
"Ekhem" Deheman Devan memecahkan keheningan di ruangan tersebut.
Seperti ucapan Renatta tadi, kini Raka, Sherly dan kedua anaknya beserta Darren sudah duduk di tempatnya masing - masing menunggu hal apa yang akan terjadi diantara Devan dan Raka.
Sedangkan Renatta sudah tidak sabar melihat Devan melakukan apa yang di Suruhnya tadi.
Devan menghela nafasnya pelan "Apa kamu tidak ingin berubah pikiran Re, kamu yakin menyuruhku melakukannya" Tanya Devan yang menatap Raka dengan pandangan anehnya.
Renatta menggelengkan kepalanya "Aku tidak akan berubah pikiran, mau tidak mau kamu harus melakukannya atau kamu mau tidak aku kasih jatah selama satu tahun" Ancam Renatta lebih menakutkan dari sebelumnya.
Baiklah, Devan akan melakukan apa yang di inginkan Renatta walaupun dia harus melakukannya dengan sangat tidak ikhlas sebab hal ini akan menjadi hal pertama yang menurutnya sangat memalukan untuk dirinya.
Dia mendekat ke arah Raka kemudian duduk di sampingnya "Awas saja kalau sampai kamu tidak memakai deodorant" Tatap sinis Devan kepada Raka, dia tadi sempat mengirim pesan juga kepada Raka kalau dia memperingatkan Raka untuk memakai deodorant dalam jumlah banyak apalagi Renatta tadi bilang setelah pulang kerja Raka harus langsung ke sini tidak boleh mengganti pakaiannya terlebih dahulu apalagi mandi apalagi hari ini dia memang ada kegiatan di lapangan untuk memantau sedikit proyek pembangunan hotel yang akan di lakukan perusahaannya.
"Dasar adik ipar durhaka" Cibir Raka yang mendapat tatapan tajam dari Devan
Zia yang melihat papahnya sedang berbisik dengan Raka merasa bingung "Papah bicara apa sama Om Raka, kenapa harus bisik - bisik sepertu itu" Tanya Zia yang mendapat perhatian Renatta.
Pandangan Renatta yang tadinya fokus ke ponselnya kini beralih menatap Raka dan Devan "Awas kalau kamu curang Dev" Ujar Renatta kepada Devan yang hanya di balas tatapan dingin Devan yang saat ini dalam mode tidak baik.
Berkali - kali dia berusaha memantapkan hatinya untuk melakukannya dan berkali kali juga dia merasa lebih baik dia kalah tender di bandingkan harus mencium ketiak Raka
"Angkat tangan kamu" suruhnya pada Raka.
Tanpa ragu Raka mengangkat tangannya dan dengan cepat Devan menciumnya yang seketika membuat Devan langsung berlari ke kamar mandi yang ada di kantornya sedangkan Zia dan Zio menatap tidak percaya dengan yang baru saja papahnya lakukan.
Renatta yang sudah melihat Devan melakukannya seketika tersenyum senang, tapi dia juga merasa kasian kepada Devan karena dia sudah mengerjai Devan dengan tidak memperbolehkan Raka menggunakan deodorant.
"Om Raka tidak mandi berapa hari sampai membuat papah lari ke kamar mandi" Selidik Zia.
__ADS_1
Raka berdehem, dia berusaha menahan malunya, kini reputasinya rusak di hadapan istri, kedua keponakkannya dan juga Darren, anaknya, seharusnya dia lebih menuruti perkataan Devan yang menyuruhnya memakai deodorant bukan malah menuruti Renatta yang menyuruhnya menggosokkan kaos kaki basah di ketiaknya, dia saja berusaha menahan mati matian agar baunya tidak tercium ke semua orang khusunya Sherly yang tadi satu mobil dengannya, oleh sebab itu sedari tadi dia memilih menjaga jarak dengan istrinya.
"Kamu tanyakan saja kepada mamah kamu yang membuat Om jadi seperti ini" Jawabnya lalu berdiri dari duduknya sungguh dia sudah tidak nyaman dengan bau tubuhnya sendiri "Aku pulang terlebih dahulu, nanti aku akan suruh sopir menjemput kalian" Ucap Raka yang beranjak keluar dari ruangan Devan.
Renatta seketika juga merasa bersalah dengan Raka, matanya langsung berkaca - kaca melihat semua orang seolah - olah marah dengannya, sejak hamil dia memang menjadi sangat sensitif.
