
.
.
.
Keesokan harinya...
Polisi langsung menyergap tempat pembuatan obat obatan terlarang, ternyata markas mereka ada di hutan angker yang tidak boleh dimasuki oleh orang, karena kabarnya tempat itu ada penunggunya yang selalu memakan korban bagi siapa saja yang masuk kesitu.
Ternyata penunggunya adalah komplotan mafia tersebut, sikembar tidak turun tangan mereka memberikan peluang kepada polisi mengerjakan tugasnya.
Ditengah hutan tersebut terdapat sebuah mansion yang terlihat usang seperti tidak berpenghuni. beberapa orang penduduk yang masuk kehutan tersebut tidak pernah kembali lagi, sampai sekarang tidak ada kabar. makanya para penduduk percaya kalau tempat itu angker.
Polisi akhirnya berhasil menangkap komplotan tersebut dengan ketuanya sekalian, walaupun sempat terjadi baku tembak dan menewaskan beberapa orang anggota kepolisian. Ternyata tempat itu bukan hanya untuk pengolahan obat obatan terlarang tapi juga tempat menyekap para wanita yang nanti dijual dan dijadikan p*l*c*r.
Beruntung gadis yang ditolong oleh sikembar dan Darmendra waktu itu sempat kabur sebelum ia dibawa dan disekap ditempat itu.
Sementara sikembar sedang berada disekolah, dan para guru masih menyeleksi murid yang akan ikut bertanding ke olimpiade matematika dan sains tingkat provinsi. Lagi lagi para guru kecewa karena semua murid yang mereka seleksi tidak ada yang bisa menyaingi sikembar, para guru terus membujuk sikembar tapi hasilnya nihil.
"Maaf Pak kami tidak bisa ikut kompetisi tersebut," ucap Ray saat mereka kembali dipanggil keruangan Kepala sekolah.
"Kami dari pihak sekolah memohon dengan sangat untuk kalian berpartisipasi dalam kompetisi ini," ucap Pak Fredi.
"Sayangnya kami tidak bisa mengikuti kompetisi tersebut, tidak perlu dijelaskan apa alasannya? yang pasti kami tetap menolak." ucap Ram tegas.
"Mengapa tatapan mata mereka seperti elang," batin Pak Fredi.
Seketika itu juga nyali Pak Fredi menciut, melihat tatapan mata sikembar membuatnya bergidik ngeri.
"Baiklah, saya tidak akan memaksa kalian lagi," ucap Pak Fredi akhirnya mengalah, sikembar pun pamit keluar dari ruangan itu.
"Kita kemana sekarang?" tanya Ram.
"Lanjutkan rencana kita semalam," Roy.
"Hmmm, mari kita pergi," Ray.
Saat mereka tiba diparkiran, Agus sudah menunggu mereka. Agus langsung mempersilahkan mereka masuk kedalam mobil.
"Pergi ke alamat ini paman..!" perintah Ray.
"Baik tuan kecil," ucap Agus tanpa berani membantah. kalau ia membantah ancaman sikembar lebih mengerikan menurut Agus.
Mobil pun mulai bergerak perlahan keluar dari parkiran sekolah, saat dijalan raya Agus menambahkan kecepatan mobil tersebut.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara, Agus hanya bisa menebak nebak dalam hati apa yang akan dilakukan majikan kecilnya?
Mobil mereka berhenti didepan sebuah rumah, rumah minimalis yang sederhana dan terlihat seperti tidak berpenghuni.
__ADS_1
"Paman tunggu disini ya, jangan keluar dari mobil," perintah Ram.
"Baik tuan kecil," jawab Agus sambil tertunduk, sikembar pun keluar dari mobil.
Sikembar berjalan memasuki pekarangan rumah tersebut, tiba didepan pintu sikembar pun mengetuknya.
Tok...
Tok...
Tok...
Namun tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka, sikembar mengetuk kembali pintu itu. perlahan pintu terbuka dan menampakkan sosok seorang pria paruh baya diperkirakan seusia Jordan.
"Siapa kalian?" tanya pria itu.
"Kami cucu Kakek," ucap Ram penuh drama.
"Heh jangan ngaco ya? aku belum punya cucu ada anak pun tidak berguna." kata pria itu dengan lantang.
"Kenapa bisa tidak berguna kek? bukankah anak kakek sudah bekerja banting tulang untuk mencari uang?" tanya Roy.
"Dari mana kalian tau semua itu, hah?" pria itu mulai emosi.
"Kami bisa tau apa yang orang lain tidak tau," Ren.
"Ya karena kami lah iblis kecil," Ray.
