
.
.
.
Darmendra dan keluarganya dalam perjalanan menuju rumah sahabat Diva yaitu Anisa. sahabat Diva yang paling dekat sewaktu sekolah dulu. tapi sekarang kehidupan mereka sudah disibukkan dengan urusan masing-masing. Apalagi Anisa sekarang sudah menjadi mendirikan butik beberapa bulan yang lalu, sekarang Anisa sebentar lagi akan melepas masa lajangnya. sebenarnya Anisa lebih tua 2 tahun dari Diva, karena Diva loncat kelas jadi mereka bisa satu angkatan atau sekelas. Awalnya mereka tidak tahu kalau Diva anak orang kaya, karena Diva selalu berpenampilan sederhana dan juga sekolah melalui jalur beasiswa, sebab itulah Diva sering di-bully oleh Rebecca dan teman temannya, hanya Anisa yang mau berteman dengannya. kemudian datang dua anak pindahan baru, yaitu Aryana dan Adefa keduanya juga anak orang kaya, tapi mereka tidak sombong dan mau berteman dengan Diva yang mereka kira orang miskin.
"Dimana rumahnya sayang?" tanya Darmendra.
"Jalan xxxx hubby," jawab Diva.
Darmendra mengendarai mobilnya dengan santai, sambil mencari alamat yang mereka tuju. sampai disebuah kompleks perumahan Darmendra masuk ke kompleks tersebut, dan meminta izin pada satpam yang berjaga di gerbang kompleks tersebut. Setelah mendapatkan izin Darmendra mengendarai mobilnya menuju rumah yang paling mewah diantara rumah rumah yang lain.
Darmendra berhenti didepan pintu pagar dan meminta izin pada sekuriti penjaga rumah tersebut. sekuriti menelpon pemilik rumah setelah itu sekuriti membukakan pintu pagar karena sudah mendapatkan izin pemilik rumah tersebut.
"Kalian datang?" tanya Anisa setelah mereka tiba didepan pintu. Anisa sengaja menunggu kedatangan mereka setelah sekuriti memberitahukan ciri ciri tamunya.
"Jahat banget sih, mau nikah gak bilang bilang," Diva mencebikkan bibirnya.
"Gue mau kasih kejutan, nanti pas kasih undangan baru diberitahu hari H nya." Anisa.
"Tamunya tidak disuruh masuk Nisa?" tanya ibu Anisa.
"Oh ya, mari masuk sampai kelupaan," jawab Anisa nyengir.
Mereka pun masuk, dan duduk di sofa ruang tamu, sikembar sangat anteng karena mereka bukan bocah nakal, mereka bisa bersikap sopan kalau orang itu sopan.
"Ehh, kamu Diva kan?" tanya Sartika ibu Anisa yang sedang membawa minuman dan cemilan untuk tamunya.
"Iya, mama Ika," jawab Diva, ya Diva memang memanggil mama ke Sartika atas permintaan Sartika itu sendiri.
"Lama sekali tidak bertemu, hampir 9 tahun mungkin, mereka...?" Sartika.
"Ini suamiku ini mertuaku dan ini anak anakku," jawab Diva.
"Hah mereka kembar tujuh? Ya Allah Diva lama tidak bertemu sekalinya bertemu sudah punya anak sebesar ini," ucap Sartika.
"Iya ma, sekarang aku sibuk dengan keluargaku, maaf karena tidak pernah mengunjungi mama." Diva.
"Mama ngerti kok," Sartika.
Tak lama datang seorang pria paruh baya berjalan kearah ruang tamu.
"Wah ada tamu rupanya, suatu kehormatan bagi kami karena kedatangan tuan Darmendra dan keluarga." ucap Santoso.
"Jangan terlalu formal pak Santoso, kita datang sebagai tamu bukan sebagai rekan bisnis." jawab Darmendra.
"Papa mengenal mereka?" tanya Sartika.
__ADS_1
"Mereka rekan bisnis papa, juga Nak Diva rekan bisnis papa," jawab Santoso.
"Haah... kok papa gak pernah cerita sih kalau papa ada kerjasama dengan perusahaan mereka?" tanya Sartika.
"Mama mana sempat mendengar cerita papa, Mama kan sibuk dengan teman sosialita Mama." sindir Santoso.
"Jadi papa sudah tau dong kalau Diva punya anak kembar?" tanya Sartika lagi.
"Tau, sejak papa bekerjasama dengan perusahaan Diva, papa sudah tau. hanya papa tidak tahu kalau ternyata suaminya Diva adalah Darmendra. saat resepsi pernikahan mereka barulah papa tau, Mama kan sibuk keluar negeri waktu itu," Santoso.
