SEVEN R : Anak Genius

SEVEN R : Anak Genius
Ada saja pengganggu.


__ADS_3

.


.


.


Diva makan dengan sangat lahap tanpa menghiraukan orang orang yang ada disekitarnya.


"Istrinya hamil ya, mas?" tanya seorang ibu yang sedang mengantri untuk membeli martabak.


"Iya Bu, maaf ya Bu kalau istri saya kurang sopan makannya," Darmendra.


"Biasanya kalau makannya begitu banyak anaknya kembar mas, karena ibu hamil itu harus berbagi makanan dengan jabang bayinya." ucap ibu itu.


"Mudah mudahan ya, Bu kembar soalnya waktu kami periksa dokter belum bisa memastikan, tapi dugaan dokter memang kembar." Darmendra.


"Itu anak mas nya juga?" tanya ibu itu.


"Benar Bu, anak anak kami," Darmendra.


"Subhanallah, mas kembar tujuh?" ibu itu begitu takjub melihat sikembar, dengan wajah yang sama tinggi badan yang sama hanya pakaian saja yang berbeda.


Darmendra hanya tersenyum sambil mengelus rambut istrinya, ibu itu memperhatikan Darmendra dan Diva, lalu beralih ke sikembar.


"Pasangan yang sangat cocok, satu tampan satunya cantik, dan anaknya juga sangat mirip dengan ayahnya." batin wanita itu.


"Sayang, sudah selesai belum?" tanya Darmendra.


"Hmmm," Diva tidak bisa ngomong karena mulutnya penuh makanan.


"Ini mas pesanannya sudah siap," ucap pelayan itu menyerahkan plastik berisi martabak, Darmendra pun membayarnya. saat Darmendra, Diva dan sikembar hendak berlalu dari situ, tujuh orang berbadan besar menghampiri penjual martabak tersebut, para pengunjung yang lagi ngantri pun berhamburan lari menjauh dari tempat itu, mereka takut dengan penjahat tersebut karena sering malak ditempat itu.


"Mana uang keamanan?" tanya ketua preman itu.


"Maaf Tuan, saya belum dapat uangnya," jawab penjual tersebut.


"Jangan bohong kamu, saya lihat tadi ramai yang ngantri," gertak preman itu.


"Tapi mereka tidak jadi beli karena takut dengan tuan," jawab penjual itu.


Diva yang merasa geram dengan preman tersebut langsung maju tanpa berkata apa-apa Diva langsung mengangkat sebelah kakinya setinggi kepala dan memutar tubuhnya hingga...


Bruuk... preman itu terpental, dan kepalanya terbentur meja.


"Sayang...!" panggil Darmendra dengan cemas melihat aksi Diva menendang wajah preman tersebut.


"Siapa lagi yang mau maju?" tanya Diva sambil menggerak-gerakkan jarinya menantang preman tersebut.

__ADS_1


"Mommy, biar kami yang urus kami akan bawa mereka ke kuburan biar tidak jadi pengganggu lagi." ucap Ram, preman yang lain sudah pucat melihat bos mereka ditendang.


"Sial, tendangan wanita itu kuat sekali," batin ketua preman tersebut, sambil bangkit dan hendak menyerang Diva, tapi belum sempat preman itu menyentuh Diva, Ray menendang perut preman tersebut sekali lagi preman itu terlempar beberapa meter kebelakang. Sikembar maju melindungi Mommy mereka.


"Daddy, jaga Mommy jangan sampai Mommy ngamuk ditempat ini, bisa tinggal nama preman preman itu." Ren menunjuk kearah preman tersebut.


Gleek.... preman itu menelan ludahnya, ada yang sudah gemetar ketakutan, sedangkan ketua mereka sudah muntah darah dan pingsan ditempat.


"Ayo maju kalian, kalau kalian melawan kami kalian mungkin hanya cacat, tapi kalau Mommy dan Daddy kami yang turun tangan maka kuburan tempat kalian," ucap Roy tanpa rasa takut.


Orang orang yang tadi menjauh kembali mendekat, mereka makin takjub dengan keberanian sikembar, preman itu semakin ketakutan melihat sikembar semakin mendekat.


"Am... ampun, kami akan pergi dari sini," ucap salah satu dari mereka.


"Kalian boleh pergi, tapi setelah kaki dan tangan kalian patah." Ray.


"Kalian menggunakan tangan dan kaki untuk menggertak orang lemah," Ren.


"Jadi, kami akan melepaskan kalian setelah kalian tidak bisa berjalan lagi," Rasya.


