SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Jonathan


__ADS_3

.


.


.


Waktunya makan malam sudah tiba, mereka semua turun kebawah untuk makan malam, Darmendra melayani istrinya, sedangkan Vera melayani suaminya. Sikembar tentu tidak mau lagi untuk dilayani dengan alasan sudah besar, kapan bisa mandiri kalau makan saja minta dilayani?


Begitulah kata sikembar saat Diva hendak melayani mereka dahulu, sejak saat itu Diva tidak lagi melayani mereka, karena mereka memang ingin belajar mandiri. Dari umur 4 tahun sikembar sudah bisa melayani diri sendiri tanpa harus merepotkan Mommy dan pelayan mereka. Diumur 5 tahun sikembar sudah masuk kelas taekwondo, setelah itu mereka masuk kelas karate dan yang terakhir silat, mereka belajar ilmu bela diri semata mata untuk melindungi diri sendiri, karena Diva mengajarkan yang bisa melindungi kita adalah diri kita sendiri. Jadi sikembar bertekad untuk belajar ilmu bela diri dengan sungguh-sungguh.


Seperti biasa saat makan tidak ada yang bersuara hanya dentingan sendok dan garpu beradu dengan piring hingga menimbulkan bunyi.


Setelah selesai makan mereka semua berkumpul diruang tengah, karena ruang tengah lebih luas daripada ruang tamu.


"Apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Diva kepada sikembar, karena akhir-akhir ini ia merasakan kekhawatiran pada sikembar.


"Mommy jangan risau kami bisa mengatasinya kok, cuma preman kecil," ucap Ram santai.


"Walaupun cuma preman biasa tapi kalian harus tetap berhati-hati," Darmendra.


"Pasti Daddy, kami akan selalu waspada," Ren.


"Mom, bagaimana dengan pemasaran skuter nanti? berapa harga yang harus dijual," Roy.


"Menurut kalian gimana?" tanya Diva.


"Ram menjualnya dengan harga 1,5 juta," Rakha.


"Sebenarnya harga pasaran 1,8 juta, tapi karena mereka teman sekolah kalian biarkan sajalah. Yang beli teman sekolah kalian kan? tadi Mommy cuma menebak," Diva.


"Aku jual dengan harga segitu juga memikirkan mereka Mom, mereka cuma tau minta uang sedangkan orang tuanya banting tulang untuk bekerja. Meskipun mereka golongan dari orang orang kaya." Ram.


"Ya sudah gak apa-apa jangan diperpanjang lagi, hitung hitung diskon untuk mereka. Dan kalau ada lagi yang beli nanti bilang aja harganya 1,5 juta, kita juga tidak akan rugi, tapi kalau sudah dipasarkan baru harganya berbeda," Diva.


"Kalau begitu kita masuk kekamar dulu ya Mom, ada tugas dari guru kelupaan mau kerjakan." ucap Ram nyengir.


Lalu mereka berlarian menuju lift, tapi sebelum itu mereka mencium dulu perut Diva, dan setiap mereka mencium perut Diva dedek didalam perut bergerak gerak seolah olah merespon apa yang dilakukan oleh Abang Abangnya.


"Kita kekamar juga sayang, istirahat ya," ajak Darmendra, dan Diva mengangguk.


"Kami juga mau istirahat," ucap Vera lalu menarik tangan suaminya.

__ADS_1


Setibanya didalam kamar, Diva langsung berbaring diatas ranjang, disusul oleh Darmendra. Keduanya saling berpelukan walaupun terganjal oleh Diva yang memang sangat besar.


"Dulu Mona hamil sikembar perutnya lebih besar dari ini," batin Diva.


"Apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Darmendra.


"Tidak ada hubby, hanya saja aku sudah tidak sabar menanti kehadiran mereka. dan aku bahagia melihat sikembar juga begitu antusias menanti kehadiran adik mereka." Diva.


"Aku juga sudah tidak sabar menanti kehadiran mereka, oh ya sayang bukankah sangat dianjurkan untuk berhubungan suami istri saat kehamilan trisemester ketiga?" tanya Darmendra.


"Dokter bilang sih memang begitu," jawab Diva.


"Kita lakukan ya?" Darmendra.


"Tapi jangan sering sering hubby, takutnya nanti membahayakan," Diva.


Lalu mereka pun melakukan pendakian demi mencapai puncak. Darmendra begitu semangat memimpin pendakian tersebut.


