
.
.
.
Aldo garuk-garuk kepala tidak gatal karena bingung dengan pertanyaan sikembar.
"Perusahaan Om satu, terus apa hubungannya dengan hadiah yang Om ingin berikan?" tanya Aldo.
"Om mau berikan kami mobil yang seperti apa?" tanya Ram,
"Hmmm, keluaran terbaru dan belum ada dipasaran Om akan pesan dari perusahaan S R Mobile corporation," jawab Aldo santai.
"Paman tau siapa pemilik perusahaan itu?" tanya Ren.
"Tau dong, tapi kata asisten pribadinya bos mereka itu sibuk, dan tidak bisa ditemui langsung, tapi tenang saja Om ada nomor teleponnya." Aldo.
"Coba Om telepon sekarang?" tanya Rakha.
"Gak bisa, orangnya sangat sibuk," Aldo.
"Coba saja Om, siapa tau orangnya bisa menjawab?" Ram.
Aldo pun mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak nama bos perusahaan tersebut. Saat panggilan tersambung terdengar suara nada dering dari ponsel Rakha semua orang saling pandang dan pandangan mereka tertuju pada Rakha, termasuk Aldo sendiri.
"Halo, ada yang bisa saya bantu," ucap Rakha menjawab telepon tersebut.
Aldo tergamang tidak bisa berkata, bos perusahaan tersebut yang dia bilang sibuk ternyata ada didepan matanya.
"Jadi kalian?" Aldo tidak tau lagi mau ngomong apa? Rakha pun memutuskan sambungan teleponnya.
"Om tau yang dimaksud S R itu?" tanya Rakha, Aldo menggeleng.
"S R itu kalau dipanjangkan menjadi SEVEN R Mobile corporation, Om tau siapa SEVEN R?" tanya Rakha lagi.
"Berarti kalian pemilik perusahaan itu?" tanya Aldo.
"Tepat sekali, dan bukan itu saja sebenarnya secara diam diam kami telah mendirikan perusahaan masing-masing," ucap Ram santai.
"Bagaimana Om? Om jadi gak memesan mobil dari perusahaan kami, mobil itu desain aku loh Om," Rakha.
"Hayo, kamu sudah berjanji untuk memberikan mereka hadiah," ucap Darmendra.
"Hah, ternyata mereka lebih kaya daripada aku," Aldo jadi malu sendiri.
"Hubby sudah tau mereka mendirikan perusahaan masing-masing?" tanya Diva.
"Tidak sayang, sikembar tidak pernah cerita sama sekali," jawab Darmendra.
"Sayang mending mobilnya buat aku saja," ucap Anisa.
__ADS_1
"Benar Om lebih baik untuk aunty saja, kami tidak butuh hadiah mahal," ucap Ram, dan diangguki oleh saudara saudaranya.
"Oke deh kalau gitu," Aldo.
"Om mau beli rumah juga?" tanya Raffa.
"hmmm pikir dulu deh," jawab Aldo.
"Ternyata kita benar benar kalah sama ponakan sendiri, mereka sudah membangun perusahaan sendiri sejak usia dini." Jhon.
"Jadi insecure sama mereka," Robert.
"Jangan begitu Om, yang penting kita mau berusaha pasti ada hasilnya," Ram.
...****************...
Hari pun berlalu, kini Diva sudah diperbolehkan pulang, sikembar tidak ikut kerumah sakit, karena mereka sedang ujian Nasional. jadi mereka harus fokus untuk lulus dan melanjutkan ke SMA.
"hubby sendirian saja?" tanya Diva, dan Darmendra pun mengangguk.
"Mommy sama Daddy merenovasi kamar untuk baby Angel. mereka begitu antusias dengan kepulangan, sayang dari rumah sakit," Darmendra.
"Lalu siapa yang gendong baby Angel?" tanya Diva lagi.
"Nanti ada suster yang akan membantu, dan mereka juga akan merawat baby Angel nanti," Darmendra.
Tak berapa lama masuk suster yang akan mengurus baby Angel. Darmendra menggaji mereka dengan gaji tinggi dibandingkan dengan gaji mereka di rumah sakit ini.
Kini mereka sudah siap untuk kembali ke mansion, Diva didorong menggunakan kursi roda, kali ini Darmendra memakai supir karena ia akan menemani Diva.
