SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Pukulan telak untuk orang sombong


__ADS_3

.


.


.


Ricardo perlahan mengangkat wajahnya, Ram membuka kacamata tebal milik Ricardo, mata Ricardo sebenarnya normal hanya saja demi penyamarannya dia rela memakai kacamata tapi bukan kacamata minus.


"Apakah kalian punya ini?" tanya Roy yang masih menunjukkan kartu hitam itu.


"Kalau kalian tidak punya sebaiknya kalian bercermin sebelum mengatakan orang lain." ucap Ram.


Ternyata diam diam tadi Ray sedang mencari informasi tentang Ricardo. Dari situlah sikembar tau kalau Ricardo bukan orang miskin, kalau miskin pun sikembar juga tidak akan menghinanya.


Dan lagi tempat Ricardo bekerja part time di cafe tersebut ternyata adalah milik Ricardo sendiri. dan orang lain tidak banyak yang tau.


"Sekaya apapun kalian janganlah bersikap sombong, kalian tau keluarga Henderson orang terkaya nomor satu di negara ini mereka tidak pernah sombong. karena kami adalah bagian dari keluarga itu," ucap Ram lantang.


"Kalian pernah dengar istilah diatas langit masih ada langit? nah seperti itulah perumpamaan kalian, terutama kamu dua cewek sombong," tunjuk Rakha tepat didepan wajah Mita dan Ayu.


Wajah keduanya sudah merah karena malu bercampur marah. sedangkan Bu Tessa hanya diam mendengarkan kata kata menohok dari sikembar.


"Detik ini juga kami bisa membuat perusahaan ayahmu bangkrut," ucap Ray yang sejak tadi diam.


Mita dan Ayu sudah tidak berkutik lagi, mereka terasa tertampar oleh kata kata pedas sikembar. Tidak lama bel sekolah pun berbunyi pertanda pelajaran sudah berakhir.


"Baiklah kita sudahi dulu pelajaran kita sampai disini, dan untuk kedepannya lebih baik kalian perbaiki diri kalian jangan suka saling menghina satu sama lain," ucap Bu Tessa.


Sebenarnya Bu Tessa juga muak dengan kesombongan Mita dan Ayu, tapi sebagai seorang guru dia harus bersikap bijaksana karena ia adalah panutan bagi setiap murid.


"Sudah jangan pakai lagi kacamata jelekmu itu," ucap Ram.


"Yuk pulang," Roy, dan diikuti oleh saudara saudaranya.


"Tunggu, kalian pulang naik apa?" tanya Ricardo.


"Kami pakai skuter," jawab Ram.


Sedangkan didalam kelas Mita dan Ayu masih terduduk dibangku mereka, tubuhnya terasa lemas setelah mendapatkan pukulan telak atas kesombongan mereka.


Siswa siswi yang lain sudah pada bubar, dan dengan perlahan keduanya bangkit, mereka sempat mengingat kata kata Ray yang mengatakan detik ini juga bisa membuat perusahaan orang tuanya bangkrut.


Tentu saja, ia tidak ingin bila jatuh miskin.


"Apa benar yang dibilang bocah itu?" tanya Mita pada Ayu.


"Bisa jadi sih, mereka dari keturunan keluarga Henderson, tidak menutup kemungkinan kalau kita mengusik mereka maka berimbas pada perusahaan orang tua kita." jawab Ayu.

__ADS_1


Sikembar kini sudah berada di parkiran sekolah, mereka mengeluarkan skuter mereka masing-masing, para siswa mendekati mereka.


"Kalian beli dimana skuter seperti itu?" tanya siswa A.


"Beli di mall, sekarang sudah banyak terjual," jawab Ram.


"Oh, nanti saya juga mau beli." ucapnya lagi.


"Ya sudah cabut dulu ya," ucap Ram.


"Bisa barengan gak?" tanya Ricardo.


"Abang pakai apa?" tanya Roy.


"Pakai sepeda," jawab Ricardo.


"Yuk lah kalau gitu, kirain pakai mobil," Ram.


"mampir ke cafe ku bisa gak, nanti aku traktir kalian," ucap Ricardo.


"Ada menu apa saja?" tanya Ram.


"Lihat aja sendiri bila sudah sampai disana," ucap Ricardo.


"Gimana?" tanya Ram pada saudaranya.


Lalu mereka mengikuti Ricardo yang sedang naik sepeda, cuaca cukup panas tapi sikembar menggunakan sweater untuk melindungi diri mereka dari teriknya matahari.