Keesokan harinya...


Disekolah sikembar sudah diserbu para murid, padahal mereka baru saja tiba didepan pintu gerbang sekolah.


"Ada apa kalian ramai ramai?" tanya Ram.


"Biarkan kami masuk kekelas dulu, setelah itu baru aku pesankan," Ram.


Mereka dengan patuh mengikuti sikembar, saat tiba didalam kelas mereka ngantri seperti sedang membeli tiket saja.


"Berarti sekarang ada 160 orang yang memesan?" tanya Ram, dan mereka mengangguk.


Ram langsung menelpon bawahannya untuk mengantarkan skuter tersebut kesekolah mereka.


"Tunggu setelah pelajaran pertama selesai, kalian akan menerima skuter kalian masing-masing," ucap Ram pada murid murid tersebut.


"Benarkah, wah cepat sekali," ucap salah satu murid.


"Kan sudah dibilang kemarin, ada uang ada barang, sekarang kembali ke kelas kalian," Ram.


Mereka pun membubarkan diri masing-masing dan kembali ke kelas masing-masing.


"Banyak juga pendapatanmu hari ini," tanya Ren saat melihat banyaknya uang yang Ram terima.

__ADS_1


"Lumayan, gimana pulang nanti kita singgah ke warung tenda? biar aku yang traktir," tanya Ram.


"Boleh juga, biasanya juga kamu yang bayar setiap kali kita makan," Ren.


"Iya ya, tapi kali ini beda dong," Ram.


"Iya terserah kamulah," Roy.


Tak berapa lama bel sekolah berbunyi, tapi murid murid sudah masuk ke kelas sebelum bel berbunyi, jadi yang berada diluar tidak terlalu ramai.


Para murid yang sudah memesan skuter merasa sudah tidak sabar untuk menghabiskan waktu pelajaran pertama.


Akhirnya jam pelajaran akhirnya selesai, para murid datang menghampiri Ram, Ram membawa mereka kedepan sekolah lebih tepatnya tempat parkir, disana sudah menunggu mobil yang membawa skuter mereka dan dibungkus rapi dengan kotak, karena skuter tersebut bisa dilipat jadi lebih mudah dibawa kemana-mana.


"Jangan berebut, biasakan selalu tertib," perintah Ram, anehnya mereka menjadi penurut dan berbaris menjadi lima barisan.


Sikembar juga ikut membagikan kotak tersebut.


Setelah semua mendapatkan skuter mereka masing-masing, para murid begitu antusias untuk membukanya. ada yang saling tukar dengan teman temannya karena warna ada yang tidak cocok bagi mereka.


Sementara di belahan dunia lain, nampak seorang pria paruh baya sedang duduk dikursi kebesarannya, pria itu adalah Jonathan atau lebih akrab disapa Nathan.


Ada yang ingat dengan Nathan? kalau tidak salah ada diceritakan di bab 64.


"Kamu yakin Jordan sudah punya cucu?" tanya Nathan pada bawahannya.


"Yakin tuan, diperkirakan usia mereka sekitar 8 atau 9 tahun," jawab Robin.


"Hmmm, ternyata mereka bersembunyi di Indonesia, pantas saja setelah lulus kuliah saya tidak menemukan mereka, Lalu bagaimana dengan kabar Serena?" tanya Nathan.


"Maaf tuan, menurut informasi yang saya terima, nyonya Serena sekarang lumpuh. Dia mau balas dendam kepada Jordan tapi dapat serangan balasan dan anggota mereka kalah." ucap Robin asisten pribadi Nathan.


"Sia sia, saya membebaskannya dari penjara dan mempercayainya memimpin kelompok mafia yang saya pimpin, ternyata dia tidak pernah menghargai usaha saya." ucap Nathan geram.


Ya Serena demi mewujudkan keinginannya ia memanfaatkan Nathan dan menikah dengan Nathan, tapi pernikahan mereka tidak pernah bahagia, walaupun Serena diperlakukan dengan sangat baik oleh Nathan, tapi Serena tidak pernah mencintai Nathan, sebab itulah pernikahan mereka menjadi hambar.


Nathan bisa memiliki tubuh Serena tapi tidak hatinya, karena hati Serena sudah dipenuhi oleh dendam.


"Aku ingin ke Indonesia untuk menemui Serena, dan juga untuk membalaskan dendamku pada Jordan dan keluarganya." ucap Nathan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2