
.
.
.
"Boleh Daddy bantu kalian?" tanya Darmendra.
"Tidak usah Dad, kami bisa atasi semuanya." Ray.
"Kalau nanti perlu bantuan jangan segan segan beritahu Daddy," Darmendra.
"Tentu Dad, kekuasaan Daddy sangat kami perlukan, tapi tidak untuk sekarang." Ren.
"Anak anak Daddy pemikiran nya lebih dewasa." Darmendra.
"Karena kami anak jenius Dad, tidak ada yang menyaingi kami di sekolah, bahkan guru aja kalah." Ram.
"Oh iya Dad, kami perlukan bantuan Daddy untuk langsung masuk ke SMP kelas 9." Ray.
"Iya Dad, soalnya kami bosan pelajaran yang terlalu mudah." Roy.
"Soal itu kalian tanya ke Mommy kalian, Daddy tidak berani membantah Mommy kalian." Darmendra.
"Kenapa Dad? Daddy kan laki laki masa tidak berani." Ram.
"Kalau aku menentang Mommy kalian, bisa bisa gagal buka segel." ucap Darmendra yang hanya bisa diucapkan dalam hati.
"Daddy kok diam?" Roy.
"Apa kalian berani menentang Mommy kalian?" tanya Darmendra, si kembar menggeleng.
"Begitu juga Daddy." Darmendra.
Si kembar mengerucutkan bibirnya. Darmendra tertawa melihat kelakuan putranya itu.
Waktu berlalu, kini hari yang dinantikan telah tiba, ulang tahun si kembar di adakan di ballroom hotel bintang lima. sikembar mengundang 500 orang tamu. 300 anak anak dan 200 orang dewasa. si kembar tidak mengundang anak anak dari kalangan orang kaya, karena menurut mereka kebanyakan anak orang kaya itu sombong dan selalu membanggakan harta orang tua mereka. contohnya anak anak di sekolah si kembar. walaupun tidak semuanya begitu. Dan tidak lupa si kembar juga mengundang kolega bisnis nya yaitu tuan Akira. Kini si kembar sibuk mempersiapkan diri mereka untuk acara besok. acara akan berlangsung dari jam satu siang hingga jam 5 sore.
"Bagaimana Paman? apakah semua sudah siap?" tanya Ray pada asisten pribadinya, orang yang dipercaya si kembar untuk mengurus perusahaan mereka.
"Sudah tuan kecil, hanya tinggal menunggu acaranya besok." jawab pria itu.
"Terimakasih paman." Ray.
"Sama sama tuan kecil."
Lalu panggilan pun terputus, Ray kembali berkumpul dengan saudara saudaranya.
"Gimana?" tanya Ren.
"Sudah beres semua, tinggal menunggu waktunya saja." Ray.
Malam hari...
__ADS_1
Diva dan Darmendra sedang berada didalam kamar mereka. Darmendra memeluk tubuh Diva dari belakang yang sedang duduk dipangkuan Darmendra.
"Sayang, apakah sudah sembuh?" tanya Darmendra, Diva mendongak menatap wajah tampan suaminya itu.
"Sudah mas," jawab Diva malu malu.
"Bolehkah kalau sekarang?" tanya Darmendra lagi.
"Nanti saja ya mas, sekarang masih awal, nanti kalau si kembar kesini gimana?" tanya Diva.
"Tidak akan, si kembar pasti sudah tidur." Darmendra.
Baru saja Darmendra berbicara begitu, tiba tiba pintu kamar mereka diketuk dari luar, siapa lagi pelakunya kalau bukan si kembar.
Tok...
Tok...
Tok...
Diva bangkit dan berjalan menuju pintu. saat pintu di buka si kembar langsung menerobos masuk, wajah Darmendra seketika berubah masam, tapi sebisa mungkin ia menyembunyikan perasaannya.
"Alamat gagal lagi nih." batin Darmendra.
"Sayang ada apa?" tanya Diva.
Si kembar langsung memeluk Daddy mereka. Darmendra pun membalas pelukan si kembar, sikembar mencium pipi Darmendra satu persatu.
"Besok kami 8 tahun Dad, ulang tahun kali ini kami sudah ada Daddy, kalau tahun tahun sebelumnya kami hanya ada Mommy." Ram.
"Maafkan Daddy yang terlambat menemukan kalian, maafkan juga Daddy tidak bisa bersama kalian dari kalian lahir." Darmendra.
