
.
.
.
Cahaya semakin terisak didalam pelukan Ram, sampai perlahan lahan Cahaya mulai tenang. barulah Ram melepaskan pelukannya.
"Sekarang kita kerumahmu, kami ingin melihat keadaan ibu," ucap Ram, Cahaya pun mengangguk lalu berjalan lebih dulu dan diikuti oleh sikembar.
"Kenapa kakak mau membantuku? sedangkan orang lain tidak ada yang peduli, bahkan saudara ibu saja tidak mau membantu dan dengan tanpa perasaan mengusir aku dan ibu. Ayah juga ikut ikutan mengusir kami," ucap Cahaya tanpa jeda.
"Begitu sulitkah hidup gadis kecil ini," batin Ram.
Lebih kurang 15 menit mereka berjalan akhirnya mereka tiba dirumah yang terbuat dari kayu, lantai dinding serta atapnya sudah banyak yang bocor, bahkan baskom masih tersusun untuk menampung air hujan karena atapnya bocor.
Sikembar menelisik kesegala arah mengamati sekitar, banyak pohon pohon rindang yang menutupi kawasan rumah tersebut, dan rumah itu agak jauh dari rumah rumah yang lain.
"Silahkan masuk kak, beginilah keadaan rumah kami," kata Cahaya.
"Kamu tidak sekolah?" tanya Ram.
"Sekolah kak, kelas 5 SD," jawab Cahaya.
"Terus biaya sekolahmu bagaimana?" tanya Ram lagi.
"Aku dapat beasiswa kak, kalau aku bisa mempertahankan prestasiku maka beasiswa tersebut akan aku dapatkan sampai SMA nanti." kata cahaya.
"Hmmm bagus, pertahankan prestasimu," kata Ram memberi semangat.
"Mari kak, ibu lagi didalam kamar," ucap Cahaya.
Tidak lama keluar seorang wanita sekitar umur 30 tahun. mungkin karena sakit jadi terlihat lebih tua dari usianya.
Ram dan saudara saudaranya menyalami wanita itu dan mencium tangannya. wanita itu terharu sekaligus heran, mengapa anaknya membawa anak anak ini kerumahnya?
"Mereka siapa?" tanya wardina ibunya Cahaya.
"Mereka yang memborong keripik buatan Aya Bu, mereka ingin menjenguk ibu," ucap Cahaya.
"Sebenarnya ibu sakit apa?" tanya Ram.
"Ibu mengidap kanker lambung, masih tahap awal tapi kalau terlambat ditangani maka sangat membahayakan, tapi ibu sudah pasrah dengan nasib ibu." jawab wardina.
__ADS_1
"Kalau begitu kami bisa membantu untuk kesembuhan ibu, sekarang kita kerumah sakit ya," Ram.
"Tapi nak..." perkataan wardina terhenti.
"Ibu jangan khawatir, soal biaya kami akan tanggung semuanya. yang penting ibu sehat." ucap Ram.
Ram pun segera menelepon Agus agar datang kealamat yang telah ia kirimkan. Dengan bantuan maps Agus pun tidak kesulitan mencari alamat tersebut.
"Sekarang bersiaplah Bu, kami akan bawa ibu kerumah sakit," ucap Ren yang sejak tadi hanya diam.
Cahaya mempersiapkan keperluan ibunya dan juga dirinya, karena mereka akan dibawa kerumah sakit. Tidak berapa lama Agus pun datang dengan mobil besar atas permintaan Ram. Ram dan Roy memapah Wardina disisi kiri dan kanan, sedangkan Ren membawa plastik yang berisikan pakaian mereka, karena tidak ada tas yang layak mereka pakai. Setelah semuanya masuk kedalam mobil Ram pun memerintahkan Agus untuk segera berangkat. Agus sudah tidak heran lagi dengan kebaikan majikan kecilnya ini.
Kurang lebih satu setengah jam mereka pun tiba dirumah sakit, Ram meminta Suster untuk mengambilkan kursi roda agar Wardina tidak perlu berjalan. Wardina dibawa keruangan UGD untuk pemeriksaan lebih lanjut, dokter segera memeriksa pasien kala melihat sikembar yang datang.
"Bagaimana Dok?" tanya Ram saat dokter sudah selesai memeriksa Wardina.
"Keadaan sudah ketahap tiga, dan kami akan segera melakukan operasi secepatnya," kata dokter itu.
