
.
.
.
Kini mereka dalam perjalanan menuju taman hiburan, si kembar sangat gembira bisa di ajak jalan jalan, mumpung hari libur jadi mereka memanfaatkan waktu liburan. karena sebentar lagi mereka mau masuk ke SMP. pendaftaran sudah diurus oleh Daddy dan Mommy mereka.
"Ray kamu bawa apa?" tanya Ren.
"Ssstt nanti aja ku beritahu, nanti ketahuan Mommy bisa disita." Ray.
"Dad kita ketaman hiburan siang hari kurang seru," Ram.
"Kalian maunya kemana?" tanya Darmendra.
"Udah jangan banyak protes, ketaman hiburan atau tidak sama sekali." Diva.
"Kita maunya kepasar malam yang ada rumah hantu." Roy.
"Hah..." Diva melongo mendengar putranya mau kerumah hantu.
"Apa kalian tidak takut?" tanya Darmendra, si kembar menggeleng.
"Sekarang kan sudah sore, sebentar lagi malam kalian boleh main-main dari siang sampai malam." Diva.
"Benarkah, kalau begitu oke deh." Ram.
Kendaraan mereka terus melaju di jalanan. tak berapa lama kemudian mereka sampai ditaman hiburan. Darmendra memarkirkan mobilnya ditempat parkir khusus (Berbayar). si kembar lebih dulu turun, baru kemudian Mommy dan Daddy mereka.
"Aku menciptakan alat yang bisa untuk nakutin orang," Ray.
"Gimana dengan rencana kita?" Ren.
"Sip lah, aku yakin bakal ada kehebohan nanti malam." Ram.
"Kalian ngomongin apa?" tanya Diva.
"gak ada apa apa Mom, kami hanya berbincang mau naik apa dulu?" Ram.
"Mari kita masuk, Daddy sudah membeli tiketnya." Darmendra.
Mereka pun akhirnya masuk ke taman hiburan tersebut.
"Ternyata pengunjungnya sangat ramai." Raffa.
"Karena ini hari libur," Diva.
"Mommy kita naik itu yuk..!" ajak Ram.
"Mommy gak bisa, Mommy takut naik itu." Diva.
Kalau begitu kami aja deh yang naik. Mommy sama Daddy tunggu saja disini." Ram.
"Hati hati ya sayang..!" teriak Diva pada si kembar, si kembar cuma mengangguk.
Lalu Diva dihampiri oleh ibu yang dulu pernah bertemu Diva dan si kembar ditaman, lalu ibu itu menyapa.
"Hai boleh saya gabung?" tanya ibu itu.
__ADS_1
"Boleh, sini Bu duduk." Diva.
"Ibu yang punya anak kembar tujuh itu kan?" tanya ibu itu.
"Oh iya Bu, ibu ini siapa ya?" tanya Diva.
"ibu lupa sama saya? wajar sih sudah tujuh tahun lalu. nama saya Nirina, kalau nama ibu siapa?" tanya Nirina.
"Saya Diva Bu, dan ini suami saya namanya Darmendra." Diva.
"Pantas saja anaknya ganteng, wong bapaknya juga ganteng." ucap Nirina.
"Ibu kesini sendiri?" tanya Diva.
"Tidak, sama anak dan juga cucu." jawab Nirina.
"Oh Alhamdulillah akhirnya ibu di karuniai cucu." Diva.
"Iya, saya sangat bersyukur, suamimu kok diam saja." ucap Nirina.
"Suami saya memang begitu Bu, jangan heran dengan sikapnya yang dingin, tapi dia baik." Diva.
"Sayang, aku lihat si kembar dulu ya." Darmendra.
"Baiklah, aku tunggu disini." Diva.
"Permisi Bu, mau lihat si kembar dulu." Darmendra.
"Silahkan Tuan." Nirina.
Darmendra pun pergi dari tempat itu, ia berjalan ketempat si kembar bermain. Darmendra memperhatikan si kembar yang tertawa terlihat sangat bahagia
"Kok melamun?" tanya Diva saat ia menghampiri Darmendra.
"Kok kamu kesini? bagaimana dengan ibu itu?" tanya Darmendra balik.
"Ibu itu sudah dijemput anak dan menantunya, Alhamdulillah sekarang ibu itu sudah punya cucu, dulu aku bertemu ibu itu ditaman sewaktu aku bawa si kembar jalan jalan. ternyata ibu itu masih ingat sama aku padahal sudah tujuh tahun lebih. mungkin karena ibu itu melihat si kembar jadi ia ingat aku." Diva.