"Silahkan masuk sayang," ucap Darmendra sambil membukakan pintu mobil, Diva masuk dengan hati hati sebab ia menggendong baby Lina. sedangkan baby Lita dan baby Lica digendong oleh suster.
"Jalan Gus," perintah Darmendra.
"Baik tuan muda," jawab Agus sambil mengangguk.
Mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang, karena Agus khawatir kalau harus bawa mobil laju laju. Sekitar 40 menit mereka pun tiba di mansion, Agus memarkirkan mobilnya di garasi, lalu Agus turun dan membuka pintu mobil untuk majikannya tersebut.
"Kok sepi hubby, kemana semua orang? bahkan pelayan pun tidak menyambut kita," Diva.
"Mungkin mereka keluar," Darmendra.
Diva didorong oleh Darmendra menggunakan kursi roda, Darmendra terus berjalan tiba tiba kelopak bunga berjatuhan dari atas menimpa tubuh mereka, kemudian mereka pun keluar dari persembunyian mereka, ternyata sikembar juga sudah ada.
"Selamat datang baby Angel," ucap mereka serentak, pelayan juga tidak kalah antusias menyambut kehadiran keluarga baru Henderson.
"Sekarang kita kekamar baby Angel," ucap Vera.
Sikembar juga ikut tapi mereka lewat tangga karena Mommy mereka lewat lift. Diva merasa takjub dengan dekorasi kamar tersebut, warna bernuansa putih bercampur pink dan gold itu menjadi daya tarik tersendiri.
"Indah sekali Mom," ucap Diva sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
"Loh kok nangis?" Vera.
"Aku terharu Mom, terimakasih untuk segalanya," ucap Diva.
"Kamu juga anak kami, anggap saja kami sebagai pengganti orang tuamu," Jordan.
"Terimakasih Dad, Mom," Diva.
Sikembar masuk dan melihat kamar adiknya begitu indah, karena mereka juga baru kali ini masuk kedalam kamar adiknya.
"Indah sekali Mom kamar adik," ucap Ram.
"Ini Oma dan bibik yang mendekorasinya," Vera.
"Kalau begitu aku mau tidur sama adik saja," Ram.
"Kamu tidak boleh tidur sama adik, Mommy sama Daddy saja yang boleh," Ren.
"Benarkah Mom, aku tidak boleh tidur sama adik!" tanya Ram.
"Boleh, asal jangan sampai mengganggu adik," jawab Diva.
"Yee Mom bilang boleh," ucap Ram sambil jingkrak jingkrak gembira.
"Pelankan suaramu nanti adik terganggu," kata Ray, seketika itu juga Ram terdiam.
"Mom adik kok jarang sekali menangis," Roy.
"Itu karena adik pintar, kalian dulu juga begitu jadi Mommy tidak terlalu repot mengurus kalian," Diva.
"Mom, kenapa dulu Mommy dan Daddy berpisah?" tanya Ram.
Belum sempat Diva menjawab pertanyaan Ram, Ray sudah bersuara.
"Kepo banget sih kamu, bisa gak jangan bertanya yang aneh aneh," ucap Ray menegur Ram.
"Ada sesuatu yang bisa kita ceritakan pada orang lain, ada juga sesuatu yang harus kita rahasiakan karena itu bersifat privasi seseorang, soal Mommy dan Daddy itu bersifat privasi jadi Mommy tidak bisa menceritakan kepada kalian," ucap Diva sambil tersenyum tapi air matanya menetes dari pelupuk matanya.
"Tuh kan Mommy jadi sedih, kamu punya mulut dijaga ngomong juga harus difilter dulu pantas apa enggak," ucap Ray memarahi adiknya, sedangkan Ram hanya terdiam kemudian ia menghampiri Mommy nya dan bersujud di kaki Mommy nya sambil meletakkan dagunya dilutut Diva.
"Maafkan aku Mommy, lain kali tidak lagi buat Mommy sedih." Ram.
"Gak apa-apa, Mommy ngerti perasaan kalian, Mommy dan Daddy berpisah karena sesuatu hal yang tidak bisa diberitahukan kepada orang lain, tapi sekarang kalian sudah bertemu Daddy jadi jangan diungkit lagi masa lalu," ucap Diva, dan Ram pun mengangguk.
"Maafkan aku, untuk yang satu ini aku tidak bisa menjawabnya," batin Diva.
.
.
.
__ADS_1