
.
.
.
Akhirnya boneka pun sudah habis dibagi bagikan. si kembar merasa senang karena dapat membantu orang lain, saat mereka hendak meninggalkan tempat itu ada seorang anak kecil sedang menangis karena ingin boneka tapi ibunya tidak punya cukup uang, tadinya ibu dan anak itu ingin menghampiri si kembar saat membagikan boneka, tapi mereka terlambat boneka itu keduluan habis. lalu anak itu merengek minta dibelikan, si kembar menghampiri mereka.
"Maaf ya bonekanya sudah habis jadi adeknya gak kebagian." Ram.
"Adik mau boneka seperti apa?" tanya Rakha.
"Mau boneka Barbie," jawab anak itu.
"Oke tunggu sebentar," Ram dan Rakha mencari toko yang menjual mainan, setelah menemukan toko tersebut keduanya masuk dan langsung menemui pelayan toko itu.
"Kakak cantik boleh tolong kita gak?" tanya Ram.
Pelayan itu menoleh dan langsung terpekik melihat anak yang masuk kedalam tokonya.
"Aakh..... kalian kan SEVEN R itu? aku ngefans loh dengan kalian, tapi kok cuma dua orang?" tanya pelayan itu.
"Kami sedang belanja kak, yang lain bersama Mommy dan Daddy," Rakha.
"Kakak cantik boleh tolong kami?" Ram.
"Oh boleh boleh, minta tolong apa?" tanya pelayan itu.
"Kami mau boneka Barbie lengkap," Ram.
"Sebentar kakak ambilkan." ucap pelayan itu.
Ram dan Rakha menunggu pelayan itu melayaninya, tak berapa lama pelayan itu kembali dengan membawa boneka Barbie lengkap dengan rumah dan pakaian boneka itu.
"Ini dek, hanya tinggal yang ini saja," kata pelayan itu.
"Dibungkus yang rapi ya kak," Rakha.
"Baik,"jawab pelayan itu, pelayan tersebut pun membungkus boneka tersebut.
Ram kemudian pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya. Ram mengeluarkan blackcard miliknya, penjaga kasir sempat melongo melihat seorang anak kecil sudah memegang blackcard. "Benar benar anak sultan," pikirnya.
Setelah melakukan transaksi bonekanya pun sudah selesai dibungkus, Ram dan Rakha pun meninggalkan tempat itu, tapi sebelum mereka keluar pelayan tadi memanggilnya.
"Dek... boleh cium pipinya gak, gemesin banget soalnya." ucap pelayan itu tanpa malu.
Ram dan Rakha saling pandang, "Maaf kakak cantik, yang boleh mencium kami cuma Mommy."
Lalu keduanya segera berlalu dari situ, penjaga kasir dan pelayan yang lain pun tertawa, pelayan itu sempat melongo karena ditolak anak kecil.
Ram dan Rakha tiba ditempat anak itu menunggu. Ram pun menyerahkan bingkisan tersebut pada anak kecil itu.
"Mom jadi pengen punya adik." ucap Ram.
"Hah..." Diva menjadi malu mendengar permintaan Ram.
"Iya nanti Daddy sama Mommy akan bikinkan kalian adik," ucap Darmendra.
"Mas..." panggil Diva sambil memukul lengan Darmendra.
__ADS_1
"Kenapa sayang? kan bener nanti kita bikin adik buat si kembar." Darmendra.
"Mas itu ya, kalau ngomong mulutnya gak di filter." Diva.
Sedangkan anak kecil tadi sangat senang mendapatkan boneka yang diinginkannya, ibunya sampai terharu dengan kebaikan si kembar, sambil menangis ia berkali kali mengucapkan terima kasih.
"Sekarang kita kemana lagi?" tanya Vera.
"Oma katanya mau belanja," tanya Roy.
"Gak jadi, Oma terlalu senang melihat kalian, belanjanya lain kali aja deh. bagaimana kalau nanti hari Minggu kita belanja?" tanya Vera.
"Oke deh kalau gitu." Raffa.
"Sekarang kita pulang aja udah sore nih." Jordan.
"Opa pulang sama Oma, kita mau pulang sama Daddy." Ram.
"Tapi mobil Daddy kalian kecil gak muat nanti." Jordan.
"Itu gampang Opa, tinggal ditukar aja Opa bawa mobilnya Daddy." Ram.
"Baiklah kalau begitu," Jordan.
Lalu mereka tukaran mobil, Jordan dan Vera pulang duluan, si kembar dan Daddy Mommy nya masih di mall.
"Kalian ada yang mau dibeli?" tanya Diva.
Si kembar saling pandang satu sama lain seolah berbicara lewat tatapan masing-masing.
