
.
.
.
Sikembar yang mendengar itu hanya saling pandang, kalau membahas tentang masalah orang dewasa tentu mereka tidak akan ikut campur. Lalu sikembar keluar dari kamar baby Angel dan kembali kekamarnya masing-masing. Setelah beberapa menit mereka kembali lagi dengan tas ransel milik mereka masing-masing.
"Ehh kalian mau kemana?" tanya Diva.
"Kita mau ke Ric cafe Mom," jawab Ram.
"Ngapain kesana?" tanya Darmendra.
"Ketemu teman Dad, sekalian mau jalan jalan juga mumpung hari libur," jawab Ren.
"Oke deh, tapi hati hati ya," pesan Diva.
"Yes Mom, love you," ucap Ram sambil mencium pipi Diva.
"Daddy mau juga dong dicium," ucap Darmendra.
"Nggak," jawab sikembar serentak.
"Kita pergi dulu Mom, Dad, Oma Opa," ucap Ram, kemudian mereka pun pergi dan berlarian menuju lift.
"Ehh, apa benar kita mau ke Ric cafe?" tanya Rasya.
"Iya, nanti kita jalan jalan juga," Ram.
"Kemana?" tanya Roy.
"Kemana mana lah," jawab Ren sambil tertawa, sedangkan Roy yang merasa diejek hanya mencebikkan bibirnya.
"Bibir jangan dibikin monyong gitu ntar dower beneran." Ram.
"Mana ada, bibir tipis begini dibilang dower," ucap Roy sewot.
"Ya kali aja nanti ada lebah menyengat bibirmu itu, kan bisa jadi dower deh," Rakha.
Mereka sudah tiba didepan pintu gerbang, penjaga langsung membukakan pintu gerbang agar mereka dapat keluar. Seperti biasa mereka hanya menggunakan skuter, dan untuk menghindari sengatan matahari mereka memakai Hoodie.
"Ngapain kita ke Ric cafe?" tanya Raffa.
"Kemarin aku lihat di cafe itu ada panggung dan juga ada alat musiknya, kurasa cafe itu juga menampilkan hiburan untuk para pengunjung," Ram.
"Hmmm, aku mengerti sekarang," Roy.
"Ayo cepat sedikit, kita akan gemparkan Ric cafe," seru Ram.
Mereka menaikan kelajuan skuter mereka, para pengendara lain terkagum-kagum dengan ketujuh anak tersebut yang begitu hebat menjalankan skuter.
"Ma aku mau seperti itu," teriak seorang anak kecil yang berada didalam mobil bersama keluarganya.
"Nanti kita beli di mall ya, ada keluaran terbaru." jawab ibunya, anak itu pun mengangguk senang.
__ADS_1
Sekitar satu jam, sikembar sudah tiba didepan Ric cafe. mereka menoleh kiri kanan tidak begitu banyak pengunjung.
"Hai Bang," sapa Ram.
"Hai kalian datang?" tanya Ricardo.
"Iya, kami ingin meramaikan cafe Abang ini yang terlihat sepi," jawab Ram enteng.
"Kalian mau makan atau minum?" tanya Ricardo.
"Minum jus jeruk aja, tapi kami tidak mau gratis, kalau gratis lebih baik tidak usah," jawab Rakha.
"Baiklah kalau itu mau kalian," ucap Ricardo, lalu berlalu kedapur untuk membuatkan mereka minuman.
Tidak berapa lama minuman mereka pun sampai, sikembar meneguknya setengah.
"Ah leganya habis panas panasan." ucap Raffa.
"Kenapa kalian tidak diantar supir aja sih?" tanya Ricardo.
"Gak asik kalau pakai supir, enakan juga pakai skuter," jawab Ram santai.
"Bang boleh kita main main gak?" tanya Roy.
"Main main? main apa maksudnya?" Ricardo malah balik bertanya.
"Main musik atau apalah yang sejenisnya," ucap Rasya.
"Oh ya, silahkan. Alat musik apa yang bisa kalian mainkan?" tanya Ricardo.
"Boleh dibilang semua jenis musik, tapi yang penting nya aja lah, kulihat disini ada bermacam macam alat musik," ucap Ram.
"Masih banyak lagi yang belum Abang ketahui tentang kami," Rakha.
"Yang ini saja sudah membuatku kagum, apalagi kalau ada kelebihan yang lain," kata Ricardo.
