SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Rumah apa istana?


__ADS_3

.


.


.


Ujian Nasional untuk hari ini sudah selesai, dan dilanjutkan lagi esok hari. Para siswa dan siswi segera keluar dari sekolah untuk pulang, ada yang dijemput supir, ada yang kendaraan sendiri dan ada pula yang menggunakan kendaraan umum.


Sikembar sudah sejak tadi menunggu waktunya pulang, dan kebetulan mereka juga sedang menunggu Ricardo untuk pulang bersama.


"Yuk," ajak sikembar saat Ricardo menghampiri mereka. Ricardo pun mengikuti sikembar.


"Abang ada bawa pakaian ganti gak?" tanya Ram.


"Ada, saya selalu sedia pakaian ganti kalau kalau bisa digunakan dalam keadaan darurat," jawab Ricardo.


"Kita singgah dulu sebentar di minimarket, buat beli cemilan." kata Rakha.


"Iya, cemilan kita sudah habis." kata Ren.


"Kalian suka ngemil?" tanya Ricardo.


"Suka," jawab sikembar serentak.


"Haha... pantas saja Bu Tessa bilang kalian kompak ternyata benar adanya," Kata Ricardo sambil tertawa.


"Gak tau lah bang, terkadang saat kami keluar kamar sering berbarengan saat membuka pintu." ucap Ram.


"Mungkin karena kalian kembar?" tanya Ricardo.


Mereka telah tiba didepan minimarket, mereka semua masuk kedalam dan memilih barang barang yang mereka sukai. Ram menyuruh Ricardo mendorong troli, sedangkan sikembar mengambil barang barang seperti makanan ringan untuk mereka ngemil nantinya,


"Kalian tidak takut gemuk?" tanya Ricardo.


"Kita masih dalam masa pertumbuhan bang, dan tidak takut gemuk. Lagi pula kami sering joging kok," jawab Ram.


Setelah selesai berbelanja, Ram pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya.


"Hai kakak cantik," sapa Ram, penjaga kasir tersipu-sipu dibilang cantik.


"sama siapa kesini dek," tanya kasir itu.


"Sama saudara saudaraku kak," jawab Ram, sambil menunjuk kearah saudaranya.


"Itu siapa yang tampan banget," tanya penjaga kasir tersebut.


"Oh itu teman kami, teman satu sekolah," jawab Ram.


"Masa Segede gitu baru SD?" tanya kasir.


"SMA kak, dan sebentar lagi kami akan tamat," jawab Ram.


"Hah...masa sih, berapa umurmu?" tanyanya lagi.


"Sebentar lagi 10 tahun," jawab Ram santai.

__ADS_1


"Haah... yang benar saja?" tanyanya tidak percaya.


"Kakak pernah dengar anak kembar tujuh yang memenangkan kompetisi beberapa bulan lalu?" tanya Ram, dan kasir itu mengangguk dan ia baru teringat dan memandang wajah Ram dengan seksama.


"Jadi kamu....?" pertanyaan Kasir itu terjeda, karena Ram lebih dulu mengangguk.


"Yang menyumbangkan hadiah 15 miliar itu kalian?" tanyanya lagi, seketika penjaga kasir itu menangis.


"Kenapa kak?" tanya Ram heran.


"Terimakasih, terimakasih banyak berkat sumbangan dari kalian ayahku terselamatkan," ucap kasir tersebut, ia sudah tidak bisa menahan laju air matanya.


"Alhamdulillah ya kak, semua itu adalah pertolongan Allah, kami hanya perantara saja." ucap Ram bijak.


Penjaga kasir itu menghapus air matanya, lalu tersenyum. Ia sangat berharap bisa bertemu dengan orang yang telah memberikan bantuan tersebut akhirnya dipertemukan juga. Penjaga kasir tersebut mendekati Ram, ram pun heran dibuatnya. Penjaga kasir itu langsung memeluk Ram sebagai ungkapan rasa syukurnya dan sekaligus terimakasihnya.


"Beruntunglah siapa pun yang menjadi istri kalian nantinya," ucap penjaga kasir itu.


"Sudah selesai belum?" tanya Ren, karena kelamaan menunggu saudara saudaranya pun menghampiri Ram.


"Loh kenapa ini?" tanya Roy karena melihat Ram sedang dipeluk penjaga kasir.


Penjaga kasir itu menoleh dan melepaskan pelukannya ditatapnya wajah sikembar satu persatu.


"Kakak hanya mengucapkan terimakasih karena bantuan dari kalian ayah kakak bisa sembuh dari sakitnya," ucap kasir tersebut.


"Alhamdulillah," ucap mereka serentak.


Kemudian penjaga kasir pun menghitung belanjaan mereka, penjaga kasir itu baru beberapa hari bekerja disini, karena sewaktu ayahnya sakit tidak ada yang menjaganya, dan lebih parahnya lagi ia dipecat dari pekerjaannya yang dulu.


"Terimakasih kakak cantik," ucap Ram.


"Sama sama, jangan lupa datang lagi," ucap penjaga kasir tersebut.


"Kita minta jemput sama Paman aja ya," ucap Ram.


"Iya deh, belanjaan kita banyak nanti kesulitan kalau tidak pakai mobil," kata Ren.


Kemudian Ray menelpon Agus minta dijemput dan tidak lupa Ray mengirimkan alamat mereka berada.


Sementara menunggu jemputan mereka duduk dikursi didekat minimarket sambil memakan cemilan yang mereka beli.


Ricardo yang awalnya tidak suka ngemil sekali merasakan ngemil seperti ketagihan. Orang orang yang lewat didepan mereka tidak ada yang menyapa, tapi sikembar cuek cuek saja. Mau ditegur atau tidak oleh orang lain mereka tidak peduli.


"Asik juga ya ternyata," kata Ricardo.


"Apalagi kalau sambil nonton," ucap Ram.


"Kalau begini saya juga mau ngemil," kata Ricardo.


"Apa tidak takut gemuk bang?" tanya Ram membalikkan kata kata Ricardo, sedangkan Ricardo cuma nyengir kuda.


"Makan bang jangan malu-malu," kata Roy, Ricardo mengangguk karena mulutnya sedang mengunyah.


Sekitar 30 menit Agus pun datang dengan mobil besarnya, karena kalau mobil yang kecil tidak akan muat untuk mereka. Sikembar memasukkan barang belanjaannya kebagasi mobil dan setelah itu baru mereka masuk.

__ADS_1


"Tuan kecil kok ada disini?" tanya Agus.


"Tadinya kami pulang pakai skuter Paman, tapi kepikiran mau singgah disini dulu lalu minta jemput ke Paman karena belanjaan kami banyak," ucap Ram.


"Jalan Paman," perintah Ray.


"Baik tuan kecil," jawab Agus. Agus pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Daddy sudah pulang kerja, Paman?" tanya Ram.


"Belum tuan kecil, sepertinya tuan muda banyak pekerjaan," jawab Agus.


"Hmmm," Ram pun manggut-manggut.


Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di mansion keluarga Henderson, mansion yang begitu megah dan dikelilingi pohon pohon disekitarnya walau jaraknya cukup jauh dari mansion tersebut.



kira kira seperti inilah kediaman sikembar.


Ricardo merasa takjub melihat kediaman sikembar, meskipun ia juga orang kaya tapi ia tetap kagum dengan mansion tersebut.


"Ini rumah apa istana?" batin Ricardo.


"Ayo masuk bang, jangan malu-malu," ajak Ram.


Agus membawa belanjaan mereka langsung kedapur, dan disambut oleh pelayan untuk disimpan didalam kulkas.


"Kalau Paman mau tinggal ambil aja," kata Ram.


"Baik tuan kecil," jawab Agus.


Lalu sikembar mengajak Ricardo kekamar mereka, Ricardo harus mandi dulu baru boleh bertemu dengan orang orang di mansion ini.


"Kamar kalian seorang satu?" tanya Ricardo.


"Ya namanya yang satu orang satu kamar, tapi kalau tidur kami biasa ngumpul," jawab Ram.


Ricardo memilih ikut Ram kekamarnya, karena Ricardo merasa Ram yang lebih banyak bicara daripada yang lainnya.


"Abang mau mandi dulu atau aku dulu?" tanya Ram sambil menyerahkan handuk baru kepada Ricardo.


"Saya duluan deh," jawab Ricardo, dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Ricardo melepas pakaiannya lalu menghidupkan shower dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin, Ricardo sudah terbiasa mandi dengan air dingin. Setelah beberapa menit Ricardo pun keluar dan sudah berpakaian lengkap.


.



Ricardo Hansen.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2