SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Baby girl twins?


__ADS_3

.


.


.


Ram masih tetap memilih pakaian untuk anak cewek, karena ia pengen anak cewek yang baginya akan terlihat lucu kalau memakai pakaian yang dipilihnya.


"Ram, kenapa kamu ambil baju baju itu? kamu tidak dengar apa kata Mommy?" tanya Ren.


"Dengar, aku mau simpan untuk koleksi kalau calon adik kita laki laki." jawab Ram santai.


"Terserah kamu lah, dibilangin ngeyel," Ren.


Ram mengambil beberapa pasang pakaian lengkap dengan kaos kaki dan kaos tangan untuk bayi perempuan, bahkan topinya juga Ram beli. kemudian Ram membayar belanjaannya kekasir. Diva juga banyak belanja seperti daster dan pakaian untuk ibu hamil yang ukurannya besar, karena perutnya semakin membesar dan juga tumbuhnya sedikit berisi. karena semenjak ia hamil porsi makannya meningkat drastis. Namun semua itu tidak masalah bagi Darmendra, yang penting istri dan calon bayinya sehat. Diva kini juga rutin ikut senam ibu hamil, karena ia akan melahirkan secara normal. alasan cuma satu agar ia bisa merasakan bagaimana rasanya ketika melahirkan.


Karena mendengar dari cerita ibu ibu dulu melahirkan seperti tulang kita dicabut dari tempatnya. jadi Diva ingin merasakan perjuangan seorang ibu saat melahirkan anaknya.


"Sudah selesai berbelanja?" tanya Darmendra.


"Sudah, nih banyak aku beli pakaian," jawab Diva, Darmendra hanya tersenyum.


"Kamu beli apa Ram?" tanya Diva.


"Beli baju untuk dedek bayi cewek," bukan Ram yang menjawab melainkan Ren.


"Sayang, adek belum bisa diketahui lelaki atau perempuan, kenapa kamu beli pakaian untuk adek perempuan?" tanya Diva.


"Gak apa-apa Mom kalau nanti adek laki laki pakaian ini akan aku buat koleksi," ucap Ram.


"Ya sudah, semoga saja adeknya perempuan ya agar kamu tidak kecewa," Diva.


"Baby girl twins? baby girl twins?" teriak Ram, orang orang yang ada disitu menoleh kearah Ram, sontak Ram menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Cih dasar bocah," ejek Ray.


"Ye bocah teriak bocah," ucap Ram, lalu yang ada disitu pun tertawa.


"Kemana lagi kita? mungkin ada yang mau dibeli?" tanya Darmendra.


"Eskrim, eskrim," teriak Diva.


"Ayo beli eskrim," ucap sikembar serentak.


Darmendra geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan istrinya.


"Kalau dilihat begini, mereka seperti ibu dan anak kandung," batin Darmendra.

__ADS_1


Para pengunjung dan pelayanan yang ada di toko itu berdecak kagum dengan kekompakan mereka, sebuah keluarga yang sangat bahagia.


"Yuk kalau begitu," ajak Darmendra, lalu mereka pun keluar dari toko pakaian, tak lupa Darmendra menyimpan belanjaan Diva kedalam mobil setelah itu baru ia kembali lagi ketempat Diva dan sikembar.


"Mau eskrim rasa apa?" tanya Darmendra saat mereka sudah berada di restoran yang juga menyediakan eskrim.


"Aku mau rasa coklat dan stroberi dicampur jadi satu," Diva.


"Kami mau yang coklat aja deh," ucap sikembar serentak.


"Kompak banget kalian," ucap Darmendra, Sikembar cuma nyengir dibilang kompak.


Tidak perlu menunggu lama pesanan mereka pun sampai, dan pelayan restoran juga menawarkan menu yang lain dengan menyerahkan buku menu kepada mereka.


"Kalian mau makan apa?" tanya Darmendra.


"Daddy?" tanya sikembar serentak.


"Kok tanya Daddy? kalian mau makan apa malah balik bertanya?" Darmendra.


"Maksudnya, kami ikut Daddy," Ram.


"Daddy steak ikan salmon," Darmendra.


"Kita samain aja," Ram.


"Sayang mau makan apa?" tanya Darmendra, Diva yang sedang makan eskrim pun menoleh.


"Baiklah, tunggu sebentar ya tuan, nyonya," ucap pelayan itu, lalu pergi undur diri dari meja mereka.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Darmendra menyuapi Diva yang lagi pengen manja manja, Darmendra tidak keberatan sama sekali. bahkan dengan senang hati ia melayani istrinya.


Tak berapa lama kemudian pesanan mereka pun datang, pelayan menata hidangan tersebut diatas meja. Sikembar kayanya sudah tidak sabar untuk menikmati hidangan tersebut. Sikembar makan dengan pelan, sedangkan Diva makan dengan begitu lahap seolah olah sudah beberapa hari tidak makan. hingga Darmendra memesan lagi dua porsi untuk bumil. Cuma steak doang mana kenyang bumil.


"Makan sayang, biar anak kita sehat." ucap Darmendra sambil mengelus rambut panjang Diva.


"Hmmm," Diva tak dapat lagi berbicara karena sibuk mengunyah makanan. sedangkan sikembar sudah selesai makan.


Darmendra memanggil pelayan untuk meminta tagihan yang mereka makan, lalu pelayan memberikan bil tersebut, Darmendra memberikan blackcard untuk pembayaran.


"Terimakasih tuan," ucap pelayan itu sambil memberikan blackcard milik Darmendra.


"mau pulang atau mau main lagi?" tanya Darmendra.


"Pulang saja, hubby aku ngantuk." Diva.


"Baiklah," ucap Darmendra sambil tersenyum, lalu mereka pun keluar dari restoran tersebut.

__ADS_1


Didalam mobil, Diva langsung menyetel kursi penumpang agar lebih nyaman untuk ia tidur, karena matanya sudah mengantuk berat. Darmendra pun keluar dari parkiran mall tersebut, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mereka juga tidak terburu-buru. sikembar ternyata ketiduran juga.


"tidak biasanya sikembar juga tertidur," pikir Darmendra, Darmendra fokus menyetir kebetulan siang ini jalanan cukup senggang, karena masih jam kerja.


Akhirnya mereka pun tiba di mansion, sikembar pun terbangun sedangkan Diva masih tertidur. pelayan datang membawa belanjaan Diva dan sikembar, sedangkan Darmendra menggendong Diva kekamar. Vera yang sedang menonton televisi pun bertanya tapi yang menjawab sikembar bahwa Mommy mereka tidur.


Vera begitu takut kalau sampai Diva kenapa kenapa, mungkin karena kejadian yang ia alami dulu membuat Vera selalu dilanda cemas. apalagi saat ini Diva sedang hamil.


Sikembar pamit kepada Oma dan Opanya untuk kekamar, keduanya hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Perasaanku masih belum tenang kalau belum menyelidiki tentang gadis itu," ucap Ram.


"Kalau begitu bagaimana kita selidiki saja, dan kita tuntaskan sampai keakar akarnya," ucap Ray.


"Itu lebih baik, bila perlu kita hancurkan mereka," Ren.


Lalu sikembar mengeluarkan laptop mereka masing-masing, tanpa diperintah mereka menjalankan tugas mereka masing-masing.


"Dapat," teriak Ray, hanya dalam hitungan menit mereka dapat menyelusuri pencarian mereka,


"Ternyata mereka adalah pengedar obat obatan terlarang." gumam Ray.


"kami dapat ini, informasi tentang ayah tiri gadis itu ternyata seorang penjudi dan untuk membayar hutangnya dia menjual gadis itu," Ram.


"Bagus, sekarang bukti ini kita berikan kepihak yang berwajib," Ren.


"Benar, biarkan menjadi urusan polisi saja, kita hanya perlu mengirim bukti tersebut," Rakha.


Lalu Ray mengirim bukti tersebut, sudah pasti tanpa menyebutkan nama mereka, polisi hanya tau mereka dapat informasi dari hacker misterius, dan informasi yang mereka dapatkan dari hacker misterius itu benar benar akurat. polisi tidak tau siapa hacker misterius itu?


Setelah mengirimkan informasi tentang bos penjahat tersebut, sikembar pun bersantai sambil bermain game online diponsel mereka masing-masing.


"Sekarang kita hanya tinggal menunggu hasilnya," ucap Ray.


"Bagaimana dengan ayah tiri gadis itu?" tanya Raffa.


"Hmmm, kita akan buat ia membayar apa yang telah ia lakukan." Ray menyeringai licik.


"Bagaimana kalau kita buat lumpuh saja, aku rasa itu hukuman yang paling ringan," Ram.


"Tidak terlalu buruk," ucap Roy.


"Kalau begitu besok kita temui orang itu dan buat perhitungan dengannya," Rasya.


"Setuju," ucap mereka serentak.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2