Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Pertemuan Renatta, Devan dan Aline


__ADS_3

"Terima kasih dok, karena sudah mengizinkan saya untuk mencharger ponsel di ruangan dokter" Ucap Renatta yang sudah kembali duduk di hadapan Aline.


"Tidak masalah, aku harap kita tidak perlu terlalu formal" Ujar Aline kepada Renatta


"Baiklah, kalau begitu, dokter bisa memanggilku Renatta"


Aline mengangguk "Apa tadi kamu menelfon suami kamu?" Tanya Aline kepada Renatta


"Iya" Jawabnya singkat.


"Aku bisa melihat, dia sangat perhatian kepada kamu, apa ini anak pertama kalian?" Tanyanya mencoba basa basi.


Renatta tersenyum "Dia termasuk suami yang sedikit posesif, dan tentunya dia sangat perhatian kepada istri dan juga anaknya, kebetulan ini anak ke tiga kami dok"


Seketika wajah Aline yang tadinya menatap ramah ke arah Renatta berubah menjadi dingin mendengar kata perhatian yang di lontarkan Renatta tetapi dengan cepat Aline bisa menormalkan kembali raut wajahnya.


"Aku sangat iri mendengarnya, kamu sangat beruntung memiliki suami sepertinya"


"Tentu saja aku sangat beruntung, terlepas dari semua yang pernah terjadi di antara kita di masa lalu" Ucap Renatta


Aline mengernyit bingung dengan ucapan terakhir yang di ucapkan Renatta, ketika dia akan menanyakan maksud dari ucapan Devan, terdengar pintu di ketuk dari luar, tidak lama kemudian Devan muncul dengan raut wajah khawatir yang tidak bisa di tutupinya lagi.


"Dev, kamu sudah datang" Senyumnya kepada Devan.


Devan berjalan lalu memeluk Renatta, mengabaikan tatapan tidak suka Aline yang di tujukan kepadanya.


"Kamu baik - baik saja kan?" Tanya Devan


"Aku baik - baik saja, justru aku yang harusnya bertanya kepada kamu Dev, kenapa kamu tiba - tiba memelukku seperti ini?"


Devan melepaskan pelukannya "Aku hanya mencemaskan kamu Re karena ponsel kamu tadi sempat tidak bisa di hubungi"


Aline berdehem untuk menormalkan suasana hatinya yang memburuk melihat adegan saling peluk memeluk yang dilakukan Devan dan Renatta di depannya.


"Oh, dok maaf kan kami karena sudah mengabaikan keberadaan dokter" Ucap Renatta merasa bersalah.

__ADS_1


"Tidak masalah, itu hal biasa yang di lakukan suami kepada istrinya jika merasa cemas" Aline melirik ke arah Devan dan benar sesuai dugaannya, raut wajahnya berubah menjadi dingin lagi, Aline tersenyum kecut melihat perbedaan Devan memperlakukannya dan memperlakukan Renatta sangat jauh berbeda, Devan begitu menunjukkan rasa sayangnya kepada Renatta sedangkan kepadanya, hanya tatapan dingin yang selalu di tunjukkannya dan Devan juga selalu menganggapnya seolah tidak ada.


"Kalau begitu lebih baik, sekarang di mulai pemeriksaannya dok" Ucap Renatta kepada Aline.


Aline mempersilahkan Renatta untuk berbaring di atas brankar pasien, baju atasan Renatta di singkap ke atas lalu Aline mengoleskan gel ke atas perut Renatta.


Devan yang di samping Renatta menatap ke arah layar yang menampilkan gambar bintik kecil, di dalamnya.


"Ini kalian bisa lihat, usia kandungannya masih berjalan 2 bulan, dan kondisinya cukup baik dan sehat" Ucap Aline, kalau boleh jujur hatinya begitu sakit saat melihat kebahagiaan Renatta dan Devan, dulu Devan tidak pernah sama sekali mengantarnya untuk check kandungan walaupun dia tahu dulu kondisi Devan sedang sakit tetapi untuk bertanya kondisi kandungannya pun Devan tidak pernah.


Renatta melihat Devan yang masih terus menatap ke arah layar USG "Itu anak kita Re?" Tanya Devan menatap tidak percaya ke arah layar USG.


Renatta mengangguk lalu tersenyum, "Iya itu anak kita Dev"


Setelah melakukan USG, Devan dan Renatta kembali duduk


"Apa keluhan yang kamu alami selama hamil?" Aline berusaha bersikap lebih profesional walaupun rasanya sangat sulit sekali, di dalam hatinya sebenarnya dia ingin mengatakan semua kebenarannya kepada Renatta, tetapi masih ada keraguan jika dia mengungkapkan semuanya sekarang, mungkin nanti dia akan mengatakannya untuk saat ini biarkanlah dia menyembunyikan keberadaan Angel dari Renatta sebab Aline masih berbaik hati untuk memberi sedikit kebahagiaan kepada Renatta, jika sudah saatnya nanti dia pastikan Renatta juga akan merasakan apa yang dia rasakan selama ini.


"Hanya di awal saja merasa pusing dan mual dok, untuk hari selanjutnya tidak ada keluhan apapun" Jawabnya.


"Baik kalau begitu, kamu bisa check kandungan satu bulan ke depan lagi untuk melihat perkembangan janinnya"


"Semoga keluarga kalian selalu di berikan kebahagiaan" Ucap Aline yang menatap ke arah Devan.


Renatta tersenyum membalas ucapan Aline, lalu dia keluar terlebih dahulu dari ruangan Aline, di ikuti Devan dari belakang,


Sebelum Devan keluar dari ruangannya, Aline menghentikan Devan "Selamat atas kehamilan istri kamu, semoga kamu tidak melupakan Angel setelah ini" Ucapnya.


"Terima kasih, dan aku pastikan itu tidak akan terjadi" Jawab Devan singkat lalu keluar menyusul Renatta.


.


.


.

__ADS_1


Di dalam perjalan pulang, Devan hanya diam saja, tadi Renatta izin untuk kembali lagi ke butiknya untuk mengambil buku rancangannya yang tadi akan dia bawa pulang.


Walaupun sedari tadi dia berusaha terlihat tenang di hadapan Aline tetapi sejujurnya dia mewanti - wanti setiap ucapan dan pergerakan yang di lakukan Aline, bagaimanapun dia mengenal betul seperti apa sifat Aline.


Ingatannya kembali kepada kejadian 6 tahun lalu, saat dia menolong Aline yang hampir menjadi korban pemerkosaan, sejak saat itu Aline berusaha untuk terus mendekatinya bahkan Aline sempat mengungkapkan perasaanya kepadanya, tentu saja dia tidak bisa membalas perasaan Aline karena saat itu di hatinya hanya ada Renatta apalagi setelah kepergian Renatta, hidupnya menjadi berantakan.


Hingga pada suatu malam, dia mengalami mabuk berat karena rasa bersalahnya kepada Renatta dan seingatnya saat itu dia berada di club bersama Axel, tetapi entah bagaimana bisa di pagi harinya dia sudah terbangun di dalam kamar hotel bersama Aline di sampingnya, hal itu semakin membuatnya merasa bersalah kepada Renatta, tanpa mempedulikan tangisan Aline yang meminta pertanggung jawabannya dia beranjak pergi dari hotel dengan mengendarai mobilnya yang terparkir di basement hotel, hal itu pula yang akhirnya menjadi salah satu penyebab kecelakaannya saat itu.


Setelah Devan siuman dari masa kritisnya, dia menyuruh Daniel untuk meminta rekaman CCTV dari hotel dan club, di situ memang terlihat Aline yang menuntunnya keluar dari club dan hasil rekaman CCTV hotel pun menununjukkan hal yang sama, sejak saat itu dia memutuskan untuk tidak mencari tahu lagi tentang kebenaran dari kejadian waktu, apalagi dia juga sudah terlanjur sayang kepada Angel saat untuk pertama kalinya dia melihat Angel yang masih bayi.


Dan yang mengetahui mengenai keberadaan Angel selama ini hanya dirinya dan Daniel, itupun dia harus memberikan sedikit ancaman kepada Aline agar tidak memberitahukan ke siapapun apalagi ke ibunya.


Ponsel Devan yang berada di saku kemejanya tiba tiba bergetar.


"Hallo"


"Tuan, saya sudah berhasil mengumpulkan semua buktinya, ternyata kecurigaan dan keraguan anda selama ini benar" Ucap Daniel dari seberang telfon


...🍃🍃🍃...


Hallo, author kembali👏👏👏...


Aku mau kasih bocoran sedikit ya, tenang aja di sini Renatta nggak bakal ninggalin Devan lagi kok, walaupun dia tau kebenarannya nanti, justru mereka bakalan tambah romantis lagi🥳🥳🥳


Kok bisa begitu??? Intinya tungguin terus kelanjutannya..


Author juga bakal bikin momen ngidamnya Devan dan Renatta.....


Happy Reading


Kalau suka jangan lupa like, vote dan komen ya .....


.


.

__ADS_1


.


To Be continue


__ADS_2