
"Dev lepas, kenapa kamu terus memelukku kalau seperti ini terus, Zio dan Zia bisa ngambek kalau bukan aku yang menyiapkan bekal ke sekolah mereka" Gerutu Renatta kepada Devan yang tidak mau melepas pelukannya padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
"Biarkan seperti ini dulu Re, sudah ada pelayan yang akan membantu Zia dan Zio berangkat sekolah" Seru Devan dengan suara serak khas orang bangun tidur
"Tapi Zea juga belum aku beri ASI pagi, kamu juga harus berangkat kerja kan setelah ini" Ucap Renatta yang masih berusaha melepas tangan Devan dari pinggangnya.
"Aku hari ini tidak akan bekerja, soal Zea aku tadi sudah menelfon ibu untuk membantu menjaganya" Balas Devan yang sudah merubah posisi Renatta menghadap ke arahnya "Khusus hari ini aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan kamu Re" Usap Devan pada pipi Renatta.
Renatta sedikit bingung dengan sikap Devan padahal baru kemarin malam Devan terlihat seperti orang yang banyak masalah lalu sekarang Devan terlihat seperti orang yang baik - baik saja dan terkesan begitu lembut "Kamu tidak sedang sakit kan" Renatta menempelkan punggung tangannya ke kening Devan
"Aku baik - baik saja Re, aku hanya ingin berdua saja dengan kamu, aku akan mengajak kamu ke suatu tempat yang mungkin akan sangat kamu sukai" Devan tersenyum manis di depan Renatta, hal yang sangat berbanding terbalik dengan sifat Devan yang terkenal dingin dan cuek, hanya kepada keluarganya lah Devan akan menunjukkan sisi lembutnya.
"Aku hari ini tidak sedang ulang tahun kenapa tiba - tiba kamu seolah olah ingin memberiku kejutan?" Tanya Renatta bingung.
"Karena aku ingin melakukannya, biarkan untuk kali ini saja aku memberikan kamu hal yang membahagiakan" Ucap Devan "Tapi... sebelumnya kau ingin kita melakukan sesuatu yang lebih menyenangkan di lagi hari" Kini tubuh Devan sudah berpindah di atas tubuh Renatta yang sudah Devan buat terlentang.
"Apa yang ingin kamu lakukan ini sudah pagi Dev" Seru Renatta yang akan beranjak dari tidurnya tapi gerakan Devan lebih cepat di bandingkan dengan Renatta.
Devan mencium Renatta, dengan sangat pelan tapi penuh dengan percikan gairah, Renatta yang awalnya menolak kini justru membalas ciuman Devan.
Kini tangan Devan sudah mulai membuka kancing baju tidur yang di gunakan Renatta, ketika dia hampir berhasil membuka kancing terakhir, terdengar gedoran keras dari luar pintu kamar mereka.
"PAPAH, MAMAH buka pintunya" Teriak Zio dan Zia secara bersamaan, hal itu membuat ******* kesal dari mulut Devan lalu dia berguling kembali ke samping tempat tidur.
Renatta terkekeh melihat wajah Devan yang memerah karena menahan gairah yang belum sempat tersalurkan "Aku akan membuka pintunya" Renatta beranjak dari tempat tidur untuk membukakan pintu.
__ADS_1
"Untung saja anak sendiri kalau tidak sudah aku kirim ke Antartika karena sudah sering mengganggu kegiatanku dan Renatta" Keluh Devan frustasi.
.
.
.
Seperti yang di katakan Devan tadi pagi ini Renatta sudah dia ajak ke suatu tempat yang akan mengingatkan kenangan masa kecil mereka dulu "Kamu masih ingat tempat ini?" Tanya Devan yang memeluk Renatta dari belakang.
Renatta tersenyum senang melihat bangunan indah di depannya, sebuah rumah kayu yang berada tepat di atas danau, tempat yang dulu pernah dia kunjungi bersama Devan dan adiknya saat untuk pertama kalinya dia begitu dekat dengan Devan.
"Bagaimana aku bisa melupakannya Dev, sedangkan dulu aku sangat senang saat kalian mengajakku ke tempat ini" Jawab Renatta dengan nada harunya karena ternyata Devan masih mengingat permintaannya dulu agar kelak dia di ajak Devan kesini lagi dan kini Devan benar - benar mengajaknya ke tempat ini.
"Dan aku masih punya sesuatu yang ingin aku berikan kepada kamu" Devan menuntun Renatta untuk masuk ke dalam rumah kayu tersebut, saat pertama kali dia membuka pintu terlihat begitu banyak foto nya dan Devan saat dulu masih kecil yang kini bergantungan di sudut rumah ini.
"Ya, aku membuatnya, saat dulu aku masih begitu mengagumi kamu, dan aku sudah tidak pernah datang ke sini lagi sejak kematian adikku yang pada saat itu aku mengira kamu yang sudah menjadi penyebab kematian adikku"
Devan membuka laci yang ada di sampingnya berdiri saat ini, di keluarkan nya sebuah kotak besi lalu dia memberikannya kepada Renatta.
"Bukalah Re" Renatta menerima kotak pemberian Devan lalu dengan perlahan dia membukanya terdapat satu kalung dengan liontin berbentuk hati dan satu cincin dengan permata putih di tengahnya.
"Ini semua....." Ucapan Renatta terpotong dengan rasa harunya sekaligus bahagianya saya membaca isi surat yang berisi ungkapan isi hati Devan, dan di surat itu juga tertulis jika Devan akan memberikan kalung itu ketika ulang tahunnya yang ke 17 tahun dan dia akan memberikan cincin itu ketika melamar Renatta kelak tapi semua itu harus hancur karena kesalahpahaman yang terjadi selama bertahun - tahun lamanya.
"Dulu aku menyiapkan semua ini hanya untuk kamu Re, jujur aku sudah mengagumi kamu sejak pertama kali kita bertamu, dulu aku selalu berharap kalau kelak kita akan bisa di satukan oleh takdir, walau harus melewati banyak hambatan tapi pada akhirnya kita benar - benar di satukan oleh takdir" Ucap Devan yang membuat kedua mata Renatta berkaca kaca.
__ADS_1
"Aku mencintai kamu Dev" Renatta memberanikan diri mengucapkan terlebih dahulu lalu dia memeluk tubuh Devan dengan erat.
"Aku jauh lebih besar mencintai kamu Re, dulu, sekarang hingga kita menua bersama" Devan membalas pelukan Renatta dengan erat.
...🍃🍃🍃...
Hallo author come back 🏃🏃
Selamat malam, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.
Romantisnya di lanjut di next bab, di jamin keromantisan Devan akan lebih parah dari sebelum - sebelumnya.
Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.
Semoga semakin suka....
Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen nya ya.....
Kalau ada typo atau kesalahan dalam menulis bisa di tulis di komen...
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading