi membuat ayah tujuh anak itu tidak berkutik.
"Sekarang jelaskan, mengapa kalian melakukan hal seperti itu?" tanya Diva.
"Mommy kami minta maaf, kami melakukan itu ada sebabnya." Ram.
"Tapi Mom, mereka menjadi hantu untuk menakut-nakuti orang." Roy.
"Itu memang pekerjaan mereka, sayang. bagaimana mana kalau mereka kehilangan pekerjaan gara gara ulah kalian? bagaimana kalau mereka itu tulang punggung keluarga?" tanya Diva beruntun.
"Justru itu Mom, semua sudah kami selidiki. Mommy tau, mereka cuma dibayar 20 ribu permalamnya. keluarga mereka ramai, anak anak mereka masih kecil apa itu cukup Mom?" Rakha.
"Terus kalian buat onar, apa kalian tidak berpikir sebelum bertindak?" Diva.
"Semua sudah kami pikirkan secara matang Mom," jawab Ray seperti orang dewasa saja.
Darmendra hanya diam dan tidak berani lagi untuk bersuara. Lebih baik cari aman saja ia hanya fokus mengemudi.
"Sudahlah lebih baik kita bahas di mansion." Diva.
Mobil pun melaju dengan kecepatan diatas rata rata. sehingga mereka cepat sampai di mansion. Pintu gerbang terbuka otomatis, pengawal yang bekerja menjaga pintu gerbang hanya untuk menjaga keamanan saja. mobil pun terparkir sempurna di bagasi.
Si kembar lebih dulu keluar dari mobil dan masuk kedalam mansion, kebetulan pintu tidak terkunci. Si kembar langsung kekamar masing-masing karena malam sudah larut, sudah menunjukkan pukul 23:00 WIB.
"Sayang, si kembar takut kamu marah." Darmendra.
"Aku tidak marah hubby, aku cuma menegur mereka." Diva tidak sadar dengan panggilannya berubah, Darmendra yang mendengarnya seketika hatinya berbunga bunga.
"Sayang, kamu memanggil apa tadi?" tanya Darmendra.
"Apa? yang mana?" Diva malah balik bertanya.
"Yang tadi, kamu memanggil aku." Darmendra.
"Mas..?" Darmendra menggeleng.
__ADS_1
"Habis apa dong?" tanya Diva.
"Coba kamu ingat ingat, sayang." Darmendra.
Diva mencoba mengingat ingat, tapi hasilnya tetap nihil tidak ingat sama sekali.
Kini mereka sudah berada didalam kamar, Diva masuk kekamar mandi mencuci muka dan gosok gigi, sebelum tidur memang itu rutinitas yang ia lakukan. berbeda dengan Darmendra, kalau tidak mandi maka ia akan gelisah tidurnya. Darmendra keluar dari kamar mandi, dilihatnya Diva sudah tertidur, Darmendra tersenyum.
"Tidur aja cantik," gumam Darmendra, lalu ia pun berbaring disamping Diva dan masuk dalam selimut yang sama.
Darmendra memeluk istrinya setelah itu ia juga menyusul kealam mimpi.
Pagi pun menjelang, matahari sudah menampakkan sinarnya, hari ini mereka belum masuk kerja, karena masih cuti. Diva masuk kekamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. setelah itu ia keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju dapur, sesampainya didapur ternyata sudah ada si kembar duduk dikursi meja makan.
"Ehh, kalian sudah bangun?" tanya Diva.
"Sudah Mom, bahkan kami sudah mandi." Ram.
"Kalian kan masih libur?" Diva.
"Gak apa apa Mom, membiasakan diri untuk bangun lebih awal." Ren.
"Iya Mommy dan Daddy pun masih cuti, jadi gak kekantor." Diva.
Saat mereka asik ngobrol, datang Vera bersama Jordan.
"Kalian kok sudah bangun?" tanya Vera.
"Iya Oma, kami sengaja bangun awal." Roy.
"Kita tadi habis joging keliling mansion Opa, setelah itu kami mandi." Ram.
"Bagaimana mana semalam? menyenangkan?" tanya Vera.
"Mereka membuat keributan Mom, hingga pengunjung disana dibuat heboh." Diva.
"Benarkah? apa yang mereka lakukan?" tanya Vera.
"Nanti saja kita bahas, kalian belum menjelaskan alasan kalian membuat keributan dirumah hantu." Diva.
"Rumah hantu....?" tanya Vera dan Jordan serentak.
"Issh, Oma, Opa biasa aja kali, jangan pura-pura terkejut gitu." Ram.
