SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Skuter kalian bagus.


__ADS_3

.


.


.


Bel sekolah pun berbunyi menandakan akan masuk kelas, mereka berlarian memasuki kelas, hanya sikembar saja yang santai berjalan menuju kelas mereka.


Saat didalam kelas, Rudi bercerita kepada teman temannya bahwa ia akan membeli skuter seperti punya sikembar.


"Sikembar punya skuter?" tanya Imran yang duduk bersebelahan dengan Rudi.


"Iya, katanya mereka memesan khusus dari perusahaan SEVEN R CORP." jawab Rudi.


"Kalau begitu aku juga mau, nanti aku minta papa belikan untukku." ucap Imran.


Sedangkan sikembar sibuk sendiri dengan iPad mereka masing-masing. selagi Pak Rahmat belum masuk kelas.


"Ram, kalian gimana pesannya?" tanya Imran penasaran.


"tinggal telepon pemiliknya, gampang kok kalau uang berbicara," ucap Ram santai.


"Berapa harganya satu skuter? aku juga pengen beli," Rudi.


"Hanya 1,5 juta dan kelajuan skuter tersebut bisa disetel mengikut kemauan kita, mau perlahan boleh mau laju juga boleh," Ram.


"Seru kayanya," ucap Imran girang.


"Begini saja, kalau kalian punya uang besok aku pesankan untuk kalian gimana?" tanya Ram.


"Wah benarkah? kalau sekarang bisa gak?" tanya Rudi.


"Ada uang ada barang, yang penting kalian siapkan uangnya dulu baru ku tolong pesankan untuk kalian." Ram.


Obrolan mereka berhenti saat Pak Rahmat masuk kedalam kelas. Dan mereka pun memulai pelajaran, sikembar yang memang pada dasarnya jenius tanpa memperhatikan pelajaran pun mereka pasti bisa menjawab, karena untuk pelajaran SMP dan SMA sebenarnya sudah mereka kuasai, hanya karena demi Mommy nya mereka hanya menuruti saja.


Satu jam setengah pelajaran pun selesai, murid murid pun beristirahat. Mereka semua pergi ke kantin sekolah untuk makan, tapi tidak bagi sikembar mereka tetap dengan bekal yang mereka bawa.


"Kamu yakin akan memesankan skuter untuk mereka?" tanya Rakha pada Ram.


"Yang penting mereka ada duit, mereka juga anak anak orang kaya. Tidak ada salahnya kita promosikan ciptaan kita pada mereka." Ram.


"Cih dasar otak bisnis," ejek Roy.


"Hello, jangan salah kita terlahir dari rahim yang sama jam yang sama hanya detik dan menit yang berbeda, kamu juga apa bedanya dari aku, bahkan kalau kita tukeran baju orang akan mengira aku itu kamu dan kamu itu aku. jadi jangan mengejek oke," ucap Ram panjang lebar.


"Sudah, sudah kok malah debat sih," ucap Ray Seketika keduanya terdiam. karena Ray sudah bersuara tidak ada yang berani membantah.

__ADS_1


Jam istirahat pun sudah habis, murid murid kembali ke kelas mereka masing-masing.


"Ram, aku sudah punya uangnya, nih 1,5 juta." ucap Imran sambil memberikan uang tersebut kepada Ram. Ram segera menelepon bawahannya untuk mengantarkan skuter kesekolah.


"Nanti sepulang sekolah tunggu dan jangan pulang dulu," ucap Ram pada Imran.


"Hah secepat itu?" tanya Imran.


"Sudah aku bilang ada uang ada barang," Ram.


Benar saja, baru saja mereka keluar dari sekolah bawahan sikembar sudah datang membawa skuter yang dipesan. Ram menyerahkan skuter tersebut kepada Imran.


"Wah skuter mu bagus," ucap Rudi dan kawan kawannya.


"Terimakasih Ram, ternyata kamu menepati janji," ucap Imran.


"Kita sebagai laki laki harus punya prinsip, dan menepati janji adalah hal yang paling utama." Ram.


"Baiklah kalau begitu kita pulang dulu," Roy.


Imran dan Rudi juga kawan kawannya mengangguk, kebetulan mereka juga sudah dijemput.


