
.
.
.
Mereka bermain sepuasnya, apalagi Diva yang begitu senang seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak ketempat taman hiburan. tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22:00 WIB. Darmendra pun mengajak anak dan istrinya pulang. Diva memberenggut, seakan tidak mau pulang.
"Hubby, kok cepat sekali sih?" tanya Diva.
"Sudah jam 10 malam sayang," jawab Darmendra, Diva terpaksa menurut saja. sedangkan sikembar sudah terlihat sangat mengantuk. Didalam mobil sikembar langsung tepar.
"Mungkin mereka terlalu lelah," batin Darmendra, Diva pun ikut tertidur saat mobil melaju dijalan raya. meskipun sudah jam 10 malam, tapi kendaraan masih ramai berlalu lalang, Darmendra menjalankan mobilnya dengan santai. setibanya di mansion, Darmendra mengangkat tubuh Diva dan membawanya kekamar, begitu juga dengan sikembar Darmendra memerintahkan pengawalnya untuk mengangkat tubuh anak anaknya karena tidak mau membangunkan mereka.
"Aku tidak tahu seperti apa anakku nanti? apakah seperti Mommy nya yang bar bar?" gumam Darmendra dalam hati sambil tersenyum tampan. Lalu ia melangkahkan kaki masuk kedalam kamar mandi, karena sudah larut malam Darmendra mandi hanya sekejap. Setelah memakai piyama Darmendra melepas hijab yang dipakai Diva lalu iapun berbaring disamping Diva sambil memeluk tubuh Diva dan mengelus-elus perut Diva yang masih rata. Tidak berapa lama Darmendra pun juga tertidur.
Pagi hari...
Diva terbangun lebih dulu, ia menelisik kesegala arah dan mendapati dirinya ada dikamar, seingatnya semalam ia tertidur dimobil.
Lalu Diva melihat jam yang ada didinding ternyata sudah pukul 5 pagi, "Semalam aku ketiduran dimobil pasti hubby yang menggendong aku," gumam Diva dalam hati.
Kemudian Diva melihat suaminya yang masih tertidur pulas. seketika Diva tersenyum, memandang wajah tampan suaminya. Diva menoel noel hidung mancung Darmendra.
"Kenapa tampan sekali sih, aku jadi cemburu apalagi banyak cewek cewek kegatalan yang tidak bisa melihat pria tampan, tidak peduli suami orang," gumam Diva.
"Aku memang tampan, bahkan super tampan," gumam Darmendra, tapi matanya masih tertutup rapat.
"Ehh," seketika Diva gelagapan karena gumamannya bisa jadi didengar suaminya, padahal Darmendra cuma mimpi.
"Sekarang kan weekend jadi sikembar pasti belum bangun," gumam Diva. Diva bangkit dan berjalan kekamar mandi, ia membersihkan diri, Diva selama hamil jarang mandi, entahlah tiba tiba saja ia malas mandi. sewaktu belum hamil Diva mandi biasanya 3 sampai 4 kali dalam sehari. Tapi disaat hamil hanya 2 kali sehari atau hanya sekali sehari.
Sedangkan sikembar sudah bersiap siap untuk jalan jalan pagi keluar mansion, mereka hendak pergi ketaman sekalian menghirup udara pagi, walaupun matahari belum menampakkan sinarnya tapi sikembar sangat bersemangat. Dengan membawa skateboard yang akan mereka gunakan untuk jalan jalan. Tidak lupa sikembar pamit kepada pelayan, karena Oma Opa dan penghuni mansion ini belum keluar dari sarangnya masing-masing, hanya pelayan dan penjaga yang sudah selalu sedia setiap saat.
"Bi, nanti bilang sama Oma atau Opa kita jalan jalan, kita mau ketaman sekalian joging." Ram.
"Baik tuan kecil nanti bibi sampaikan," ucap pelayan.
Sikembar pun keluar dari mansion, para penjaga gerbang membuka pintu gerbang untuk mereka, pengawal ingin mengikuti tapi dicegah oleh sikembar, akhirnya pengawal hanya membiarkan saja sikembar pergi. ya, sejak kejadian Ram diculik Darmendra selalu menyediakan pengawal yang akan selalu mengikuti sikembar secara diam diam. mereka tidak akan keluar kalau sikembar masih bisa mengatasinya sendiri.
__ADS_1
Sikembar keluar dari mansion dengan menggunakan skateboard, tapi baru beberapa ratus meter mereka meninggalkan mansion, ada sebuah mobil sedang mengikuti mereka. Sikembar berhenti dipinggir jalan, mobil itu juga berhenti.
"Akhir-akhir ini kita selalu diawasi," ucap Ray.
"Walau bagaimanapun kita harus tetap waspada, karena itu bukan orang utusan Daddy." Ram.
"Benar, mungkin mereka orang jahat yang menginginkan kita?" tanya Ren.
"Bisa jadi, karena kita dan juga Daddy banyak musuh," Roy.
"Apa mungkin mereka musuh dari kalangan bisnis?" tanya Rakha.
"Kita tidak bisa menebak, kita ikuti saja permainan mereka," Raffa.
"Sudah, lebih baik kita bertingkah seperti biasa, seperti tidak tau apa apa, agar mereka tidak curiga," Rasya.
Sedangkan didalam mobil, para menguntit masih memperhatikan sikembar dari jarak aman menurut mereka, padahal sikembar sudah mengetahui semuanya. sikembar memulai jalan jalannya menuju taman. tidak lupa tas ransel milik mereka selalu mereka bawa kemana pun kalau mereka sedang keluar.
Setibanya ditaman, sikembar melakukan atraksi mereka menggunakan skateboard, hal itu membuat orang orang yang ada ditaman tersebut berdecak kagum.
"Wah hebat sekali mereka," ucap si A.
"Wajah juga sangat tampan, duh bikin gemes banget," ucap si C.
"Kalian sadar tidak? mereka itu SEVEN R yang viral itu loh," ucap si D.
"Masa sih?" tanya si A.
"Coba perhatikan betul betul," jawab si D.
"Iya benar, mereka anak yang viral itu," pekik si A, B, dan C bersamaan.
Sedangkan sikembar masih asik dengan atraksi mereka, ada yang langsung merekam mereka dengan melakukan siaran langsung, hingga seketika itu juga akun si perekam video tersebut menjadi viral dan lebih banyak followers nya. sikembar tidak mengetahui hal itu, mereka masih asik dengan atraksi yang mereka lakukan.
"Istirahat yuk," ajak Ram, keenam saudaranya mengikuti, mereka duduk dirumput tanpa beralaskan tikar atau apapun.
Sedangkan didalam mobil, para menguntit masih mengawasi gerak gerik sikembar.
"Kapan kita culik mereka," tanya salah satu dari penjahat tersebut.
__ADS_1
"Tunggu ada kesempatan, ditempat seperti ini bisa saja kita yang kena," ucap siketua.
"Tapi bos, nyonya menyuruh kita cepat bertindak," kata anak buahnya yang lain.
"Heeh... kita bertindak harus dengan pemikiran yang matang, jangan sampai kita gegabah dan akan merugikan kita sendiri." ucap ketua dengan suara lantang. seketika bawahannya terdiam.
"Mereka terus mengawasi kita, apa yang akan kita lakukan?" tanya Ram.
"Biarkan saja dulu, kita lihat pergerakan mereka," Ren.
"Jangan dilihat terus, nanti mereka curiga," Roy.
"Ada berapa orang didalam mobil itu?" tanya Rakha.
"Semua ada empat, aku sudah menyelidiki mereka," Ray.
"Kalian bawa permen karet itu kan?" tanya Raffa.
"Tentu, itu senjata baru kita, agar tidak dicurigai musuh." Rasya.
Sikembar terus berbincang bincang, mereka duduk melingkar sambil selonjoran dirumput, sesekali mereka berbaring disana.
"Bos... Apa tindakan kita selanjutnya?" tanya salah satu dari mereka.
"Sebaiknya kita cegat mereka sepulang dari sini nanti," ucap ketuanya.
"Ide bagus bos, saya yakin nyonya pasti senang dengan kerja kita." bawahan A.
"Hmmm, kita akan dapat bayaran yang tinggi, kalau kita bisa menculik semuanya." bos.
"Mereka cuma anak kecil, bisa apa mereka paling cuma bisa nangis-nangis minta dilepaskan," bawahan B.
"Bagaimana kalau kita minta tebusan juga pada orang tua mereka? mereka anak orang kaya bos," bawahan C.
PLAAK... Sebuah tamparan mendarat dilengang bawahan C, membuat ia meringis menahan sakit.
.
.
__ADS_1
.