"Tertawalah kakek, karena ini terakhir kali kakek bersuara," Rakha.
"Ap.. apa maksud kalian?" tanya pria itu terbata bata.
"Karena kami iblis kecil yang akan membuat kakek mati perlahan lahan," Raffa.
Pria itu mulai ketakutan melihat sorot mata tajam sikembar, sorot mata yang tadinya sayu dan menggemaskan bagi siapa saja yang melihatnya sekarang berubah menjadi sorot mata tajam seperti elang mengintai mangsanya.
Pria itu mundur saat sikembar semuanya maju, hingga pria itu terduduk di sofa ruangan itu. Ray mengeluarkan alat suntik yang berisi cairan.
"Ap.. apa yang akan kalian lakukan?" tanya pria itu gemetar.
"Sudah kami katakan, kami lah iblis kecil yang akan membunuhmu secara perlahan," Ray.
Kemudian Ray menyuntikkan cairan itu ketubuh pria itu, perlahan lahan mata pria itu terpejam dan langsung tidak sadarkan diri. sikembar kemudian keluar dari rumah itu dan bersikap seolah olah tidak terjadi apa-apa. Ray memerintahkan Agus untuk segera meninggalkan tempat ini sebelum ada warga menyadari mereka. rumah itu memang agak jauh dari pemukiman yang lain. dan juga orang orang disini tidak menyukai pria itu, dan warga hanya merasa kasihan pada gadis itu dan diam diam warga selalu menolongnya.
"Kita kemana lagi tuan kecil?" tanya Agus, yang sejak tadi diam tidak berani bersuara, sekarang baru ia berani bersuara lagi.
"Kita pulang saja Paman, eh tapi paman lapar gak?" tanya Ram, karena Ram lah yang sering peduli dengan supirnya itu. yang lain juga peduli hanya jarang berbicara.
"Iya tuan kecil," ucap Agus malu malu.
__ADS_1
"Kalau begitu kita makan dulu deh, nanti di mansion tidak perlu makan lagi, sekarang sudah lewat makan siang juga," Ram.
Agus mengarahkan mobilnya mencari makanan, ke alamat yang seperti mereka sebutkan.
Sementara Diva di mansion sedang menunggu kedatangan sikembar, karena sudah jam 2 siang belum ada tanda tanda sikembar akan pulang.
"Kenapa sayang?" tanya Darmendra yang melihat kegelisahan istrinya.
"Sikembar hubby, kenapa jam segini belum pulang juga?" Diva.
"Mungkin mereka lagi dijalan, atau ada kelas tambahan. coba telepon saja biar tenang." Darmendra.
"Oh iya, kok aku bisa lupa sih," ucap Diva lalu menelpon Ram.
Diva pun mencari kontak Ram dan menekannya, tidak berapa lama telepon pun tersambung.
"Halo Mom ada apa?" tanya Ram.
"Kalian dimana? kok jam segini belum pulang?" tanya Diva cemas, tidak biasanya Diva mencemaskan putra putranya.
"Kami lagi makan Mom di warung tenda bersama paman Agus juga," jawab Ram.
"Kalian tidak apa-apa kan?" tanya Diva lagi.
"Tidak apa-apa Mommy, kami baik baik saja, ada apa sih Mom?" tanya Ram.
"Ah tidak, Mommy cuma cemas karena kalian belum pulang," Diva.
"Kami makan dulu ya Mom, setelah ini kami pulang, bye Mom love you." Ram, lalu panggilan pun terputus.
Orang orang yang ada disitu mendengar percakapan Ram pun merasa meleleh, terdengar sangat manis ditelinga mereka.
"Uh... so sweet banget sih anak itu, manis sekali tutur katanya," ucap seorang ibu yang tidak jauh dari meja mereka.
"Iya, pengen deh punya anak kaya mereka, tidak kaya anak anakku bandelnya minta ampun," ucap ibu B.
"Bu kalau anak itu jangan sering dimarahi, tapi dinasehati." ucap Ram.
"Ehh..kok dia tau kalau aku sering marah marah dengan anakku," batin ibu B.
"Anak anak kalau sering dimarahi maka akan menjadi bandel," ucap Ram lagi.
Ibu itu pun jadi malu karena dinasehati oleh anak kecil, ada yang tertawa ada yang mengejek hingga ibu itu pergi tanpa membayar makanan yang ia makan. akhirnya Ram lah yang membayarnya daripada penjual itu rugi.
Setelah selesai makan mereka pun segera kembali ke mansion.
.
.
__ADS_1
.
maaf telat update.....