
.
.
.
Darmendra dan Diva pun masuk kedalam kamar, Darmendra duduk di sofa sambil tersenyum tampan melihat gelagat Diva istrinya.
"Sayang kita mandi yuk..!" ajak Darmendra.
"Gendong.." ucap Diva sambil merentangkan kedua tangannya, dengan senang hati Darmendra menggendong Diva dan membawanya kekamar mandi. Akhirnya bukan hanya mandi, tapi keduanya melakukan hal yang seharusnya mereka lakukan sebagai pasangan suami istri. Sejak hamil Diva selalu berinisiatif duluan, seolah olah rasa malunya telah hilang.
Setelah selesai mandi keduanya berpakaian lalu berbaring ditempat tidur. Darmendra memeluk Diva dari belakang karena posisi Diva yang sedang membelakangi Darmendra.
Darmendra terus memandangi wajah cantik istrinya yang sedang tertidur, perlahan Darmendra mencium pelipis Diva. barulah ia menyusul Diva ke alam mimpi.
Keesokan harinya sikembar sudah bersiap siap untuk pergi ke sekolah, seperti biasa mereka tidak perlu dibangunkan, tidak perlu lagi dilayani untuk mandi dan berpakaian. meskipun mereka masih anak anak tapi sifat mereka sudah persis orang dewasa. kini mereka sudah berada dimeja makan, tak lama Darmendra dan Diva pun datang ke meja makan.
"Maaf Mommy telat bangun, jadi tidak menyiapkan bekal untuk kalian." Diva.
"Oma sudah siapkan, Mom." Roy.
"Wah Mommy jadi malu, biasanya Mommy yang siapkan sekarang malah Oma." Diva.
"Kata Oma, Mommy lagi hamil tidak boleh lelah." Ram.
"Anak pintar," Jordan.
"Jelas dong Opa," Ram.
"Cepat makan nya, nanti telat," Roy.
"Kami minta antar sama Paman Agus saja, Daddy jagain Mommy aja," Ram.
"Mommy tidak apa-apa, sayang? Daddy juga mau ke kantor." Diva.
"Iya Daddy akan jaga Mommy kalian," Darmendra tersenyum senang disuruh menjaga Mommy sikembar.
"Hubby kan mau kerja, aku gak apa-apa kok." Diva.
"Aku bisa kerja di mansion, sayang sambil temani kamu dirumah. nanti aku minta Robert untuk mengirim berkas berkas kesini." Darmendra.
"Itu sih maunya hubby, kasihan Robert harus bolak balik," Diva.
__ADS_1
"Itu memang sudah tugasnya sebagai asisten, percuma dong aku kasih dia ratusan juta perbulan kalau hal seperti itu saja tidak mau dikerjakan." Darmendra.
Sikembar pamit kepada Mommy dan Daddy nya tidak lupa juga Oma, sikembar mengelak saat Jordan ingin menciumnya, karena cuma Mommy nya yang bisa mencium mereka, tapi sekarang ada Oma jadi Omanya pun harus minta izin dulu baru boleh mencium sikembar. kini sikembar sudah ada didalam mobil, mereka melambaikan tangan kepada Oma dan Opanya. sedangkan Diva dan Darmendra masih dimeja makan.
"Hubby, kita ke mall yuk. pengen belanja banyak barang barang." Diva.
"Sayang kamu lagi hamil jangan terlalu capek," Darmendra.
"Kalau hubby tidak mau, ya sudah ntar malam jangan peluk peluk aku," Diva.
"Sayang mana bisa begitu? aku gak bisa kalau tidak peluk kamu?" Darmendra.
"Bodo amat, makanya jangan pelit sama istri. percuma kaya tapi pelit." ucap Diva sambil mengerucutkan bibirnya.
"Aduh, keanehan apa lagi ini? beginikah mood orang hamil?" Darmendra.
Karena dulu Darmendra tidak terlalu peduli dengan ngidam istrinya Mona, sekarang giliran Diva baru ia merasakan mood orang hamil. Diva bangkit dari duduknya dan berjalan langsung menuju lift, Darmendra hendak mengejar tapi keburu pintu liftnya tertutup. Terpaksa Darmendra naik lewat tangga. tiba di pintu kamar lagi lagi Darmendra kalah satu langkah.
Braak... pintu kamar tertutup dengan keras. Darmendra yang berada didepan pintu sampai melonjak kaget beruntung tidak mengenai hidung mancungnya.