Sikembar mengeluarkan skuter mereka masing-masing dan segera pergi dari sekolah.


Terlihat mereka menaiki skuter dengan begitu lihainya, hingga orang orang yang melihatnya begitu takjub.


Satu orang dari mereka turun dari motor hendak merampas bawaan Ram. tapi dengan cekatan Ram menghindar.


""Skuter kalian bagus juga," ucap pria itu.


Sikembar tidak menjawab hanya menyeringai licik, tanpa mereka sadari Roy sudah menempelkan permen karet di belakang motor mereka.


Pria itu kembali hendak merampas tas ransel milik Ram, tapi Ram dengan cepat menendang tulang kering pria itu hingga pria itu berjingkrak-jingkrak menahan sakit dikakinya karena tendangan Ram.


"Kita pergi sekarang," Roy memberi kode kepada saudara saudaranya. Yang lain mengangguk dan segera pergi dari tempat itu.


"Heh mereka sudah pergi, cepat naik," perintah temannya yang masih duduk diatas motor.


Buru buru pria itu naik, tapi baru beberapa meter motor mereka meledak, duar...


Keduanya terlempar beberapa meter dan berguling guling di aspal.


"Aaaaaakkh, motorku hancur," teriak pria itu yang masih terkapar di aspal, keduanya tidak bisa bangkit karena kaki mereka sakit.


Keduanya menangis melihat motor mereka terbakar begitu saja, hari ini mereka terkena nasib buruk karena harus berurusan dengan bocah kembar tujuh.


"Motorku, motor kesayanganku hu..hu..hu.." ucap pria itu sambil menjerit menangis.

__ADS_1


Mereka tidak menghiraukan dirinya yang terluka, malah lebih sayang motornya yang sudah terbakar. Sedangkan sikembar mereka sedang asik tertawa tanpa merasa bersalah sama sekali, seolah tidak terjadi apa-apa.


"Sejak kapan kamu meletakkan peledak di motor mereka?" tanya Ren.


"Ketika mereka lengah, saat Ram menendang kaki pria itu," jawab Roy.


"Pasti mereka terluka karena ledakan itu," Raffa.


"Biarkan saja, siapa suruh cari masalah dengan kita?" Roy.


"Mereka mencari uang dengan cara membegal orang, tidak mau bekerja secara halal, jadi terimalah resikonya," Ram.


"Ehh, itu ada nenek mau nyebrang, kita tolongin dulu." Rasya.


"Yuk, kasihan sepertinya ia ragu untuk menyebrang jalan," ucap Ram, Lalu sikembar pun menghampiri nenek tersebut.


"Nenek mau kemana?" tanya Roy.


Nenek itu menoleh, "Nenek mau beli obat Nak, untuk cucu nenek yang sakit."


"Obat apa yang nenek ingin beli?" tanya Ram.


"Cucu nenek demam tinggi dan tubuhnya sangat panas," jawab nenek itu.


"Boleh kami melihat keadaan cucu Nenek itu?" tanya Rakha.


"Tapi Nenek harus beli obat dulu," jawab Nenek itu.


"Biar kami saja yang beli obatnya Nek," Ram.


"Nenek tunggu disini ya, jangan kemana-mana." Ren.


Lalu Ram dan Roy pergi ke apotik terdekat untuk membeli obat yang Nenek itu maksudkan. sedangkan yang lainnya menunggu bersama Nenek itu dan mencari tempat duduk dan tempat berteduh agar tidak terlalu kepanasan. Setengah jam kemudian Ram dan Roy sudah kembali dengan membawa obat juga makanan berupa nasi bungkus, barulah kemudian mereka mengantar Nenek itu kembali kerumahnya.


Sikembar melihat cucu Nenek itu terbaring lemah tidak berdaya, Ram memeriksa nadi dan detak jantung cucu laki-laki Nenek itu.


"Nek, sebaiknya cucu Nenek dibawa kerumah sakit saja," ucap Ram.


"Tapi Nenek tidak punya uang Nak, untuk makan saja harus mengumpulkan kardus dan botol bekas," ucap Nenek itu.


"Nenek tenang saja, biar kami yang tanggung semua biaya perawatan cucu Nenek," Ram.


Lalu Ram segera menelepon taksi online untuk segera datang.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2