SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Menjelang Ujian Nasional


__ADS_3

.


.


.


Waktu terus berlalu hingga tidak terasa hari kelulusan sekolah sebentar lagi, kini siswa siswi kelas 12 sebentar lagi akan melakukan ujian Nasional, sikembar sedang belajar bersama dengan Ricardo, karena hanya Ricardolah teman mereka, yang lain jadi segan dengan sikembar. Apalagi yang dulu meremehkan mereka.


"Sebentar lagi kita akan ujian, berarti kita akan berpisah," ucap Ricardo sedih.


"Jangan melow bang, berpisah bukan berarti putus. Hanya jarak yang memisahkan tapi hati dan pikiran kita tetap dekat." ucap Ram.


"Abang rencana mau kuliah dimana?" tanya Ren.


"Mungkin ke Jerman, dapat lulus S1 cukuplah," jawab Ricardo.


"Kak Ayu dan kak Mita kuliah dimana bang?" tanya Roy.


"Ngapain tanya mereka? Bukan urusan saya," tanya Ricardo jutek.


"Jangan begitu bang, ntar jatuh cinta lo, Abang tau gak kepanjangan dari benci?" tanya Ram.


"Gak tau," jawab Ricardo menggeleng.


"Ben itu adalah Benar Benar dan Ci adalah Cinta, coba digabungkan," ucap Ram.


"Benar Benar Cinta," ucap Ricardo polos.


"Nah itu dia, makanya orang bilang benci dan cinta itu beda tipis," ucap Ram.


"Haah, kecil kecil udah pandai masalah cinta," ucap Ricardo hampir tertawa.


"Seharusnya remaja seusia Abang ini sudah boleh jatuh cinta loh bang," ucap Ram lagi.


"Saya belum kepikiran untuk menjalin cinta, mungkin nanti bila sudah kuliah atau tamat kuliah baru mikirin soal itu," jawab Ricardo.


"Kenapa sih topik kalian soal cinta terus? Kita ini mau ujian Nasional bukan membahas soal cinta," tanya Ray.


"Mending kita ganti topik, kita bahas acara perpisahan sekolah nanti," ucap Ren.


"Iya benar tuh, dari topik yang tidak bermutu," ucap Rakha.


"Itu masih lama," kata Ram.


"Lebih baik kita rencanakan dari sekarang, agar nantinya bisa diusulkan kepada wali kelas atau Pak kepala sekolah," Raffa.


"Iya, dari pada membahas masalah cinta, gak bermutu banget," ucap Roy.


"Terserah kalian deh," ucap Ram.


Setelah selesai belajar mereka membahas tentang rencana acara perpisahan sekolah nanti, banyak yang mereka rencanakan termasuk membuat persembahan dari SEVEN R.


"Ide bagus tuh, kalian kan bisa nyanyi bisa main musik juga, saya yakin acara kali ini pasti meriah," kata Ricardo antusias.


"Lapar nih, bagaimana kalau kita makan dulu," Ram.

__ADS_1


"Kemana kita?" tanya Roy.


"Gimana kalau tempat makan yang kemarin? Aku mau ikan bakar lagi," tanya Ram antusias.


"Dimana itu?" tanya Ricardo.


"Dijalan xxx rumah makan sederhana tapi makanannya sangat enak," ucap Ren.


"Yuklah tunggu apalagi," Ricardo.


Akhirnya mereka pun berangkat menuju rumah makan tersebut, makanan yang sederhana tapi rasanya sangat enak.


Mereka dengan skuter masing-masing menyelusuri jalanan yang cukup ramai kendaraan yang lewat.


"Setelah mengenal kalian, hidupku terasa tidak lagi kesepian," ucap Ricardo.


"Dibuat happy aja bang, masalah yang lalu jadikan pelajaran," ucap Ram.


"Lihat itu?" ucap Ren sambil menunjuk kearah Nenek yang dipukuli oleh preman.


"Kita tolong Nenek itu, kasihan," ucap Ram.


"Berhenti..!" perintah Ram setelah mereka tiba didekat preman itu.


"Siapa kalian? Jangan ikut campur urusan kami, Nenek ini punya hutang dan tidak mau bayar," tanya preman itu.


"Lepaskan Nenek itu, atau kalian akan menyesal," Ren.


Ram segera menghampiri Nenek itu dan menolongnya untuk bangkit.


