SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Hari pertama sekolah


__ADS_3

.


.


.


Acara ulang tahun akhirnya usai, anak anak panti, anak jalanan, dan anak yang kurang mampu yang di undang merasa sangat bahagia, mereka belum pernah diundang ke acara ulang tahun seperti ini, kebahagiaan anak anak itu bertambah saat sikembar membagikan amplop berisi uang, sikembar sengaja mencairkan uang mereka dengan jumlah yang banyak dan mengemasnya kedalam amplop. Bukan untuk mencari sensasi atau ketenaran, tapi memang niat sikembar ikhlas ingin berbagi.


Dari mana sikembar dapat uang sebanyak itu? jawaban tentu saja dari hasil kerja keras mereka selama ini, mereka menggunakan kejeniusannya untuk membangun perusahaan IT terbesar di negara ini, tidak ada yang tau siapa pemilik sebenarnya perusahaan itu, banyak kolega bisnis yang bekerjasama dengan perusahaan tersebut.


"Hai guys, sebelum kalian pulang, kami akan membagikan sedikit rezeki dari kami. jadi mohon berbaris yang teratur, dan barisan dibagi tujuh ya." ucap Ram dengan lantang melalui mic.


Anak anak pun berbaris dengan tertib menerima amplop pemberian dari sikembar. masing masing anak menerima uang satu juta perorang.


Jumlah seperti itu tentu sangat banyak bagi mereka yang tidak memiliki uang. Vera, Jordan, begitu terharu melihat interaksi sikembar. begitu juga kolega bisnis, mereka memuji Darmendra dan Diva karena telah berhasil mendidik anak-anak mereka dengan begitu baik.


"Saya begitu kagum dengan anak anak tuan dan nyonya," ucap salah satu rekan bisnis Darmendra.


"Berapa uang yang kalian keluarkan untuk biaya acara ini, tuan?" tanya kolega bisnis yang lain.


"Kami tidak mengeluarkan uang sepeser pun, semua itu adalah hasil dari anak kami sendiri, mereka juga punya perusahaan sendiri, tuan." jawab Darmendra.


"Perusahaan sendiri? apa nama perusahaan tersebut?" tanya kolega itu lagi.


"Tuan tau perusahaan IT terbesar di negara ini? perusahaan itu punya mereka, tuan. mereka membangun perusahaan itu tanpa bantuan dari kami," jawab Darmendra.


Orang itu menganga lebar mendengar fakta bahwa pemilik perusahaan itu hanya anak kecil, padahal dia juga ada bekerjasama dengan perusahaan tersebut.


"Saya benar benar tidak menyangka, tuan. bukankah pemilik perusahaan itu bernama Ben ariga?" tanya kolega itu.


"Itu hanya asisten pribadi, yang dipercayakan sikembar untuk mengurus perusahaan tersebut, dan anak anakku hanya bekerja dibelakang layar." jawab Darmendra dengan bangga.


"Benar Tuan, bahkan perusahaan SEVEN R CORP itu juga mereka yang mendirikannya." ucap Diva menimpali.


Semakin terkejut para kolega bisnis tersebut. mereka begitu takjub dengan kehebatan sikembar.


Sikembar masih membagikan amplop tersebut, sampai semua anak anak kebagian, tapi tidak untuk orang dewasa.

__ADS_1


"Aku bahagia melihat senyuman mereka." Ram.


"Hmmm, kita bersyukur terlahir dari orang kaya. coba kalau kita terlahir seperti mereka aku tidak tahu bagaimana nasib kita?" Rakha.


"Itu sebabnya kita harus berbagi," Ray.


"Benar, semakin kita sedekah, semakin berlimpah uang masuk ke rekening kita." Ren.


"Bagaimana dengan karyawan di perusahaan? apakah mereka sering dikasih bonus?" tanya Raffa.


"Itu Paman Ben yang urus, dan paman Ben bisa dipercaya." Roy.


"Tapi kita harus pantau juga, walaupun karyawan tidak tau kalau perusahaan itu punya kita." Rasya.


Begitulah mereka selalu mementingkan hak orang lain, tapi jangan coba coba mengusik mereka dengan niat jahat maka tidak ada ampun bagi mereka. apalagi kepada penghianat. Sikembar menghampiri orang tua nya,


"Acaranya sudah selesai, bagaimana perasaan kalian?" tanya Diva.


