
.
.
.
Sikembar pun berlari memasuki lift, siapa cepat dia yang duluan, yang belakangan naik tangga. Namun sikembar tidak ada satupun yang mau mengalah akhirnya mereka pun masuk walau berdesakan dipintu lift.
Vera dan Jordan tertawa melihat tingkah mereka, sungguh suatu hiburan yang sebelumnya tidak pernah mereka rasakan, tapi sejak kehadiran sikembar mereka merasa terhibur.
"Ada ada saja tingkah mereka," ucap Diva sambil tersenyum, lalu Darmendra pun memeluk tubuh Diva dari samping.
Setengah jam kemudian mereka kembali turun dengan pakaian santai mereka, celana selutut dan baju kaos tangan pendek dan rambut dibiarkan acak acakan.
"Kenapa rambut kalian tidak disisir rapi?" tanya Vera.
"Ini style Oma," Ren.
"Kok style acak-acakan gitu?" tanya Jordan.
"Ye, emang jaman Opa muda dulu gak begini ya?" tanya Ram balik.
"Jaman Opa muda dulu style rambut tidak begitu, selalu rapi dan tidak acak-acakan kaya gitu," Jordan.
Darmendra tersenyum melihat anak anaknya sudah mengerti gaya rambut dan gaya pakaian.
"Mommy, boleh kami jalan jalan sore ketaman?" tanya Roy.
"Boleh tapi jangan sampai malam," jawab Diva.
"Kalian tidak capek, padahal kalian baru saja pulang loh," Jordan.
"Gak capek kok Opa, lagian cuma jalan ketaman dekat dekat sini saja," Ram.
"Pergilah, ingat pesan Mommy jangan terlalu malam," Diva.
Sikembar pun kembali kekamar mereka untuk mengambil tas ransel milik mereka, setelah itu barulah sikembar pergi ketaman. Tidak lupa mereka berpamitan kepada Oma Opa dan kedua orang tuanya.
"Kita ke ATM dulu ya mencairkan uang, uang ku tinggal sedikit lagi." ucap Ram saat mereka sudah keluar dari pintu gerbang.
"Berapa yang kamu punya?" tanya Ray.
"Tinggal 100 juta mungkin," ucap Ram santai.
"Oke deh, punyaku juga tinggal 300 juta," Ray.
__ADS_1
Uang segitu mereka anggap sedikit, karena mereka harus menyiapkan uang cash sedikitnya 500 juta perorang. Sebenarnya mereka tidak terlalu boros, tapi uang itu mereka gunakan untuk membantu orang lain. Kalau soal berbelanja, mereka berpikir ulang untuk menghabiskan uang sebanyak itu, tapi kalau untuk membantu orang mereka tanpa berpikir panjang walaupun habis ratusan juta. Mereka memakai skuter ketaman tersebut.
"Mau lomba lagi gak? siapa yang sampai dulu ke taman maka dia pemenangnya?" tanya Ram sambil teriak.
"Ntar kalah lagi," ejek Ren.
"Kali ini aku bakal menang," Ram.
"Duh pede amat, biasa juga sering kalah," Roy.
"Takut ya?" tanya Ram menantang saudaranya.
"Tidak takut hanya malas aja, udah ketebak siapa yang kalah?" Raffa.
Tidak berapa lama kemudian mereka pun tiba di taman tersebut, mereka duduk santai di bangku yang terbuat dari kayu.
"Bagaimana besok kalau mereka benar benar memesan skuter?" tanya Roy.
"Bagus dong, skuter itu pun memang untuk dijual kecuali kalau punya kita baru tidak dijual," Ram.
"Tapi kamu bilang sama mereka harganya 1,5 juta, apa tidak terlalu murah?" tanya Ren.
"Menurutku 1,5 juta itu sudah harga yang pantas untuk mereka, coba kalian pikir mereka hanya tau minta uang kepada orang tua mereka sedangkan orang tua mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. jangan samakan dengan kita yang tidak perlu lagi merepotkan orang tua kalau mau beli apa-apa." Ram.
"Ram benar," kata Ray.
Sikembar tiba di supermarket, Ram langsung ke ATM ditemani oleh saudara saudaranya. Disisi lain ada tujuh orang sedang memperhatikan mereka yang sedang mengambil uang. Ketujuh orang itu menyeringai melihat korban mereka ada didepan mata.
"Bos, sepertinya bocah itu anak orang kaya, lihatlah mereka memegang duit sangat banyak," ucap si A.
"Sepertinya kali ini kita bakal kaya," ucap si bos.
Mereka terus mengawasi sikembar hingga sikembar selesai mengambil uang dan memasukkannya kedalam tas ransel milik Ram. Sikembar kemudian masuk kedalam supermarket, mereka akan belanja cemilan untuk untuk mereka makan dikamar mereka.
"Bos mereka masuk kedalam," ucap si A.
"Terus awasi jangan sampai lolos, itu mangsa kaya raya," ucap si bos.
Sedangkan sikembar sedang asik berbelanja cemilan. setelah dirasa cukup mereka pun kekasir untuk melakukan pembayaran. penjaga kasir tersenyum melihat tujuh bocah tampan didepan matanya.
"Totalnya 150 ribu ya dek," ucap penjaga kasir itu dengan ramah.
"Ini kak," Ram menyerahkan blackcard miliknya, penjaga kasir melongo melihat anak kecil sudah memegang blackcard sendiri.
Penjaga kasir itupun menggesek kartu hitam tersebut, dan pembayaran berhasil.
__ADS_1
"Ini dek," penjaga kasir itu menyerahkan kembali blackcard kepada Ram.
"Terimakasih kakak cantik, ini tips untuk kakak cantik," ucap Ram memberikan uang seratus ribu dua lembar.
"Terimakasih banyak dek," ucap penjaga kasir dengan gembira. Sikembar pun berlalu meninggalkan kasir tersebut.
"Rezeki tidak boleh ditolak kebetulan aku tidak punya uang untuk makan, ini nanti dapat aku gunakan untuk belanja bahan makanan," gumam penjaga kasir lalu menyimpan uang tersebut.
Sementara sikembar sudah berada diluar supermarket, mereka masih diintai oleh tujuh orang preman tersebut.
Sikembar menahan taksi karena mereka banyak membawa barang belanjaan, taksi pun berhenti tepat disamping sikembar, secara kebetulan supir taksi tersebut belum menemukan penumpang. Sikembar pun masuk kedalam mobil taksi, karena mereka kecil jadi taksi itu muat untuk mereka.
"Jalan Paman," perintah Ray.
"Baik den," jawab pria itu, lalu mobil pun bergerak perlahan meninggalkan supermarket tersebut. Tujuh orang tadi mengikuti taksi tersebut menggunakan motor.
"Paman sepertinya mobil ini diikuti deh," ucap Ren, supir taksi itu melihat kekaca spion.
"Mungkin kebetulan mereka satu arah," jawab supir taksi itu.
"Mungkin juga," Ren.
Namun saat dipertengahan jalan mobil taksi itu dihadang oleh tujuh orang tersebut, badan mereka besar besar. Dengan menggunakan empat buah motor mereka mengepung taksi tersebut depan dan belakang, sehingga taksi tersebut sulit untuk maju juga mundur.
"Apes banget nasibku, istri mau melahirkan dan butuh duit, dapat penumpang tapi dibegal," gumam supir taksi itu pelan, tapi masih didengar oleh sikembar.
"Paman jangan keluar dari mobil, biar kami mengatasi mereka semua," Roy.
"Tapi mereka semua berbadan besar sedangkan kalian..." supir taksi itu tidak jadi melanjutkan kalimatnya.
"Paman tenang saja, kami pasti bisa mengalahkan mereka," Ram.
"Benar Paman, kami akan hajar mereka hingga kapok," Rakha.
"Paman sedang butuh uang kan? nanti kami bayar lebih deh," Ram.
"Saya hanya mengkhawatirkan kalian." ucap supir taksi itu.
"Paman tenang saja, tidak akan terjadi apa apa," Raffa.
Ketujuh preman itu turun dari motor mereka, sebelum mereka menghampiri mobil itu, sikembar sudah lebih dulu turun dari mobil.
"Mau apa kalian?" tanya Ray dengan nada dingin.
.
__ADS_1
.
.