SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Kepanikan hot Daddy.


__ADS_3

.


.


.


Waktu terus berlalu, kini usia kehamilan Diva sudah menginjak usia 9 bulan lebih, kini Diva selalu siaga karena perkiraan dokter memang sudah dekat waktunya.


Darmendra pun tidak kalah siaga ia selalu berada didekat Diva.


"Sayang, kamu mau melahirkan secara normal atau secara Caesar?" tanya Darmendra.


"Normal aja deh, hubby. doakan saja aku bisa melewati semuanya." jawab Diva.


"Aku selalu mendoakanmu sayang, dan aku akan selalu disampingmu," ucap Darmendra dramatis.


Diva tersenyum, ia sangat bahagia mendapatkan suami seperti Darmendra, takdir memang tidak ada yang tau, dan setiap kejadian pasti ada hikmahnya.


Diva menyandarkan kepalanya dipundak suaminya lalu Darmendra merangkul pundak Diva dan memeluknya dengan erat.


"Aku tidak sabar menanti kehadiran mereka," ucap Darmendra.


"Oh ya hubby, siapa nanti nama mereka?" tanya Diva, Darmendra tersenyum.


"Tunggu mereka lahir baru kuberitahu," Darmendra.


"Hubby, bukankah aku hamil sudah lebih 9 bulan? kenapa belum juga melahirkan?" tanya Diva cemas.


"Dokter bilang, kemungkinan kamu hamil 10 bulan sayang," jawab Darmendra.


"Memang ada ya hamil 10 bulan?" tanya Diva.


"Dokter bilang ada, tapi jarang, yang biasanya orang hamil kebanyakan 9 bulan 10 hari," kata Darmendra.


"Tapi aku sudah lebih 9 bulan 10 hari," ucap Diva.


"Kalau sudah waktunya pasti akan melahirkan, kita berdoa saja," Darmendra.


"Kalau memang hamil 10 bulan berarti tinggal seminggu lagi," kata Diva.

__ADS_1


Baru saja mereka berbincang tentang kehamilan dan kelahiran, Diva tiba tiba merasakan sakit di perutnya, tapi baru beberapa menit sudah tidak lagi.


"Kita kerumah sakit saja ya..!" bujuk Darmendra.


"Sakitnya sudah hilang hubby," rengek Diva.


"Tapi lebih baik kita siaga, kalau kita kerumah sakit disana sudah ada dokter jadi tidak perlu repot-repot." Darmendra.


"Jangan dululah hubby, mungkin hanya sakit biasa." Diva.


"Tapi kita harus siap siap sayang," kata Darmendra.


Lalu Darmendra pun mengambil tas yang telah disiapkan beberapa Minggu yang lalu, Darmendra membawa tas itu dan memasukannya kedalam mobil. Benar benar suami siaga. Lalu Darmendra kembali kepada istrinya dan mendapati istrinya sedang meringis menahan sakit.


"Sayang...!" panggil Darmendra tanpa sadar suaranya naik beberapa oktaf, Diva menoleh kearah Darmendra dan masih sempat tersenyum.


"Hubby, sakit..." Diva meringis, melihat hal itu Darmendra sontak panik lalu ia mengangkat tubuh Diva yang berat badannya semakin bertambah. Darmendra masuk kedalam lift untuk turun kebawah.


"Mommy... Mom," teriak Darmendra, suaranya bergema di mansion tersebut para pelayan yang sedang bekerja juga panik tidak biasanya majikannya seperti itu. Darmendra langsung menuju mobil yang tadi telah disiapkan.


"Ada ap..." perkataan Vera terhenti saat melihat Diva sedang digendongan Darmendra, Vera pun memanggil suaminya. Jordan datang dan langsung membantu Darmendra. Sesampainya dimobil Darmendra memasukkan Diva kedalam mobil dan meletakkannya dikursi belakang. Sedangkan kunci mobil ia serahkan kepada Jordan.


"Yakin Dad, memangnya kenapa dengan diriku? cepat Dad Diva sudah kesakitan." Darmendra.


"Coba lihat dirimu, setidaknya berpakaian lah yang pantas," Jordan.


