
.
.
.
Kenapa nenek menolak? kami ikhlas Nek?" tanya Ram lalu mengelus tangan nenek itu yang mulai keriput.
"Nenek tidak pantas menerima semua ini," jawab nenek itu dalam bahasa isyarat.
"Ambillah nenek, nanti rezeki ngambek loh kalau nenek tidak ambil." Ram.
Diva dan Darmendra menahan tawa mendengar ucapan putra bungsunya itu.
"Siapa yang mengajari anak kita?" tanya Darmendra, Diva hanya mengedikan bahu.
"Siapa yang yang mengajarimu ngomong seperti itu sayang?" tanya Diva.
"Itu Roy bilang sama Bapak diarea permainan, karena Bapak itu tidak mau ambil uang dari kami, terus Roy bilang gini. kalau Bapak nolak rezeki nanti rezekinya ngambek Bapak mau cari dimana kalau rezekinya benar benar ngambek." ucap Ram dengan polosnya, walaupun mereka anak anak jenius, tapi sisi polosnya tetap ada. Seketika Diva dan Darmendra tertawa mendengar ucapan itu.
"Kok Mommy sama Daddy ketawa? emang lucu ya?" Ram.
"Maaf sayang, kata kamu benar kami ketawa karena melihat ekspresi kamu menceritakan yang dibilang oleh Roy." Diva.
Ram mengeluarkan pakaian untuk anak lelaki itu dan menyerahkannya. melihat pakaian bagus tentu saja anak itu merasa senang, belum pernah memakai pakaian baru dan mahal.
"Ini untuk kamu, sekarang kamu mandi dulu ya bersihkan badanmu kami juga ada membeli sabun untuk mandi dan deterjen untuk mencuci pakaian," Ram.
Lalu Ram dan Rakha masuk kedalam rumah mengantar anak itu untuk mandi, Ram memberikan handuk baru juga untuk anak itu dan neneknya. setelah selesai mandi anak itu terlihat bersih, biasanya ia mandi tidak pernah pakai sabun jadi kurang bersih. kini anak itu sudah bersih dan wangi, kulitnya yang putih sudah terlihat tidak kusam lagi. lalu Ram memakaikan baju dan celana baru untuk anak itu.
"Kita keluar yuk," ajak Ram, anak itu hanya mengikuti saja.
Diva yang melihat perubahan anak itu merasa takjub juga, karena putranya begitu telaten dengan anak itu. sebenarnya wajah anak itu tampan, hanya saja keadaan yang tidak memungkinkan membuatnya jadi kusam.
Akhirnya Nenek itu menerima juga pemberian dari Diva lalu mengucapkan terima kasih lewat bahasa isyarat. Diva pun mengangguk, setelah itu mereka pun pamit.
Tapi sebelum itu Darmendra memberikan amplop berisi uang yang cukup tebal entah berapa nominalnya pun tidak tahu. yang pasti uang itu cukup untuk modal usaha kecil-kecilan.
Sepeninggalan mereka, nenek itu pun menangis sambil bersujud syukur Kepada Allah dan mendoakan keluarga yang menolongnya dilimpahkan kebahagiaan dan kesejahteraan.
Darmendra sejak melihat si kembar gemar membantu orang, iapun selalu menyiapkan uang cash didalam amplop dan disimpan dibalik saku jasnya.
Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang menuju mansion Henderson.
"Daddy bangga dengan kalian, selalu membantu orang yang susah." Darmendra.
__ADS_1
"Bukankah kita kaya, Dad? kita tidak akan jatuh miskin kalau kita bersedekah." Ram.
"Ternyata anak anak Daddy lebih pintar dari Daddy, Daddy jadi insecure dengan kalian." Darmendra.
"Daddy gak boleh bilang begitu, walau apapun Daddy adalah Daddy terbaik untuk kami." Ren.
Darmendra merasa tertampar sekaligus senang mendengar kata kata anak anaknya, kata kata bijak yang bisa membuat Daddy nya merasa tersanjung.
.
.
Hari hari berlalu tidak terasa tinggal tiga hari lagi pesta resepsi pernikahan Diva dan Darmendra, undangan pun sudah tersebar luas. baik itu untuk kalangan orang bawah sampai orang kalangan atas.
Kini Darmendra, Diva dan si kembar sedang berada di butik untuk fitting baju pengantin tak ketinggalan juga Vera dan Jordan ikut serta melihat anak dan menantunya.
