
.
.
.
"Kalian ada yang mau dibeli?" tanya Vera.
"Nanti saja Oma, kita mau lihat-lihat dulu." Ram.
"Kalau begitu kita makan dulu yuk, Oma sudah lapar dari tadi belum makan." Vera.
Mereka pun pergi ke restoran yang ada di mall tersebut, saat masuk ke restoran mereka disambut ramah oleh pelayan dan mengantarkan mereka ke kursi yang khusus untuk keluarga, pelayan menyerahkan buku menu kepada mereka, si kembar memesan nasi goreng seafood sedangkan Oma dan Opanya memesan steak daging.
"Mohon ditunggu sebentar ya tuan dan nyonya." ucap pelayan itu sopan dan berlalu dari situ.
Saat menunggu pesanan mereka datang, teman teman sosialita Vera menghampiri mereka.
"Jeng Vera kebetulan bertemu disini," sapa wanita paruh baya yang bernama Kalsum.
"Iya, kalian kesini juga ternyata." Vera.
"Kita baru habis belanja, jeng." Rosa.
"Kebetulan kami juga mau belanja nih, tapi karena lapar jadi makan dulu," Vera.
"Bukankah itu anak yang viral itu ya?" Kalsum.
"Itu cucu saya, jeng." Vera.
"Oalah jeng Vera beruntung banget, sekali dapat cucu langsung tujuh. pengen dong kaya mereka satu aja." Mira.
Vera tersenyum mendengar pujian teman sosialita nya itu.
"Saya entah kapan baru dapat cucu? putra semata wayang belum juga laku laku, hanya sibuk dengan pekerjaannya saja. usia sudah kepala tiga belum juga menikah." ucap Kalsum sedih.
"Tenang jeng Kalsum, menantu saya sudah merekomendasikan sahabatnya untuk Jhon." Vera.
"Benarkah jeng? seperti apa orangnya? cantik kah?" cecar Kalsum.
"Cantik kok jeng, saya sudah melihatnya di pantai waktu itu." Vera.
"Awas saja nanti kalau ketemu anak itu, punya calon diumpetin," geram Kalsum memaki putranya.
"Bukan cuma Jhon, Robert sama Rivaldo juga sudah punya calon," Jordan menyela.
"Serius? saya pikir anak itu tidak suka lawan jenis, kemana mana selalu nempel dengan Darmendra." ucap Rosa.
"Jelas lah jeng Rosa, Robert itu asisten pribadi putra saya," Vera.
"Itu semua berkat Mommy sama Daddy kami." Ram.
"Mommy dan Daddy yang mempertemukan mereka," Rakha.
"Kalau begitu Oma akan berterima kasih kepada Mommy kalian," ucap Mira.
__ADS_1
"Tidak perlu Tante, semua tergantung pada mereka, aku hanya memperkenalkan mereka," Diva tiba tiba menyela pembicaraan mereka, semua mata tertuju kepada dua sejoli yang kini sudah resmi menjadi pasangan suami istri.
"Kalian juga kesini?" tanya Jordan.
"Iya Dad kita sengaja kesini dan kebetulan melihat kalian masuk ke restoran ini jadi kita susul." Darmendra.
"Kalau begitu kita makan bersama sama saja, makin ramai lebih seru." Jordan.
"Kalian pesan sendiri ya makanannya, kami sudah pesan." Vera.
Darmendra, Diva dan teman teman Vera pun memesan makanan untuk mereka. pelayan sibuk karena harus menambah meja dan kursi untuk digabungkan.
"Oya Tante, kenalkan ini istri saya, namanya Diva." Darmendra.
"Kalian menikah tidak ngundang ngundang kita,." Mira.
"Kami belum mengadakan resepsi Tante, Insya Allah dua Minggu lagi kami akan mengadakan pesta." Darmendra.
"Istrimu cantik sekali, Saya kapan ya dapat menantu secantik istrimu?" Kalsum.
"Calon menantu Tante tidak kalah cantik kok, dan dia sahabatku Tan," Diva.
"Syukurlah, kupikir anak itu tidak akan punya kekasih, setelah kekasihnya berkhianat dulu." Kalsum."
Pelayan pun datang mengantarkan pesanan mereka.
"Kita makan dulu, setelah itu baru kita belanja." Vera.
Mereka semua pun makan dengan nikmat, si kembar yang paling bersemangat karena sekarang ada Mommy dan Daddy-nya.
Sedangkan si kembar pamit untuk bermain mereka menuju lantai teratas di mall tersebut. Karena tidak mau berpisah dengan si kembar akhirnya Vera dan Jordan mengikuti si kembar.
"Kita kemana sayang?" tanya Darmendra.
"Kemana lagi ikut si kembar lah?" Diva.
Akhirnya mereka semua pun ketempat permainan. Si kembar kini berada diarena permainan, seperti biasa mereka bermain selayaknya anak anak pada umumnya, tidak terlihat seperti anak jenius. mereka begitu menikmati setiap permainan yang mereka mainkan.
"Kau tau sayang? disinilah aku melihat si kembar." Darmendra.
Diva menoleh, "kok bisa? padahal waktu itu kami tidak bertemu denganmu?"
"Robert yang menemukan Roy saat hendak ke toilet, dia curiga karena wajah Roy sangat mirip denganku, waktu itu kami ketemu klien ditempat ini yaitu di restoran." Darmendra pun menceritakan semuanya.
"Tapi aku juga bahagia mereka akhirnya menemukan Daddy mereka, aku tau mereka sangat merindukan Daddy nya, walaupun mereka tidak mengatakan apa-apa." Diva.
Si kembar terus saja bermain, kini mereka bermain capit boneka.
"Aku mau boneka beruang," Ram.
"Capit saja mana yang dapat?" Ray.
"Dih kulkas bisa juga ngomong ternyata." Roy.
"Masalah buat Lo?" Ray.
__ADS_1
Keseruan si kembar berlanjut dengan main tembak berhadiah boneka juga. hingga boneka boneka yang akan dijadikan hadiah oleh pemilik area permainan tersebut hampir habis. wajah pria pemilik area permainan itu menjadi muram karena banyak kerugian.
"Kalau begini terus bisa bisa bangkrut usahaku." batin pria tersebut.
Si kembar saling pandang seolah memberi kode satu sama lain, melihat raut wajah sedih pria tersebut si kembar mengerti kalau pria itu banyak ruginya karena ulah mereka.
"Ini Pak saya ganti kerugian Bapak." Ram menyerahkan uang puluhan juta pada pria itu.
"Tidak usah Nak, Bapak tidak apa-apa kok," ucap Bapak itu.
"Ambil aja Pak, kami tahu Bapak banyak rugi karena kami, anggap saja kami membeli boneka boneka ini." Rakha.
"Bapak tidak boleh menolak rezeki, nanti rezekinya ngambek loh gak mau lagi sama Bapak, terus Bapak mau cari dimana lagi kalau rezeki beneran ngambek." Roy.
"Memang ada ya begitu? kaya manusia aja pakai acara ngambek." Ram.
"Ya sudah Bapak terima, terimakasih banyak kalian adalah anak anak yang dermawan." ucap pria itu.
"Nama Daddy kami Darmendra Pak bukan dermawan." Ram.
Puk... Ray menepuk kepala adiknya itu.
"Aduh sakit Ray, salah ku dimana coba." Ram.
"Sudah, sudah boneka boneka ini mau dikemanakan?" tanya Ren.
"Seperti biasalah Ren, kita bagi bagikan." Raffa.
"Tapi ini bukan hari Minggu, mana ada anak anak pergi ke mall?" Ren.
"Kamu buta ya, gak lihat tadi banyak anak anak bermain di area permainan mandi bola," Ram.
"Oh iya ya, kok aku bisa lupa." Ren.
"Kita minta Daddy bawakan boneka boneka ini," Roy, yang lain pun mengangguk.
"Demi kalian Daddy rela jadi korban," gumam Darmendra. Diva yang mendengarnya menahan tawa.
"Perlu Opa bantu bawakan?" Jordan menawarkan diri.
"Boleh," jawab si kembar serentak.
Akhirnya si kembar memanggil beberapa orang anak anak untuk diberi hadiah boneka.
"Khusus untuk anak anak cewek ya," ucap Ram lantang.
Dengan perasaan senang anak anak tersebut menerima boneka pemberian si kembar.
"Beginikah perasaan si kembar saat mereka berbagi sesuatu?" gumam Darmendra dalam hati, sambil tersenyum ia menoleh kearah Diva.
.
.
.
__ADS_1