Darmendra datang menghampiri mereka dan duduk dikursi yang sudah disediakan.
"Masih membahas perihal semalam?" tanya Darmendra.
"Aku belum puas mas kalau belum mendengar alasan mereka membuat keributan, biasanya mereka tidak pernah seperti itu." Diva.
"Sudahlah sayang, apapun alasannya pasti mereka punya tujuan baik." Darmendra.
"Sudah, sudah lebih baik kita sarapan dulu, baru kita bahas tentang itu nanti setelah sarapan." Jordan.
__ADS_1
Mereka pun sarapan bersama tanpa ada yang berbicara lagi. Hingga mereka semua pun selesai sarapan, si kembar sudah siap untuk diinterogasi, kini mereka semua duduk diruang keluarga.
"Ray kamu anak yang pertama, coba ceritakan pada Mommy dengan sedetail mungkin." Diva.
"Sebenarnya ada teman di sekolah kami sakit setelah pergi kepasar malam itu, ia masuk kerumah hantu karena ketakutan ia jatuh sakit. coba Mommy bayangkan." Ray.
"Tapi itu memang tugas mereka untuk menakut-nakuti orang agar ia mendapat bayaran yang banyak." Diva.
"Setelah itu kami pun menyelidiki keluarga mereka yang bekerja ditempat itu. mereka semua orang susah, dan pekerjaan mereka hanya menjadi hantu." Ram.
"Kami membuat mereka ketakutan supaya mereka berhenti dari pekerjaan mereka." Roy.
"Lalu...?" tanya Diva.
"Kami akan memberikan mereka pekerjaan, dengan gaji yang lebih layak daripada menjadi hantu dengan gaji yang tidak seberapa, kalau orang mati karena jantungan mereka juga yang kena tuntut." Rakha.
"Kami akan memperkerjakan mereka sebagai cleaning servis di perusahaan kami," Raffa.
"Benar Mom, maka dengan cara itu kami bisa membantu mereka agar lebih baik," Rasya.
"Sekali lagi maafkan kami Mom, bila cara kami untuk membuat mereka berhenti bekerja itu salah," Ren.
Diva lalu memeluk si kembar secara bersamaan. Vera, Jordan dan Darmendra begitu terharu dengan sikap si kembar yang sangat peduli akan sesama. pelayan di mansion ini pun sampai meneteskan air mata mendengar alasan si kembar menolong orang, pelayan itu jadi teringat saat ia ditolong oleh majikannya, hingga kini ia terus mengabdikan dirinya pada keluarga ini. sekarang hidup keluarganya sudah jauh lebih baik. perlahan pelayan itu mengusap air matanya dan berlalu dari tempat ia menguping. sebenarnya bukan niatnya untuk menguping, hanya saja dia tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
"Sekarang bagaimana?" tanya Diva.
"Kami sudah menyuruh orang untuk menemuinya dan langsung memperkerjakan mereka, mereka semua ada 10 orang, dan rumah mereka hanya rumah petak ditempat yang kumuh. dan kami juga sudah menyediakan bus untuk antar jemput mereka ketempat kerja." Ram.
"Maafkan Mommy sudah berprasangka tidak baik kepada kalian." Diva.
"Tidak apa-apa Mom, kami ngerti kok Mommy tidak mau kami menjadi anak nakal, asal Mommy tau kami bukan lagi anak anak, sebentar lagi kami masuk SMP." Ram.
"Kalau diizinkan aku mau langsung ke universitas saja." Ray.
"Kalian masih kecil, beberapa hari lagi ulang tahun kalian yang ke 8, kalian mau dirayakan atau tidak?" tanya Diva.
"Kami akan merayakan dengan meriah Mom," Ren.
"Sesuai janji kami, setelah ketemu Daddy kami akan merayakan ulang tahun dengan meriah." Ram.
"Kami juga akan mengundang anak anak panti, anak anak jalanan dan teman sekolah kami." Roy.
"Kami akan berbagi kegembiraan bersama anak anak yang tidak mempunyai orang tua," Rakha.
"kami juga akan menghibur mereka, agar mereka lupa kesedihan yang pernah mereka rasakan," Raffa.
"Kami tau kesulitan mereka yang hidup di jalanan," Rasya.
"Kami merasakan apa yang mereka rasakan sewaktu kami jauh dari Daddy," Ray.
"Sebab itulah kami bertekad ingin selalu membantu orang yang susah, agar mereka tidak lagi merasakan kelaparan dimalam hari, kedinginan diwaktu hujan, kepanasan diwaktu siang." ucap si kembar serentak, seolah olah mereka sedang menghafal dialog.
.
__ADS_1
.
.