
.
.
.
Darmendra belum tau kalau putra putranya sudah memiliki perusahaan masing-masing, sikembar masih merahasiakan hal tersebut, nanti ada waktunya mereka akan memberitahu Mommy dan Daddy-nya.
"Kita kemana sekarang?" tanya Darmendra.
"Bagaimana kalau kita makan dulu," jawab Diva.
"Kira kira dimana tempat yang bagus dan enak makanannya?" tanya Darmendra.
"Warung tenda aja Dad, gak perlu restoran mewah untuk mencari makanan," jawab Ram.
"Hmmm, boleh juga," kata Darmendra.
Kemudian mereka pun pergi ketempat yang mereka inginkan.
"Sepertinya disini juga boleh," kata Darmendra setelah mereka tiba disebuah rumah makan pinggir jalan.
"Kita coba saja Dad, lihat menunya nampak menggiurkan." Rakha.
Mereka pun masuk dan mencari bangku panjang agar bisa untuk menampung mereka.
"Selamat datang tuan, mau makan apa?" tanya pelayan dirumah makan itu.
Darmendra melihat kearah dinding yang terdapat gambar contoh makanan yang tersedia dirumah makan tersebut.
Ikan bakar 9 porsi, dan ayam penyet 9 porsi," jawab Darmendra.
"Maaf tuan, untuk ikan bakarnya harus memilih sendiri setelah itu baru dibakar," jawab pelayan itu.
"Oh gitu ya, maaf saya juga tidak tahu," kata Darmendra.
"Mari tuan silahkan untuk memilih ikan tersebut." ucap pelayan itu.
Darmendra sikembar dan Diva diantar kesebuah kolam, dan kolam itu disekat sekat untuk mengasingkan ikan tersebut. Bermacam macam jenis ikan yang dipilih tentunya dengan harga yang berbeda beda.
"Aku yang itu," Ram menunjukkan ikan mas yang sangat besar. Penjaga kolam itu pun menangkap ikan tersebut.
__ADS_1
Betapa senangnya sikembar dengan pengalaman seperti ini, kebanyakan mereka makan, disinilah mereka disajikan dengan ikan bakar yang harus ditangkap hidup-hidup.
Setelah mendapatkan ikan yang mereka inginkan mereka kembali duduk di bangku tadi, sementara menunggu ikan bakar matang. Beberapa ibu ibu datang menghampiri mereka dengan nada mengejek.
"Ehh ternyata orang terkaya di negara ini makannya diwarung pinggir jalan," ucap si A ibu yang bertubuh gempal.
"Cih, sok sokan sih, dapat hadiah miliaran disumbangkan semuanya, sekalinya giliran makan dipinggir jalan," ucap si B ibu yang bertubuh kerempeng.
Darmendra Diva dan sikembar malah tidak peduli, walau mereka diejek sekalipun. Karena sudah terlalu geram akhirnya Ram buka suara. Ia tidak peduli lagi walau mereka lebih tua.
"Apakah perusahaan suami ibu ingin kami buat bangkrut?" tanya Ram dengan nada lembut tapi penuh ancaman.
Gleek... Seketika ibu ibu itu terdiam, perusahaan suaminya hanya perusahaan kecil kalau bangkrut bagaimana nasibnya nanti.
"Jangan tuan, maafkan kami tuan," ucap si A dengan nada gemetar.
"Lain kali lidahnya dijaga ya Bu, jangan sampai lidah ibu merusak masa depan keluarga ibu," ucap Ram begitu menohok.
Darmendra dan Diva hanya terdiam mendengar Ram yang berbicara. Terlihat ibu ibu itu sudah ketakutan.
"Itu baru aku yang bertindak Bu, bagaimana kalau semua saudaraku dan Daddyku yang bertindak, dan jangan sampai Mommy kami juga ikut bertindak maka tidak ada ampun buat kalian," ucap Ram dengan santai tapi pedas.
"Iy.. iya maafkan kami tuan," ucap wanita itu gugup. Kemudian mereka pun pergi dari tempat itu, yang tadinya mau makan sekarang selera makan ibu ibu itu jadi hilang.
Tidak lama kemudian pesanan mereka sampai, ikan bakar dengan bau khasnya begitu menggugah selera.
Kira kira seperti inilah ikan bakarnya.