"Tidak apa-apa Dad, semoga kedepannya kita tidak berpisah lagi," Roy.
"Iya, Daddy juga tidak mau kehilangan kalian lagi." Darmendra.
Diva yang mendengar ungkapan hati putra kembarnya merasa terenyuh hatinya. meskipun tidak terlahir dari rahimnya, tapi ia merawatnya seperti anak kandungnya sendiri.
"We love you Daddy, love you so much." ucap sikembar serentak. lalu mereka berpindah ke Diva.
"We love you Mommy, love you so much." ucap sikembar serentak.
Lalu Diva dan Darmendra juga menjawab dengan serentak.
"We love you too my boys." jawab Darmendra dan Diva serentak.
"Sekarang kalian tidur ya." Darmendra.
"Kami mau tidur dengan Mommy dan Daddy," jawab sikembar.
Darmendra menghela nafas, "apes banget sih nasibku." Darmendra membatin.
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang kita tidur, besok kalian ulang tahun, dan kalian pasti akan mengadakan persembahan group band kalian." Diva.
Sikembar pun akhirnya tertidur, berjejer dalam satu ranjang, beruntung ranjangnya sangat besar jadi muat untuk mereka.
"Sayang, kok kamu tau kalau sikembar akan kemari?" tanya Darmendra.
"Sikembar memang begitu, setiap akan berulang tahun mereka akan tidur bersamaku, disitulah sifat manja mereka akan keluar." Diva.
"Maafkan aku sayang, aku tidak tahu kalau sikembar akan seperti itu." Darmendra.
"Bukan salah mu hubby, semua sudah ditakdirkan." Diva.
"Panggil terus seperti itu ya sayang." Darmendra.
"Seperti yang mana?" tanya Diva.
"Hubby, aku suka panggilan itu." Darmendra.
Diva tersipu malu, "baiklah hubby."
"Sekarang kita tidur ya, besok baru kita belah duren." ucap Darmendra tanpa filter.
Diva mengangguk, "baiklah."
Akhirnya mereka tidur bersama, walau berhimpitan tapi mereka bahagia.
Esok harinya...
Sikembar sudah berada di hotel tempat berlangsungnya acara ulang tahun sikembar yang kedelapan tahun. Sikembar yang memang tampan, sekarang bertambah tampan. karena tahun ini merupakan ulang tahun impian mereka. kenapa begitu? karena ulang tahun kali ini ada Daddy mereka yang menemani. sebelumnya mereka tidak mau kalau ulang tahun mereka dirayakan.
Para tamu yang diundang sudah datang. Mereka semua duduk dikursi yang sudah disediakan, makanan dan minuman berada disamping kanan. Kalau mau makan atau minum tinggal ambil sendiri. semua biaya sikembar sendiri yang tanggung. tanpa uang dari Daddy dan Mommy mereka.
Darmendra dan Diva ingin membantu, tapi mereka menolak. Para tamu yang hadir tidak diperbolehkan membawa hadiah, aneh bukan? Ya, biasanya kalau anak anak lain pasti menginginkan hadiah, tapi tidak untuk sikembar. sikembar sudah berada diatas panggung bersama Daddy, Mommy, Oma dan Opanya. Saat acara dimulai para tamu undangan diwajibkan untuk berdoa terlebih dahulu mengikut agama masing-masing.
Sekarang para tamu menyanyikan lagu selamat ulang tahun, setelah itu barulah sikembar meniup lilin hingga padam.
Sikembar mempersilahkan tamunya untuk makan.
"Jangan berebut ya? tenang semuanya kebagian." ucap Ram dengan suara lantang melalui mic.
Kini sikembar melakukan persembahan dipentas tersebut. Para tamu sangat antusias, dulu mereka tidak dapat menonton waktu sikembar konser. sekarang mereka menyaksikan penampilan sikembar tanpa harus bayar. mereka begitu takjub menyaksikan persembahan dari sikembar di acara ulang tahun mereka.
Para tamu yang makan masih ramai ngantri, tempat makanan dibagi menjadi tiga bagian, agar tamu undangan tidak terlalu lama ngantrinya.
"Gak nyangka sikembar akan mengundang orang sebanyak ini?" Darmendra.
"Mereka tidak pernah merayakan hari ulang tahun mereka, jadi wajar saja sih." Diva
.
.
.
__ADS_1