Darmendra hendak membuka pintu tetapi dikunci dari dalam. Darmendra mengetuk ngetuk pintu tapi tidak juga dibuka. Darmendra seketika panik, ia turun kebawah untuk mengambil kunci cadangan.
"Ada apa?" tanya Vera.
"Mau ambil kunci cadangan Mom, entahlah Diva tiba tiba naik keatas dan mengunci kamar dari dalam." Darmendra.
"Tidak Mom, aku tidak berbuat apa-apa hanya...." Darmendra tidak meneruskan kalimatnya.
"Hanya apa? hanya keinginannya tidak kamu penuhi?" tanya Vera.
"Kok Mommy tau? aku cuma khawatir sama dia Mom," Darmendra.
"Apa keinginannya?" tanya Jordan.
"It... itu Dad, Diva ngajak ke mall pengen belanja kata nya." Darmendra.
"Harusnya kamu turutin kemauannya, sebenarnya itu bukan maunya, tapi kemauan anak kamu. makanya kalau tidak sanggup penuhi ngidam istri jangan bikin anak. bikinnya saja mau sekali istri ngidam gitu aja sudah tidak sanggup," gerutu Vera panjang lebar.
Darmendra pun kembali kekamar setelah mengambil kunci cadangan. saat ia membuka pintu ia tidak mendapati Diva dikamar. seketika Darmendra panik ia menelpon ponsel Diva dan ponsel itu ternyata ada diatas ranjang. Darmendra mencari dikamar mandi, ruang ganti tapi hasilnya nihil.
"Sayang, sayang kamu dimana?" teriak Darmendra, dan suara teriakan itu terdengar oleh Vera dan Jordan. Darmendra berlari menuruni anak tangga sambil berteriak.
"Ada apa lagi ini?" tanya Vera.
"Diva hilang Mom, Diva tidak ada dikamar." ucap Darmendra panik.
__ADS_1
"Kamu yakin Diva hilang?" tanya Jordan.
"iya Dad, tadi waktu aku masuk kekamar Diva sudah tidak ada," Darmendra.
"Kamu sudah cari betul betul?" tanya Vera.
"Sudah Mom, Diva memang tidak ada dikamar." jawab Darmendra.
Seketika suasana menjadi heboh dengan kehilangan Diva, para pelayan dan para satpam dikumpulkan dan diintrogasi kalau kalau ada melihat Diva, tapi mereka mengatakan tidak ada yang melihat Diva keluar atau dimana mana.
"Kemana kamu sayang? apa segitunya kamu marah sama aku? aku hanya menghawatirkanmu." gumam Darmendra.
Darmendra sampai menangis kehilangan istrinya, para pelayan penjaga tukang kebun semua mencari keberadaan Diva. Darmendra pergi kebagasi mobil dan memeriksa mobil, tapi mobil masih ada, bahkan mobil yang biasa Diva pakaipun masih terparkir sempurna dibagasi. Vera dan Jordan juga tidak kalah panik.
"Sayang, sayang kamu dimana?" teriak Darmendra sambil menangis.
"Sayang maafkan aku, aku janji akan mengizinkanmu asalkan kamu bisa menjaga kandunganmu dengan baik." ucap Darmendra sambil terduduk dilantai.
Tak lama para pelayan berkumpul kembali dan memberitahukan bahwa mereka tidak menemukan Diva disekitar mansion ini.
"Cek cctv," usul Jordan, Darmendra pun berlari menuju ruang cctv.
Darmendra memeriksa setiap sudut yang terjangkau oleh cctv, tapi tidak ada tanda tanda Diva keluar atau jalan jalan disekitar mansion.
"Kemana kamu sayang? kenapa tidak terlihat dikamera cctv?" ucap Darmendra lirih. Hidupnya terasa hampa kalau sampai Diva kabur. Darmendra terduduk lesu dilantai sambil mengusar rambut kepalanya.
"Sayang kamu dimana?" teriaknya lagi.
"Apakah kamu benar benar marah, sayang sampai kamu kabur seperti ini. maafkan aku sayang, maafkan aku," Darmendra terus mengoceh sambil sesekali mengusap air matanya. Vera datang menghampirinya.
"Lain kali jangan main main dengan wanita hamil, apalagi kalau ngidam." Vera.
"Mommy aku harus bagaimana?" tanya Darmendra.
"Kita cari lagi, mungkin dia kabur karena kamu larang ke mall?" tanya Vera.
.
Hayo kemana bumil?
Jawabannya di bab berikutnya...
.
.
__ADS_1
.