
Renatta hari ini pulang lebih cepat, karena memang hari ini jadwalnya hanya melihat tempat yang akan dia gunakan untuk membuka butik barunya, setelah dipikirkan ulang akhirnya dia memutuskan untuk membuka butiknya lagi dengan nama yang sama seperti dulu berharap para pelanggannya dulu masih mau berbelanja kembali di butiknya.
"Sayang kok udah pulang, mamah kira kamu akan langsung ke perusahaan?" Tanya Vera, mamah kandung Renatta.
"Iya mah tadi Renatta hanya pergi untuk melihat tempat yang akan aku gunakan untuk membuka butik lagi, mungkin besok Renatta akan pergi ke perusahaan untuk mulai bekerja" Renatta merebahkan tubuhnya di sofa karena sedari pulang dari New York tubuhnya terasa kurang enak, apalagi kalau bukan karena memikirkan kepulangannya ke Indonesia dan dia takut hal yang paling dia hindari akan terjadi.
Vera duduk di samping anaknya, dan mengelus rambut Renatta dengan sayang, dia sedih jika mengingat harus kehilangan masa pertumbuhan putrinya dan baru bertemu kembali 5 tahun lalu.
"Perusahaan kita akan melakukan kerja sama dengan perusahaan DN Corp untuk pembangunan hotel di Bali, mamah harap kamu mau ikut membantu kakakmu Raka dan papah dalam mengurus proyek ini"
Renatta awalnya yang memejamkan mata karena terlalu nyaman saat mamahnya mengelus rambutnya tiba tiba tersentak kaget.
"Maksud mamah perusahaan milik Abimana?"
Cicitnya pelan, rasa takut mulai menghinggapinya mendengar perkataan mamahnya, ketika mamahnya menganggukkan kepalanya tanda membenarkan pertanyaannya.
Vera menggenggam tangan anaknya, sebenarnya dia sedikit bingung dengan reaksi yang diberikan Renatta.
"Kamu harus menghadapi semuanya Re, kamu tidak mungkin terus lari dari masalah kamu dan bersembunyi seperti ini walaupun saat ini kamu tidak mau memberitahu siapa ayah biologi Zio dan Zia, tapi suatu saat mamah harap kamu mau mengatakan yang sebenarnya entah itu kepada mamah dan papah ataupun kepada kedua anakmu"
"Mah tapi....." Ucapan Renatta terputus ketika mamahnya lebih dulu menyela omongannya.
"Percaya sama mamah, semua akan baik baik saja, hadapi semuanya tunjukkan pada orang orang yang sudah menyakiti kamu kalau kamu perempuan yang kuat"
Renatta mengangguk dan memeluk mamahnya erat sudah lama dia tidak merasakan hangatnya pelukan mamahnya, ya mulai sekarang Renatta akan menghadapi semuanya, muncul di hadapan Devan bukanlah hal yang buruk, dia akan menunjukkan kepadanya kalau kehidupannya jauh lebih baik dari dulu, dan tentu saja dia juga akan tetap memegang perusahaan mendiang papahnya.
.
.
.
"Om, Zia haus, mau mampir ke kedai es krim dulu ya?" Zia memasang wajah puppy eyes nya.
"Oke hari ini kalian om ajak ke kedai es krim, tapi ingat jangan ulangi hal seperti tadi lagi" peringat Raka kepada Zia dan Zio
__ADS_1
"Horeee" Zia bersorak bahagia akan di ajak ke kedai es krim, karena mamahnya selalu membatasi mereka untuk makan es krim katanya tidak baik untuk kesehatan gigi, tetapi baginya es krim adalah makanan paling enak menurut versinya jadi dari dulu dia akan makan es krim diam diam saat mamahnya pergi bekerja
Sedangkan Zio dari tadi hanya diam menatap luar jendela, dia masih memikirkan pertemuannya dengan papahnya tadi, ternyata yang dikatakan mamahnya benar kalau mereka sangat mirip dengan papahnya tetapi yang menjadi pertanyaannya sekarang, mengapa mamahnya tidak boleh membiarkan mereka bertemu secara langsung, kenapa harus memakai masker padahal Zio pengen peluk papahnya tadi.
Sesampainya di kedai es krim Zia tampak antusias memilih beberapa jenis es krim favoritnya "Om Zia mau rasa cokelat dan vanilla"
"Zio kamu mau rasa apa" Zio tersadar dari lamunannya dan memandang Raka yang mengernyitkan dahinya melihat ekspresi Zio yang terlihat murung, karena setau Raka Zio memang jarang menunjukkan ekspresi dinginnya, dia lebih banyak menunjukkan ekspresi cerianya walaupun tidak seceria Zia.
"Kamu kenapa?" Tanya Raka yang hanya mendapat gelengan kepala dari Zio.
"Zio mau es krim rasa matcha aja Om" Setelah mengatakan keinginannya, Zio beranjak pergi meninggalkan Raka sendiri yang melongo melihat perubahan sikap Zio yang tiba tiba.
"Astaga, kamu Raka" Seorang gadis menghampiri tempat duduk mereka.
Raka terkejut melihat siapa perempuan yang saat ini sudah duduk disampingnya, ya dia adalah mantan pacar Raka yang bernama Niken, mantan pacar yang dulu hanya dia pacari selama satu bulan yang sampai putus pun masih terus mengejar ngejar dirinya, sedangkan Zio dan Zia merasa tidak terganggu dengan kedatangan perempuan tersebut dan tetap memakan es krimnya dengan lahap.
"Kamu kemana aja sih Rak, 6 tahun lebih menghilang tanpa kabar, aku rindu tahu sama kamu, mendengar kamu tiba tiba pergi ke New York tanpa memberi tahuku" Niken mengerucutkan bibirnya sambil bergeleyut manja di tangannya yang membuat Raka risih dan berkali kali menatap Zio dan Zia seolah mengatakan kalau dia butuh bantuan.
Raka berusaha melepas tubuh Niken dari tangannya "Lepas Ken, kamu apa apa'an sih, kita sudah tidak ada hubungan lagi kalau kamu lupa"
"Eh Tante cabe cabean jauh jauh ya dari tubuh Om Raka" Zia mengibas ngibaskan tangannya kemudian beranjak dari duduknya dan duduk di pangkuan Raka.
Niken menatap tajam Zia, mendengar dirinya disebut cabe cabean.
"Tante lihatnya bisa biasa aja nggak" Ucap Zio ketus " Zio tidak suka ya, kalau tante lihat adeknya Zio seperti itu" Zio masih tetap memakan es krimnya tanpa memandang lawan bicaranya.
"Mereka siapa sih tidak sopan banget sama aku" Nike menatap Raka berharap Raka mau membelanya dari perkataan kedu bocah di depannya itu.
"Dia keponakanku, anak dari adik kandungku"
Niken terkejut mendengar perkataan Raka, seingatnya Raka tidak mempunya Kakak dan maupun adik tetapi kenapa dia mengatakan kalau kedua anak kecil tersebut adalah keponakannya.
Tiba tiba senyum Niken terbit " Oh hai, perkenalkan Tante pacarnya Om Raka"
Raka menatap tajam Niken, mendengar perkataan yang baru saja di ucapkan Niken.
__ADS_1
Zio meletakkan cup es krimnya yang sudah kosong kemudian menghampiri Omnya dan menatap tajam Niken "Ih, Tante nggak usah pura pura baik ya, Zio sudah badmood sedari tadi, jangan buat Zio tambah nggak mood ya gara gara melihat Tante disini" Sejujurnya Zio memang tidak menyukai perempuan di depannya ini, karena menurutnya penampilannya seperti badut dengan make up tebal dan warna bibir yang terlihat merah menyala.
"Iya Tante cabe cabean nggak usah ngadi ngadi ya, Om Raka sudah menikah dan istrinya Om Raka itu galak banget" Zia memasang wajah semenyeramkan mungkin agar membuat Niken percaya dengan perkataannya "nanti Tante mau dicakar cakar terus dijambak jambak sama istrinya Om Raka" Ancamnya yang membuat Niken seketika terdiam.
"Kamu benar sudah menikah Ka, tega banget kamu sama aku, 6 tahun lebih aku nungguin kamu tapi kamu malah nikah sama orang lain" Niken beranjak pergi dengan raut wajah marahnya.
Setelah kepergian Niken dia menatap Zio dan Zia yang juga menatapnya, dia memang tidak bisa meragukan lagi sifat aneh kedua ponakannya kadang mereka bisa terlihat dewasa dan peka terhadap situasi, kadang mereka juga bersifat layaknya usia mereka.
Zia menepuk pelan dadanya "Bagaima akting Zia baguskan, nanti kalau udah gede Zia pengen masuk tv"
"Mau ngapain kamu masuk tv segala" Tanya Raka kepada Zia.
"Mau jadi penyanyi aja Om, kan suara Zia bagus"
Zia menampilkan senyum manisnya.
Raka memutar bolanya malas mendengar perkataan Zia "Iya bagus, lebih bagus kalau kamu diam dan nggak menyanyi" Zia memelotot kan matanya mendengar perkataan Raka.
Zia turun dari pangkuan Raka "Awas ya Om nanti kalau Zia udah masuk tv, Zia nggak mau kasih Om Raka Tanda Tangan titik nggak pakai koma" Dia berlalu meninggalkan Raka dan menarik tangan Zio "Ayo kak kita pergi, Zia nggak mood sama Om Raka"
Raka menatap Zio dan Zia yang sudah keluar dari kedai menuju mobil yang mereka tumpangi tadi.
"Untung keponakan, kalau bukan keponakan udah gue tendang sampai Antartika tuh bocah" Dengus Raka.
Raka tidak fokus saat keluar kedai karena mendapat telfon dari asistennya kalau ada sedikit masalah dengan berkas yang akan dia bicarakan dengan DN Corp besok, ketika sudah sampai pintu keluar tidak sengaja di menyenggol tubuh seorang wanita.
"Maaf saya tidak senga..." ucapan Raka terputus saat melihat siapa perempuan yang baru saja dia tabrak.
"Sherly" Ucap Raka yang tidak bisa menutupi rasa rindunya.
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue