SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Merasa bangga


__ADS_3

.


.


.


Kurang lebih 30 menit sikembar kembali turun menemui Oma dan Opanya, sedangkan baby Angel sudah tertidur ditempat tidur bayi.


"Kalian memenangkan kompetisi itu?" tanya Jordan.


"Iya Opa, sebentar lagi kami akan berangkat ke London untuk kuliah disana," jawab Ram.


"Dan kami juga mengalahkan juara bertahan dari negara Jepang, Opa. Dan sekarang jadi juara dua dan juara tiga dimenangkan oleh negara China," jawab Roy.


"Opa merasa bangga dengan kalian, bisa mengalahkan mereka yang lebih pintar. Tapi Opa juga sedih harus berpisah dengan cucu cucu Opa yang tampan ini," ucap Jordan.


"Berapa lama kalian disana nanti?" tanya Vera.


"Delapan tahun Oma, gak lama kok," jawab Rakha santai.


"Delapan tahun? Kok kuliahnya lama sekali?" tanya Vera kaget.


"Langsung S3 Oma, dan dapat bimbingan langsung dari profesor Albert," jawab Ram.


"Wah, beruntung banget kalian, profesor Albert tidak sembarangan orang menerima pelajar yang dibimbing langsung olehnya, pasti kalian adalah orang terpilih," kata Jordan.


"Seperti apa profesor Albert itu?" tanya Ray.


"Kalian akan tahu sendiri nanti, yang pasti profesor Albert juga orang jenius di dunia, bahkan saat ia umur 7 tahun sudah masuk kuliah, dan dia dinobatkan mahasiswa termuda pada masanya. Tapi sekarang dia sudah tua, mungkin ia ingin mencari penerus untuk menggantikan posisinya." kata Jordan memberi gambaran sedikit tentang profesor Albert.


"Berarti profesor Albert orang yang hebat ya, Opa?" tanya Ren.


"Tentu saja, dan dia juga murid paling jenius pada masanya dulu," jawab Jordan.


"Tapi sekarang posisi itu direbut oleh kalian deh kayanya," kata Jordan lagi.


"Oma kok nangis?" tanya Ram sambil mengusap airmata Vera, Vera semakin menagis saja dengan perlakuan Ram seperti itu.


"Oma sedih, rasanya baru kemarin kami menemukan kalian, tapi kalian sudah mau pergi lagi meninggal Oma," jawab Vera.

__ADS_1


"Kita masih bisa berhubungan Oma, sekarang zaman sudah canggih, dimana pun berada sudah bisa bertatap muka," ucap Ram.


"Oma jangan sedih, kami hanya pergi untuk belajar, biar mendapat gelar sarjana bila perlu gelar profesor," kata Ram lagi.


Lalu sikembar memeluk Vera untuk menenangkan Oma nya.


"Oh ya Opa, mungkin trophy dan sertifikat akan sampai beberapa hari lagi ke mansion ini, dan uangnya sudah ditransfer melalui rekening milik kami," kata Roy.


"Oh ya, benarkah? berapa hadiah yang kalian dapatkan?" tanya Jordan antusias.


"1 juta dolar Opa, tapi uang itu akan kami sumbangkan kepada yang membutuhkan," jawab Ram.


"Opa semakin bangga dengan kalian, kalian tidak silau akan harta dan kekuasaan, kalian malah memikirkan orang lain yang tidak mampu," kata Jordan dengan senyum cerahnya.


"Tapi ada yang bilang kami bod*h Opa, sok baik dan sebagainya," ucap Ram lesu.


"Kalian tidak bod*h, kalian adalah sijenius sejati. Banyak orang pintar dan kaya tapi mereka tidak punya hati. sehingga memandang orang kasta bawah dengan sebelah mata dan bahkan menutup mata pura pura tidak melihatnya," ucap Jordan.


"Jadi tindakan kami sudah benar?" tanya Roy.


"Opa mendukung keputusan kalian beribu ribu persen," jawab Jordan.


"Sayang, kamu semakin cantik saja sih," kata Darmendra.


"Hubby jangan gombal deh, mana ada cantik apalagi setelah melahirkan anak," Diva.


"Bagiku kamu yang tercantik dari segalanya, walaupun setelah melahirkan tapi tubuhmu kembali langs*ng seperti semula," ucap Darmendra sambil mengelus perut istrinya.


"Pasti ada maunya nih," ucap Diva.


"Kok sayang tau kalau suamimu ini lagi kepingin," tanya Darmendra.


"Sudah tertulis tuh didahi," jawab Diva, dan dengan bod*hnya Darmendra mengusap keningnya, seketika membuat Diva tertawa kencang.


"Sayang, kamu ngerjain aku ya?" tanya Darmendra, lalu menggelitik tubuh Diva hingga Diva merasa kegelian.


Tidak hanya itu, Darmendra mulai menc*um bibir merah Diva, Diva terdiam sejenak lalu kemudian membalasnya. C*uman mereka berlanjut hingga tanpa sadar Diva sudah polos. Entah sejak kapan Darmendra beraksi hingga Diva tidak menyadarinya.


"Boleh ya?" tanya Darmendra dan Diva pun mengangguk. Akhirnya keduanya melakukan pendakian demi mencapai puncak, Darmendra memimpin pendakian tersebut dan Diva hanya mengikuti. Hingga kurang lebih satu jam keduanya akhirnya sampai dipuncak. Darmendra terlentang disamping Diva karena kelelahan dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Diva memiringkan tubuhnya menghadap Darmendra, Diva mengusap wajah suaminya yang terlihat begitu tampan dengan sisa sisa keringat membasahi pelipis dan juga tubuhnya.

__ADS_1


"Capek ya?" tanya Diva


"Sedikit," jawab Darmendra singkat.


"Aku mau lagi," bisik Diva, seketika tubuh yang tadinya capek kembali segar kala mendengar kata aku mau lagi, Darmendra mengangkat tubuh Diva dan membawanya kekamar mandi, Darmendra mengisi air dalam bathtub dan memberinya sabun cair aroma terapi agar lebih segar. Tanpa menunggu lama keduanya melakukan pendakian kembali, kali ini Diva yang memimpin sedangkan Darmendra hanya mengikuti saja.


Kali ini lebih dari satu jam mereka baru sampai kepuncak. Diva sudah merasa kelelahan tapi tidak bagi Darmendra. Akhirnya keduanya menyelesaikan ritual mandinya, tidak terasa ternyata hari sudah sore. Beruntung Baby Angel tidak rewel, mereka anteng anteng saja bermain dengan Abang Abangnya. Yang penting mereka dikasih s*su dan perut mereka kenyang maka mereka tidak akan menangis.


Malam hari...


Mereka sudah berkumpul dimeja makan, seperti biasa, sikembar tidak mau dilayani oleh siapapun, mereka menganggap diri mereka sudah besar.


"Bagaimana kalau nanti kalian sudah punya istri tapi kalian tidak mau dilayani?" tanya Darmendra.


"Dad, kita masih kecil jangan bicara tentang istri," kata Ram.


"Tadi ngakunya sudah besar, sekarang ngakunya masih kecil. Mana benarnya sih?" tanya Darmendra lagi.


"Sudah, sudah ayo makan nanti keburu dingin," kata Diva.


Akhirnya semuanya terdiam, karena saat makan mereka tidak berbicara sama sekali, karena mereka berprinsip, kalau waktunya makan ya makan nanti ada masanya waktunya ngobrol kalau lagi kumpul sesudah makan atau sebelumnya.


"Mom, sebentar lagi kelulusan sekolah, berarti kami juga sebentar lagi akan berangkat keluar negeri," ucap Ram sambil memeluk Mommy nya.


"Demi cita cita kalian, Mommy ikhlas walau harus berpisah dari kalian, walaupun sejujurnya berat untuk Mommy berpisah dari kalian," ucap Diva, saat ini mereka sudah berkumpul diruang keluarga.


"Daddy harap kalian bisa jaga diri di negara orang," Darmendra menimpali.


"Iya Dad, Daddy tidak perlu khawatir tentang itu. Kami bisa jaga diri kok," Ren.


"Jujur Daddy merasa bangga dengan kalian, anak anak Daddy yang sangat jenius, tanpa bantuan dari Daddy sudah bisa mandiri dan membangun usaha sendiri, membantu orang yang sedang kesusahan, membela orang yang tertindas dan banyak lagi. Daddy sebagai orang tua merasa insecure dengan sikap kalian, sejak dini sudah menunjukkan akhlak yang baik, semoga kedepannya kalian akan tetap seperti itu," ucap Darmendra panjang lebar.


"Iya Dad, Daddy jangan risau meskipun kami terlahir dari sendok emas tapi kami tidak akan lupa untuk menunduk kebawah." ucap Ram.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2