SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
pengganggu


__ADS_3

.


.


.


"Paman mau uang?" tanya Ren lagi.


"Hahaha, anak kecil ternyata anak orang kaya," jawab preman itu.


"Lawan kami Paman," kata Roy.


"Hei bocah, jangan berlagak ya kalian itu cuma anak kecil," kata ketua preman itu.


"Paman masih kalah jumlah dari kami," ucap Ren santai.


"Banyak bacot, sini uang kalian," kata preman itu.


Ricardo sudah terlihat pucat, jujur saja ia tidak bisa berkelahi itu sebabnya ia sering di-bully. Ricardo hanya memperhatikan dari dalam cafe tanpa berani mendekat apalagi membantu. Sementara sikembar sudah bersiap siap untuk melawan para pengganggu itu.


"Hahaha, ambil uang itu," perintah bos preman pada anak buahnya.


Preman itu maju hendak mengambil uang yang ada ditangan Ren, tapi dengan cepat Ren menyimpannya disaku Hoodie nya. Preman itu tidak terima lalu ingin menangkap Ren tapi satu tendangan mendarat sempurna diperut preman itu hingga preman itu terjungkal ke tanah.


"Sudah ku bilang kalian kalah jumlah," ucap Ren santai.


Sikembar maju secara serentak, mereka melawan preman itu hanya dengan tangan kosong sedangkan preman itu membawa pisau, tapi dengan mudahnya sikembar menjatuhkan lawannya. Ricardo yang sejak tadi memperhatikan pun tercengang melihat sikembar dengan gaya kerennya menghajar preman tersebut.


"Kalau Paman dan anak buah paman masih mengganggu disini, kami tidak jamin kalau Paman berakhir dikuburan," ancam Ren.


"Am.. ampun, kami tidak akan menggangu tempat ini lagi," ucap bos preman itu dengan terbata bata.


"Bukan ditempat ini saja Paman, tapi ditempat lain juga," kata Ram.


Preman itu tidak dapat berjalan normal karena kaki mereka sudah pasti patah. dan tangan mereka juga.


"Mengganggu keasikan orang saja," ucap Ram.


Kemudian sikembar pun masuk kembali kedalam cafe. para pengunjung sudah mulai tenang kembali. Ternyata preman itu tidak terlalu pandai berkelahi, hanya pandai menggertak orang saja.


"Gak nyangka ternyata kalian benar benar hebat," kata Ricardo.

__ADS_1


"Biasa aja," ucap Ray dingin.


"Jadi laki laki itu harus kuat, supaya bisa melindungi orang yang kita sayangi," ucap Ram.


Kata kata itu begitu menohok, tapi Ricardo tidak tersinggung sama sekali, malah setelah kejadian hari ini ia dapat pelajaran yang berharga dari sikembar. anak kecil saja bisa kuat pandai karate dan dan sebagainya, masa ia yang berbadan tegap tinggi dan kekar tidak bisa apa-apa. Ricardo berpikir ada benarnya perkataan sikembar, setidaknya kita bisa menjaga diri sendiri.


"Sudah berapa lama kalian belajar ilmu bela diri?" tanya Ricardo.


"Sejak usia 5 tahun, karena Mommy kami selalu berpesan yang bisa menjaga diri kita adalah kita itu sendiri." kata Ram.


"Kalau begitu saya juga mau belajar sebelum terlambat," kata Ricardo.


"Tidak ada kata terlambat selama kita mau berusaha," ucap Ren, dan diangguki oleh yang lain termasuk Ricardo juga.


"Setidaknya kalau kita bisa bela kita akan mematahkan semangat para penjahat untuk berbuat jahat lagi kedepannya," Rasya.


"Saya semakin kagum dengan kehebatan kalian," ucap Ricardo sambil mengusap air matanya yang tidak ia sadari menetes dengan sendirinya.


"Hahaha, laki laki kok nangis," ejek Ram.


"Jangan salah, kalau laki laki itu bisa menangis berarti ianya tulus, tapi kalau cewek yang menangis terkadang disebut orang air mata buaya." Ricardo.


"Ya saya juga membaca di artikel," kata Ricardo.


"Ya sudah sekarang Abang lanjutkan pekerjaannya, ingat kalau ingin belajar ilmu bela diri harus masuk kelas taekwondo atau kelas karate agar tidak terlalu diremehin oleh orang lain," Ram.


