SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Menolak ikut kompetisi


__ADS_3

.


.


.


"Sayang kenalkan ini kakakku, dan ini suaminya," ucap Gadis memperkenalkan Diva.


"Aku sudah kenal sayang, dia teman sekolahku dulu, kita seangkatan," jawab Irfan.


Ya pria itu adalah Irfan, sejak kejadian tabrakan malam itu Irfan terus kepikiran pada sosok Gadis. Namun nasib baik menyebelahinya sekali lagi mereka dipertemukan sejak saat itu keduanya menjadi dekat, dan sekarang mereka sudah jadian dan Irfan sudah bertekad membuang perasaan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Mungkin sulit untuk melupakan cinta pertama bagi Irfan, tapi dia bertekad akan memberikan cintanya pada pengganti Diva dihatinya.


Lama Irfan merenungkan kata kata dari Adefa dan Aryana bahwa cinta tidak harus memiliki, dari situ Irfan sadar memang dia mencintai Diva tapi jodohnya bukan untuk Diva. Lalu ia memutuskan untuk mengejar cinta Gadis, yang ternyata mendapat balasan. akhirnya Irfan tau makna dari mencintai seseorang, kalau cinta tidak terbalas sekeras apapun kita berjuang tidak akan mendapatkan hasil. Tapi sekarang ia merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya karena cintanya sudah terbalas walaupun bukan dengan Diva.


"Aku pikir dia ingin merebut istriku," gumam Darmendra dalam hati.


"Jadi kalian sudah jadian?" tanya Diva.


"Iya seminggu yang lalu," jawab Irfan.


"Selamat ya, aku doakan kalian bahagia, kalau begitu kita pamit mau jemput sikembar disekolah," Diva.


"Sekolah SD sudah pulang dari tadi," Irfan.


"Anak kami sudah kelas 9 atau SMP," ucap Darmendra membanggakan diri.


"Haah... bukankah mereka...?" Irfan tidak jadi melanjutkan kata katanya sebab sudah lebih dulu dipotong oleh Darmendra.


"Iya mereka memang masih kecil, tapi mereka sangat jenius. bahkan meretas perusahaan yang mereka inginkan juga bisa." Darmendra.


"Hubby...! Diva, tapi Darmendra masih dengan kebanggaannya memamerkan kejeniusan sikembar.


Irfan tentu saja syok, ternyata apa yang ia dengar dari Adefa dan Aryana adalah benar.


"Ya sudah kalau begitu kita pamit dulu, dan terimakasih untuk kek nya." Diva.


"Sama sama, lain kali mampir lagi kak, ajak sikembar." Gadis.


"Sayang kamu bilang kamu hanya anak tunggal, tapi tadi...?" Irfan.

__ADS_1


"Ya, dia sudah aku anggap kakak kandungku sendiri, walaupun tidak ada ikatan darah." Gadis.


Irfan akhirnya mengerti, tanpa penjelasan panjang lebar, lalu Gadis menceritakan masa lalu sewaktu mereka sama-sama di desa, selalu bersama bermain bersama. tapi saat Diva berumur 10 tahun orang tuanya pindah ke kota. Tapi tanah rumah yang ada di desa masih ada dan itu semua sudah dialihkan atas nama Diva. Namun sejak orang tua Diva meninggal, Diva hidup sebatang kara dari situlah ia belajar hidup mandiri serta belajar ilmu bela diri demi untuk melindungi diri sendiri.


Darmendra dan Diva kini sudah tiba disekolah sikembar, mereka menunggu sikembar keluar dari kelas, Diva asik makan kue yang tadi ia beli dan rasanya memang enak.


Tidak berapa lama murid murid sekolah pun berhamburan keluar, masing-masing menemui jemputan mereka. Diva masih memperhatikan sikembar tapi belum ada tanda tanda akan keluar. Lalu Diva keluar dari mobil dan diikuti Darmendra juga keluar dari mobil. keduanya masuk kesekolah sikembar.


Tiba didepan kelas 9 Darmendra dan Diva bertemu dengan guru yang mengajar dikelas 8. dan Diva pun bertanya.


"Maaf Bu, ada lihat sikembar gak?" tanya Diva.


"Oh sikembar sedang berada diruang kepala sekolah Bu." jawab Bu Erina.


"Memang anak saya ada berbuat salah Bu," tanya Diva, Diva tentu cemas kalau kalau anaknya berbuat kesalahan hingga dipanggil Bapak Kepala sekolah.


Guru itu tersenyum, "tidak Bu, hanya saja bulan depan akan diadakan kompetisi murid cerdas. siapa yang bakal menang akan dibawa keluar negeri untuk mengikuti olimpiade matematika dan sains." ucap Erina.


Diva pun merasa lega mendengar penjelasan dari guru tersebut. Darmendra dan Diva pun bergegas menuju ruang kepala sekolah.


Tok...


Tok...


Tok...


"Kebetulan sekali tuan muda dan nyonya muda Henderson datang," ucap Pak Fredi.


"Sebenarnya ada apa Pak?" tanya Diva seolah olah tidak tahu.


"Begini nyonya muda..." perkataan Pak Fredi terhenti.


"Jangan panggil nyonya muda pak, panggil nama saja," ucap Diva.


"Rasanya kurang sopan kalau memanggil namanya saja," ucap Pak Ferdi.


"Turuti saja apa kata istriku, Pak Fredi sebelum ia mengamuk." Darmendra.


Gleek... para guru yang ada diruangan itu menelan silivanya dengan susah payah.

__ADS_1


"Begini nona Diva, kami akan mengadakan seleksi pemilihan para murid cerdas, sebulan lagi akan dipertandingkan antar provinsi, dan kami sepakat untuk mencalonkan anak tuan dan nona ikut dalam kompetisi ini, apabila nanti menang dan akan dipertandingkan lagi antar negara." ucap Pak Fredi menjelaskan.


"Semua keputusan ada pada anak saya Pak, saya hanya bisa mendukung apapun keputusan yang mereka ambil," ucap Darmendra.


"Bagaimana dengan kalian?" tanya Diva.


"Maaf Mommy kami sudah sepakat untuk tidak ikut dalam kompetisi ini, lebih baik serahkan saja kepada murid murid yang lain, mereka juga tidak kalah cerdas." Ram.


"Bapak sudah mendengar jawaban anak saya..!" Darmendra.


"Tidak bisakah dipertimbangkan lagi tuan, sangat disayangkan kalau mereka tidak ikut serta, diantara semua murid satu sekolah ini cuma mereka yang paling cerdas, berpikir cepat dan menjawab tepat." ucap Pak Rahmat yang dulu sempat meremehkan sikembar, tapi sekarang malah memuji kecerdasan sikembar.


"Maaf Pak, saya sudah bilang keputusan ada pada anak saya. bila mereka berkata tidak maka saya akan menyokong nya begitu juga sebaliknya." Darmendra.


Wajah para guru yang ada diruangan itu nampak muram, mereka kecewa dengan keputusan sikembar. mereka ingin mengikut sertakan sikembar bukan tanpa alasan, selain sikembar jenius nama sekolah juga akan mendapat pujian.


"Kalian yakin dengan keputusan kalian?" tanya Diva.


"Yakin Mommy, dan keputusan kami sudah bulat," Ray, kalau Ray sudah angkat bicara saudara saudaranya yang lain tidak bisa membantah, kalau A kata Ray maka A jugalah bagi mereka.


"Kami sebagai orang tua memohon maaf atas keputusan anak kami, dan kami juga tidak bisa memaksakan kehendak mereka," Diva.


"Kami mengerti nona, tapi seandainya anak tuan dan nona berubah pikiran segera hubungi kami, untuk sementara waktu kami akan mencari pengganti mereka," Pak Fredi.


"Baik Pak, kalau begitu kami permisi," Diva.


Lalu mereka pun keluar dari ruangan itu, Pak Fredi dan guru yang lain sangat kecewa mereka sepakat untuk menyeleksi kembali murid murid yang akan mereka pilih nanti. kalau sikembar mereka tidak perlu diseleksi lagi. Darmendra dan keluarga kecilnya sudah berada di parkiran sekolah.


"Kita kemana?" tanya Darmendra saat mereka sudah didalam mobil.


"Restoran xxx, kita makan lobster," ucap Diva sambil menjilati bibirnya seolah olah makanan itu sudah ada dalam mulutnya.


"Setuju...!" seru sikembar kompak.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2