
Renatta memandang luar jendela kamarnya, dia melihat kedua anaknya sedang bermain dengan papah dan mamah nya, di situ juga ada Nicholas yang sudah datang dari pagi hanya untuk bermain dengan Zio dan Zia, dia bisa melihat raut kebahagiaan Zio dan Zia saat kedatangan Nicholas hari ini.
Bahkan dengan mudahnya Nicholas akrab dengan kedua orang tuanya "Maaf Nic, sampai kapanpun mungkin aku hanya bisa menganggap hubungan kita hanya sebatas teman" Lirihnya yang memandang lurus ke arah Nicholas yang saat ini sedang menggoda Zia.
Tiba - tiba ingatannya berputar kembali saat kemarin pertemuannya dengan Devan, dia sampai sekarang masih berfikir keras ada hubungan apa antara Devan dan Clara, dia tahu dengan jelas seperti apa Clara, pikiran buruk mulai berkeliaran di kepalanya, ada rasa takut kalau memang Devan dan Clara ada hubungan spesial, tetapi pikiran itu berusaha dia tepis dan meyakini dalam hatinya kalau mereka tidak ada hubungan apapun.
Renatta berjalan menuruni tangga menuju taman untuk mengajak Zio dan Zia pergi keluar rumah, sesuai janjinya kemarin kalau hari ini mereka akan pergi ke mall.
Zia yang menyadari kehadiran mamahnya segera menolehkan kepalanya dan berlari ke arah Renatta "Mah hari ini kita jadi pergi keluar kan?" Tanyanya, menatap Renatta penuh harap.
"Jadi dong sayang, yuk mamah bantuin kalian ganti baju, tapi Kelian masuk ke kamar dulu ya, nanti mamah menyusul"
Zia menghampiri Zio dan berlari terlebih dahulu masuk ke dalam rumah, meninggalkan Renatta yang berjalan menghampiri kedua orang tuanya dan Devan.
"Ah, hai Nic" Sapa Renatta yang sedikit gugup, kemarin Nicholas sempat bertanya mengenai pertemuannya dengan Devan waktu di restauran, ternyata selama ini Nicholas tahu tentang Devan yang ayah biologis si kembar.
Flashback On
Setelah kepergian Devan Renatta lebih banyak melamun, bahkan saat makan pun dia terlihat tidak berselera.
"Are you okey Re?" Renatta menatap Nicholas mengernyit dan menganggukkan kepalanya.
"Apa benar tadi papah kandung Zio dan Zia?" Tanyanya yang membuat Renatta terkejut.
Tentu saja Renatta terkejut karena tidak banyak yang tahu siapa ayah kandung dari si kembar hanya dia dan Raka saja yang mengetahuinya, bahkan kedua orang tuanya tidak dia beritahu yang orang tuanya tahu hanya dia sudah bercerai dengan ayah Zio dan Zia.
"Bagaimana kamu mengetahui semuanya?"
"Sebelumnya aku minta maaf Re, dulu aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dan Raka, jadi benar kalau tadi itu Devan, ayah kandung Zio dan Zia?"
Renatta menghela nafasnya pelan dan menatap ke arah Nicholas "Ya, dia ayah biologis Zio dan Zia"
Nicholas menggenggam tangan Renatta "Aku tahu kamu masih mencintai Devan, tapi aku mohon jangan memaksaku untuk menjauh dan melupakanmu Re, kamu tahu kan aku begitu sayang dengan Zio dan Zia seperti anak kandungku sendiri, jadi sekali lagi biarkan aku selalu dekat dengan kalian" Ucapnya lembut.
"Tapi aku tidak ingin membuatmu menunggu untuk hal yang belum pasti Nic, kamu bisa mendapatkan yang lebih dari aku"
"Aku tidak membutuhkan yang lebih dari kamu Re, cukup seperti ini saja aku sudah bahagia"
Setelah mengatakannya, Nicholas melepas genggaman tangan Renatta dan tersenyum ke arah Renatta "Makanlah Re, nanti makanannya keburu dingin, aku tidak mau memesankan ulang makanan hangat untukmu, itu akan menghabiskan uangku" Ucapnya dengan sedikit bergurau untuk mencairkan suasana yang tadi sempat tegang.
__ADS_1
"Astaga Nic, aku yang akan membayar semuanya" Gerutunya kepada Nicholas.
"Aku hanya bercanda Re, mana mungkin aku melakukan hal itu kepada calon istriku" Ucapnya diselingi dengan tertawa.
Renatta mendengus kesal kemudian tersenyum, itulah Nicholas dia sangat mudah mencairkan suasana bahkan di saat hatinya terluka dan sedih sekalipun, dia akan selalu memberikan senyumannya kepada orang di sekitarnya.
"Maaf" Lirihnya yang tidak di dengar oleh Nicholas.
Flashback Off
Saat ini Devan sedang berada di salah satu Maal miliknya untuk meninjau kinerja para pegawainya dan kepuasaan pelanggan yang berbelanja di sini.
Seorang manajer di Maal ini datang menghampiri untuk menyambut kedatangan Devan "Selamat datang Pak Devan"
Devan membalas sapaannya dan menjabat tangan manajernya "Terima kasih Pak Wirawan"
Sedangkan Renatta dan mamahnya saat ini sudah berada di salah satu kedai kue yang berada di salah satu Maal terbesar di kota ini.
"Mamah ke toilet sebentar ya, kalian di sini sama Oma dulu ya, mah aku titip Zio dan Zia dulu, aku akan segera kembali"
"Iya mah" Ucap mereka bersamaan.
"Oma, Zio mau lagi kuenya yang rasa matcha"
Pinta Zio kepada Omanya.
"Ya udah Oma pesankan dulu, kalian berdua tunggu di sini" Vera meninggalkan Zio dan Zia untuk memesankan kue yang diminta Zio.
Saat sedang asyik makan kuenya, mata Zia tidak sengaja melihat keberadaan Devan "Kak, bukannya itu papah" Tunjuk Zia ke arah Devan yang saat ini sedang berjalan dengan dikawal beberapa anak buahnya.
Zio menolehkan kepalanya dan mendapati Devan yang sedang berbicara dengan seseorang, kemudian mereka berlari menghampiri Devan dan memeluk kaki Devan.
"Papah" Ucap mereka bersamaan yang menghentikan langkah Devan yang saat ini sedang menatap ke arah Zio dan Zia.
Hal ini tentu saja membuat semua orang terkejut, tak terkecuali para pengunjung Maal ini yang mengetahui siapa itu Devan, tentu yang mereka tahu kalau Devan adalah pria lajang dan pengusaha sukses yang paling banyak dibicarakan yang sampai saat ini belum pernah menikah.
Dia mengernyitkan dahinya bingung, ini sudah ke dua kalinya seorang anak kecil memanggilnya dengan sebutan papah, yang pertama dulu saat di kantor.
Saat Zio dan Zia mengangkat wajahnya dan tatapan mereka saling bertemu membuat Devan seketika terkejut "DEG" Jantung Devan terasa berdetak lebih cepat saat melihat wajah kedua anak yang saat ini sedang memeluk kakinya, Kali ini Zio dan Zia memang tidak memakai masker.
__ADS_1
Vera sedikit berlari menghampiri Zio dan Zia yang saat ini sedang memeluk kaki Devan dan menarik pelan tubuh kedua cucunya.
"Maafkan cucu saya pak karena sudah lancang memeluk anda" Ucap Vera menyesal.
Devan kembali menormalkan rasa terkejutnya
"Tidak masalah Nyonya" Ucap Devan dengan ramah.
Vera menatap Devan terkejut "Pak Devan, sekali lagi maafkan kedua cucu saya" Ucapnya lagi, kemudian pikirannya mulai timbul banyak pertanyaan tentang hal yang selama ini sangat ingin dia ketahui dari anaknya.
Devan tersenyum dan mensejajarkan tubuhnya dengan Zio dan Zia "Siapa nama kalian?"
"Zio Zia" Ucap mereka secara bersamaan.
"Apa kita sebelumnya pernah bertemu, atau apa kalian dua anak yang saat itu berada di perusahaan ku"
Mereka menganggukkan kepalanya bersamaan
"Apa papah masih ingat dengan kita?" Tanya Zio kepada Devan
Devan kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya "Ya" tentu saja hal itu membuat semua orang bingung karena Devan termasuk orang yang jarang tersenyum dan terlampau sangat dingin.
Seketika senyuman mereka terbit mendapat jawaban dari papahnya, ketika Zio dan Zia akan berhambur memeluk Devan, Vera segera menghentikannya dan mengajak kedua cucunya pergi "Kita sekarang pergi cari mamah yuk" Vera menggandeng tangan Zia dan Zio.
"Saya permisi dulu Pak Devan" Pamit Vera berlalu dari hadapan Devan sedangkan Zio dan Zia berjalan sambil sesekali menoleh ke arah Devan.
Daniel berjalan mendekat ke arah Devan "Mereka berdua mirip sekali dengan anda pak"
Ucap Daniel sedikit berbisik.
"Ah benarkah, aku rasa juga seperti itu" Kekehnya yang masih menatap kepergian Zio dan Zia "Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan" Ucapnya.
"Saya mengerti pak, akan saya lakukan dengan baik" Jawab Daniel yang sudah mengetahui apa yang Devan suruh.
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue