
.
.
.
"Anak anak, hari ini adalah hari kedua kita melaksanakan ujian Nasional, dan saya tidak akan bosan untuk memberikan semangat kepada kalian semua, semoga kalian bisa lulus semuanya dan bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Jangan hampakan harapan kedua orang tua kalian," ucap Bu Tessa.
"Baik Bu," ucap siswa siswi serentak.
Bu Tessa mulai membagikan kertas ujian kesetiap meja. Setelah selesai Bu Tessa kembali ke mejanya.
"Seperti biasa, waktu yang ibu berikan adalah 60 menit, karena menurut ibu ujian hari ini cukup gampang dari kemarin," ucap Bu Tessa.
"Waktu 60 menit dimulai dari sekarang.," ucap Bu Tessa lagi.
Para siswa siswi pun mulai menjawab semua soalan yang ada kertas ujian tersebut. Sikembar yang memang sudah diluar kepala maka dengan mudah menjawab setiap pertanyaan yang ada. Hanya butuh waktu kurang dari 8 menit mereka sudah selesai menjawab. Meskipun demikian para siswa dan siswi merasa takjub ada juga yang iri, mengapa otak mereka tidak seperti sikembar?
Kemudian sikembar bangkit dari duduknya dan berjalan berbaris menuju meja Bu Tessa, guru cantik itu tersenyum. Sudah dapat ditebak kalau sikembar lah juaranya nanti. Pak Komarudin sudah mengadakan rapat untuk membincangkan masalah ini, dan sudah menyiapkan tujuh piala untuk juara satu dan piagam penghargaan untuk murid cerdas.
"Ibu bangga dengan kalian, berkat kalian telah mengharumkan nama sekolah ini," ucap Bu Tessa tulus.
"Terimakasih Bu, berkat ibu juga kami bisa seperti ini, kalau tidak ada guru sebaik ibu sekolah ini pasti akan dinilai buruk," ucap Ram sambil menyerahkan kertas jawaban mereka.
"Sekarang kalian boleh istirahat," ucap Bu Tessa.
Sikembar pun beristirahat seperti biasa. Sedangkan siswa siswi yang lain masih mengerjakan soal-soal ujian tersebut. Mereka cukup kesulitan dalam menjawab pertanyaan tersebut.
"Bagaimana kalau latihan, setau ku ada alat musik disini," ucap Ram.
"Kalau begitu kita minta izin kepada Pak Udin terlebih dahulu.
Lalu sikembar pun pergi keruang kepala sekolah, sesampainya didepan pintu ruangan itu sikembar mengetuknya.
Tok...Tok...Tok..., terdengar suara dari dalam mempersilahkan masuk, sikembar pun masuk.
"Pagi Pak...!" sapa sikembar serentak.
"Loh bukannya kalian lagi ujian ya?" tanya Pak Udin.
"Benar Pak, tapi kami sudah selesai menjawab jadi kami disuruh istirahat duluan oleh Bu Tessa," jawab Ram.
"Lalu ada keperluan apa kalian kemari?" tanya Pak Udin.
"Kami mau tanya, apakah disini ada alat musik seperti gitar dan semacamnya?" tanya Ram.
"Ada, jadi kalian mau latihan?" tanya Pak Udin balik.
__ADS_1
"Iya, juga kami mau minta izin dari Bapak," jawab Ren.
"Baiklah Bapak izinkan," ucap Pak Udin.
"Terimakasih Pak," ucap sikembar serentak.
Kemudian mereka pun keluar dari ruangan itu, Pak Udin menggeleng karena takjub dengan kepintaran sikembar yang bisa mengisi soal ujian hanya dalam hitungan menit.
"Baru kali ini saya bertemu dengan anak jenius seperti mereka, saya pikir cerita anak jenius hanya dongeng belaka ternyata benar benar ada," gumam Pak Udin.
Sikembar tiba diruang latihan, ruangan itu didesain khusus kedap suara agar tidak menggangu pelajar yang sedang belajar.
Sikembar mengambil alat musik mereka masing-masing, dengan keahlian yang mereka miliki, tentu tidak sulit bagi mereka. Raffa sebagai vokalis tentu saja menguasai banyak lagu. Mereka latihan hanya untuk menguji kemampuan mereka masing-masing.
Tanpa latihan pun mereka sudah bisa menguasai panggung dan menghipnotis para penonton.
