
Vira berusaha menenangkan anaknya yang sedari tadi mondar mandir tidak jelas di hadapan semua keluarga yang sedang menunggu keadaan Renatta.
"Duduklah Dev, Renatta akan baik baik saja"
"Bagaimana bisa ibu menyuruhku diam sedangkan dari tadi belum ada satu pun dokter maupun perawat yang keluar untuk memberi tahu keadaan Renatta sekarang" Ucap Devan yang masih tidak tenang.
Sedangkan Zia dan Zio terlihat santai sungguh hal itu sangat berbeda dengan keadaan Devan yang sudah terlihat berantakan, tadi tepat pukul 5 sore tiba - tiba Renatta mengalami sakit dan kram perut lagi yang tentu saat membuat Devan amat sangat panik karena baru kali ini dia melihat Renatta kesakitan seperti tadi.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya seorang dokter memberi tahu kalau tidak lama lagi Renatta akan melahirkan dan meminta Devan untuk masuk menemani Renatta untuk melahirkan anak mereka.
Di dalam ruang bersalin Devan bisa melihat wajah Renatta yang terlihat sedang menahan sakit, sesampainya di samping Renatta, Devan menggenggam erat tangan Renatta berusaha menyalurkan kekuatan kepada istrinya.
"Dev" Lirih Renatta yang mempererat genggaman tangan Devan kepadanya.
"Kamu pasti kuat Re, kamu pasti bisa melahirkan anak kita dengan selamat" Devan mengecup dahi Renatta sesekali dia mengusap kening Renatta yang sudah di penuhi dengan keringat.
Renatta hanya bisa menganggukkan kepalanya lemah menahan sakit di perutnya yang semakin meningkat, sejujurnya Renatta akui rasa sakit ini lebih sakit daripada saat dia melahirkan si kembar dulu, dokter tadi juga sempat menyuruhnya untuk melakukan operasi saja jika memang sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya apalagi Renatta dulu pernah mengalami pendarahan yang membuat kandungannya sempat lemah tapi Renatta tetap kekeh ingin melahirkan secara normal saja.
"Dev, ini sangat sakit" Erang Renatta yang semakin tidak bisa menahan rasa sakit di perutnya.
Melihat erangan Renatta membuat Devan semakin tidak tega melihatnya "Sampai kapan istriku akan tersiksa seperti ini?" Tanya Devan dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Ibu Renatta saat ini masih pembukaan 8 tinggal satu pembukaan lagi, ibu Renatta bisa melahirkan anaknya" Jelas salah satu suster yang sudah menyiapkan segala keperluan untuk melahirkan
Devan berusaha mengendalikan rasa takutnya dan paniknya saat melihat keadaan Renatta, seorang dokter dan suster menghampiri Renatta untuk memastikan apakah Renatta sudah bisa melahirkan sekarang atau tidak.
"Sekarang ibu sudah bisa mulai mengejan ya" Perintah dokter kepada Renatta
Genggaman tangan Renatta semakin erat di tangan Devan "Akhhh" Teriak Renatta, kini keringat dingin mulai membasahi tubuh Devan, sungguh dia sangat tidak tega mendengar teriakan Renatta
__ADS_1
Kini genggaman tangan Renatta beralih ke rambut Devan, "Akhh, Re kamu bisa merontokkan rambutku jika menariknya sekencang ini" Devan berusaha melepas cengkraman tangan Renatta di rambutnya
Bukannya melepaskan, Renatta justru semakin menarik rambut Dev "Ini bahkan lebih sakit Dev, akhhhhh" Teriak Renatta yang tidak terima dengan ucapan Devan.
"Sedikit lagi bu, kepala bayinya sudah mulai terlihat" Ucapnya
Renatta semakin kuat mengejan hingga kepala Devan terasa kebas dan panas akibat perlakuan Renatta "Aku tidak akan membiarkan kamu untuk menghamiliku lagi Dev, akhhhhhh" Teriak Renatta semakin kencang membuat telinga Devan terasa berdengung sebab Renatta berteriak tepat di samping telinganya.
"Oek Oek Oek" Terdengar suara bayi menangis membuat Devan merasa lega sekaligus terharu, lega karena Renatta akhirnya bisa melepaskan tarikan pada rambutnya, dan dia terharu karena untuk pertama kalinya dia mendengar suara anaknya menangis, suara tangisan yang tidak sempat dia dengan saat kelahiran Zio dan Zia.
Devan mencium kening Renatta lama "Terima kasih karena sudah melahirkan anak kita dengan selamat" Air matanya menetes membasahi kening Renatta, sekarang dia paham ternyata sebegitu beratnya perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anaknya dan hal itu membuat Devan merasa tertampar karena dulu pernah menyakiti hati Renatta sebegitu dalamnya.
Seorang suster menyerahkan bayi mereka kepada Renatta untuk di tidurkan di dada Renatta "Selamat anak kalian berjenis kelamin perempuan, cantik sangat mirip dengan ibunya" Ucap suster tersebut.
Pandangan Devan tidak bisa lepas dari anaknya yang saat ini berada dalam pelukan Renatta, air mata Renatta menetes lalu tidak lama kemudian mata Renatta menutup yang membuat Devan panik lagi
"Apa yang terjadi dengan istri saya dok" Devan bertanya dengan nada khawatirnya.
"Bagaimana kalian menyuruhku keluar sedangkan istriku saat ini sedang tidak sadarkan diri" Amarah Devan sudah tidak bisa terkendali, apalagi dia ingat saat Renatta bercerita kalau dia dulu juga sempat mengalami pendarahan saat melahirkan Zio dan Zia, hal itu juga hampir merenggut nyawa Renatta, Devan tidak bisa membayangkan kalau hal itu akan terjadi lagi sekarang.
"Kami mohon kerja samanya pak, jika anda terus berada di sini justru akan memperlambat penangan kami"
Akhirnya Devan menuruti perintah dokter dan segera keluar dari ruang persalinan Renatta dengan hati berdebar takut akan sesuatu yang buruk terjadi pada Renatta.
Semua orang yang ada di luar ruangan menatap Devan bertanya "Bagaimana keadaan Renatta Dev" Tanya mamahnya Renatta kepada Devan.
"Re...natta mengalami pendarahan mah" Jawab Devan dengan terbata, raut wajahnya tidak bisa menutupi seberapa besar rasa cemasnya sekarang "Dan anak kami berjenis kelamin perempuan, dia sangat cantik seperti mamahnya" Devan memaksakan senyuman kecilnya saat mengingat wajah anaknya.
Raka yang mendengar ucapan Devan tidak kalah terkejut, dia ingat betul bagaimana dulu perjuangan Renatta saat melahirkan Zio dan Zia haruskah kejadian lalu terulang kembali.
__ADS_1
Untung saja saya ini Zio dan Zia sudah tidak berada di sini karena Raka tadi menyuruh Sherly untuk mengajaknya pulang karena tidak baik untuk Zio dan Zia berada terlalu lama di rumah sakit apalagi dalam keadaan seperti.
Raka sebenarnya sudah sempat menebak kalau Renatta akan mengalami pendarahan lagi jika mengingat kata dokter yang dulu pernah menangani adiknya itu, hanya saja dia berusaha berfikir positif kalau semua akan baik - baik saja tapi justru ketakutannya kini terjadi kalau Renatta akan kembali lagi pada kondisi seperti dulu.
"Bu, aku takut kalau Renatta tidak bisa bertahan" Untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia menangis di bahu ibunya, pikirannya sungguh sangat kalut, dia tidak bisa berfikir dengan jernih lagi.
"Ibu yakin Renatta orang yang kuat, dia tidak mungkin meninggalkan kamu apalagi sampai meninggalkan anak - anaknya" Di tepuknya pelan bahu Devan.
...🍃🍃🍃...
Hallo author come back 🏃🏃
Selamat malam, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.
Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.
Semoga semakin suka....
Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen nya ya.....
Kalau ada typo atau kesalahan dalam menulis bisa di tulis di komen...
Happy Reading
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue