SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Kekacauan di sekolah.


__ADS_3

.


.


.


Sikembar masih berada di sekolah, tiba tiba datang 5 orang berbadan besar berpakaian serba hitam, para murid yang sedang belajar pun berlarian karena 5 orang tersebut membuat keributan.


"Ada apa ini? siapa kalian?" tanya Pak Fredi kepala sekolah.


Kelima pria tersebut tidak menjawab malah memukul Pak Fredi hingga terkapar dilantai. Kemudian kelimanya mencari keberadaan sikembar. Sedangkan sikembar masih berada didalam kelas sedang mengikuti pelajaran.


Renita yang melihat Pak Fredi, segera membantunya untuk bangun. wajah Pak Fredi sudah babak belur dan bibirnya berdarah.


"Sebenarnya apa yang terjadi Pak? kenapa sampai seperti ini?" tanya Renita.


"Saya juga kurang tau Bu, tiba tiba saja saya dipukuli seperti ini," jawab Pak Fredi sambil menahan rasa sakit.


"Sebaiknya Bapak segera ke dokter," ucap Renita.


Pak Fredi pun segera dibawa kerumah sakit diantar oleh satpam penjaga gerbang sekolah. Satpam juga tidak berani untuk melawan kelima pria tersebut sehingga membiarkan saja mereka masuk kesekolah.


"Dimana bocah kembar itu?" tanya salah satu dari mereka.


Para guru tidak ada yang berani menjawab, sehingga ada salah satu murid ditodong dengan pistol dikepala, murid tersebut ketakutan hingga tubuhnya gemetar.


Sikembar keluar dari kelas karena Pak Rahmat juga takut pada mereka.


"Lepaskan dia, kalian menginginkan kami kan?" tanya Ram.


"Hmmm, bagus kalian mau keluar juga," ucap si A.


"Lepaskan dulu dia, dia bukan tandingan kalian tapi Kamilah lawan kalian," Roy.


"Wow hahaha, besar juga nyalimu anak kecil," ucap si C.


Pria itu pun melepaskan murid tersebut, murid itu sampai terkencing dicelana saking takutnya. Sikembar berpencar mengambil posisi masing-masing, Para murid saling berpelukan begitu juga guru perempuan.


"Apa yang kalian inginkan dari kami?" tanya Ray.


"Tuan kami menginginkan kematian kalian," ucap si A.


Sikembar menyeringai, senyum yang membuat orang bergidik ngeri. wajah imut mereka berubah seketika.


"Lebih baik kalian pergi dan jangan membuat kekacauan di sekolah ini," Ren.


"Kami akan pergi setelah menghabisi nyawa kalian," ucap si A.

__ADS_1


"Kalau begitu tidak ada pilihan lain, sebaiknya kita selesaikan sekarang," Rakha.


Sikembar saling pandang lalu mengangguk, mereka maju secara serentak mendekati kelima pria tersebut. Tiba tiba sikembar bersalto hampir bersamaan, mengangkat kakinya menendang tubuh tegap dan besar milik kelima pria tersebut, tendangan itu tetap mengenai dada pria itu. Karena tanpa persiapan akhirnya mereka mundur beberapa langkah hingga membentur tembok.


"Aakh," teriak kelimanya hampir bersamaan.


Mereka mengusap dada mereka yang terasa sakit karena tendangan sikembar tidak main main, belum hilang rasa sakit didada mereka, sikembar kembali menyerang mereka secara serentak.


"Wah sikembar hebat ya," teriak para murid, mereka yang tadinya takut kini malah bersorak kegirangan melihat aksi sikembar.


Kelima pria itu tidak sempat untuk membela diri, karena sikembar tidak memberikan jeda kepada mereka. kurang dari setengah jam kelima pria itu sudah terkapar dilantai.


"Ternyata mereka lebih kuat dari kita," ucap si A dengan terbata bata.


"Benar, pantas saja teman kita lenyap tanpa kabar, aku yakin pasti ulah mereka," ucap si B.


Sikembar dengan gaya cool menghampiri kelima pria itu, dan. Praak... sikembar mematahkan tangan dan kaki mereka, jeritan pun menggema dari mulut mereka. para guru dan murid bergidik ngeri melihat sisi lain dari sikembar.


"Lain kali jangan berurusan dengan kami jika ingin selamat," ancam Ren.


"Bu Renita, boleh minta tolong panggilkan polisi, biar mereka membusuk didalam penjara." ucap Ram.


"Ba..baik," ucap Renita gugup. Bagaimana tidak gugup, belum hilang ketakutannya dari lima pria berbadan besar itu, sudah menyaksikan lagi kekejaman sikembar.


Sebelum polisi datang, sikembar menyuntikkan cairan yang selalu mereka bawa, cairan pelumpuh. Seketika itu juga kelimanya tidak sadarkan diri.


"Terimakasih atas kerjasamanya," ucap komandan polisi tersebut.


"Iya Pak, sama sama," jawab Ram.


Kemudian polisi itupun pergi karena tugas mereka sudah selesai.


"Sekarang kalian sudah aman, jangan takut dengan kami selama kalian tidak mencari masalah dengan kami maka kalian akan aman aman saja," ucap Ram dengan nada lembut, tapi mereka yang mendengarnya seperti ancaman bagi mereka.


Mereka pun membubarkan diri dan masuk kekelas mereka masing-masing, tapi guru mereka masih syok dengan kejadian tadi, jadi menyuruh para murid pulang saja.


"Kalian hebat banget," ucap Imran pada Ram.


"Tidak juga, biasa saja tuh," balas Ram.


"Aku juga mau hebat seperti kalian yang bisa karate," ucap Imran lagi.


"Kami dulu masuk kelas taekwondo, dari situlah kami belajar ilmu bela diri, lumayan kan untuk melindungi diri sendiri apalagi zaman sekarang banyak orang jahat," ucap Ram panjang lebar.


Kemudian mereka pun berpisah diparkiran, karena Imran sudah dijemput oleh sopirnya. Sedangkan sikembar, mereka memakai skuter dan tidak pernah lagi diantar jemput oleh sopir.


"Bagaimana sekarang? mereka sudah mulai bertindak," tanya Ram.

__ADS_1


"Kita tunggu saja apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?" tanya Ren.


"Tapi aku takut nanti orang yang tidak bersalah menjadi sasaran mereka, seperti kejadian tadi," Roy.


"Kalau kita menyerang markasnya rasanya tidak mungkin," Rakha.


"Bisa saja, kenapa tidak?" tanya Ray.


"Maksudmu gimana?" Raffa balik bertanya.


"Begini?" Ray pun membisikkan rencana mereka. Lalu mereka pun saling pandang.


"Apa tidak terlalu beresiko?" tanya Ram.


"Setiap apa yang kita lakukan pasti punya resiko, dan untuk menangkap ikan besar kita harus menggunakan umpan yang besar pula," Ray.


Lalu mereka pun manggut-manggut mengerti, dan menyetujui usulan dan rencana dari Ray.


"Oke, kalau begitu kita pulang, kita buat persiapan untuk menghancurkan markas mereka.


Sementara ditempat lain, Nathan mengamuk karena lima orang anak buahnya ditangkap polisi.


"Sial.. mengapa bisa seperti ini? mengurus anak kecil saja tidak becus, haruskah aku yang turun tangan sendiri?" teriak Nathan menggema diruang kerjanya.


"Sepertinya anak itu memang dikawal ketat tuan," ucap Robin takut takut.


"Hmmm, kamu benar kita harus cari cara supaya bisa menculik anak itu, agar Jordan keluar untuk menyelamatkannya, setelah itu aku akan habisi anak itu didepan matanya," seringai jahat Nathan.


"Kalau bisa, aku tidak ingin ikut campur dengan masalah ini," batin Robin.


"Kenapa kau diam saja? katakan sesuatu bagaimana caranya untuk menangkap anak itu?" tanya Nathan.


"Maaf Tuan, pikiran saya lagi buntu dan tidak bisa berpikir jernih," ucap Robin.


"Dasar otak udang, begitu saja tidak bisa mikir," Nathan.


"Bukan tidak bisa mikir tuan, tapi saya sejujurnya tidak mau ikut campur," ucap Robin yang hanya bisa diucapkan dalam hati.


Bisa kena penggal dia kalau berani melawan tuannya.


Nathan mondar-mandir memikirkan sesuatu, hingga ia menyuruh Robin untuk memanggil bawahannya, kini 43 orang yang tersisa, 7 yang terkuat sudah ko oleh sikembar.


Entah apalagi rencana Nathan untuk menangkap sikembar?


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2