"Kita cabut dulu ya, udah sore soalnya sampai jumpa besok disekolah," Roy.


"Iya terimakasih banyak atas pertunjukannya dan cafe ini jadi ramai," kata Ricardo.


"Udah gak perlu berterima kasih, kami hanya membantu semampunya saja," Ram


"Tapi bagi saya itu sangat luar biasa," ucap Ricardo sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.


Sikembar pun akhirnya pergi dari cafe tersebut, Ricardo masih memperhatikan sikembar hingga mereka tidak terlihat lagi.


"Ternyata benar yang dibilang oleh mereka, masih banyak yang belum aku ketahui tentang mereka, saya salut ternyata mereka adalah anak anak yang sangat hebat," gumam Ricardo, kemudian iapun masuk melayani pengunjung yang masih tersisa.


"Ric, pendapatan kita hari meningkat 10 kali lipat dari biasanya, anak itu benar benar hebat dan membawa berkah untuk kita," kata Er sambil tersenyum senang, sudah pasti ia akan mendapatkan bonus dari bosnya itu. Sebenarnya Er itu cantik dan ia juga menyukai bos tampan nya itu, hanya saja dia tidak berani berterus terang dan juga Er dua tahun lebih tua dari Ricardo. semakin membuatnya tidak percaya diri.


Sementara Ricardo hanya biasa biasa saja, tidak menaruh perasaan apapun selain atasan dan bawahan, dan juga Ricardo selalu baik pada setiap karyawannya dan tidak membeda-bedakan mereka. Sekarang penampilan Ricardo sudah tidak culun lagi dan terlihat sangat tampan dari sebelumnya.

__ADS_1


Sedangkan sikembar masih dalam perjalanan, mereka sengaja memperlambat perjalanan mereka sekalian jalan jalan juga.


"Bagaimana kalau mampir ketaman dulu?" tanya Ram.


"Tidak terlalu buruk," jawab Rakha.


Dan yang lain cuma ikut saja, toh mereka juga ingin bersantai sementara hari libur, dan besok sudah sekolah lagi. Mereka pun tiba disebuah taman ditengah tengah kota, ternyata disini juga ramai pengunjungnya. banyak pepohonan rindang yang sengaja ditanam agar taman ini menjadi lebih sejuk dan asri. juga bunga bunga hias banyak terdapat ditaman ini.


"Beli kripik singkong dan pisangnya kak," tawar gadis kecil yang diperkirakan seumuran sikembar. Sikembar pun menoleh kearah gadis kecil itu.


"Berapa?" tanya Ram.


"Satu 3 ribu kak," jawab gadis itu.


"Aku beli semua ya, ada berapa semuanya?" tanya Ram.


"Semua..." gadis kecil itu menghitung hitung semua jualannya, "Ada 50 bungkus kak,"


"Ya sudah kuambil semuanya," Ram.


"Terimakasih banyak kak, dari tadi aku muter-muter jalan kesana kemari tapi tidak ada yang mau beli," ucap gadis itu.


"Oh ya, nama kamu siapa?" tanya Ram.


"Namaku Cahaya paradina, tapi biasanya dipanggil Aya," jawab Cahaya sambil tertunduk.


"Kenapa kamu berjualan seperti ini," tanya Ram lagi.


"Kami butuh uang kak, untuk makan sehari juga biaya perobatan ibu," ucap Cahaya sambil menahan air matanya mengingat kehidupan yang ia dan ibunya alami selama ini.


"Memang ibumu sakit apa?" tanya Ram, kali ini Ram benar benar kepo tingkat dewa.


"Aku juga tidak tahu ibu sakit apa? dokter bilang ibu harus dioperasi dan memerlukan uang banyak, aku sudah berusaha mencari uang dengan cara seperti ini, membuat keripik sendiri dan menjualnya," ucap Cahaya, kali ini ia tidak dapat lagi membendung air matanya, Ram yang memang sifat pedulinya paling tinggi merasa iba dengan gadis kecil itu, entah sadar atau tidak diapun memeluk tubuh Cahaya yang semakin menangis terisak-isak.


"Tenanglah, aku akan membantumu agar ibu bisa sembuh," ucap Ram sambil mengelus rambut panjang Cahaya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2