"Kamu bilang apa sama ibu itu? kamu bilang aku tampan?" tanya Darmendra.
"Iya, emang salah ya? kalau salah aku tarik kembali deh kata kataku." Diva.
"Jadi pengen peluk sayangku." Darmendra.
"kalau mau peluk ya peluk aja, tapi jangan disini." Diva.
"Emang lukanya sudah sembuh?" tanya Darmendra.
"Belum, masih satu Minggu lagi," Diva.
"Tapi tadi katanya kalau mau peluk, peluk aja." Darmendra.
"Kan cuma pelukan apa ada yang salah?" Diva.
"Ah bicaramu jadi buat aku kepingin." Darmendra.
"Bukankah mas yang mulai?" tanya Diva.
"Udah deh, lihat tuh si kembar nampak bahagia sekali." Darmendra.
"Iya dari dulu mereka memang bahagia, sekarang tambah bahagia setelah bertemu dengan Daddy nya yang selama ini mereka rindukan." Diva.
__ADS_1
"Bukan hanya si kembar yang bahagia, tapi aku juga. awalnya mencari anakku tapi malah dapat bonus Mommy muda bersegel."
"Mas ada ada aja bercandanya." Diva.
"Ini bukan bercanda sayang, tapi ini serius." Darmendra.
Malam hari...
Sekarang mereka sudah berada di pasar malam, mereka ingin berkunjung kerumah hantu. Si kembar berhasil membujuk Mommy dan Daddy nya untuk pergi ke pasar malam.
"Kalian yakin mau masuk rumah hantu?" tanya Diva.
"Yakin Mom, apakah Mommy dan Daddy ingin ikut?" tanya Ram.
"Gak deh, nanti Mommy tidak bisa tidur." Diva.
"Daddy temani Mommy kalian aja ya." Darmendra.
"Oke deh kalau gitu, kita mau masuk nih." Ren.
"Iya masuk saja, Mommy sama Daddy tunggu kalian disini." Diva.
"Yuk kita masuk, para hantu sudah kangen sama kita." Ram.
"Cih... gayamu, mana ada hantu kangen." Roy.
"Yuk lah kebanyakan ngomong kalian." Ray.
Si kembar pun masuk. mereka berjalan berurutan seperti orang ngantri sembako. dari urutan anak pertama sampai anak terakhir.
Ray yang memimpin jalan. suasana rumah hantu remang remang, bahkan ada beberapa bagian yang gelap. si kembar baru masuk sudah disambut hantu tanpa kepala, berbalut kain putih berlumuran darah. si kembar tidak menunjukkan reaksi takut.
"Ray sekarang saatnya." bisik Ren karena ia yang paling dekat dengan Ray.
Ray mengeluarkan sesuatu dari tas ransel yang selalu dibawa kemana mana. sebuah alat yang bisa mengeluarkan suara seperti speaker kecil. dan alat yang bisa memantulkan cahaya hingga bisa membuat sebuah ilusi. Setelah selesai si kembar pun keluar. Lalu Ray menekan tombol yang ada ditangan nya seperti remote control.
Lalu alat itu pun aktif, Ray menghitung sampai tiga, tak berapa lama orang yang didalam rumah hantu pun berteriak ketakutan.
Suara orang ketawa, menangis menggema di dalam sana. Cahaya yang dipantulkan tadi menyerupai sosok transparan yang menyeramkan, sebab itulah para hantu didalam sana berteriak histeris.
"Cih hantu teriak hantu," gumam Ray.
Si kembar santai santai saja, seolah tidak merasa bersalah sama sekali setelah membuat kekacauan di rumah hantu.
"Tolong... tolong, ada hantu beneran," teriak salah satu dari hantu tersebut. hantu tanpa kepala yang tadi nakut nakutin si kembar sudah duluan pingsan. para hantu didalam rumah hantu tersebut berlarian keluar. membuat suasana pasar malam semakin kacau. Si kembar hanya diam memperhatikan sambil makan jajanan yang dijual dipasar malam.
"Apa yang terjadi?" tanya penjual tersebut.
"Gak tau Pak," jawab Ray.
Alat yang terpasang didalam rumah hantu sudah dimatikan jadi suasana kembali tenang.
Para hantu yang bekerja didalam sana tidak berani lagi untuk masuk. karena mereka melihat dengan jelas sosok menyeramkan didalam sana.
Si kembar ternyata jahil juga, ngerjain para hantu dengan hantu yang Ray ciptakan dari alat tersebut.
.
.
.
__ADS_1