Sherly beralih menatap ke arah Renatta sedikit menyelidik "Sebenernya apa yang sudah kamu rencanakan dengan Raka sehingga membuat Devan terlihat hampir pingsan" Tanyanya kepada Renatta
"Apa aku sangat keterlaluan Sher, tapi ini memang keinginan anak dalam kandunganku" Lirihnya.
"Lebih baik kamus hampiri Devan, dia terlihat sangat menyedihkan karena permintaan aneh kamu, aku akan mengajak anak - anak pulang"
Setelah kepergian Sherly, Renatta menghampiri Devan yang sedari tadi belum keluar dari kamar mandi.
TOK TOK TOK
"Dev, kamu baik - baik saja kan?" Tanyanya tetapi tidak ada jawaban dari luar.
Tidak lama, pintu kamar mandi terbuka, menampilkan wajah Devan yang berubah menjadi dingin menatap Renatta.
Melihat itu Renatta langsung memeluk tubuh Devan, lalu terdengar isakkan kecil dari bibir Renatta yang sudah tidak bisa menahan tangisannya lagi.
Sungguh Devan tidak bermaksud membuat Renatta menangis, dia hanya sedikit kesal saja dengan Renatta "Aku baik - baik saja Re, kamu tidak perlu khawatir" Ucapnya mengusap pelan rambut Renatta.
Di dalam pelukan Devan Renatta menggelengkan kepalanya "Aku sudah sangat keterlaluan Dev, tidak seharusnya aku melakukannya, apa lagi menyuruh Kak Raka untuk melakukan hal yang membuat kamu harus mengalami seperti ini" Lirihnya dengan isakkannya.
Ya, karena permintaan Renatta, Devan tadi memang sempat muntah - muntah saat mencium ketiak Raka, dia juga sudah tahu kalau sebenarnya Renatta menyuruh Raka untuk mengusapkan kaos kaki basah, hanya saja dia pura - pura tidak tahu agar tidak membuat Renatta merasa kecewa, tapi kenapa sekarang justru Renatta yang menangis.
"Tidak masalah, lagian ini juga permintaan anak kita, tidak mungkin aku menolaknya walaupun jujur hal itu pertama kali aku melakukannya" Ucapnya.
__ADS_1
Renatta melepas pelukannya dari Tubun Devan, di usapnya air matanya "Kamu beneran tidak marah kan, kamu sudah memaafkan aku kan Dev?"
Dianggukannya kepalanya yang membuat Renatta kembali tersenyum "Aku tidak mungkin bisa marah Re, apalagi ini untuk pertama kalinya aku merasakan kamu mengidam, seharusnya aku yang mengatakan minta maaf sama kamu karena saat kamu hamil Zio dan Zia aku tidak berada di samping kamu untuk menuruti semua keinginan kamu saat hamil dulu" Ujarnya menangkup wajah Renatta lalu mencium kening Renatta.
"Itu sudah masa lalu Dev, lagian selama aku hamil Zio dan Zia, aku tidak menginginkan hal yang berlebihan seperti kehamilanku sekarang, sepertinya dulu mereka mengerti kalau papahnya sedang tidak berada dekat dengan mereka" Ucapnya dengan senyuman di wajahnya, walaupun terkadang masih ada perasaan sedih saat mengingat kehamilannya dulu yang harus dia lewati sendiri tanpa ada siapapun di sampingnya.
Devan berjongkok, mensejajarkan wajahnya dengan perut Renatta "Jadi ceritanya kamu mau mengerjai papah ya, kamu mau membalas dendam kedua Kakak kamu kepada papah karena papah tidak ada di samping mereka dulu" Di ciumnya perut Renatta lama.
"Karena kamu sudah tidak marah, sepertinya anak kita menginginkan papahnya memakai pakaian mamahnya dan di dandani seperti mamahnya" Ucap Renatta yang seketika membuat Devan mendongakkan kepalanya yang mendapat cengiran lebar dari Renatta.
...🍃🍃🍃...
Hallo author come back 🏃🏃
Selamat malam, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.
Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.
Semoga semakin suka....
Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen nya ya.....
Kalau ada typo atau kesalahan dalam menulis bisa di tulis di komen...
Happy Reading
.
.
__ADS_1
.
To Be Continue