Sartika tidak bisa berbicara lagi, kata kata suaminya begitu menohok dihatinya.
Diva menghampiri Anisa, yang sedang duduk di sofa panjang.
"Aku gak nyangka kalau kalian akan menikah secepatnya," Diva.
"Hihi, mungkin jodoh gue sudah tiba, terimakasih ya sudah mempertemukan gue sama cowok positif seperti dia, tapi gue suka cara dia mencintai gue." Anisa.
"Cara setiap orang mencintai itu beda-beda, Darmendra bilang Aldo tidak pernah dekat dengan cewek mana pun, berarti kamu sangat beruntung," Diva.
"Lu sendiri bagaimana?" tanya Anisa.
"Maksudnya?" tanya Diva balik.
"Lu bahagia tidak setelah menikah?" tanya Anisa lagi.
"Iya wajahmu berseri sejak kita bertemu di pantai waktu itu, gue lihat lu memang beda." Anisa.
"Kamu akan merasakannya nanti setelah menikah, kalau suami kita baik maka kita akan lebih bahagia." Diva.
"Kalian tidak punya rencana buat adik untuk sikembar?" tanya Anisa.
"Pertanyaanmu sudah basi," Diva memegang tangan Anisa dan meletakkannya keperutnya.
Anisa langsung mengerti, "serius?"
Diva mengangguk sebagai jawaban, "Sekarang sudah ngerti kan?"
"Berarti gue bakal punya ponakan lagi, kembar gak?" tanya Anisa.
"Triple twins," jawab Diva.
"Aaaaa, serius?" tanpa sadar Anisa memekik.
Darmendra tersenyum melihat tingkah istrinya dan sahabat istrinya itu.
"Hamil lagi, kembar?" tanya Sartika, yang lain mengangguk.
Setelah berbincang bincang cukup lama, Darmendra dan keluarganya pun pamit, setelah mendapatkan undangan pernikahan dari Anisa, yang akan diadakan 5 hari lagi.
__ADS_1
"Kita kemana lagi sayang?" tanya Darmendra.
"Pulang," jawab Diva singkat, setelah itu tidak ada yang berkomentar lagi, semua terdiam dengan pikiran masing-masing.
Tiba tiba Darmendra mengerem mobilnya mendadak, untung mobilnya tidak terlalu laju. sikembar menoleh ternyata ada banyak mobil menghadang mereka.
"Kita dihadang," ucap Darmendra.
Sikembar saling pandang, begitu juga dengan Jordan, dan ia teringat dengan kata kata Ray bahwa Serena ingin balas dendam.
"Mereka ramai hubby," ucap Diva, Darmendra mengangguk.
"Ternyata mereka sudah bertindak, ucap Ray.
"Oma bisa menembak?" tanya Ram.
"Bisa, Oma belajar sewaktu Daddy kalian masih kecil." Vera.
"Oma pegang ini, nanti kalau terdesak Oma tembakan, pistol ini tidak membunuh orang hanya membuat pingsan saja," Ram.
"Kalian bagaimana?" tanya Vera.
"Kami semua sudah punya," Roy.
"Sayang kamu tunggu dimobil aja ya," Darmendra.
"Tidak hubby, aku juga mau melawan mereka," Diva.
"Sayang tapi ini bahaya, ingat ada calon bayi yang akan dilindungi," Darmendra memelas, entahlah semenjak istrinya hamil sifat bar bar semakin terlihat, tidak boleh dipancing langsung mau menghajar orang jahat.
Mobil yang menghadang mereka ada 10 buah, dapat dipastikan bahwa didalam mobil tersebut lebih dari 50 orang. meskipun begitu sikembar tetap tenang tenang saja, dan tidak gentar sedikitpun.
"Apakah mereka kelompok mafia?" tanya Jordan.
"Iya Opa, mereka utusan seseorang." Ray.
"Ternyata Serena bertindak lebih jauh, apakah segitu dendamnya dia padaku? sampai sampai keluargaku yang tidak tahu menahu turut menjadi sasarannya," monolog Jordan dalam hati.
"Kalian sudah siap?" tanya Diva, ia begitu antusias untuk melawan penjahat tersebut, sedangkan Darmendra sudah begitu khawatir dengan keadaan Diva.
Kalau tidak sedang hamil mungkin Darmendra bisa tenang tenang saja, tapi ini Diva sedang hamil trimester pertama yang bisa saja keguguran. Darmendra memijat pelipisnya dengan tingkah Diva saat ini.
"Semoga saja anak anakku tidak apa-apa, Ya Allah selamatkan mereka," gumam Darmendra dalam hati.
.
.
.
__ADS_1