"Hahaha, anak kecil sok tahu," ucap preman itu.


Buugh... satu tendangan mendarat sempurna diselang**ngan preman itu, sehingga preman itu merapatkan pahanya menahan sakit. Tendangan Ram tidak main-main.


"Tuh kan bener, kubilang juga apa? Paman jadi kualat kan," ucap Ram lagi.


"Si..alan kau anak kecil, akh sakit sekali," ucap preman itu.


"Bos, bos tidak apa-apa?" tanya anak buah bos preman itu.


Puuk..bos preman itu memukul kepala anak buahnya, sudah tau bosnya kesakitan malah bertanya lagi.


"Cepat hajar anak itu, dia bisa membuat telurku pecah," perintah bos preman itu.


"Mari menjauh Nek," ucap Ram sambil menggandeng Nenek itu.


Sikembar melawan preman itu tidak terlalu serius, karena preman itu tidak terlalu pandai karate, jadi sikembar dengan mudah menjatuhkan mereka.


"Berapa Nenek berhutang pada mereka?" tanya Ram.


"Satu juta Nak, karena Nenek kepepet dan tidak punya uang sama sekali untuk membawa cucu Nenek keklinik," ucap Nenek itu.


"Sekarang kalian pergi dan jangan ganggu Nenek itu lagi," ucap Ram sambil menyerahkan uang yang disebutkan Nenek tadi.


"Kita lapor polisi saja, biar mereka masuk penjara," ucap Roy.

__ADS_1


"Jangan, ampuni kami, kami janji tidak akan menggangu Nenek itu lagi," ucap preman itu memohon.


"Apakah janji kalian bisa dipercaya?" tanya Ram.


"Iya, percayalah pada kami, kami sudah berjanji akan kami tepati," ucap preman itu.


"Baik, untuk kali ini kalian kami maafkan, tapi kalau kalian kedapatan lagi mengganggu orang maka tidak ada ampun buat kalian," ucap Ram tegas.


"Terimakasih banyak, kami akan pergi dari sini," ucap preman itu.


"Nenek masih kuat?" tanya Roy.


"Kuat Nak, terimakasih banyak karena membantu," ucap Nenek itu.


Kemudian Ram memberikan uang kepada Nenek itu untuk mengobati cucunya dan juga biaya hidup sehari hari untuk Nenek itu. Setelah itu sikembar dan Ricardo melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari makanan.


Tidak berapa lama mereka pun tiba dirumah makan yang mereka maksud, sikembar pun masuk. pelayan yang melayani mereka waktu itu sangat senang dengan kedatangan sikembar. Karena waktu itu ia mendapatkan bonus dari sikembar yang memang sangat membutuhkan uang.


"Selamat datang tuan muda," sapa pelayan itu sopan.


Sikembar tersenyum lalu membalas sapaan itu dengan ramah pula. Sikembar tidak langsung duduk, tapi mereka langsung menuju kolam ikan. Melihat sikembar menuju kolam ikan pelayan itu sudah mengerti. Setelah selesai memilih ikan, sikembar dan Ricardo duduk di bangku panjang.


"Minum apa tuan muda," tanya pelayan itu.


"Es jeruk ada kan kak?" tanya Ram.


"Ada tuan muda," jawab pelayan itu.


"Kalian minum apa?" tanya Ram.


"Samain aja deh, biar gak repot repot," jawab Ren.


"Mohon ditunggu yah tuan muda," ucap pelayan itu.


Sementara menunggu pesanan mereka, sikembar mengeluarkan ponselnya dan bermain game online. Ricardo juga ikutan bermain game online.


Kurang lebih 30 menit ikan bakar pesanan mereka pun sampai juga air minum yang pesan. Sikembar mulai menyantap hidangan tersebut.


"Ternyata memang benar enak," ucap Ricardo.


"Kami sudah yang kedua kalinya datang kesini," ucap Ram.


"Kalau begini gak rugi biar sedikit jauh," ucap Ricardo.


"Iya, kapan kapan kita kesini lagi, sebelum hari perpisahan sekolah," ucap Rakha.


"Tapi kalian akan ke London, dan saya akan ke Jerman, jadi kita berpisah dan entah kapan baru berjumpa kembali," ucap Ricardo penuh dramatis.


"Iya ya, sedangkan kami disana 8 tahun, mungkin Abang sudah menikah saat kami kembali," ucap Ram.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2