Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Bertemu


__ADS_3

Saat ini Renatta sedang berada di dalam ruang kerja Sherly, dia memang sengaja datang kesini tanpa mengabari Sherly terlebih dahulu, dan baru memberitahu kedatangannya ketika dia sudah berada di depan perusahaanya.


Renatta sedang menunggu Sherly selesei meeting, tadi saat dia menelfonnya ternyata saat itu Sherly akan melakukan rapat jadi dia menyuruh asistennya untuk menjemput Renatta di lobi kantor dan menyuruhnya untuk menunggu di ruang kerjanya.


"Ah rasanya aku sudah lama sekali tidak kesini, ternyata banyak yang berubah dari dekorasi ruang kerjanya"


Renatta ingat terakhir kali dia berkunjung ke kantor ini ketika Devan meninggalkannya dulu, dia mengernyit ketika melihat sebuah foto berukuran kecil yang terjatuh di lantai tidak jauh dari meja kerja Sherly, dan berjalan untuk mengambil foto tersebut.


"Kenapa aku merasa tidak asing dengan wajah anak kecil di foto ini" Renatta berusaha mengingat ingat sesuatu, dia yakin kalau wajah anak kecil yang ada di foto yang saat ini dia pegang mirip dengan seseorang yang dia kenal, Renatta membelalakkan matanya saat dia mengingat seseorang tersebut.


"Re, astaga aku merindukanmu" Sherly berlari dan memeluk tubuh Renatta yang membuatnya terkejut dan segera memasukkan foto yang dia temukan ke dalam tasnya, dia harus memastikan kebenaran yang saat ini dia pikirkan.


"Sher, bisakah kamu melepaskan pelukanmu, ini terlalu erat, apa kamu berniat membunuhku karena aku tidak bisa bernafas"


Sherly melepaskan pelukannya dan menarik Renatta untuk duduk di sofa ruang kerjanya "Maafkan aku Re, aku terlalu bahagia melihatmu lagi setelah dirimu tidak membiarkan aku berkunjung ke New York" Dia memberenggut kesal karena setiap dia ingin mengunjungi ke New York Renatta selalu melarangnya.


"Ada hal yang saat itu membuatku tidak bisa membiarkan siapapun mengunjungiku di New York" Sebenarnya dulu Renatta tidak ingin menutupi kehamilannya kepada Sherly tapi setelah dia fikir ulang lebih baik dia tidak memberitahukannya karena akan lebih baik jika tidak banyak yang tahu soal Zio dan Zia, dia takut kalau Devan akan melakukan sesuatu kepada kedua anaknya.


Mendengar perkataan Renatta, Sherly hanya menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana kehidupanmu selama di New York?"


"Tentu saja sangat baik, ada seseorang yang menjadi alasanku untuk terus tersenyum"


Sherly tersenyum senang setelah mendengar perkataan Renatta, dia berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan Renatta termasuk.....


Dia berdiri dari duduknya dan menghampiri Renatta "Apa kamu sudah memiliki kekasih Re, astaga aku kira kamu tidak akan bisa melupakan Devan dengan cepat, ternyata sekarang kamu sudah memiliki kekasih, selamat Re", Sherly kembali memeluk Renatta erat, "Aku ikut bahagia mendengarnya"


Oke, sekarang Renatta mulai bingung harus menjelaskannya ke Sherly, dia rasa ini sudah saatnya dia berkata jujur kepada temannya ini, Renatta melepas pelukan Sherly dan mengambil nafas sedalam dalamnya.


"Aku tidak punya kekasih, dan aku akan mengatakan suatu kebenaran"


"Kebenaran?" Sherly menatap Renatta bingung.

__ADS_1


Renatta menarik nafasnya pelan "Aku sudah memiliki seorang anak dan...."


Ucapannya terpotong ketika Sherly sudah lebih dulu menyela pembicaraannya.


"ANAK" teriak Sherly terkejut. "Bagaimana bisa, kamu menikah diam diam di sana? dan tidak memberitahuku"


Satu hal sifat Sherly yang harus selalu dia ingat kalau Sherly adalah tipe orang yang suka menyimpulkan sesuatu.


"Bisakah kamu tidak menyela perkataanku Sher, semua tidak seperti yang kamu pikirkan, dia anakku bersama Devan, saat itu aku pergi dalam keadaan mengandung yang seharusnya saat itu aku memberitahukan kepada Devan, tetapi terpaksa aku tidak mengatakannya karena kamu tahu sendiri, secara tidak langsung Devan sudah menolak keberadaan anaknya" Ingatan Renatta kembali lagi pada saat Devan mengatakan tidak ingin memiliki anak dengannya, tentu saja hal itu membuatnya sangat terluka.


Sherly tersenyum tulus kepada Renatta dan menggenggam tangannya "Aku juga tahu rasanya ketika anak yang kita kandung tidak diterima oleh ayah kandungnya sendiri" Ucapnya dengan nada sendu.


Renatta menatap Sherly bingung tidak mengerti maksud dari ucapan Sherly yang mengatakan seolah olah dia pernah di posisi Renatta.


Seketika Sherly tersadar dengan apa yang baru saja dia katakan barusan, dia meruntuki semua perkataannya yang tiba tiba mengatakan sesuatu yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali papahnya.


"Ah maksudku aku juga ikut merasakan apa yang kamu rasakan, pasti itu sangat meyakitkan ketika anak yang kita kandung tidak di terima oleh ayahnya, yah itu yang aku maksud" Sherly berharap Renatta percaya dengan alibinya saat ini.


Renatta menatap Sherly yang terlihat sedikit gugup ketika meralat perkataanya tadi, seperti ada hal besar yang selama ini di tutupi darinya, semoga apa yang dia pikirkan tentang Sherly saat ini tidak benar, ya semoga saja seperti itu.


"Dan aku sudah bertemu dengan orang tua kandungku" Ucap Renatta dengan senyum lebarnya.


"Benarkah aku ikut senang Re, akhirnya kamu bisa bertemu dengan keluarga kandungmu, siapa nama keluargamu apakah dia dari kalangan biasa apa juga seorang pembisnis?"


"Dia dari kalangan pembisnis, pemilik perusahaan Adhitama Corp"


"DEG" Terkejut itulah yang saat ini di rasakan Sherly.


.


.


.

__ADS_1


Renatta sudah kembali lagi ke kantornya sendiri, dia hari ini harus menghadiri rapat bersama DN Corp yang itu berarti dia akan bertemu dengan Devan.


Semua orang sudah berkumpul di ruang rapat, kini tinggal mereka menunggu dari pihak DN Corp.


"Maaf kami terlambat, tadi ada sedikit kendala yang harus di seleseikan" Ucap Daniel asisten pribadi Devan.


Renatta saat ini sedang menatap Devan yang baru saja duduk di salah satu kursi yang sudah di sediakan sedangkan Devan sendiri belum menyadari keberadaan Renatta di ruang rapat ini.


Devan yang sedang merasakan di tatap oleh seseorang menolehkan kepalanya di mana saat ini Renatta duduk, dan akhirnya tatapan mereka saling bertemu, dia merasa sedikit terkejut ketika melihat keberadaan Renatta, tetapi dia bisa mengendalikan dirinya jadi rasa terkejutnya tidak bisa terlihat oleh Renatta.


Rapat berjalan dengan baik dan profesional, Devan maupun Renatta bersikap layaknya partner kerja dan tidak mencampurkan masalah pribadi mereka.


Renatta berjalan ke arah lift dengan cepat, berada di dalam satu ruangan dengan Devan setelah 6 tahun mereka tidak bertemu membuat jantung Renatta bekerja dengan tidak baik.


Ketika lift akan tertutup, tiba tiba ada yang menghentikannya dan masuk kedalam lift yang hanya berisi dirinya.


Renatta mendongakkan wajahnya dan melihat siap yang saat ini berada satu lift dengannya.


"Devan" Lirihnya.


Devan memojokkan tubuh Renatta.


"Apa yang kamu lakukan Dev" Ucap Renatta dengan nada terkejut karena Devan saat ini mengukungnya dengan kedua tangannya, yang membuat Renatta tidak bisa bergerak


Renatta mulai kesal karena Devan tidak menjawab perkataanya, "Lepas Dev, bagaimana kalau ada yang melihatnya, ingat kita sudah berce....." Ucapan Renatta terputus ketika Devan secara tiba tiba mencium bibirnya, Renatta sudah berusaha memberontak tetapi tenaganya tidak sebanding dengan Devan.


Devan menyudahi ciuman mereka dan menatap Renatta dengan senyum smirk nya "Akhirnya kita berjumpa lagi Re"


"PLAKK"


.


.

__ADS_1


.


To Be Continue


__ADS_2