
"Sher tunggu, kita perlu bicara" Raka berusaha mengejar Sherly yang tadi langsung beranjak pergi saat mengetahui Raka yang menabraknya di kedai.
"Lepas Ka, sudah tidak ada yang perlu dijelaskan lagi" Sherly berusaha melepas cekalan tangan Raka.
"Aku mohon Sher kasih aku waktu untuk menjelaskan semuanya, ini tidak sesuai dengan apa yang kamu lihat, please"
Raka semakin erat memegang tangan Sherly.
Sherly membalikan badannya menghadap Raka "Apa yang ingin kamu jelaskan hah" Teriak Sherly yang sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi "Tentang kamu yang tiba tiba pergi ninggalin aku atau tentang kamu ya dengan tega menyuruhku...." Sherly menghentikan ucapannya tidak mau mengatakan hal yang paling menyakitkan untuknya.
"Sudahlah Ka, diantara kita sudah tidak ada apa - apa lagi, aku sudah melakukan seperti apa yang kamu suruh dulu" Sherly mengusap air matanya yang dengan lancangnya menetes.
"Kamu tidak mungkin melakukannya kan, aku tahu siapa kamu Sher kamu tidak mungkin melakukan itu, dan aku yakin kamu pasti mempertahankannya kan, jawab Sher!!!" Raka mengacak rambutnya kasar sedangkan tangan satunya masih dia gunakan untuk memegang tangan Sherly agar tidak lepas darinya, dia tidak peduli lagi jika harus menjadi pusat perhatian semua orang yang dia butuhkan hanyalah semua kesalahpahaman yang terjadi segera terselesaikan.
"Ya, aku melakukannya, bukankah itu yang kamu inginkan" Sherly menunjuk nunjuk dada Raka karena amarah benar - benar sudah menguasainya, perlahan lahan kenangan saat Raka dengan teganya menyuruh hal yang paling tidak manusiawi kepadanya melintas di kepalanya.
"Om Raka" Teriak Zia yang membuat Raka dan Sherly menolehkan kepalanya ke arah Zia, hal itu sedikit membuat Raka lengah, tentu saja kelengahan Raka dimanfaatkan Sherly untuk melepaskan cekalan tangan Raka.
Raka yang melihat Sherly berhasil kabur dari hadapannya dan masuk ke mobilnya berusaha mengejarnya tetapi disisi lain dia sudah melihat Zia yang berjalan menghampirinya, akhirnya dia lebih memilih menghampiri Zia, dia nanti akan berusaha menyuruh orang kepercayaannya untuk mencari tahu tentang Sherly.
Raka membuka laci meja kamarnya yang paling bawah kemudian dia mengeluarkan sebuah kotak kayu yang didalamnya terdapat ponsel lamanya dan beberapa lembar fotonya dan Sherly.
Dia mengambil sebuah foto USG yang baru dia ketahui setelah kepergian Sherly.
Flashback On
Sherly dan Raka saat ini sedang menyaksikan sunset di salah satu bukit dengan pemandangan indah yang menjadi tempat favoritnya saat sedang butuh ketenangan.
"Ka, kamu beneran kan mau menikahi aku?"
Tanya Sherly yang saat ini merebahkan kepalanya di pundak Raka.
Raka membelai rambut Sherly pelan dan mengecup dahinya "Setelah pulang dari Singapura aku akan langsung menemui papah kamu dan melamar kamu"
"Aku takut kamu berbohong Ka" Ucapnya pelan, dia kemudian menatap Raka dalam. "karena ada kejutan yang akan aku berikan ke kamu setelah kamu kembali lagi ke sini" Sherly mengangkat wajahnya dan tersenyum ceria.
"Aku sudah tidak sabar, ingin mengetahui kejutan apa yang akan kamu berikan" Mereka berpelukan cukup erat, Raka rasanya tidak ingin pergi ke Singapura besok dan meninggalkan Sherly sendiri tetapi ada sesuatu hal yang membuatnya harus pergi ke sana.
__ADS_1
"Ya udah sekarang kamu, aku antar pulang ya, sudah cukup larut malam besok kan kamu harus kuliah"
"Apa aku tidak bisa membolos kuliah saja, aku akan ajukan jadwal ulang untuk skripsiku" Sherly berusaha membujuk Raka agar mengijinkannya mengantar Raka ke bandara.
Raka hanya tersenyum dan mencium bibir Sherly singkat "Tidak Sherly sayang, katanya kamu ingin cepat selesei skripsi dan wisuda biar kita bisa segera menikah jadi tidak ada acara mau nunda skripsi lagi"
Mendengar jawaban yang diberikan Raka membuat Sherly mengerucutkan bibirnya, merasa kesal karena dia tetapi tidak diperbolehkan ikut mengantar Raka ke bandara.
"Ya udah yuk pulang, nggak usah cemberut gitu nanti cantiknya nambah loh"
"Ih apaan sih kamu, nggak lucu ya"
Tiba tiba Sherly merasakan tubuhnya melayang karena diangkat oleh Raka menuju mobil yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.
"Ih Raka turunin malu tau, kalau ada yang lihat gimana coba" Sherly menyembunyikan wajahnya di cerukkan leher Raka.
Raka hanya terkekeh "Apa yang membuat kamu malu Sher, kita sudah pernah melakukan yang lebih dari ini" Raka berucap lirih tepat di telinga Sherly.
"Rakaaaa, ihh udah jangan di ingetin, aku tambah malu" Ucap Sherly lirih dibalik wajahnya yang masih dia sembunyikan di cerukkan leher Raka kemudian mencubit lengan Raka pelan.
Raka malah tertawa cukup keras, dia tidak peduli saat ini menjadi pusat perhatian orang - orang karena baginya menggoda Sherly adalah kesukaannya, bahkan tidak sedikit orang yang saat ini menatap Sherly dan Raka karena tingkah mereka yang bermesraan di depan umum.
Ini sudah hampir dua Minggu sejak keberangkatan Raka ke Singapura tetapi tidak ada kabar dari kekasihnya tersebut, bahkan ponsel Raka tidak dapat dihubungi padahal saat itu Raka hanya berpamitan pergi selama satu Minggu.
"Kamu kemana sih Ka, aku khawatir tau"
Sherly berjalan mondar mandir di kamarnya.
Kemarin adalah hari ulang tahun Raka, dia sudah mengucapkan selamat lewat pesan singkat tetapi tetap saja tidak ada balasan dari Raka, dia bahkan sempat ke rumah Raka dan menitipkan sebuah kado untuk Raka, tetapi kedua orang tuanya mengatakan kalau memang sudah sejak satu Minggu lebih Raka tidak ada kabar, dan hanya mengirim pesan singkat ke mamahnya kalau dia baik baik saja.
Selama satu tahun mereka pacaran Raka tidak pernah menghilang seperti ini, dia selalu memberi kabar Sherly setiap hari, hubungannya dengan Raka memang tidak diketahui oleh teman temannya termasuk sahabatnya sekaligus, hanya papahnya dan kedua orang tua Raka saja yang tahu dan mungkin hanya beberapa teman Raka saja, dia memang berniat memberi tahu sahabatnya kalau dia dan Raka sudah resmi akan menikah nanti.
Ketika Sherly membuka kembali ponselnya ternyata semua pesannya sudah di baca oleh Raka, itu berarti ponsel Raka sudah kembali aktif tetapi semua pesannya tidak mendapat balasan dari Raka.
Sherly berusaha menelfon Raka tetapi panggilannya tidak diangkat sama sekali.
Akhirnya dia berinisiatif mengirimkan kejutan kepada Raka lewat pesan berharap Raka mau membalas pesan yang dia kirim.
__ADS_1
Sherly
Aku kangen
Sherly
Ka, aku punya kejutan buat kamu
Sherly
Semoga kamu senang ya, cepat pulang dong
Sherly
Aku hamil Ka, kita akan punya bayi
Sherly
Aku harap kamu tidak mengingkari janji kamu untuk menikah denganku.
Sherly memandang ponselnya lama masih tetap tidak mendapat balasan dari Raka membuat Sherly bertambah khawatir karena takut terjadi sesuatu dengan Raka.
Ting...
Sherly segera membuka kembali ponselnya saat mendengar bunyi pesan masuk yang dia yakini itu adalah pesan dari Raka, tetapi balasan yang dia dapat dari Raka justru membuat dunianya seakan hancur dan tanpa sadar air matanya mulai menetes.
^^^Raka^^^
^^^ Gugurkan!!! ^^^
^^^Raka^^^
^^^Aku tidak menginginkan bayi itu^^^
To Be Continue
__ADS_1