SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Penculikan.


__ADS_3

.


.


.


Tidak berapa lama kemudian polisi pun datang membawa preman tersebut, sikembar duduk dikursi plastik yang sudah disediakan ditempat itu, Agus mau duduk dikursi lain tapi dicegah oleh sikembar, Bapak pemilik warung tenda itu mengucapkan terimakasih kepada sikembar dan bertanya mau makan apa?


"Kami mau cumi bakar dan udang goreng krispi, paman." ucap Ram.


"Hei... mana ada makanan seperti itu disini?" Ren.


"Ada tuan muda, kebetulan baru hari ini saya berjualan menu itu." jawab penjual tersebut.


"Tuh kan apa aku bilang?" Ram.


"Paman mau makan apa?" tanya Roy.


"Seblak aja deh," jawab Agus.


"Seblak apa mas? ada Seblak ceker, ada Seblak kerupuk, ada Seblak mie."


"Seblak ceker aja deh." Agus.


Penjual sekaligus pelayan itu pun segera menyiapkan pesanan mereka.


Tanpa menunggu lama, pesanan mereka pun sampai. sikembar melihat sekeliling warung tenda ternyata sudah ramai pembeli.


Lalu mereka pun makan dengan nikmat, setelah selesai makan sikembar membayar makanan tersebut, Agus hendak membayar tapi dicegah oleh sikembar.


"Berapa paman?" tanya Ram.


"120 ribu tuan muda," jawab paman itu.


Sikembar memberikan uang 200 ribu, paman itu hendak memberikan kembaliannya tapi ditolak oleh sikembar, sikembar malah memberikan sebuah amplop berisi uang. paman itu menolak tapi sikembar memaksa.


"Kami tau paman membutuhkan uang untuk pengobatan istri paman, juga untuk biaya sekolah anak paman," ucap Ram.


Paman itu tersentak, "dari mana anak anak ini tau kalau aku butuh uang untuk pengobatan istriku?" gumamnya dalam hati.


Akhirnya paman itu menerima uang tersebut. setelah itu sikembar pun kembali ke mansion. Sepeninggalan sikembar paman itu membuka amplop berisi uang tersebut, alangkah terkejutnya dia melihat nominal uang dalam amplop tersebut.


"100 juta?" tanyanya dalam hati, paman itu pun bersujud ditanah sambil mengucapkan Alhamdulillah.


"Semoga Allah membalas kebaikan kalian anak anak yang dermawan." gumam paman itu.


Sikembar sudah tiba di mansion, Vera buru buru membuka pintu untuk sikembar, belum satu hari jauh dari sikembar tapi Vera sudah begitu rindu. Bagaimana kalau setahun?.


Setelah menyalami Omanya, sikembar pun masuk kekamar mereka masing-masing. Vera tidak mau mengganggu mereka, Vera tau sikembar ingin istirahat.


Sikembar sudah mandi, dan sedang berkumpul dikamar Ray.


"Berapa kamu beri paman itu uang?" tanya Roy.


"Sudahlah tidak perlu ditanyakan lagi, kalau kita hitung hitungan memberi sesuatu pada orang itu tandanya tidak ikhlas." jawab Ram dengan bijak.

__ADS_1


"Benar tuh, berapa pun nominal uang yang kita berikan, tidak perlu diungkit lagi," Ren.


"Mommy selalu mengajarkan kita untuk berbagi tanpa harus diungkit kembali, atau dipamerkan pada orang lain," Rakha.


"Apa yang mereka terima itu adalah rezeki mereka hanya saja melalui tangan kita," Raffa.


Roy merasa tertampar oleh ucapan saudara saudaranya.


"Kita memberi bukan untuk meminta balasan," Ray.


"Lebih baik kita mengerjakan tugas sekolah yang diberikan oleh guru," Rasya.


Malam hari...


Setelah makan malam mereka berkumpul diruang tengah, sambil menonton film kesukaan sikembar.


"Bagaimana dengan sekolah kalian?" tanya Diva.


"Biasa aja Mom, tidak ada yang menarik." Ren.


"Itukan sudah sesuai dengan keinginan kalian?" tanya Diva lagi.


"Pelajarannya terlalu mudah," ucap Ray dingin.


"Pelajaran apa yang sulit bagi kalian?" tanya Darmendra.


Sikembar menggeleng, "Tidak ada." jawab sikembar serentak.


Darmendra tersenyum, "anak anak Daddy memang jenius."


"Iya Oma, dan kepala sekolah langsung memberikan kelulusan pada kami." Ram.


"Sekarang sudah malam, pergi tidur besok mau sekolah," Diva.


Sikembar pun patuh, lalu mereka mencium tangan kedua orang tuanya dan tidak lupa juga Oma dan Opanya.


"Kami tidur dulu ya semuanya." Ram.