"Lakukan saja Dok, berapapun biayanya," ucap Ram.
"Baik tuan kecil, kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien, untuk biaya operasinya 100 juta, tidak termasuk yang lainnya," ucap dokter itu.
"Lakukan saja Dok, soal biayanya tidak perlu dipikirkan," ucap Ram tegas, karena dokternya bertele-tele jadi Ram sedikit emosi.
"Ba..baik tuan kecil," ucap dokter itu gugup.
"Ternyata ibu itu sudah sakit sejak lama, hanya karena tidak ada biaya jadi ibu itu hanya bisa pasrah saja dengan nasibnya." kata Ram.
"Oh ya, aku mau kebagian administrasi dulu, untuk melakukan pembayaran," kata Ram lagi.
Dokter pun segera melakukan operasi setelah Ram melakukan pembayaran, serta kamar untuk pasien nanti. Ram sudah membayar lunas semua biaya rumah sakit ini.
Cahaya terdiam diruang tunggu didepan pintu kamar operasi, Cahaya hanya bisa menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk kesembuhan ibunya. Beruntung ia dipertemukan dengan dewa penolong dan Cahaya berjanji akan membalas semua kebaikan yang telah Ram berikan kepadanya.
Kurang lebih 3 jam operasi berlangsung, dan akhirnya lampu didepan pintu kamar operasi pun padam pertanda operasi sudah selesai.
Dokter keluar dengan wajah terlihat letih, lalu Ram menghampiri dokter tersebut. Cahaya juga menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan ibu saya dok?" tanya Cahaya.
"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, saat ini ibumu belum bisa dijenguk, dan masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius, satu jam lagi ibumu akan dipindahkan keruang perawatan," ucap dokter itu.
"Dok, ruang VVIP 1 ya," kata Ram," dan dokter itupun mengangguk.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu, masih ada pasien lain yang harus ditangani," ucap dokter itu lalu pergi begitu saja.
"Alhamdulillah akhirnya ibu bisa selamat," ucap Cahaya penuh rasa syukur.
"Kalau begitu kami permisi dulu, karena semua sudah selesai dan jaga ibu dengan baik selagi masih ada, Ini ada sedikit uang untuk keperluan harianmu, dan pergunakanlah uang ini sebaik mungkin," ucap Ram. Ketika Ram hendak melangkah pergi, Cahaya berseru.
"Kak...!" Ram menghentikan langkahnya, dan...
Greep... tiba-tiba Ram dipeluk dari belakang oleh Cahaya. Ram terdiam mematung dengan perlakuan Cahaya kepadanya.
"Kak, terimakasih banyak karena mau menolongku, aku tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan kakak," ucap Cahaya, kemudian ia melepas kalung yang ia pakai, dikalung tersebut terukir nama Cahaya paradina yang artinya sinar pagi.
"Kakak simpan kalung ini, suatu saat nanti aku akan menebus kalung ini dan mengembalikan uang kakak," ucap Cahaya, ditangannya masih ada amplop berisi uang yang belum ia buka.
"Tidak perlu dikembalikan, aku ikhlas menolongmu, hanya satu yang kuminta jaga ibu dan juga dirimu sendiri. pergunakan uang itu untuk memulai kehidupan yang lebih baik," ucap Ram.
"Terimakasih banyak kak, nasehat kakak akan selalu kuingat selamanya," kata Cahaya.
Kemudian Ram pun pergi dari rumah sakit bersama saudara saudaranya, dengan menggunakan mobil bersama Agus.
"Kasihan banget ya nasibnya," kata Roy.
"Iya, semoga kedepannya dia akan lebih baik," jawab Ram
"Ternyata banyak sekali orang orang yang masih serba kekurangan," Rakha.
"Beruntung kita terlahir dari sendok emas, jadi bisa meringankan beban orang yang kekurangan," Raffa.
"Kuharap kita tidak sombong kedepannya," Rasya.
"Sekali sekali kita harus bersikap sombong untuk melawan orang sombong pula," Ren.
"Benar, agar kesombongan mereka bisa terpatahkan," Ram.
.
.
.
Mungkin readers bosan dengan ceritanya terlalu monoton. Habisnya aku bingung mau bikin cerita seperti apa? karena dari awal mereka sudah suka menolong orang yang lemah.
.
__ADS_1
.
.