
.
.
.
Setelah selesai mandi, Darmendra dan Diva masuk keruang ganti, Diva memilih milih pakaian, tapi tidak ada satu pun yang menurutnya cocok. hingga satu lemari diobrak abrik oleh Diva. Darmendra melihat itu hanya menggeleng, kini ia mengerti mood orang hamil berubah ubah.
"Cari apa sayang? kok diobrak abrik lemarinya?" tanya Darmendra.
"Hubby, aku mau pakai hijab tapi tidak ada," jawab Diva memberenggut, jangan lupa bibirnya dibuat monyong kedepan.
"Loh, emangnya sayang pernah beli hijab hmmm?" tanya Darmendra sambil memeluk tubuh Diva, Diva menggeleng.
"Pakai yang adanya saja ya, nanti kita beli hijab." ucap Darmendra lagi.
"Gak mau, aku maunya pakai hijab, titik." kata Diva penuh penekanan.
"Sayang tapi kan ka...!" perkataan Darmendra terpotong.
"Hubby kan kaya, masa hijab aja tidak mampu beli sih?" tanya Diva dengan nada naik satu oktaf.
Darmendra garuk-garuk kepala dan hanya bisa berkata dalam hati, "keanehan apalagi ini? ternyata aku masih belum memahami sifat dan mood orang hamil."
"Hubby kok diam saja sih? cepat dong beli..!" Diva.
"Iy... iya, iya." Darmendra pun menelpon butik terkenal yang khusus menjual pakaian muslim, dan meminta pakaian lengkap dengan hijabnya dan segera dihantar.
"Sebentar ya sayang, aku sudah pesan pakaian untukmu," Darmendra.
Sementara menunggu orang butik mengantarkan pakaian, Darmendra pergi kekamar sikembar untuk mengajak sikembar jalan jalan ala bumil. begitulah Darmendra menggelarnya, karena ada ada saja tingkah bumil yang satu ini. tak berapa lama, pelayan datang mengantarkan bingkisan dari butik, dan menyerahkannya kepada Diva.
Diva yang menerima bingkisan tersebut merasa sangat bahagia, lalu Diva pun membukanya dan dilihatnya pakaian seperti yang ia inginkan. Diva kembali keruang ganti dan mencoba pakaian tersebut.
Diva mematut dirinya di cermin sambil tersenyum, lalu Diva pun keluar dari kamar dan segera menemui Darmendra dikamar sikembar.
Ceklek.... pintu kamar dibuka oleh Diva, Darmendra dan sikembar menoleh kearah pintu.
"Mommy...,"
"Sayang..." ucap Darmendra dan sikembar bersamaan. mereka terperangah melihat Diva sangat cantik memakai hijab.
"Sayang kamu..?" Darmendra tidak bisa meneruskan kata katanya, lidahnya terasa kelu, Darmendra menelan silivanya beberapa kali, karena terasa tercekat.
__ADS_1
"Yuk berangkat...!" ajak Diva, mereka masih melongo.
"Ehh, iya ayo," Darmendra tersadar, sikembar juga tersadar dan mengangguk. sikembar tidak lupa membawa tas ransel milik mereka masing-masing, Darmendra tidak mempermasalahkan itu.
"Hubby jangan lupa bawa uang cash, penjual martabak tidak menerima kartu sebagai pembayaran." Diva.
"Ehh iya, hampir saja lupa," ucap Darmendra, lalu ia kembali kekamar nya mengambil dompet dan uang untuk berbelanja nanti. lalu mereka semua turun kebawah.
"Ehh, Diva?" Vera pangling melihat Diva memakai hijab, karena belum pernah sebelum.
"Bi, tolong bereskan kamar yang seperti kapal pecah ya." perintah Darmendra.
"Baik tuan muda." jawab pelayan itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Jordan.
"Biasalah Dad, tingkah aneh bumil." jawab Darmendra.
"Oma Opa kita berangkat ya," Ram, lalu sikembar mencium tangan Oma dan Opanya.
"Berangkat dulu Dad, Mom." pamit Darmendra dan Diva.
Vera dan Jordan hanya memperhatikan mereka, hingga mereka masuk ke mobil, Vera dan Jordan kembali masuk kedalam mansion.
Sedangkan didalam mobil yang sudah mulai bergerak dengan kecepatan sedang dijalan raya, mereka tidak ada seorang pun yang berbicara, entahlah sepertinya mereka terkena bisu masal. Diva lah yang paling antusias disini, semenjak ia dinyatakan hamil ia menjadi lebih suka jalan jalan, dulu juga suka, tapi sekarang lebih lagi sukanya.