"Kalian berbadan besar, kalian kira kami takut?" Rakha


"Bahkan satu markas mafia bisa kami hancurkan," Ram.


"Kalian hanya tujuh orang? kasihan sekali nasib kalian." Roy.


Sikembar mengepung mereka, sedangkan Diva memberontak minta dilepaskan, karena ia ditahan oleh Darmendra supaya tidak menghajar orang tersebut, Darmendra tidak mau terjadi apa apa dengan calon bayi mereka.


"Hubby lepaskan aku, biarkan aku menghajar mereka yang suka menindas orang lemah." Diva.


"Sayang, biarkan sikembar yang mengurus mereka, kita lihat saja oke..!" Darmendra.


"Tapi hubby...!" Diva tidak bisa berkutik lagi karena dipeluk oleh Darmendra.


"Sayang sudah ya, biarkan sikembar saja." Darmendra.


Preman itu semakin menciut melihat sikembar yang semakin mendekat. preman itu sudah terkepung oleh sikembar, sikembar saling memberi kode lalu menyerang secara bersamaan.


Tidak ada pilihan lain, preman itu membalas serangan sikembar, tapi ilmu bela diri preman itu masih dibawah sikembar, jadi dengan mudah sikembar mengalahkan preman itu.


"Ucapan kami tidak main-main," kata Ray, setelah mereka benar-benar mematahkan tangan dan kaki preman tersebut. akhirnya preman itupun keok ditempatnya.


Orang orang yang melihat aksi sikembar pun bersorak heboh, dan penjual martabak tersebut mengucapkan banyak terimakasih, begitu juga dengan penjual makanan yang lain. mereka mengambil kembali uang yang telah dirampas oleh preman tersebut.


"Daddy kita ajak Mommy main yuk," Ram.


"Main apa?" tanya Darmendra.

__ADS_1


"Main lempar bola, biasanya Mommy suka," Roy.


"Sayang kita main lempar bola yuk, asik loh sayang bisa dapat hadiah," Darmendra.


"Hadiah?" tanya Diva berbinar, Darmendra mengangguk dan berharap Diva melupakan kejadian tadi.


"Tunggu sebentar ya hubby," ucap Diva, lalu berjalan kearah preman yang masih terkapar ditanah.


Buggh... buggh... buggh... buggh... buggh... buggh, Diva menginjak dada preman tersebut. Darmendra dan sikembar hanya geleng-geleng kepala, ternyata Mommy mereka masih ingin menghajar preman tersebut.


"Yuk hubby, aku sudah puas," ucap Diva sambil menggandeng tangan Darmendra, suasana kembali aman. para preman masih tergeletak disitu tidak ada yang peduli bahkan mereka juga menginjak injak preman tersebut.


Diva dengan riang bermain lempar bola, walaupun sering melesetnya daripada dapat hadiahnya. Para pengunjung semakin ramai berdatangan. sikembar melihat seorang anak kecil sedang menangis karena ingin naik permainan.


"Adek kenapa?" tanya Ram.


"Aku ingin naik itu, tapi ibu tidak punya uang untuk membeli tiket, ibu lagi kerja disana untuk mendapatkan uang." ucap anak itu.


"Kalau begitu kita temui ibunya dulu ya," kata Ram, anak itu mengangguk. lalu Ram dibawa anak itu untuk menemui ibunya.


"Ibu...!" panggil anak itu, dan ibu itu menoleh.


"Ehh, kenapa kau kesini? bukankah ibu sudah menyuruhmu menunggu disana dan ibu akan mencari uang untuk membeli tiketnya." ucap ibu itu.


"Maaf Bu, sebaiknya ibu temani saja anak ibu, karena ia butuh perhatian ibu." Ram.


"Tapi nak, ibu harus kerja malam ini agar dapat duit." ucap ibu itu.


Lalu Ram memberikan uang kepada ibu itu, ibu itu tercengang melihat banyak uang yang akan diberikan oleh Ram.


" maaf nak ibu tidak bisa terima," ucap ibu itu.


"Ambil saja Bu, kasihan anak ibu." kata Ram.


"Tapi...!" perkataan ibu itu terpotong, karena Ram sudah menyela.


"Ambillah Bu, ini juga untuk keperluan ibu sehari-hari," kata Ram.


Akhirnya ibu itu pun menerima uang tersebut, dan mengucapkan banyak banyak terima kasih. Ram kemudian kembali bergabung dengan Daddy dan Mommy juga saudaranya.


"Kamu kemana saja?" tanya Ren.


"Ada urusan sedikit," jawab Ram enteng.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2