SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
rencana berhasil.


__ADS_3

.


.


.


Mereka berkumpul di meja besar, agar tidak pisah pisah, saat ini sudah ada Darmendra dan keluarga kecilnya, hanya tinggal menunggu tiga cewek cantik sahabat Diva yang tidak kalah cantiknya dengan Diva.


Vera dan suaminya sedang beristirahat dikamar, jadi keduanya tidak gabung dengan mereka.


"Mana cewek yang Lo ingin kenalin?" tanya Rivaldo.


"Sabar bentar lagi nyampe," Darmendra.


Tak lama kemudian datang lah tiga cewek cantik yang mereka maksud. ketiganya langsung memeluk si kembar, walaupun si kembar mukanya kaya ditekuk karena tidak mau dipeluk. tapi mereka tidak peduli sama sekali. Robert, Rivaldo dan Jhon tidak berkedip menatap tiga cewek tersebut.


"Kenalkan mereka sahabatku," Diva.


"Silahkan kalian berkenalan, kami mau kesana sebentar." Darmendra.


Darmendra si kembar dan Diva pun pergi meninggalkan mereka berenam. Sepeninggalan Darmendra dan Diva, mereka semua jadi canggung.


"Kalian mau pesan makan atau minum?" tanya Rivaldo memulai pembicaraan mereka.


"Minum aja deh, tadi kami udah makan." Anisa.


"Oh ya, namaku Rivaldo, panggil saja Aldo." Rivaldo mengulurkan tangannya pada Anisa.


"Gue, ehh aku Anisa panggil saja Nisa." Anisa.


Lalu yang lain juga ikut memperkenalkan diri mereka masing-masing. sehingga tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka.


Sementara disisi lain, Darmendra dan Diva sedang memperhatikan sahabat sahabatnya.


"Sepertinya rencana kita berhasil lihat mereka sepertinya sudah saling mengenal satu sama lain." Darmendra.


"Iya, aku senang kalau mereka mendapatkan laki laki yang baik." Diva.


"Kalau mereka bertiga bukan pemain wanita, kalau sudah jatuh cinta pasti akan mereka perjuangkan, tapi kalau dihianati mereka akan membenci."


"Kalau Aldo dengan Jhon pernah dihianati oleh kekasih mereka, tapi kalau Robert memang tidak pernah mengenal wanita." Darmendra.


"Seakrab apa persahabatan kalian?" tanya Diva.


"Cukup akrab, tapi sewaktu kuliah dulu kini sudah masing-masing sibuk dengan pekerjaan. hanya Robert yang selalu bersama denganku, dan hanya dia yang tahu masa laluku." Darmendra.


"Berarti mas orangnya tertutup ya?" Diva.


"Menurutku masalah seperti itu tidak perlu diumbar umbar, persahabatan kalian seperti apa?" Darmendra.


"Boleh dibilang sangat dekat, dan kami berpisah setelah pesta perpisahan sekolah, sejak saat itu kami pun lost contact," Diva.


"Apa kamu tidak mau cerita tentang si kembar pada mereka?" tanya Darmendra.


"Untuk apa? biarlah itu menjadi rahasia kita. Biarlah hanya kita yang tau perihal si kembar." Diva.

__ADS_1


"Lihatlah si kembar mereka terlihat begitu bahagia," Darmendra.


"Mas benar, Oya mas apa mas sudah urus kembali akta kelahiran si kembar?" tanya Diva.


"Sudah, sejak aku menemukan mereka aku langsung urus." Darmendra.


"Syukurlah kalau begitu." Diva.


Sedangkan si kembar sedang bermain pasir, tiba tiba mereka melihat seorang anak kecil sedang dipalak oleh preman. terlihat anak itu sedang dipukuli. Si kembar yang memang punya jiwa penolong merasa tidak tega melihat kejadian tersebut.


Ram yang lebih dulu berlari menghampiri anak yang dipukuli itu kemudian yang lain menyusul.


Diva yang melihat si kembar berlari dengan cepat merasa heran, lalu pandangannya pun tertuju pada anak yang dipukuli. Diva bangun dari duduknya dan berjalan menuju si kembar melihat itu Darmendra juga menyusul.


"Hentikan...!" teriak Ram saat sudah berada ditempat itu.


"Jangan ikut campur anak kecil. atau sini kasihkan uang kalian, sepertinya kalian banyak uang." kata preman tersebut.


Ram mengambil uang dari saku celananya dan melemparnya ke preman tersebut. hingga uang itu berserakan dipasir.