"Selamat malam," ucap Vera.


Sikembar segera masuk kedalam kamar masing-masing.


Darmendra juga mengajak Diva untuk tidur, padahal baru jam 9 malam. Darmendra ada ada saja. Sesampainya dikamar, Darmendra langsung mengunci pintu kamar mereka, Darmendra memeluk tubuh Diva.



"Bolehkah malam ini?" tanya Darmendra.


Diva mengangguk, "boleh."


Tanpa menunggu lama Darmendra langsung mencium bibir merah Diva, awalnya hanya ciuman ringan lama kelamaan malah menjadi cumbuan, akhirnya malam ini keduanya melakukan pendakian demi mencapai puncak.


Darmendra berbaring disamping Diva yang masih terlihat kelelahan. Darmendra tersenyum dan bertanya.


"Bagaimana?" tanya Darmendra.

__ADS_1


"Apanya?" tanya Diva balik.


"Yang barusan kita lakukan?" tanya Darmendra lagi.


Diva tidak menjawab, ia malu untuk menjawab pertanyaan itu meskipun Darmendra sudah menjadi suaminya. Diva hendak bangkit tapi ditahan oleh Darmendra.


"Mau kemana hmmm?" tanya Darmendra.


"Mandi, hubby." jawab Diva.


"Sekali lagi ya," pinta Darmendra.


Diva hanya pasrah saja, ia juga menginginkan hal itu. akhirnya keduanya melakukan pendakian kembali, hingga keduanya kelelahan barulah keduanya berhenti. Keduanya pun tertidur sambil berpelukan.


Keesokan harinya, sikembar sudah bersiap siap untuk pergi ke sekolah, mereka sangat mandiri dan tidak perlu lagi untuk dilayani. mandi sendiri berpakaian sendiri hingga tidak perlu merepotkan orang lain.


Kini mereka sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan, seperti biasa sikembar selalu dibawakan bekal oleh Mommy mereka. Setelah selesai sarapan sikembar pun pamit kepada Oma dan Opanya, Daddy dan Mommy juga pamit untuk mengantarkan sikembar ke sekolah setelah itu Diva dan Darmendra baru ke perusahaan masing-masing.


Sesampainya di sekolah sikembar langsung keluar dari mobil sebelum itu mereka mencium tangan Mommy dan Daddy nya. Dengan santainya sikembar berjalan memasuki kawasan sekolah sebelum pintu gerbang ditutup. Tak berapa lama bell sekolah pun berbunyi menandakan bahwa jam pelajaran akan segera dimulai.


"Tidak adakah pelajaran yang cukup sulit?" tanya Ram.


"Sst..." Ray meletakkan telunjuknya kemulut nya.


Sontak Ram terdiam, kalau sudah Ray yang bersuara mereka tidak berani membantah. walaupun mereka seumuran dan tidak memanggil kakak atau Abang tapi mereka begitu menghormati Ray.


Jam pelajaran akhirnya telah usai, sikembar merasa lega karena mereka merasa bosan dengan pelajaran yang terlalu mudah bagi mereka.


Kini saatnya mereka pulang sekolah, murid murid berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing. Saat berada di parkiran dua orang murid diculik oleh penculik dengan mengendarai mobil, kedua anak itu dipaksa untuk masuk ke mobil. hal itu dilihat oleh sikembar, dengan cepat Ram menembakkan senjata yang mereka bawa kemobil penculik tersebut sebelum mobil itu bergerak melaju dengan cepat. Ternyata Ram menembakkan pelacak pada mobil tersebut.


Para guru merasa panik mendengar anak muridnya diculik. murid murid lain pun ketakutan tapi tidak bagi sikembar.


"Ray kita selamatkan anak itu, aku sudah menempelkan pelacak pada mobil itu." Ram.


"Oke, sekarang kita minta izin kepada guru dulu." Ray. mereka semua pun mengangguk bersamaan.


Kemudian mereka menghampiri para guru yang masih terlihat panik, Kepala sekolah menelpon polisi, tapi polisi tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bukti.


"Bapak dan ibu guru, biarkan kami menyelamatkan teman kami yang diculik." ucap Ram.


"Hah... bagaimana cara kalian menyelamatkan mereka, polisi saja tidak bisa berbuat apa-apa?" tanya Pak Fredi.


"Jangan nak, itu sangat berbahaya," ucap Bu Renita.


"Percaya sama kami Bu, Pak. kami akan membawa teman kami dengan selamat. Bapak tunggu polisi untuk membantu kami nanti." Roy.


"Kita pergi sekarang, kebetulan Paman Agus sudah datang." Ray.


"Ya Allah, anak sekecil itu begitu antusias untuk menyelamatkan teman-teman nya yang diculik. Lindungi mereka Ya Allah." batin Renita.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2