
.
.
.
Sikembar yang mendengar bahwa rumah sakit tempat Mommy nya dirawat pun segera bangkit. mereka menyerahkan baby Angel ke Oma dan aunt nya.
"Daddy jangan kemana-mana, jaga Mommy dan adek dengan baik, kita tidak tahu trik musuh. bisa saja ini hanya pancingan agar kita semua keluar dan meninggalkan Mommy sendiri." ucap Ram bijak.
Darmendra berpikir ada benarnya perkataan putranya itu.
"Dan tugaskan pengawal bayangan untuk menjaga pintu ruangan ini." ucap Ray.
"Kenapa? biarkan mereka membantu kalian," tanya Darmendra.
"Seperti yang sudah Ram bilang kita tidak tahu trik musuh," kata Roy.
"Baiklah, semoga kalian baik baik saja," ucap Darmendra yang akhirnya pasrah mengikuti saran sikembar.
"Opa ikut kami, dan kalian semua untuk tetap disini jaga Mommy dan aunty kami dengan baik, Oma jaga adik adik ya," ucap sikembar seperti orang yang ingin pergi berperang.
"Baiklah, kami akan tetap disini," ucap Aldo.
"Mommy doakan kami, semoga bisa menumpas kejahatan, karena kami tahu doa seorang ibu bisa menembus sampai langit ketujuh," ucap Ram sambil mencium punggung tangan dan pipi Mommy nya.
Seketika itu juga air mata Diva jatuh mendengar ucapan putra bungsunya. Kemudian yang lain juga melakukan hal yang sama dengan apa yang Ram lakukan, semakin terisak saja Diva dibuatnya. Meskipun bukan anak kandung tapi ikatan kasih sayang ternyata lebih kuat dari ikatan darah. Diva tidak bisa berkata apa-apa karena tenggorokan nya merasa tercekat. Diva hanya mampu berdoa dalam hati untuk keselamatan putra putranya.
"Opa mari," ajak Ram sambil menyerahkan pistol bius ke tangan Opanya.
Jordan melangkah mengikuti sikembar, tidak lupa sebelum pergi sikembar mencium pipi adiknya.
Darmendra sudah memerintahkan pengawal bayangannya untuk berjaga-jaga diluar pintu.
"Opa sudah siap?" tanya sikembar serentak.
"Siap..!" jawab Jordan.
Puluhan mobil sudah terparkir diluar gerbang rumah sakit, hingga menghalangi kendaraan lain yang akan lewat.
"Akhirnya kamu keluar juga, Jordan!" kata Nathan sinis.
"Ada masalah apa sehingga kamu mati matian mencariku?" tanya Jordan.
"Tentu saja masalah kita yang belum selesai, setelah kamu mati baru aku puas, hahaha," Nathan tertawa menggelegar.
"Kakek tua berisik," ucap Ray.
"Oh ternyata ada bocah, berani juga kalian?" Nathan.
__ADS_1
Anak buah Nathan sudah siap sedia, mereka berjumlah sekitar 180 orang, semua anggotanya ia kerahkan untuk membalaskan dendamnya.
"Kakek tua mengirim orang lemah semua, sekali sentil saja sudah KO," ejek Ram, ia sengaja memancing emosi lawannya.
"Hahaha, tidak mungkin mereka semua adalah orang orang terkuat dianggota kami," Nathan.
"Kalau mereka kuat, sudah pasti mereka dengan mudah menghabisi nyawa kami," ucap Ram santai.
Gleek... Nathan menelan silivanya mendengar anak buah terkuatnya mudah dikalahkan oleh sikembar.
"Aahh, banyak omong kalian," teriak Nathan.
Sikembar melemparkan permen milik mereka, seketika asap tebal menyelimuti kerumunan anak buah Nathan. sikembar dengan gesit melancarkan serangannya dengan melumpuhkan anggota mafia tersebut.
Jordan memperhatikan gerak gerik sikembar yang memang sangat lincah dalam bertindak. sedangkan Nathan kebingungan karena pandangannya tertutup oleh asap dan matanya terasa perih. Sikembar menggunakan alat khusus agar bisa jelas melihat didalam kepulan asap. Disaat asap mulai menipis, sikembar sudah kembali ketempat semula.
Nathan mengucek matanya yang terasa perih, saat ia membuka matanya ia melihat anak buahnya hanya tinggal 20 orang saja yang lainnya sudah tergeletak ditanah.
"Bagaimana bisa? semua anak buahku sudah terkapar." batin Nathan.
