
.
.
.
Darmendra masih terus mencari, hingga beberapa jam berlalu Darmendra kembali ke kamarnya. Darmendra masuk dan berbaring diatas tempat tidur, Darmendra samar samar mendengar dengkuran orang tidur. Darmendra menajamkan pendengarannya, ia menelisik kesegala arah, matanya tertuju pada lemari pakaian, lalu ia mendekatkan telinganya kepintu lemari pakaian tersebut. pendengaran semakin jelas terdengar suara dengkuran. Darmendra pun membuka pintu lemari pakaian tersebut dan alangkah terkejutnya Darmendra saat mendapati istrinya meringkuk tertidur didalam lemari.
"Ya Allah dicari kemana mana ternyata didalam lemari," batin Darmendra, seketika ia ingin ketawa, tapi sebisa mungkin ditahan. Takut membangunkan istrinya, Darmendra mengangkat tubuh Diva dan mengeluarkannya dari dalam lemari, perlahan Darmendra meletakkan Diva keatas ranjang.
Darmendra berjalan keluar kamar untuk menemui Mommy nya.
"Mom, Diva udah ketemu." Darmendra.
"Dimana? bagaimana keadaannya?" tanya Vera.
"Diva baik baik saja Mom, ternyata Diva tertidur didalam lemari." Darmendra.
"Hah...kok bisa?" tanya Vera tercengang.
"Ada apa Mom, apa Diva sudah ketemu?" tanya Jordan.
"Sudah Dad, ternyata bersembunyi didalam lemari." Vera.
"Oya Dad, tolong beritahu pengawal dan pelayan bahwa Diva sudah ketemu." Darmendra.
"Baik, akan aku beritahu." Jordan.
"Aku kekamar dulu ya Mom, mau jaga Diva. ada ada saja kelakuannya." Darmendra.
"Sekarang sudah tau kan bagaimana rasanya menghadapi orang ngidam?" tanya Vera.
"Iya Mom," Darmendra.
Kemudian Darmendra pun naik keatas menuju kamar mereka. dengan langkah lebar ia menaiki anak tangga satu persatu, hingga tiba didepan kamarnya Darmendra membuka pintu dan dilihatnya Diva masih tertidur. Darmendra tersenyum sambil mengelus rambut panjang istrinya.
Diva menggeliat dan perlahan membuka matanya, hal yang pertama dilihatnya adalah suaminya. Diva tersenyum seolah sebelumnya tidak terjadi apa-apa? tanpa merasa bersalah Diva bangun dan kembali berbaring dipangkuan Darmendra.
"Masih mengantuk?" tanya Darmendra.
"Hmmm," jawab Diva.
"Katanya mau ke mall?" tanya Darmendra lagi.
"Sudah gak mood, malas," jawab Diva ketus.
"Kalau begitu aku ngajak sikembar sajalah." Darmendra, Diva bangkit dan menatap tajam kearah Darmendra.
"Kalau begitu yuk lah, kita langsung jemput sikembar disekolah." ucap Diva berbinar, seperti anak kecil mendapatkan boneka kesukaannya.
"Kita mandi dulu," ajak Darmendra, Diva menggeleng.
"Kenapa?" tanya Darmendra.
__ADS_1
"Lagi malas mandi," jawab Diva enteng.
"kalau begitu ganti baju saja ya?" tanya Darmendra, Diva pun mengangguk.
Setelah berganti pakaian Diva dan Darmendra pun keluar dari kamar menuju lift sambil bergandengan tangan. tidak lupa keduanya berpamitan pada Vera dan Jordan, Darmendra memberitahukan kepada Agus bahwa ia yang akan menjemput sikembar. Agus pun mengiyakan saja.
Darmendra membukakan pintu mobil untuk Diva dan mempersilahkan masuk layaknya seperti seorang putri. Diva tersenyum mendapat perlakuan seperti itu.
Keduanya sudah berada didalam mobil, dan bergerak perlahan keluar dari garasi. sampai dijalan raya mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, waktu sikembar untuk pulang sekolah masih sekitar satu jam. jadi mereka bisa sedikit santai.
"Hubby, nanti aku mau belanja yang banyak biar hubby bangkrut." Diva.
"Dengan senang hati, berbelanjalah sepuasnya bila perlu beli dengan mall nya sekalian." Darmendra.
"Cih, sombong. memangnya ada beberapa kartu hitam milik hubby?" tanya Diva.
"Punya ku dua, sekarang diberikan kekamu satu. terus punya Mommy dan Daddy masing-masing satu." Darmendra.
"Berarti lebih kaya sikembar dong.?" tanya Diva.
"Maksudnya?" tanya Darmendra balik.
"Sikembar aja punya kartu hitam masing-masing, uang masuknya selalu melimpahkan." Diva.
"Darimana sayang tau?" tanya Darmendra.
"Tau lah hubby, mereka kan punya perusahaan sendiri, perusahaan yang aku kelola saja uang masuk bahkan sampai milyaran perbulannya." Diva.
"Aku sangat bangga dengan sikembar, oh ya bagaimana kalau dedek nya kembar juga?" tanya Darmendra.
"Hmmm, kita akan merawatnya sama sama." Darmendra.
"Tapi jangan abaikan sikembar, aku saja tidak pernah membeda bedakan mereka," Diva.
"Tentu, karena mereka adalah anak anak kita," Darmendra.
Tanpa terasa mereka sudah tiba disekolah sikembar, Diva dan Darmendra masih menunggu didalam mobil.
"Sayang kamu sudah tahu belum?" tanya Darmendra.
"Apa?" tanya Diva kembali.
"Sahabat kita sebentar lagi akan menikah," Darmendra.
"Siapa hubby?" tanya Diva penasaran.
"Robert dengan Adefa." jawab Darmendra
"Benarkah? kapan?" tanya Diva antusias.
"Dua bulan lagi, dan Aldo dengan Anisa seminggu lagi, sedangkan Jhon dengan Aryana bulan depan." Darmendra.
"Wah mereka kok gak kasih tau aku sih?" Diva.
"Nunggu memberikan undangan katanya." Darmendra, Diva mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
Tak berapa lama murid murid sekolah sudah keluar, Darmendra dan Diva masih menunggu didalam mobil. sikembar berjalan beriringan dari sekian banyak murid mereka yang paling imut dan paling tampan. sampailah sikembar didekat gerbang mereka melihat mobil Daddy nya terparkir diluar gerbang.
"Lihat Daddy jemput kita," ucap Ram.
Mereka pun berlari menghampiri mobil Daddy nya.
"Ayo masuk kita akan ke mall," ajak Darmendra.
"Hore...." Ram.
"Cih dasar anak kecil," Ray.
"Jangan lupa kita seumuran dan juga tinggi badan kita juga sama." Ram.
"Sama sama anak kecil, teriak anak kecil." Roy.
Setelah sikembar masuk mobil pun mulai melaju. sikembar berganti pakaian didalam mobil, mereka selalu membawa pakaian ganti didalam tas ransel milik mereka. Diva sudah hafal betul dengan sifat anak anaknya.
"Dad berhenti," perintah Ray.
Darmendra pun menghentikan mobilnya, ia melihat arah telunjuk Ray. dan benar saja ada begal sedang mengancam seseorang.
"Tabrak saja Dad," perintah Ray.
"Apa tidak masalah?" tanya Darmendra.
"Aku sudah merekam aksi mereka, dan nanti bisa dijadikan bukti." Ray.
Lalu tanpa pikir panjang Darmendra langsung menabrak dua begal tersebut, hingga keduanya terlempar beberapa meter, Darmendra menghentikan mobilnya dan melihat ternyata sudah banyak orang menghajar begal tersebut, Darmendra pun kembali menjalankan mobilnya tanpa menghiraukan dua begal yang sudah tidak bernyawa dikeroyok massa.
Kini mereka sudah tiba di mall terbesar dikota ini, mereka keluar dari mobil sikembar berjalan beriringan, Diva dan Darmendra dibelakang bergandengan tangan.
"Kalian mau beli apa?" tanya Darmendra.
"Kita mau beli baju yang banyak untuk anak anak panti." Ram.
"Aku juga mau belanja yang banyak untuk anak panti," Diva.
"Baiklah, kalian belanja sepuasnya setelah itu kita langsung ketempat yang kalian maksud," Darmendra.
Mereka masuk ketoko pakaian khusus anak anak, mereka dengan antusias memilih model pakaian tersebut. harga jangan ditanya, sudah pasti mahal. tapi mereka tidak memperhitungkan semua itu. Yang penting bagi mereka, anak anak lain juga bisa menikmati pakaian bagus.
"Yang ini bagus," Ram.
"Ambil aja, terserah toh kita juga punya uang untuk membayarnya." Raffa.
Lalu Ram meminta pelayan mengambilkan pakaian yang dimaksud dalam jumlah yang banyak, begitu juga dengan yang lain. mereka masing-masing memilih pakaian yang seperti mereka inginkan.
.
Kalau suka dengan cerita ini kasih bintang 5 ya.
.
.
__ADS_1