Diva dan sikembar lebih dulu turun, sementara Darmendra memarkirkan mobilnya. karena tempat ini ramai pengunjungnya. Diva mendekat kearah penjual martabak seketika perutnya bergejolak, tapi sebisa mungkin ia tahan.
Sampai Darmendra menghampirinya dan membawa Diva menjauh dari tempat itu.
"Kenapa?" tanya Darmendra, Diva menggeleng.
"Kita pergi dari sini hubby, aku tidak tahan mencium bau badan mereka." ucap Diva jujur.
Padahal tubuh mereka sangat wangi, entah parfum apa yang mereka pakai sehingga membuat Diva mual. Darmendra membawa Diva kemobil, sikembar juga ikut masuk kedalam mobil.
"Kita cari tempat lain saja ya?" tanya Darmendra, Diva mengangguk.
Darmendra kembali menjalankan mobilnya, kali ini mereka menuju taman hiburan, disana juga ada penjual martabak. Sampailah mereka ketempat yang mereka tuju, sebuah taman hiburan yang banyak pengunjungnya.
Diva begitu antusias, ia turun duluan dari mobil, Darmendra yang melihat tingkah Diva merasa cemas.
"Sayang hati hati, mobil belum berhenti loh," ucap Darmendra, tapi Diva tidak peduli, seolah olah tuli. Mobil Darmendra pun terparkir, sikembar dan Darmendra pun turun, tapi mereka tidak menemukan Mommy nya.
"Daddy, Mommy kemana?" tanya Ram.
__ADS_1
"Hah... tadi kan disitu," tunjuk Darmendra, mereka panik mencari Diva yang menghilang dari pandangan mereka.
"Kita berpencar," Roy.
"Bagi empat kelompok," Ray.
Sikembar berpencar memilih arah masing-masing, Ram dan Darmendra, Rakha dan Roy, Ray dan Raffa, Ren dan Rasya.
Mereka mencari kesegala arah, tapi tidak ketemu juga, sedangkan yang mereka cari sedang asik menikmati makanan yang terbuat dari gula pasir, yaitu kembang gula kapas.
"Hmmm, enak ternyata," ucap Diva sambil menikmati kembang gula kapas tersebut, seperti orang yang tidak pernah memakan kembang gula kapas.
"Lagi Pak," Diva mengambil lagi satu dan memakannya, kemudian Diva pun membayarnya, Diva menyerahkan uang 50 ribu satu lembar.
"Ambil aja Kembaliannya Pak," Diva.
"Terimakasih neng," jawab bapak itu.
Diva berjalan menuju tempat penjual martabak, ia lupa kalau pergi bersama suami dan anaknya.
Sementara Darmendra masih mencari cari, ia melupakan satu hal yaitu handphone.
"Dad, Mommy bawa ponsel tidak?" tanya Ram.
"Astaga, kenapa aku melupakan hal itu," ucap Darmendra, ya saking paniknya sampai melupakan sesuatu. lalu iapun menelepon Diva dan langsung tersambung.
"Ya halo hubby, ada apa?" tanya Diva seolah olah tidak terjadi apa-apa.
"Sayang kamu dimana, kami mencarimu loh." Darmendra.
"Hubby, aku lagi beli martabak hubby kesini ya," Diva.
"Oke, oke kamu jangan kemana-mana," Darmendra, kemudian Darmendra dan Ram mendatangi penjual martabak.
"Ram beritahu saudara saudaramu, Mommy sudah ketemu," perintah Darmendra, Ram pun segera memberitahu saudara saudaranya.
"Sayang...!" Darmendra langsung memeluk Diva, karena risau.
"Hubby malu dilihat orang tuh," Diva, Darmendra pun melepaskan pelukannya.
Tak berapa lama sikembar pun sudah datang dan berkumpul dengan Mommy nya. Diva memesan banyak martabak manis, dan juga martabak telur. Penjual martabak tersebut begitu senang karena Diva banyak membeli, biasanya orang yang membeli hanya satu atau dua saja. tapi Diva lebih dari sepuluh. Diva memakan martabak telur dengan lahap, kebetulan ada yang sudah agak dingin, jadi saat Diva memakannya tidak terlalu panas.
.
.
__ADS_1
.