Ram begitu tidak sabar ingin mencicipi ikan tersebut. Begitu juga dengan yang lain mereka segera mencicipinya tapi sebelum itu mereka mencuci tangan terlebih dahulu dengan air cucian tangan yang telah disediakan, karena mereka makan menggunakan tangan tidak pakai sendok dan garpu.
"Hmmm, enak ya Mom, boleh nambah lagi gak ikan bakarnya?" tanya Ram, padahal dalam piringnya aja masih ada dan baru dimakan sedikit.
"Boleh," jawab Diva, lalu memanggil pelayan untuk ditangkapkan ikan seperti yang ini, pelayan pun bergegas melaksanakannya. Jarang jarang mereka dapat pelanggan yang seperti ini, jadi kesempatan tidak akan mereka sia siakan. Biasanya pelanggan yang datang kebanyakan cerewet dan sok kaya. Tapi kali mereka menemukan orang kaya yang rendah hati dan tidak sombong.
"Lain kali kita makan ditempat ini lagi ya Dad," ucap Rakha.
"Boleh, kapan kapan sebelum kalian berangkat kuliah ke London." kata Darmendra.
Mereka makan dengan begitu lahap, mungkin karena masakannya enak. Sedangkan ayam penyet belum mereka makan.
__ADS_1
"Mbak ini bisa dibungkus gak?" tanya Diva.
"Oh bisa nona, sebentar," jawab pelayan itu.
"Bungkuskan lagi 50 porsi," ucap Ram, pelayan itu mengangguk.
Didapur sibuk membungkus nasi ayam penyet, mereka sangat senang mendapatkan pengunjung yang begitu banyak membeli makanan.
"Sepertinya hari ini keberuntungan kita, gak apa-apa tadi 3 orang tidak jadi makan tapi gantinya berkali kali lipat," ucap pelayan itu kepada tukang masak didapur.
Setelah selesai membungkus nasi tersebut, pelayan itu menyerahkan kembali kepada Diva, Ram membayar dengan uang kontan, dan sengaja dilebihkan dari harga sebenarnya.
"Selebihnya untuk kakak cantik, sebagai bonus dari kami karena melayani kami dengan baik," ucap Ram.
Pelayan itu tersenyum, dalam hati ia merasa sangat senang mendapatkan bonus lumayan banyak dari pelanggan. Dan tidak lupa pelayan itu mengucapkan terimakasih.
Kemudian mereka kembali ke mobil, Darmendra Diva dan sikembar masuk kedalam mobil, lalu mereka pun pergi meninggalkan tempat itu.
Sepanjang jalan, setiap ada orang yang berjalan kaki mendapatkan makanan tersebut, termasuk pemulung yang mencari rezeki dengan mencari barang barang bekas.
Nasi yang mereka beli akhirnya habis mereka bagikan. Hingga mereka yang dapat makanan mereka sangat bahagia kebetulan perut mereka lapar.
"Indahnya berbagi," ucap Ram sambil tersenyum.
"Iya, teruskan seperti ini, jangan sampai kesombongan menguasai hati kalian semua. Walaupun kalian besar nanti sudah menjadi orang yang sukses dan lebih tinggi jabatannya ingat lah untuk menunduk kebawah. Kita bisa jadi seperti ini juga karena orang dari kalangan bawah," ucap Diva memberi pesan kepada anak anaknya.
Tentu mereka akan mendengarkan kata kata Diva dan langsung merekamnya dalam otak mereka masing-masing.
Tidak berapa lama mereka pun sampai di mansion, Darmendra langsung memarkirkan mobilnya di garasi mobil. Sikembar keluar dari mobil disusul Diva dan Darmendra. Saat masuk, mereka melihat Oma dan Opanya sedang bermain dengan baby Angel yang sedang tertawa cekikikan.
Sikembar ingin menggendong baby Angel tapi dicegah oleh Vera, karena mereka baru habis dari luar.
"Mandi dulu sana setelah itu baru boleh gendong adeknya," kata Vera.
Sikembar menurut saja, Diva dan Darmendra juga disuruh mandi terlebih dahulu. Keduanya pun naik keatas melalui tangga, karena lift masih berjalan keatas membawa sikembar.
.
Mohon maaf, tidak bisa membalas komentar kalian satu persatu. Komentar kalian menambah inspirasiku buat nulis. Terimakasih banyak. Tanpa kalian aku bukan siapa siapa.
.
__ADS_1
.
.