Si kembar mencoba tuxedo khusus untuk anak anak, Darmendra juga mencoba tuxedo nya senada dengan si kembar. sedangkan Diva mencoba gaun pengantin, saat Diva keluar dari ruang ganti Darmendra juga si kembar tidak berkedip menatap Mommy mereka.
"Cantik," ucap mereka serentak, ayah dan anak begitu kompak nya.
"wow, Mommy seperti bidadari." Ram.
"Benarkah ini Mommy?" Ren.
"Ehhem," Diva berdehem menyadarkan mereka dari kekaguman mereka.
"Cantik" jawab si kembar dan Darmendra bersamaan.
"Ya sudah kalau sudah cocok," Diva.
"Nona boleh kami mengambil foto kalian semua untuk promosi," ucap fotografer tersebut.
"Boleh" jawab Diva.
"Tunggu," perintah Ray.
Semua orang tercengang termasuk pemilik butik ini.
"Om mau ambil foto kami untuk promosi, otomatis Om akan menjualnya kan? semua itu tidak gratis Om." ucap Ray.
"Oke, kalian mau minta bayaran berapa?" tanya fotografer tersebut.
"Begini Om, kami setuju kalau Om jual foto kami, tapi Om harus bagi hasil penjualan itu tidak banyak kok Om, kami hanya minta 30persen dari hasil penjualan. Dan lagi uang itu nanti bukan untuk kami Om, tapi untuk anak yatim dan orang kurang mampu. bagaimana Om setuju?" Ram.
"Baik Om sangat setuju, kalian memang anak anak yang baik."
__ADS_1
Akhirnya mereka pun berfoto sesuai pose mereka, tanpa diperintah mereka berpose dengan sangat baik seperti model profesional saja, mereka sampai beberapa kali ganti baju karena sekalian mempromosikan butik tersebut. karena sebelumnya butik ini kurang terkenal, karena kemauan Diva untuk membuat gaun pengantin disini jadi Darmendra tidak bisa menolak.
"Cucu cucuku memang otak bisnis," Vera.
"Cucu Daddy juga Mom, yang bangganya mereka minta bayaran bukan untuk kepentingan dirinya sendiri." Jordan.
Akhirnya mereka selesai, fotografer tersebut sangat puas dengan hasilnya, "aku yakin ini akan laris." fotografer itu membatin.
"Sekarang kita boleh pulang?" tanya Darmendra.
"Yuk pulang," ajak Ram.
Seperti biasa Vera dan Jordan pulang dengan mobil terpisah, si kembar tetap bersama Daddy dan Mommy nya. sepanjang perjalanan mereka begitu terlihat sangat bahagia, Vera dan Jordan mengikuti mobil mereka dari belakang.
"Dad kita singgah di warung tenda pinggir jalan," ucap Ren.
"Baiklah kebetulan Daddy juga sudah lapar, kebanyakan berpose membuat perut keroncongan." Darmendra.
Sesampainya di warung tenda tersebut, mereka pun turun dari mobil. Jordan juga menghentikan mobilnya.
"Sepertinya mereka mau makan Mom." ucap Jordan.
"Tapi kok disini Dad, tidak di restoran." Vera.
"Mommy kan tau si kembar gimana? mereka senang menolong orang, nah dengan cara ini salah satunya." Jordan.
"Mommy tidak mengerti maksud Daddy." Vera.
"Mom dengan kita makan di tempat seperti ini, kita bisa membantu perekonomian keluarga mereka. begitu juga yang dipikirkan si kembar. kalau makan di restoran sudah pasti pemilik restoran itu orang kaya." Jordan.
"Oke deh Mommy ikut saja," lalu keduanya turun dari mobil dan bergabung dengan si kembar.
Orang orang yang makan disini merasa heran melihat ada orang kaya makan di tempat seperti ini.
"Mereka sering makan disini," ucap pemilik warung tenda seperti tau tatapan pelanggannya itu.
"Kupikir orang kaya tidak mau makan ditempat seperti ini?" tanya salah satu pelanggan yang sering makan disini.
"Sudah jangan membicarakan orang." jawab pemilik warung tenda tersebut.
Bisik bisik pelanggan tentang keluarga terhormat makan dipinggir jalan terus berlanjut, mereka berbisik bukan untuk mengejek atau mencela, mereka memuji kerendahan hati keluarga kaya raya yang satu ini. kalau orang kaya lain tidak akan mau mereka makan ditempat seperti ini.
Namun semua itu juga berkat si kembar, sebelum kembar ada mana pernah mereka makan dipinggir jalan?"
.
__ADS_1
.
.