
"Kapan kamu akan memberitahu twins tentang papah kandungnya?" Ucap Raka yang membuat Renatta spontan menolehkan kepalanya menghadap kakaknya.
Renatta menghela nafasnya pelan " Aku belum siap untuk memberitahu semuanya kepada twins"
"Tapi dia juga perlu tahu siapa papah kandungnya, walaupun selama ini dia bisa mendapatkan kasih sayang penuh dariku dan Nicholas tetap saja itu berbeda Re"
"Kakak tahu kan perpisahan ku dengan papah mereka kurang baik, bahkan ketika aku bertanya tentang seorang anak dia menyuruhku untuk menggugurkannya, dari situ aku tidak yakin Devan mau menerima twins, apalagi sekarang dia pasti sudah bahagia dengan kehidupan barunya" Ucap Renatta sambil menatap dalam kakaknya.
"Lalu kenapa kamu tidak mau mengetahui informasi tentangnya, bahkan kamu juga menyuruh ku untuk menutup semua akses informasi kalian bisa jadi apa yang kamu pikirkan tidak sesuai dengan faktanya saat ini" Ucap Raka, dia masih ingat betul bagaimana dulu orang suruhan Devan hampir menemukan Renatta dan dia harus menggunakan kemampuan intel nya untuk menutup semua akses informasi tentang Renatta dan kedua anaknya.
"Itu yang terbaik, lebih baik tidak mengetahui sesuatu yang menyakitkan daripada harus mengetahuinya, lagian kak Raka juga tahu aku memang berusaha untuk melupakan semua masa laluku dan memulai hidup baru dengan kedua anakku" Renatta berdiri dari duduknya tetapi langkahnya berhenti ketika mendengar perkataan Raka.
"Kamu masih ingat kan sudah berjanji kepada mamah dan papah untuk kembali ke Indonesia Minggu depan, jangan sampai berubah pikiran karena aku sudah terlalu lama meninggalkan perusahaan papah dan mamah juga ingin kita segera kembali ke sana"
"Kakak tidak usah khawatir aku akan menepati janjiku kepada mamah untuk pulang ke Indonesia, selamat malam kak" Renatta berlalu pergi meninggalkan Raka yang masih duduk nyaman di kursi dapur.
Sebenarnya Raka bukanlah hanya seorang dokter, dulu dia adalah seorang direktur di perusahaan papahnya, tetapi karena suatu hal dia memilih melanjutkan kuliahnya ke New York sebagai seorang dokter dan disinilah dia juga berteman baik dengan Nicholas yang sama sama berasal dari Indonesia.
"Ah rasanya aku juga tidak ingin kembali ke Indonesia, ternyata lebih nyaman berada di sini jauh dari segala kenangan itu" Raka kembali meminum minuman kaleng di tangannya kemudian beranjak pergi untuk masuk ke kamarnya.
.
.
.
"Mah aku tidak tahu lagi harus seperti apa lagi menggoda Devan, kalau bukan karena dia tampan dan kaya, aku tidak akan melakukan ini semua" Clara menyandarkan tubuhnya di sofa ruang kerja mamahnya.
"Kamu yang sabar sayang, mamah yakin Devan pasti akan jatuh dalam pelukan kamu, kamu tahu sendiri kan sekaya apa Devan saat ini, kalau kamu sampai bisa mendapatkannya sudah pasti semua keinginan kamu akan terwujud" Inggit berusaha mempengaruhi anaknya untuk terus mengejar Devan karena dia yakin keponakannya itu akan jatuh cinta kepada anaknya Clara.
"Baiklah aku akan lebih bersabar untuk mengejar Devan, sekarang mamah kasih tahu apa kejutan yang ingin mamah beritahu ke aku"
__ADS_1
"25% saham perusahaan dialihkan atas nama mamah"
"WHAT, mamah tidak bercanda kan? bagaimana bisa mah?"
"Mamah juga tidak tahu, kemarin asisten Om kamu datang menemui mamah dan menyerahnya sebuah surat yang ditanda tangani Renatta atas penyerahan 25% saham ke mamah" Ucap Inggit dengan nada bahagianya, akhirnya setelah 6 tahun berlalu dia bisa mendapatkan saham sebesar itu dengan cuma cuma.
