
.
.
.
Waktu terus berlalu, tidak terasa kini usia kehamilan Diva sudah menginjak tujuh bulan, tapi perutnya seperti hamil 9 bulan.
Pernikahan Robert dan Adefa sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu, begitu juga dengan Jhon dan Aryana mereka juga sudah menikah, kini pasangan itu sudah hidup bahagia, Anisa sudah hamil 4 bulan, Adefa juga sudah hamil 2 bulan, dan Aryana 1 bulan. karena Robert dan Adefa menikah lebih dulu sedangkan Jhon dan Aryana menyusul setelah itu.
Darmendra kini lebih sering di mansion ia merekrut asisten baru lagi dan baru bekerja beberapa bulan, karena Robert sudah menikah jadi waktunya pasti terbagi apalagi sekarang istri Robert juga sudah hamil.
"Sayang bukankah hari ini jadwal pemeriksaan kandunganmu?" tanya Darmendra.
"Benar hubby, tapi sikembar juga mau ikut, katanya pengen tau dedek bayi laki-laki atau perempuan." Diva.
"Mommy juga mau ikut," Vera menimpali.
"Daddy juga ikut ah," Jordan juga tidak mau ketinggalan.
"Sekalian aja ajak pelayan, tukang kebun, dan pengawal." ucap Darmendra sewot.
"Hubby, jangan begitu ah gak baik tau, biarkan Mommy dan Daddy mau ikut, mereka juga ingin melihat cucu cucu mereka. dengan sikembar mereka hanya melihat saat sudah besar." Diva.
"Sayang..!" perkataan Darmendra terhenti karena Diva sudah memberi kode untuk diam.
"Biarkan Mommy dan Daddy ikut atau tidak periksa sama sekali," ancam Diva.
Akhirnya Darmendra mengalah, Vera dan Jordan tertawa melihat putranya tidak berkutik pada menantunya.
"Sebentar lagi sikembar datang, kita tunggu dikamar saja ya," Darmendra.
Diva tidak menjawab, tapi ia bangkit dari duduknya dan mengikuti saran Darmendra. Diva berjalan dengan susah payah karena perutnya sudah semakin besar. Diva tidak mau menggunakan kursi roda, biarlah berjalan saja untuk melatih diri agar mudah saat melahirkan nanti, begitulah ucapan Diva saat Darmendra memintanya untuk memakai kursi roda.
"Kalau begitu Mommy sama Daddy juga kekamar deh," Vera.
Kamar Jordan dan Vera ada dilantai bawah, mereka tidak mau dilantai atas dengan alasan capek. Darmendra sudah merenovasi mansion mereka dan menambah kamar dilantai atas untuk sikembar 3 nanti. dilantai bawah masih ada beberapa kamar yang kosong tetapi dibiarkan saja untuk tamu yang akan menginap.
Kini Darmendra dan Diva sudah berada didalam kamar mereka, Darmendra mengelus perut Diva yang sudah sangat besar.
"Aww, mereka nendang-nendang sayang." ucap Darmendra girang.
"Mereka mau bermain dengan Daddy nya." Diva.
__ADS_1
"Apa tidak sakit, sayang?" tanya Darmendra, Diva menggeleng.
"Tapi mereka nendang-nendang, lihat deh benjol kesana kemari," Darmendra.
Diva mengelus pipi suaminya, dan mengusap air mata yang tanpa sadar mengalir dari mata Darmendra.
"Ini air mata bahagia, sayang. kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan lewat kata kata hanya bisa melalui air mata." Darmendra.
"Aku tau hubby," ucap Diva, lalu ia menyandarkan kepalanya dipundak suaminya.
"Sikembar sebentar lagi akan tamat SMP, aku yakin mereka pasti minta langsung ke kelas 12." ucap Darmendra.
"Apa hubby akan memberikan mereka izin?" tanya Diva.
"Sayang anak anak kita terlalu pintar, kalau tidak kita ikuti kemauannya mereka akan bosan dengan pelajaran yang sudah mereka ketahui. bahkan pelajaran SMA saja mereka dengan mudah menyelesaikannya." Darmendra.
"Tapi hubby, walau bagaimanapun mereka tetap anak kecil, bahkan usia mereka saja baru 8 tahun lebih." Diva.
"Tubuh dan usianya anak kecil, tapi otak mereka melebihi orang dewasa, IQ 260 adalah termasuk IQ tertinggi di dunia. dan hal itu tidak bisa dipungkiri, sayang." Darmendra.
"Ah gak tau lah, kadang aku juga tidak mengerti kenapa mereka bisa sejenius itu? padahal semasa mereka bayi hanya meminum susu formula." Diva.
"Sebenarnya otak yang cerdas sudah dibawa sejak lahir, hanya saja tinggal kita mengasah otak tersebut supaya semakin cerdas," Darmendra.
Tidak berapa lama pintu kamar mereka diketuk, ternyata sikembar sudah datang dari sekolah. saat Darmendra membuka pintu Ram langsung masuk dan hendak mencium perut Mommy nya, dan langsung dicegah oleh Darmendra.
"Eits... udah mandi belum?" tanya Darmendra, Ram menggeleng.
"Mandi dulu, setelah itu kita pergi kerumah sakit untuk memeriksa dedek bayi," Diva.
"Benarkah?" tanya Ram lalu berlari keluar dari kamar dan kembali kekamarnya.
Sikembar kini sudah siap siap untuk pergi kerumah sakit, mereka sudah diruang tamu bersama Oma dan Opanya, hanya tinggal menunggu Mommy dan Daddy mereka. Tidak berapa lama kemudian Darmendra dan Diva pun turun, karena semua sudah siap jadi mereka langsung berangkat. Darmendra mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, suasana jalanan ibukota cukup ramai hingga mereka agar terlambat tiba dirumah sakit. Sesampainya dirumah sakit mereka langsung menuju ruang obgyn, kebetulan tidak ada antrian jadi mereka langsung masuk. mereka disambut dengan hangat oleh dokter.
"Silahkan Tuan dan nyonya," ucap dokter itu sambil tersenyum.
Diva pun berbaring dibrankar rumah sakit, dokter melakukan pemeriksaan kandungan Diva.
"Mau lihat jenis kelaminnya tuan?" tanya dokter, Darmendra mengangguk.
Sikembar, Oma dan Opa duduk di sofa diruang itu, agar jauh tapi mereka masih bisa melihat melihat ke monitor didepannya.
"Iya dok, kami penasaran dengan jenis kelaminnya," ucap Darmendra.
__ADS_1
Dokter pun melakukan serangkaian agar bisa melihat jenis kelamin calon bayi tersebut, dokter mengoleskan gel keperut Diva dan menggerakkan probe keperut Diva hingga terlihat dilayar monitor tiga bayi.
"Wah calon bayinya perempuan, tapi satu belum terlihat sepertinya masih malu-malu." ucap dokter.
Ram yang mendengar calon adiknya perempuan langsung melompat lompat kegirangan. saking senangnya sampai lupa saat ini ada diruang pemeriksaan.
"Sst... bisa diam gak sih?" tegur Ray, seketika Ram terdiam seperti api disiram air.
"Maaf, aku terlalu bahagia," ucap Ram.
"Sekarang keinginanmu terkabul kan, pengen punya adik cewek," ucap Diva, Ram mengangguk dan memeluk Diva yang masih terbaring dibrankar.
"Terimakasih Mommy karena memberikan adik buat kami," Ram.
"Semua atas izin Allah, jadi berterima kasihlah Kepada Nya. Karena Allah pencipta segalanya." Diva.
Setelah selesai dengan pemeriksaan kandungan, mereka pun keluar dari ruangan itu. Mereka langsung menuju parkiran, sedangkan Darmendra menebus vitamin yang diresepkan dokter. setelah semua selesai mereka pun pulang. Diperjalanan pulang tiba tiba mobil mereka dihadang, Darmendra pun menghentikan mobilnya.
"Ada apa lagi ini?" tanya Darmendra, sikembar saling pandang.
"Biarkan kami yang urus Daddy," ucap Ram.
"Daddy jaga Mommy saja," Ren.
"Tapi mereka ramai," Darmendra.
"Siapa mereka, hubby?" tanya Diva.
"Entahlah, aku juga tidak mengenal mereka," Darmendra.
"Daddy jangan keluar jaga Mommy, oke," Rakha.
"Kami akan bereskan mereka semua," Ray.
"Opa bantu kalian," ucap Jordan, tapi dicegah oleh sikembar.
"Opa, Oma, Daddy dan Mommy didalam mobil, kami akan atasi mereka," Roy.
.
.
.
__ADS_1