
Renatta tidak bisa menahan senyumannya ketika mengingat perilaku Devan beberapa hari ini yang semakin berbeda dari sebelumnya, Devan lebih peduli dan sering menghabiskan waktu bersamanya dan anak anak mereka, tidak lama terdengar suara ketukan pintu dari ruang kerjanya.
"Bu maaf ada yang ingin bertemu dengan anda, kata beliau dia ingin secara langsung bertemu dengan pemilik butik ini" Ucap salah satu pegawai butiknya yang biasa di panggil Riri.
Renatta mengerutkan dahinya, seingatnya dia tidak membuat janji dengan siapapun bahkan baru pertama kali ini ada pelanggan butiknya yang ingin bertemu dengannya tanpa membuat janji terlebih dahulu "Baiklah, suruh dia menunggu di ruang depan, aku akan segera turun untuk menemui
Renatta merapikan tampilannya terlebih dahulu sebelum keluar dari ruangannya lalu berjalan menuju ruang tunggu di butiknya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanyanya saat melihat seorang laki - laki yang berdiri memunggunginya.
Ray menolehkan kepalanya saat merasa ada yang berbicara dengan dirinya "Ah, anda yang bernama Nona Renatta?" Ucap Ray dengan senyum ramahnya.
Sedangkan Renatta yang tidak terbiasa akrab dengan orang yang baru dikenal hanya memberikan senyum tipisnya lalu mempersilahkan Ray.
"Tadi salah satu karyawan saya bilang kalau anda kurang puas dengan pelayanan kami dan meminta saya untuk merancang secara langsung baju yang anda minta" Ucap Renatta yang sudah mengeluarkan buku rancangannya.
"Saya tidak ingin merancang baju untuk saya sendiri tapi saya ingin anda membuatkan gaun yang indah untuk mendiang kekasih saya" Balas Ray yang tidak mengalihkan tatapannya dari wajah Renatta.
Renatta sedikit tersentak saat mendengar ada seorang yang ingin membelikan gaun untuk orang yang sudah meninggal.
Paham dengan apa yang saat ini Renatta pikirkan "Jangan berpikir macam - macam terlebih dahulu, saya hanya ingin mempersembahkan gaun ini di hari kematiannya sebagai tanda kalau saya masih setia dengan perasaan saya, dan ingin mewujudkan permintaan terakhir nya yang begitu ingin membeli gaun pernikahan" Ray menjelaskan masih dengan raut wajah yang penuh dengan senyuman.
Renatta merasa sedikit malu kalau pikirannya bisa di tebak oleh orang yang saat ini sedang duduk di hadapannya "Maaf saya tidak bermaksud berpikir seperti itu" Ucap Renatta penuh sesal
"Tidak masalah, banyak orang yang bahkan berpikir saya gila karena masih setia dengan perempuan yang sudah meninggal hingga tidak berniat untuk mencari perempuan lain" Ray terkekeh kecil.
"Saya rasa itu hal yang wajar, sebab terkadang memang rasa cinta yang dalam akan sangat sulit di lupakan, apalagi kalau itu cinta pertama"
"Ya, anda benar walaupun bukan saya cinta pertamanya"
"Tapi anda beruntung karena menjadi cinta terakhirnya" Balas Renatta yang entah bagaimana bisa tiba - tiba merasa akrab dan nyaman saat berbicara dengan Ray.
Ray hanya membalas ucapan Renatta dengan senyuman "Bahkan aku juga bukan termasuk dalam cinta terakhirnya" Guman Ray yang hanya mampu dia ucapkan di dalam hatinya saja.
__ADS_1
.
.
.
Sedangkan Devan yang mendengar dari salah satu anak buahnya kalau ada seorang laki - laki yang datang ke butik istrinya dan saat ini sedang mengobrol dengan Renatta membuatnya seketika khawatir, hingga kekhawatirannya semakin bertambah saat dia melihat foto yang di kirim anak buahnya, ternyata dugaannya benar, cepat atau lambat Ray pasti akan mengusik kehidupannya kembali.
Dengan cepat Devan menyambar kunci mobilnya, dia tidak bisa membiarkan Ray mengucapkan hal yang tidak - tidak kepada Renatta "Angkat Re" Desis Devan karena sedari tadi Renatta tidak mengangkat panggilan darinya.
"****" Umpat Devan karena dia merasa kecolongan hingga membiarkan Renatta bertemu dengan Ray.
Tanpa mempedulikan lalu lintas yang padat Devan melajukan mobilnya dengan cepat yang dia pikirkan saat ini hanya ingin segera bertemu dengan Rentang sebelum Ray mengatakan apapun kepada istrinya itu.
Hingga tidak membutuhkan waktu lama, mobil Devan sudah terparkir di depan butik milik Renatta, hal itu bertepatan dengan Ray yang baru saja keluar "Suatu kehormatan bisa bertemu dengan seorang Devandra Narendra Abimana setelah sekian lama" Ucap Ray yang dibalas dengan tatapan tajam Devan.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Devan tanpa ingin basa basi
"Jangan ganggu kehidupan Renatta, urusan diantara kita hanya aku dan kamu, tidak perlu melibatkan orang lain" Balas Devan dengan nada dinginnya.
Ray menyeringai "Aku tidak ada niatan untuk mengganggu kehidupan istrimu, aku hanya ingin tahu seberapa hebat dan seberapa cantik perempuan yang sudah membuat Rania terkalahkan" Setelah mengatakan hal itu Ray segera berlalu pergi dari hadapan Devan.
Devan sendiri tanpa sadar mengepalkan tangannya saat nama Rania disebut, saat dia berniat mengejar Ray untuk menyelesaikan semua masalah dan kesalahpahaman diantara mereka, terdengar suara Renatta yang memanggil namanya.
"Dev, kamu kenapa bisa ada disini" Suara pelan Renatta memenuhi pendengaran Devan.
Devan segera merubah raut wajahnya menjadi lebih santai kembali setelah amarah menguasainya akibat ucapan Ray "Aku sudah sangat merindukanmu, sejak kejadian itu rasanya aku ingin selalu berada di samping kamu" Devan memeluk tubuh Renatta dengan erat.
Renatta membalas pelukkan Devan lalu tertawa lirih "Jangan menjadi anak muda yang masih dalam pertumbuhan, ingat kamu sudah punya 3 anak" Balas Renatta dengan candaan.
Jika boleh jujur Renatta lebih suka dengan sikap Devan yang sekarang, lebih manja dan banyak tersenyum, sangat jauh sekali dengan sikap Devan yang terkesan kaku dan dingin.
Renatta mengurai pelukkan nya, di tatapnya wajah Devan dengan dalam "Kamu terlihat sangat capek Dev, cutilah bekerja untuk beberapa hari, jangan terlalu memaksakan diri" Ucap Renatta lembut.
__ADS_1
Devan menangkap tangan Renatta yang mengusap wajahnya lalu menciumnya "Tidak masalah, mungkin istirahat beberapa jam di butikmu bisa membuat tubuhku lebih segar lagi" Jawab Devan.
Mereka berdua masuk ke dalam ruang kerja Renatta, Devan duduk sambil merebahkan diri pada sandaran sofa "Minumlah, aku membiarkanmu teh mint"
Devan meminum teh buatan Renatta "Siapa pria yang tadi baru keluar dari butikmu?" Tanya Devan untuk memastikan kalau Ray tidak mengatakan apapun kepada Renatta.
"Dia hanya pelanggan baru di butik ini, hanya saja aku sedikit terharu mendengar permintaanya yang menginginkan di buatkan gaun untuk kekasihnya yang sudah meninggal" Renatta mengalihkan tatapannya ke arah Devan sedangkan Devan berusaha menutupi rasa terkejutnya tentang permintaan Ray pada Renatta.
"Benarkah?" Tanya Devan lagi
Renatta menganggukkan kepalanya lalu menyandarkan kepalanya di dada Devan "Aku merasa dia sangat mencintai mendiang kekasihnya sampai rela melakukan hal ini"
"Aku juga sangat mencintai kamu hingga akupun rela melakukan apapun untuk kamu dan anak anak" Balas Devan mencium kening Renatta lalu memeluk pinggang Renatta.
Renatta tersenyum bahagia mendengar perkataan Devan, dan semakin menenggelamkan dirinya pada pelukkan Devan.
Sedangkan di sebuah pemakaman umum Ray membawakan sebuah Bunga Lily kesukaan Rania lalu meletakkan di atas makamnya "Aku sudah bertemu dengan perempuan itu, dia terlihat cukup baik, hanya saja aku masih sulit memaafkan keadaan yang membuat kamu harus terbaring di keabadian seperti ini" Ray mengusap nisan bertuliskan Rania Arania dengan lembut.
...🍃🍃🍃...
Akhirnya author balik lagi🏃🏃🏃
Maaf kalau udah lama nggak update🙏
Ramein dengan Vote dan komen ya, biar author tambah rajin lagi updatenya🥳
.
.
.
To Be Continue
__ADS_1