SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Sedikit kekacauan di restoran.


__ADS_3

.


.


.


Darmendra pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena ia tidak ingin anak dan istrinya dalam bahaya. saat ditengah perjalanan Darmendra bertanya kepada putra putranya tentang perusahaan yang batal bekerjasama dengannya.


"Boleh Daddy tanya sesuatu?" tanya Darmendra, dan sikembar pun mengangguk.


"Apa yang ingin Daddy tanyakan? selama kami bisa menjawab, kami akan jawab." Ren.


"Apa kalian yang memberikan informasi kepada asisten pribadi Daddy?" tanya Darmendra, sikembar saling pandang.


"Kami hanya ingin menyelamatkan Daddy dan perusahaan Daddy," Ray.


"Mengapa Daddy bisa seceroboh itu?" tanya Rakha.


"Daddy seharusnya lebih teliti dalam berurusan dengan klien selidiki dulu latar belakang perusahaan itu." Ram.


"Maafkan Daddy, Daddy harus lebih teliti lagi mulai sekarang." Darmendra.


"Untung kami cepat menyadarinya," Ray.


"Bagaimana kalian tau kalau Daddy akan melakukan kerjasama dengan perusahaan itu?" tanya Darmendra.


"Daddy lupa atau pura pura lupa siapa kami?" tanya Raffa.


Darmendra hanya nyengir dengan pertanyaan anak anaknya, sungguh ia benar benar lupa kalau anak anaknya adalah anak yang luar biasa jeniusnya.


"Daddy, anak anak Daddy ini super jenius, kalau tidak mana mungkin kami bisa mendirikan perusahaan IT terbesar dikota ini?" Ram.


"Iya, iya maafkan Daddy," Darmendra merasa tertampar dengan kata kata anaknya.


"Kalian kok jadi debat sih?" Diva memonyongkan bibirnya membuat Darmendra gemas.


"Kalau tidak ada sikembar udah kulahap tuh bibir," batin Darmendra.


"Hubby cepat sedikit bawa mobilnya, lambat sekali kaya kura kura," gerutu Diva, sikembar hanya menahan tawa.


"Sayang ini sudah cepat loh, kalau lebih cepat lagi nanti bahaya." Darmendra.


"Tapi aku sudah tidak sabar pengen makan lobster, hubby." rengek Diva.


"Ayo Dad cepat sedikit," kompor Ram.


Darmendra hanya mendengus, lalu ia menambah sedikit kelajuan mobilnya. Anehnya Diva malah bersorak senang.

__ADS_1


"Lagi hubby, laju lagi." ucap Diva sambil bertepuk tangan, sikembar geleng-geleng kepala melihat kelakuan Mommy nya, selama ini mereka tidak pernah melihat Mommy nya bertingkah seperti itu.


"Sayang ini sudah laju loh," Darmendra.


Hingga akhirnya mereka pun tiba di restoran yang dimaksud. Darmendra segera memarkirkan mobilnya ditempat parkir khusus, Diva yang lebih dulu keluar dari mobil baru disusul sikembar dan Darmendra. mereka disambut ramah oleh pelayan restoran itu dan mengantarkan mereka kemeja khusus keluarga. Ya restoran ini menyediakan meja bulat yang khusus untuk keluarga.


"Silahkan Tuan, nyonya," ucap pelayan itu sopan sambil memberikan buku menu.


"Kami pesan lobster berukuran jumbo untuk sepuluh porsi," ucap Darmendra, pelayan itu sedikit heran padahal mereka hanya ada sembilan orang tapi kok pesan sepuluh. pelayan itu geleng-geleng kepala untuk menghilangkan pikiran buruknya.


"Kenapa geleng-geleng kepala?" tanya Darmendra pada pelayan itu.


"Tidak tuan, saya cuma bingung tuan cuma sembilan orang kenapa pesan sepuluh?" tanya pelayan itu mewakili penasarannya.


"Untuk istri saya dua porsi," jawab Darmendra santai, barulah pelayan itu mengerti.


Pelayan itu pun pergi untuk melaporkan ke koki yang akan menyediakan pesanan mereka. koki itu dengan cekatan memasak sepuluh porsi lobster pesanan pelanggan mereka.


Sementara dimeja tempat Darmendra dan keluarganya berada, mereka masih menunggu pesanan datang.


"Mengapa kalian menolak tawaran untuk ikut kompetisi?" tanya Diva.


"Kami tidak berminat Mommy, dan juga kami tidak ingin kejeniusan kami dikenal dunia. Biarlah murid murid yang lain yang akan ikut kompetisi tersebut," Ram.


"Ya sudah kalau begitu keputusan kalian, Mommy juga tidak bisa memaksa, semua keputusan ada pada kalian," Diva.


"Silahkan dinikmati tuan dan nyonya," ucap pelayan itu ramah, setelah selesai menata makanan dimeja pelayan itu pun pergi.


Darmendra memperhatikan Diva yang makan dengan lahap, ia sengaja belum memakan makanannya, ia menduga Diva pasti kurang nantinya. sikembar pun juga lahap makannya.


"Daddy tidak makan?" tanya Ram, Darmendra pun menoleh ke Ram.


"Daddy lihat Mommy kalian dulu, siapa tau Mommy kalian kurang." ucap Darmendra, dan sikembar pun mengangguk.


Diva sudah menghabiskan dua porsi dan benar apa yang dipikirkan Darmendra ternyata Diva nambah lagi, Darmendra pun memberikan makanannya.


"Tapi hubby tidak makan," ucap Diva.


"Tidak apa-apa, nanti aku pesan lagi saja," Darmendra, Diva pun makan untuk porsi yang ketiga.


Darmendra mengusap kepala Diva, "bagaimana? sudah kenyang?" Diva mengangguk.


Tiba tiba ada seorang wanita datang langsung menyiramkan air dikepala Diva. Diva yang tidak tau apa apa tentu saja kaget. Darmendra dan sikembar pun ikut kaget.


"Heh, dasar wanita mur**an kau rebut suami saya dasar pelakor," maki wanita itu.


Diva sontak berdiri tidak terima dibilang mur**an. Darmendra dan sikembar juga ikut berdiri.

__ADS_1


"Hubby, jangan ikut campur biar aku yang membereskan nya," ucap Diva penuh penekanan.


Darmendra dan sikembar pun kembali duduk, mereka hanya menyaksikan sang Mommy bakalan ngamuk.


"Apa kamu bilang? aku mur**an? Anda siapa datang datang terus cari masalah?" tanya Diva.


Belum sempat wanita itu menjawab, Diva sudah menendang tulang kering wanita itu sehingga wanita itu terjerembab kelantai.


"Katakan sekali lagi, kamu bilang aku apa?" tanya Diva.


"Ka..kau yang merebut suamiku," ucap wanita itu.


"Suami yang mana? mana suamimu? panggil suamimu kemari biar sekalian aku hajar," Diva.


Kemudian Diva menarik rambut wanita itu hingga wanita itu meringis menahan sakit, dengan terpaksa wanita itu ikut bangkit karena rambutnya ditarik.


Braak... Diva membenturkan kepala wanita itu kemeja.


"Aakkkhh" teriak wanita itu, tidak ada satu pun yang berani menolong atau meleraikan mereka.


Braak.... sekali lagi Diva membenturkan wanita itu kali ini wajah wanita itu yang terkena meja. darah keluar dari hidung dan bibir wanita itu. orang orang yang ada disitu hanya menjadi penonton, mereka melongo melihat Diva yang brutal. Setelah itu Diva menendang perut wanita itu hingga terpental beberapa meter dan mengenai meja yang ada disitu, meja yang terbuat dari kayu patah karena tertimpa tubuh wanita itu. wanita itu tergeletak tak berdaya, lalu dengan tanpa hati Diva menginjak kaki wanita itu hingga berbunyi, dan lagi Diva mengambil saos sambal yang terbuat dari cabe rawit dan mengoleskan kemulut wanita itu.


"Lain kali punya mulut dijaga, jangan sembarang menuduh orang," ucap Diva sambil melemparkan botol berisi cabe itu tepat ke wajah wanita itu.


Sikembar hanya tersenyum smirk, Darmendra tersenyum devil, bukannya kasihan malah mengacungkan jempol pada istrinya.


"Itu wanita kurang waras, dia selalu sembarangan menuduh orang merebut suaminya, sekarang kena batunya," ucap salah satu pengunjung A.


"Sebenarnya ada apa sampai dia seperti itu?" tanya pengunjung B.


"Kabarnya suaminya selingkuh dengan adik kandungnya sendiri, jadi wanita itu stres, dia menyerang siapa saja walaupun tidak dikenal," jawab pengunjung A.


Sementara Darmendra memeluk tubuh istrinya agar lebih tenang, "kamu tidak apa-apa Sayang?" tanya Darmendra.


"Tidak apa-apa hubby, sekarang aku puas." ucap Diva.


Pelayan restoran mendekati mereka, "terimakasih nyonya karena melawan wanita gila itu, sebelumnya kami tidak berani ada salah satu teman saya sampai masuk rumah sakit karenanya," ucap pelayan itu.


"Jadi wanita itu sering membuat ulah?" tanya Darmendra.


"Benar tuan, tapi baru beberapa hari ini," jawab pelayan itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2