Benar saja, baju singlet dan celana bokser yang sangat ketat bahkan pahanya saja terekspos. Darmendra menyadari itu lalu menepuk keningnya pelan. Lalu Darmendra pun berlari kembali kekamarnya mengambil celana dan baju secara acak, ternyata yang diambil celana selutut dan baju nya pakaian formal, seperti ingin kekantor saja. saat ia hendak memakainya barulah ia tersadar bahwa pakaian yang ia ambil tidak cocok. Darmendra kembali lagi mengganti pakaian tersebut. kali ini ia menyambar piyama untuk wanita, Darmendra lagi lagi harus mengganti pakaiannya. Akhirnya Darmendra mengambil baju kaos oblong dan segera berlari untuk turun kebawah, ia melupakan lift yang 24 jam menunggunya malah berlari menuruni tangga, baru separuh menuruni tangga Darmendra teringat ada lift, lalu ia naik lagi keatas menuju lift. saat tiba dilantai bawah, Darmendra teringat tidak membawa dompet. Lalu ia pun berlari lagi menaiki tangga menuju kamarnya, sampai didepan pintu kamar nafasnya ngos ngosan, Darmendra masuk kedalam kamar dan mengambil dompetnya. Barulah ia kembali turun menggunakan lift.


"Kenapa lama sekali? lihat istrimu sudah kesakitan," ucap Vera saat Darmendra sudah tiba didekat mobil mereka.


Darmendra pun masuk dan memeluk Diva, perlahan lahan ia mengusap perut Diva.


"Maaf sayang, aku terlalu panik tadi," ucap Darmendra merasa bersalah.


"Gak apa apa hubby, aku ngerti kok." kata Diva sambil menahan rasa sakit.


Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi, agar mereka cepat sampai kerumah sakit.


Akhirnya mereka pun tiba dirumah sakit, Darmendra yang panik pun segera memanggil dokter, Suster datang membawa brankar dengan tergesa-gesa. Kemudian disusul oleh dokter lalu membawa Diva keruang persalinan.

__ADS_1


"Dokter cepat dok, istri saya kesakitan lakukan sesuatu dok," Darmendra.


"Sabar ya tuan, biar saya cek dulu kondisi nyonya muda," ucap dokter itu.


Lalu dokter memeriksa Diva, ternyata sudah pembukaan tujuh. Diva hanya terdiam menahan rasa sakit, karena dari yang ia dengar kalau mau melahirkan jangan banyak bicara. dan kata kata itu terekam diotak nya sewaktu ia merawat sikembar dulu. karena Diva sering kumpul sama ibu ibu jadi Diva sedikit mengerti tentang hamil dan melahirkan. Apalagi Diva dapat panduan dari seorang dokter spesialis kandungan.


"Sabar ya tuan, diperkirakan satu jam lagi," ucap dokter, beruntung dokter itu perempuan kalau lelaki sudah ditendang oleh Darmendra saat dokter itu memeriksa Diva.


"Kenapa lama sekali dok? lihat istri saya sudah kesakitan," tanpa sadar Darmendra sudah membentak dokter itu. Tapi sebagai seorang dokter spesialis kandungan ia sudah sering menerima perlakuan seperti ini, dan ia memaklumi sikap seorang suami yang mencintai istrinya pasti akan panik yang berlebihan saat dalam situasi seperti ini. Kalau diperhatikan Darmendra lebih cerewet daripada Ram, mungkin saking paniknya jadi dia tidak sadar.


"Sabar ya tuan, banyak banyak berdoa, karena nyonya muda akan melahirkan bayi kembar tiga, jadi resikonya sangat besar," ucap dokter.


Mendengar ucapan dari dokter, semakin membuat Darmendra panik. yang pasti takut terjadi apa-apa terhadap istrinya.


"Dok, apa tidak ada cara lain agar lebih cepat?" tanya Darmendra.


"Ada, melalui operasi caesar," jawab dokter.


"Tapi istri saya mau melahirkan secara normal dok," Darmendra.


"Hmmm, kalau begitu harus sabar ya tuan, kalau kita paksakan sebelum waktunya takutnya nanti terjadi pendarahan serius," ucap dokter dengan santai.


"Hubby, coba tenang aku pusing dengar hubby teriak teriak dari tadi," ucap Diva akhirnya angkat bicara.


"Iya sayang iya, maafkan aku sayang maafkan aku," ucap Darmendra sambil mengusap lembut pipi Diva.


"Biarkan dokter menjalankan tugasnya, hubby duduk tenang disini temani aku, jangan tinggalkan aku ya hubby," Diva.


"Tidak akan Sayang, aku akan selalu ada disampingmu," Darmendra.


"Apa masih sakit sayang?" tanya Darmendra, dan Diva pun mengangguk.


"Tapi hubby tenang saja, aku kuat kok," Diva.


Sementara diluar ruangan, Vera dan Jordan juga terlihat sangat gelisah. lalu Jordan mengirim pesan untuk sikembar agar menyusul kerumah sakit.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2