Sedangkan Ricardo mondar mandir mencari keberadaan sikembar, ketaman tidak ada kekantin juga tidak ada. Hingga Ricardo kebingungan. Akhirnya Ricardo sendirian ditaman. Hingga jam istirahat habis Ricardo kembali ke kelas, dilihatnya sudah ada sikembar sedang duduk santai dibangku mereka masing-masing.
"Kemana saja kalian, aku cari kemana mana tapi gak ada?" tanya Ricardo.
"Sorry bang, tadi kita latihan main musik untuk persiapan acara nanti," ucap Ram.
"Tadi mau izin takut ganggu konsentrasi belajar Abang," ucap Roy menimpali.
Tidak berapa lama Bu Tessa kembali masuk, dengan membawa kertas soal-soal untuk ujian berikutnya.
Kemudian Bu Tessa membagikan satu persatu kertas ujian tersebut hingga semuanya kebagian.
"Sekarang ibu akan beri kalian waktu seperti biasa yaitu 60 menit. Dan 60 menit dimulai dari sekarang," ucap Bu Tessa.
Para siswa siswi pun segera memulai mengisi soal ujian tersebut. Ada yang berkeringat di dahi ada pula yang terlihat grogi. Hanya sikembar yang terlihat santai.
Seperti biasa sikembar sudah selesai mengisi soal ujian dengan sempurna. Para siswa siswi saling pandang seolah bertanya tanya terbuat dari apa otak mereka?
Sikembar berjalan santai melewati para siswa siswi karena meja dan bangku mereka berada paling belakang, Bu Tessa tersenyum melihat sikembar berbaris menyerahkan kertas jawaban yang telah mereka isi dengan benar.
"Hmmm, bagus. Sekarang kalian sudah boleh pulang," ucap Bu Tessa.
"Terimakasih Bu," jawab sikembar serentak, lalu mereka kembali ke mejanya untuk mengambil tas ransel milik mereka.
"Kami duluan ya," ucap Ram pada Ricardo, Ricardo hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Saya harus secepatnya menyelesaikan ini, semoga jawaban saya benar," batin Ricardo.
Sikembar tidak langsung pulang, tapi mereka nongkrong dulu ditaman tempat mereka biasa nongkrong.
"Ren, setelah selesai ujian nasional, aku ingin menemui gadis kecil itu," ucap Ram.
__ADS_1
"Gadis kecil yang mana?" tanya Ren.
"Yang kita tolong dan membawa ibunya kerumah sakit," jawab Ram.
"Gadis keripik itu maksudmu?" tanya Ren lagi.
"Iya, aku ingin mengembalikan kalungnya," jawab Ram.
"Lalu kenapa dulu kamu ambil?" tanya Roy.
"Entahlah, aku hanya merasa iba saja," ucap Ram.
"Iba atau jatuh cinta?" tanya Ren meledek Ram.
"Apaan cinta cinta, kita masih kecil tidak boleh main cinta," ucap Ram.
"Cieee, adik kita jatuh cinta nih ye," ledek Rakha.
"Aku hanya ingin mengembalikan kalungnya, kalian apa apaan sih?" tanya Ram.
"Iya deh," ucap Roy, mereka semua tertawa hanya Ray dan Ram sendiri yang tidak ikut tertawa.
"Kita mau langsung pulang atau nunggu bang Ricardo?" tanya Ren.
"Tunggu aja deh, gak enak kalau ditinggal kasihan dia tidak punya teman," ucap Ram.
"Oke deh, mungkin sebentar lagi ia selesai mengisi soal ujian tersebut," ucap Roy.
Sambil menunggu, mereka bercanda selayaknya anak anak yang begitu polos, seperti bukan anak jenius pada umumnya.
"Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Raffa.
"Selesai kuliah aku ingin mengurus perusahaan milikku," ucap Ram.
"Setuju, kita tidak selamanya bergantung kepada asisten pribadi kita, adakalanya kita yang akan memimpinnya," Ren.
"Terus bagaimana dengan perusahaan SEVEN R CORP GROUP, apakah ada yang ingin menggantikan Mommy?" tanya Rakha.
"Menurutku untuk sementara biarkan Mommy yang urus, bila adik adik kita sudah besar kita serahkan saja kepada salah satu dari mereka," kata Ram.
"Kamu benar Ram, dan perusahaan Daddy juga biarkan adik adik yang menggantikan Daddy," ucap Ren.
.
.
.
__ADS_1