"Ada...!" jawab si kembar serentak.
"Bukan untuk kita Dad, tapi..." Ram.
"Katakan saja," Diva.
"Tadi kami menolong seorang nenek, saat kami kerumahnya ada anak lelaki kira umur 6 tahun, kasihan Dad pakaian aja kaya cuma satu satunya." Roy.
"Oke Mommy mengerti, sekarang kita ke toko pakaian, untuk anak itu kalian yang pilih dan untuk neneknya biar Mommy yang pilih." Diva.
Akhirnya mereka pun berbelanja pakaian, setibanya di toko pakaian, si kembar memilih pakaian untuk anak lelaki itu, sedangkan Diva memilih pakaian untuk nenek itu, Diva memilih daster dan juga baju kurung lainnya sampai d*l*m*nnya juga, Diva cuma nebak nebak aja sih, sesuai dengan ciri ciri yang diberitahukan oleh si kembar.
Selesai memilih pakaian, Diva pun pergi kekasir, begitu juga si kembar.
"Biar Mommy yang bayar, kalian ketempat Daddy aja." Diva.
Si kembar cuma nurut saja perkataan Mommy nya. si kembar duduk di sofa dekat dengan Daddy mereka.
"Sudah selesai belanjanya?" tanya Darmendra.
"Sudah, Mommy lagi membayarnya." Rakha.
"Dad apakah kami salah menolong orang yang lagi susah?" tanya Ram.
"Tidak salah, malah perbuatan kalian sangat terpuji dan mulia." Darmendra.
"Tapi kami ikhlas Dad tidak mengharapkan pujian atau balasan apapun." Raffa.
"Iya kita menolong orang harus ikhlas tanpa pamrih, itukan yang diajarkan Mommy kalian?" tanya Darmendra
__ADS_1
Si kembar mengangguk, "Kata Mommy kita harus berbuat kebaikan, menolong orang susah selagi kita mampu." Ram.
"Ngomongin apa nih, serius banget kayanya?" tanya Diva.
"Ehh sudah selesai?" tanya Darmendra.
"Sudah, nih...!" Diva menunjukkan satu kantong plastik belanjaannya hanya berisi pakaian semua.
"Yuk pulang, kita langsung berikan ini pada nenek itu." Diva.
Akhirnya mereka pulang sesampainya diparkiran Darmendra mengambil mobilnya sedangkan Diva dan si kembar menunggu di lobby.
"Kalian capek?" tanya Diva, si kembar menggeleng.
"Mommy ingin bilang pada kalian."
"Apa," tanya si kembar.
"Mommy sama Daddy sudah menikah dan dua Minggu lagi akan mengadakan pesta." Diva.
"Hore... berarti kami boleh dong minta adik, kata Daddy kalau Mommy sama Daddy sudah menikah baru bisa kasih adik." Ram.
"Tapi itu butuh proses, dan tidak segampang yang kita pikirkan." Diva.
"Harus berapa lama proses itu?" tanya Ram polos.
"Itu semua ketentuan Allah, proses hamil 9 bulan," Diva.
"Jadi tidak bisa cepat dong?" Ram.
"Semua yang kita lakukan butuh proses, seperti kalian dalam mendirikan perusahaan apakah bisa cepat?" tanya Diva.
Si kembar menggeleng, "Tidak, bahkan butuh berbulan bulan."
"Nah kalian mengerti kan sekarang?" tanya Diva, si kembar pun mengangguk.
Darmendra pun datang dengan mobilnya, dengan cepat si kembar masuk, setelah semua masuk mobil pun melaju meninggalkan mall.
Diperjalanan...
Si kembar jadi penunjuk jalan, mereka ingat betul rumah nenek itu. tak butuh waktu lama mereka pun sampai, tapi harus jalan kaki karena mobil tidak bisa masuk.
Mereka semua turun dari mobil dan berjalan menyusuri lorong setapak, sesampainya di rumah nenek itu, mereka melihat nenek sedang duduk diluar bersama cucunya.
"Assalamualaikum," ucap Diva memberi salam.
"Waallaikum sallam," nenek itu menjawab dengan bahasa isyarat.
Diva menoleh kearah si kembar seperti meminta penjelasan, si kembar pun bilang bahwa nenek itu bisu dan Diva pun mengangguk.
"Nek, kami datang untuk menyerahkan ini untuk Nenek dan cucu nenek." Diva.
Nenek itu mengambil bungkusan plastik tersebut lalu membukanya. betapa terkejutnya nenek itu melihat pakaian yang begitu mahal menurut nya.
Nenek itu menyerahkan kembali kepada Diva lalu menggeleng pertanda ia tidak bisa menerima nya.
.
.
__ADS_1
.