"Bagaimana dengan hadiah kami kakek tua? sekarang terbukti kan kalau kami yang melenyapkan bawahan terkuat mu?" Ram.
"Hey kalian tunggu apalagi? Serang bocah itu dan pria tua itu bagianku," Nathan.
"Kita seumuran sobat, ingat itu," ucap Jordan.
Dari awalnya berteman akhirnya bermusuhan hanya karena salah faham yang tidak mau Nathan selesaikan secara dingin.
"Hmmm, menolak tua melanggar kodrat," seringai Jordan.
"Banyak omong kamu," teriak Nathan, dan langsung menendang Jordan, tapi Jordan bukan lemah yang hanya bisa diam kalau diserang.
Jordan menghindar dari tendangan Nathan hingga mengenai angin saja. sikembar melawan anak buah Nathan yang tersisa 20 orang. walaupun tubuh mereka besar besar tapi sikembar tidak takut sama sekali malah mereka merasa tertantang.
"Mengapa hanya menghindar, apa kamu takut dengan tendanganku?" tanya Nathan.
"Baiklah, jangan salahkan aku bila cucuku membuatmu lumpuh." Jordan.
Kali ini Jordan menyerang Nathan dengan gerakan cepat, meninju menendang hingga Nathan kualahan. Nathan sudah sempoyongan dan sudah tidak kuat lagi mengimbangi tubuhnya, Jordan menembak nya dengan bius, hingga Nathan ambruk ditempat.
Sementara itu sikembar masih bertarung dengan anak buah Nathan.
Salah seorang mengeluarkan pistol dan hendak menembak sikembar, sikembar tidak menyadari hal itu dan...
Dor... Orang itu ambruk ditempat, tenyata yang menembak adalah polisi, sebelum orang itu menembak sikembar polisi lebih dulu menembak.
"Terimakasih banyak Pak, hampir saja cucu saya tertembak kalau bapak tidak datang tepat waktu." ucap Jordan.
Karena kedatangan polisi perkelahian pun berhenti.
__ADS_1
Siapa yang memanggil polisi? tentu saja pihak rumah sakit, karena terjadi keributan dirumah sakit jadi dokter pun menelpon polisi.
"Sekarang sudah aman, musuh Opa dan klan mafia mereka juga sudah musnah." Ram.
"Iya jadi kita tidak perlu mendatangi markas mereka, tapi mereka sendiri yang datang mencari kita." Roy.
"Opa tidak apa-apa? tanya Ram.
"Hey jangan cemaskan Opa, Opa tidak selemah itu," Jordan.
"Terimakasih atas kerjasamanya tuan, kami akan mengurus sisanya," ucap komandan polisi.
"Sama sama Pak," Jordan.
Lalu sikembar dan Jordan kembali masuk, mereka langsung masuk masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri sebelum menyentuh adik adik mereka.
"Daddy tidak apa-apa?" tanya Vera.
"Daddy baik baik saja Mom, jangan khawatir, beruntung ada sikembar, kalau tidak mungkin kita akan kalah," ucap Jordan.
"Sikembar tidak apa-apa kan Dad?" tanya Diva.
"Mereka baik baik saja, kejeniusan mereka dan ketangguhan mereka telah menyelamatkan kita semua, aku khawatir kalau dunia tau dengan kejeniusan mereka yang tidak wajar nanti bisa dimanfaatkan oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab," ucap Jordan.
"Aku juga khawatir Dad, semoga saja mereka bisa mengatasinya sendiri," Darmendra.
"Hubby...!" panggil Diva, Darmendra pun mendekat.
"Jangan khawatir dengan mereka, mereka lebih dari yang kita bayangkan," Darmendra.
"Aku salut dengan kehebatan mereka, dan baru aku tau ternyata hacker misterius itu adalah mereka," kata Robert.
"Jadi yang melindungi perusahaanku itu mereka?" tanya Aldo.
"Kami hanya untuk melindungi perusahaan Om Aldo dari orang jahat," ucap Ram.
"Hahaha, maafkan Om ya, Om tidak tahu kalau yang selama ini melindungi data perusahaan Om adalah ponakan Om sendiri, Oya kalian mau hadiah apa? rumah, mobil atau yang lain?" tanya Aldo antusias.
"Blackcard Om ada berapa?" tanya Ren tidak nyambung.
"Dua, satu untuk Om dan satu untuk aunt kalian," jawab Aldo.
Perusahaan Om ada berapa?" tanya Roy.
"Hah, perusahaan?" tanya Aldo balik, sebenarnya ia cukup kebingungan mengapa sikembar bertanya seperti itu?
.
.
__ADS_1
.