"Bang, kenapa Abang tidak pakai mobil?" tanya Ren.


"Tadinya saya tidak ingin pamer, biarlah mereka bilang saya miskin hanya bekerja jadi pelayan cafe, dan juga saya ingin mencari teman yang tulus," jawab Ricardo.


Jarak cafe dengan sekolah tidak terlalu jauh, kini mereka sudah tiba didepan cafe tersebut, Ram melihat tulisan di cafe tersebut yang bertuliskan RIC CAFE. kemudian mereka pun masuk.


"Sebentar ya, saya mau ganti baju dulu," ucap Ricardo, sikembar pun mengangguk.


"Er tolong kamu layani tamu saya," perintah Ricardo pada pelayan cafe tersebut.


"Baik tu..." perkataan Er terhenti karena lebih dulu dipotong oleh Ricardo.


"Sudah berapa kali saya bilang jangan panggil tuan," ucap Ricardo dengan nada lembut.


Setelah selesai berganti pakaian, Ricardo menghampiri mereka. sikembar melihat sekeliling cafe tersebut, dan pandangannya tidak sengaja tertuju pada nenek tua yang didorong oleh seorang wanita, nenek itu pun terjatuh ketanah.


"Sebentar ya," Ram segera bangkit dan berlari menghampiri nenek tersebut.


"Nenek tidak apa-apa?" tanya Ram.

__ADS_1


"Nenek tidak apa-apa, nenek cuma lapar dan ingin meminta makanan tapi Nenek didorong.


Ram membantu Nenek tersebut untuk bangun, dan membawa Nenek itu duduk dikursi diluar cafe tersebut.


"Nenek tunggu disini ya, aku akan belikan Nenek makanan," ucap Ram.


Ram hendak berjalan menuju saudara saudaranya tapi tangannya ditahan oleh Nenek itu. Ram pun menoleh ke Nenek itu.


"Bisakah kalau dibungkus saja, cucu saya juga belum makan, mereka ada dua orang dan masih kecil." ucap Nenek itu.


"Baiklah Nek, tunggu sebentar ya," ucap Ram, lalu Ram pun menghampiri saudaranya.


"Bang bisa bungkuskan nasi goreng seafood untuk 6 porsi?" tanya Ram.


"Oh bisa bisa, tunggu sebentar." ucap Ricardo.


Setengah jam kemudian pesanan mereka pun tiba, dan 6 porsi nasi goreng seafood juga sudah siap dibungkus. Ram mendekati Nenek itu itu dan menyuapinya makanan, Nenek itu bergetar menahan tangis. Ram terus menyuapi Nenek itu hingga makanan yang ada di piring habis, kemudian Ram memberikan minuman yang Ram pesan tadi. Hal itu menjadi pusat perhatian orang yang ada di cafe tersebut, wanita tadi yang mendorong Nenek itu merasa terpukul dengan perilaku Ram kepada Nenek tersebut.


Ram hendak membayar makanan yang mereka pesan tapi dicegah oleh Ricardo, dengan alasan dia yang traktir, termasuk makanan yang dibungkus tadi.


"Terimakasih banyak Bang, semoga cafe Abang tambah maju," ucap Ram.


"Aamiin, terimakasih juga karena telah mengajari saya disekolah," ucap Ricardo.


"Kalau begitu kami pamit bang, sering seringlah traktir kami agar makan gratis terus," ucap Ram sambil tertawa.


"Iya kalau ada waktu mampir lagi ya," kata Ricardo.


Sikembar menghampiri Nenek tersebut yang masih menunggu sikembar.


"Rumah Nenek dimana?" tanya Ram.


"Di gang situ Nak," jawab Nenek itu.


Lalu sikembar pun mengantar Nenek itu sampai kerumah mereka.


Sementara Ricardo masih berdiri ditempat tadi sambil memperhatikan sikembar yang menggandeng tangan Nenek itu.


"Mereka benar benar baik hati, tulus dalam menolong orang, aku beruntung dipertemukan dengan mereka, selama ini tidak ada orang yang tulus untuk berteman denganku," batin Ricardo.


Sedangkan sikembar sudah berada didepan rumah Nenek tersebut, dua orang anak kecil sedang berlari keluar melihat Neneknya datang berharap membawa makanan untuk mereka. diam diam Ram memasukkan amplop berisi uang kedalam kantong plastik tersebut, anak itu berhenti tepat didepan pintu rumah, rumah yang tidak layak dihuni tapi bagi mereka hanya itu satu satunya tempat berteduh.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2