"Mamah tidak merasa curiga, tidak mungkin kan Kak Renatta menyerahkan sahamnya ke mamah dengan suka rela"
"Kamu tidak perlu khawatir, lagian sudah 6 tahun juga Renatta tidak ada kabar setelah kasus perceraiannya dengan Devan, kita berdoa saja semoga dia tidak akan kembali lagi ke Indonesia jadi mamah bisa ambil alih kepemimpinan perusahaan sepenuhnya"
"Betul kata mamah, semoga saja Kak Renatta tidak kembali lagi ke Indonesia jika Kak Renatta kembali itu akan semakin mempersulit aku untuk mendapatkan Devan"
.
.
.
Hari ini adalah hari libur sekolah mereka, jika biasanya mereka akan di temani Bibi Anne tetangga sebelah rumah Renatta, tetapi karena hari ini Bibi Anne harus pergi ke tempat perbelanjaan untuk membeli beberapa bahan makanan rumahnya yang habis, jadi dia sedikit telat untuk menemani Zio dan Zia di rumah.
Zia tersenyum ketika sudah menemukan ide di kepalanya "Kenapa kita tidak mencari informasi lagi kak tentang papah"
"Kamu benar, ayok kita masuk ke kamar Om Raka"
Zia mengikuti kakaknya yang saat ini sudah berada di depan komputer dan duduk di samping Zio yang sedang serius menatap komputer.
"Jadi nama papah kita Devan, gimana ya cara kita biar bisa ke tempat kerja papah, tempat kerja papah kan di Indonesia, pasti Indonesia sangat jauh dari New York" Guman Zia dengan nada sendunya.
"Kenapa kita tidak tanya saja ke Om Raka, kata Om Raka kan kita tidak boleh bertanya tentang papah ke mamah berarti kita boleh bertanya ke Om Raka" Ucap Zio yang sudah mematikan komputer milih Raka
"Iya kak nanti kita tanya ke Om Raka bagaimana biar kita bisa ke tempat kerja papah, Zia benar benar merindukan papah"
__ADS_1
Zia masih ingat betul ketika ulang tahunnya yang ke 5 tahun, dia pernah meminta hadiah ke mamahnya kalau dia ingin bertemu papahnya tetapi wajah mamahnya langsung berubah sedih dan mengatakan kalau papah lagi sibuk mecari uang buat mereka dan akan menemui mereka ketika uang papahnya sudah terkumpul banyak.
.
.
.
Saat ini Zio dan Zia sedang duduk bersama Raka di halaman samping rumah, dia sedang mengawasi kedua keponakannya yang sedang bermain, Raka hari ini memang hanya mendapat jadwal praktek setengah hari saja karena Minggu depan dia sudah harus memberikan surat pengunduran diri ke rumah sakit tempatnya bekerja saat ini.
"Om, memang Indonesia itu jauh ya" Tanya Zia yang saat ini sudah duduk di samping Raka sedangkan Zio sendiri masih asyik bermain dengan Lego yang baru saja dia belikan tadi
"Memangnya kenapa, kamu mau pergi liburan ke Indonesia?" Tanya Raka, sebenarnya Raka sudah tahu kalau selama ini diam diam kedua keponakannya ini mencari tahu tentang Devan.
Zia menggelengkan kepalanya "Zia mau pergi ke Indonesia buat bertemu papah" Setelah mengatakan itu Zia menundukkan kepalanya.
Raka menghela nafasnya pelan, "Kalau Om bilang sebentar lagi kita mau pulang ke Indonesia apa Zia senang?"
Zia yang mendengar perkataan yang barusan diucapkan Raka langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum senang "Asyik, beneran kan, Om Raka tidak bohong?
Raka menganggukkan kepalanya, membuat Zia senang dan segera berlari ke arah Zio untuk memberitahukan kalau sebentar lagi mereka akan pulang ke Indonesia dan bertemu papahnya.
"Maaf kan aku Re, aku tidak bisa berjanji lagi untuk menjauhkan twins dari Devan karena bagaimanapun mereka butuh kasih sayang dari seorang ayah kandungnya"
.
.
.
To Be Continue
__ADS_1