"Kami bahagia Mom, ada Mommy, ada Daddy, Opa sama Oma." Ram.


Mereka pun pulang ke mansion, tapi sebelum itu mereka memberikan bonus pada para pelayan.


"Ini untuk kalian, karena sudah membereskan tempat ini," Rakha.


Tentu saja pelayan hotel itu senang, walau tidak diberi bonus pun tetap mereka kerjakan karena memang itu pekerjaan mereka, sekarang mendapatkan bonus dari sikembar tentu mereka sangat bahagia, apalagi mereka hanya dari golongan bawah. bos mereka aja tidak pernah memberikan bonus.


Kini mereka sudah tiba di mansion, sikembar langsung kekamar masing-masing, sedangkan Darmendra dan Diva juga masuk kedalam kamar mereka.


Darmendra langsung mengunci pintu kamar dan memeluk Diva, perlahan Darmendra mencium bibir merah Diva. Diva tidak menolak malah membalas ciuman tersebut. Diva tau, Darmendra sudah lama menahan hasratnya. sampai sekarang belum tersalurkan.


"Bolehkah?" tanya Darmendra seperti menahan sesuatu.


Diva mengangguk, "boleh."


Tanpa menunggu jawaban yang kedua kali Darmendra langsung mengangkat tubuh Diva keatas ranjang. Diva yang awalnya diam kini malah menikmati setiap sentuhan dari Darmendra. sentuhan dibagian sensitif membuat Diva merasakan gelenyar aneh dalam dirinya. untuk pertama kalinya Diva merasakan sentuhan seperti ini.


"Apa kamu siap?" tanya Darmendra, Diva pun mengangguk.

__ADS_1


Darmendra pun memulai aksinya, melakukan pendakian demi mencapai puncak. setelah cukup lama Darmendra mempercepat gerakan pinggulnya, karena sebentar lagi keduanya mencapai puncak


"Akkhh..." satu kalimat lolos dari mulut Darmendra saat ia sudah mencapai puncak, "ternyata begini rasanya, dulu aku tidak ingat karena waktu itu aku tidak sadar," batin Darmendra.


Kini keduanya mandi bersama, Darmendra tidak tahan melihat tubuh polos Diva pun melakukannya lagi didalam kamar mandi, akhirnya pertempuran yang kedua pun terjadi lagi.


.


Kini tiba saatnya untuk sikembar masuk sekolah, mereka diantar oleh Daddy dan Mommy nya. setibanya disekolah mereka langsung menuju ruang kepala sekolah untuk mendaftar kembali, karena sikembar maunya langsung ke kelas 9.


"Bagaimana pak? apakah anak saya bisa langsung masuk ke kelas 9?" tanya Darmendra.


"Tapi umur mereka baru 8 tahun tuan, apa mereka bisa mengikuti pelajaran yang belum mereka pelajari?" tanya bapak kepala sekolah itu.


"Bapak boleh uji mereka dengan memberi mereka kertas soal, berikan pelajaran kelas 7 dan kelas 8 untuk mereka mengerjakannya. kalau mereka gagal berarti mereka memang tidak layak," Diva.


"Baiklah nyonya, akan kami coba." ucap Bapak Kepala sekolah itu.


Lalu bapak kepala sekolah memanggil wali kelas 7 dan wali kelas 8 untuk memberikan kertas soal ujian pada sikembar.


Kedua wali kelas itu heran, mengapa anak yang baru masuk sudah diberikan soal ujian. Tapi keduanya tetap menuruti perintah dari kepala sekolah itu.


"Ini pak kertas soal ujian kelas 7," ucap wali kelas itu.


"Ini kertas soal ujian kelas 8," ucap wali kelas 8.


"Baiklah, kalian aku tugaskan untuk mengawasi ke 7 anak ini, mereka ingin masuk sekolah dan langsung ke kelas 9." ucap kepala sekolah.


Kedua wali kelas itu pun terkejut, sedangkan anak anak yang lain pun harus dari awal itupun mereka harus belajar dengan giat agar bisa mendapat nilai bagus.


Tanpa ada bantahan sedikitpun wali kelas 7 dan wali kelas 8 mengawasi kegiatan si kembar. Diva dan Darmendra juga masih ada disitu, melihat putranya apakah mampu untuk menyelesaikan soal ujian tersebut?


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2