"Nah gitu dong, dari tadi kek."


Saat preman hendak mengutip uang tersebut tapi dihentikan oleh Ram.


"Tunggu, sebelum kalian mengambil uang itu, lepaskan dulu anak itu." Ram.


Preman itupun mendorong anak itu hingga terjerembab ke pasir, tapi anak itu tidak menangis sama sekali.


"Sekarang boleh kami ambil uang ini?" tanya preman.


Buggh... satu tendangan mendarat di pipi preman itu, karena posisi preman sedang jongkok.


"Aaargh," preman itu menjerit kesakitan.


Tubuhnya terpental jatuh ke pasir akibat tendangan dari Ram.


"Sialan," umpat preman satunya lagi.


"Majulah kalian semua." Ram.


Preman tadi pun bangkit, ia sangat marah karena merasa dipermainkan oleh anak kecil. lalu maju menyerang Ram. preman itu menendang, tapi dengan gesit Ram menghindar hingga preman itu hanya menendang angin. Melihat hal itu Ray maju dan menendang tulang kering preman itu.


Buggh.... tendangan Ray sangat kuat sehingga preman itu berjingkrak jingkrak kesakitan. kini preman itu dikelilingi oleh si kembar.


"Ayo lawan kami jangan cuma beraninya sama anak kecil." Ray.


Diva yang juga ada disitu menahan tawanya mendengar perkataan putranya.


Ketika preman itu mulai menciut nyalinya melihat si kembar begitu berani.


"Baru kali ini aku berhadapan dengan anak kecil yang menyeramkan seperti itu, tatapan matanya saja seperti burung elang mengintai mangsanya." batin preman itu.


"Ampun, kami tidak akan lagi membuat masalah," ucap salah satu preman itu.


Namun si kembar tetap menghajar ketiga preman tersebut hingga babak belur.

__ADS_1


"Kalau sampai kami melihat kalian berbuat seperti itu lagi, kami tidak akan segan segan menghabisi kalian." ancam Ren.


Mereka pun melepaskan preman tersebut. dan uang yang tadi berserakan dipasir telah dikutip kembali dan mereka serahkan pada anak itu. lalu anak itu pun pergi dengan perasaan senang karena banyak dapat uang dari si kembar.


Kini mereka semua sudah duduk ditepi pantai menunggu matahari terbenam. Rivaldo duduk bersama Anisa, Robert dengan Adefa, Jhon dengan Aryana.


"Cie yang sudah tidak lagi jomblo," ledek Darmendra.


"Terimakasih bro, telah menjadi mak comblang," Jhon.


Diva tertawa mendengar kata Mak comblang. tapi ia sangat senang melihat sahabat sahabatnya senang.


Mereka semua menghadap kelaut melihat sunset yang berwarna jingga, begitu indah dipandang mata.


"Jadi ingat waktu dulu, kita sering kesini hanya untuk melihat sunset." Anisa.


"Aakh, jadi rindu masa masa seperti ini." Aryana.


"Kalian sering kemari?" tanya Aldo.


"Dulu masa masa SMA, kita berempat sering kemari hanya untuk bersenang-senang." Anisa.


"Bersenang-senang?" tanya Aldo.


"Iya, bermain pasir bermain air dan melihat sunset, begitu maksudnya." Anisa.


Sedangkan si kembar yang memang jarang melihat sunset merasa kagum dengan keindahannya.


"Wah indah sekali," Ram.


"Cih lebay," Ray.


"Biarin, yang penting happy." Ram.


Matahari semakin lama semakin terbenam, hingga kini sudah mulai gelap, tapi mereka masih duduk diatas pasir masih memandang laut.


"Gimana udah puas bermainnya?" tanya Darmendra.


"Sekarang kita pulang ya." Diva.


Si kembar pun mengangguk, mereka kini kembali ke hotel untuk mengambil barang barang mereka. tak lupa juga mereka memberitahu Oma dan Opanya. Vera dan Jordan pun ikut pulang bersama.


Sedangkan tiga pasangan sejoli masih duduk ditepi pantai. masih bercengkrama ringan.


"Kalian naik apa kesini?" tanya Jhon.


"Pakai mobil, tuh terparkir disana," ucap Aryana sambil menunjuk area parkiran.


Diva kembali menghampiri mereka dan sekaligus pamit. keempatnya saling berpelukan dan berjanji akan datang lagi ketempat kenangan mereka. dan tidak lupa mereka juga saling tukaran nomor telepon.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2