"Lambat laun Abang pasti tau kok," Rasya.
"Oke kita coba bermain musik dulu ya Bang," Ram.
"Silahkan, silahkan." Ricardo.
Sikembar berjalan kearah panggung, tidak terlalu besar tapi cukuplah untuk mereka bertujuh.
"Perhatian semuanya, kali ini kami akan menghibur para pengunjung cafe ini. Datanglah ke Ric cafe," ucap Raffa melalui mic.
Ada beberapa pengunjung merekam sikembar dan menyiarkan secara langsung. Belum tampil saja, sikembar sudah menjadi sorotan. Orang orang yang menonton siaran langsung tersebut langsung menuju ke Ric cafe hanya karena ingin menyaksikan sikembar. Sikembar pun mulai menyanyi, yang dekat dengan cafe tersebut langsung mampir hanya karena ingin melihat SEVEN R bernyanyi. Dalam sekejap cafe tersebut sudah dipenuhi oleh pengunjung.
"Wah hebat sekali pesona sikembar itu, tidak sia sia saya berteman dengan mereka," batin Ricardo.
Ricardo dan pelayan lainnya kualahan melayani pengunjung, bahkan sampai ada yang rela walau harus diluar cafe tersebut.
"Sepertinya kita kedatangan rezeki nih," ucap Er salah satu pelayan di cafe itu.
"Alhamdulillah Er, berkat mereka cafe ini jadi ramai." ucap Ricardo.
__ADS_1
Setelah beberapa lagu sikembar bernyanyi, merekapun pamit untuk istirahat. Para pengunjung masih belum puas menyaksikan persembahan dari sikembar, tapi mereka juga tidak bisa protes.
"Kalian lapar gak, nanti saya traktir." kata Ricardo.
"Kami tidak mau gratis, nanti Abang rugi," jawab Ram to the point.
"Kalau pengunjungnya seperti ini saya malah untung banyak," Ricardo.
"Pokoknya kami tidak mau gratis," Ray menekankan.
Melihat tatapan Ray membuat Ricardo menciut. baru tatapan matanya saja sudah bikin merinding apalagi kalau yang lain.
"Oke, oke. mau makan apa?" tanya Ricardo.
"Nasi goreng seafood," jawab sikembar serentak.
"Kok bisa kompakan ya," ucap Ricardo mencairkan suasana.
Lebih kurang 30 menit pesanan mereka pun sampai, sikembar mulai makan dengan nikmat. Seperti biasa kalau makan mereka hanya diam. Selesai makan baru mereka berbicara.
Tiba-tiba beberapa pengunjung berlarian, dan berteriak karena ketakutan. Ternyata ada beberapa orang preman datang memalak mereka, ada yang berhasil ditangkap begitu ketakutan sampai ada yang kencing di celana karena ditodong dengan pisau.
"Ada apa?" tanya Ren, sikembar saling pandang melihat ada beberapa orang preman mengacungkan pisau kearah pengunjung tersebut.
"Bang, apa sering terjadi seperti ini?" tanya Ram.
"Biasanya tidak juga, ada waktu tertentu saja," jawab Ricardo.
"Ini tidak bisa dibiarkan, Bang," kata Ren.
"Mau bagaimana lagi, tidak ada yang berani melawan mereka, kalau saya paling dikasih uang supaya mereka pergi," kata Ricardo.
"Bang, itu sudah merugikan kalau sampai hal ini berlanjut maka bisa saja cafe Abang ini akan tutup," ucap Ram.
Ricardo menghela nafas, "apa yang bisa saya lakukan?" tanyanya.
"Biarkan kami mengurus preman itu," kata Roy.
"Tapi...." belum sempat Ricardo melanjutkan kalimatnya, sikembar sudah lebih dulu memotong pembicaraan itu.
"Tenang saja, kami akan selesaikan," ucap sikembar serentak.
Sikembar bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri preman tersebut.
"Paman lepaskan mereka, mereka tidak bersalah paman," ucap Ram dengan nada lembut, berlagak seperti bocah polos dan lemah.
"Ooh bocah kembar mau ikut campur, hahaha. sini uang kalian kalau mau selamat," ucap bos preman itu.
"Paman mau uang?" ucap Ren sambil mengibas ngibaskan satu ikat uang seratus ribu.
Mata preman itu terbelalak melihat anak kecil punya banyak uang.
"Paman mau uang?"
.
__ADS_1
.
.