Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Menuju Kebahagiaan Sesungguhnya


__ADS_3

Di salah satu room private yang sudah di pesan, Devan dan Renatta menunggu ke datangan Ray, kemarin Ray menghubungi Devan karena meminta untuk bertemu.


Tidak lama Ray muncul dari balik pintu, dan memberikan senyum ramahnya ke arah Renatta yang justru membuat Devan merasa cemburu.


"Hai, apa kalian lama menunggu?" Tanya Ray yang kini sudah duduk di depan Renatta, sedangkan Devan hanya diam saja memandang ke arah Ray.


"Tidak, kami juga baru saja sampai" Jawab Renatta melirik ke arah Devan.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Devan dengan nada tidak bersahabat nya.


Ray beralih menatap Devan yang terlihat sedang menahan amarahnya, dari dulu hingga sekarang ternyata kendali emosi Devan tetap buruk.


"Tidak usah khawatir, aku ke sini bukan untuk merebut Renatta darimu, aku hanya ingin meminta maaf karena sudah berniat menghancurkan kehidupan rumah tangga kalian" Ucap Ray.


"Kamu....." Tunjuk Devan marah saat mendengar ucapan Ray yang berniat untuk menghancurkan rumah tangganya.


"Dev, kamu yang tenang" Renatta berusaha menenangkan Devan yang memang sejak tadi tidak bisa menahan amarahnya bahkan sebelum kedatangan Ray.


Devan memang lebih sensitif jika menyangkut keluarganya, dia tidak ingin kejadian lalu terulang kembali dimana dia kehilangan Renatta dan anak - anaknya karena kebodohannya dan sejak saat itu dia berjanji akan terus mempertahankan keluarganya apapun yang terjadi.


Ray mengalihkan tatapannya kepada Renatta "Maaf sebelumnya karena sudah membuat kamu tidak nyaman dengan sikapku beberapa hari yang lalu Re, aku sadar kalau aku tidak seharusnya mengorbankan orang lain untuk hal yang tidak mungkin akan terulang kembali"


Renatta tersenyum ramah ke arah Ray "Tidak masalah, yang terpenting kamu tidak melakukannya" Jawab Renatta "Aku rasa kalian perlu ngobrol berdua dan seleseikan semua permasalahan dan kesalahpahaman di antara kalian"


"Tapi Re..." Ucap Devan yang tidak setuju jika Renatta meninggalkannya hanya berdua saja dengan Ray, apalagi jika ingatannya kembali pada Rania dan juga ucapan Ray barusan.


"Seleseikan kesalahpahaman kalian, jangan biarkan semua ini berlarut - larut"


Setelahnya Renatta benar benar kelaut meninggalkan Ray dan Devan hanya berdua.


Devan masih diam berusaha mengontrol emosinya sebelum dia menaruh sebuah map cokelat di atas meja.


"Apa ini?" Tanya Ray.


"Buka dan kamu akan tahu akar permasalahan dari semuanya" Jawab Devan

__ADS_1


Ray membuka map cokelat pemberian Devan, tangannya bergetar saat membaca lembar demi lembar buku diary Rania dan yang semakin membuatnya bergetar adalah saat dia melihat sebuah foto USG yang dibelakangnya tertulis namanya dan juga nama Rania.


"Ini tidak mungkin" Ray menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Apa kamu berusaha untuk mengelabuhi ku dan membohongiku" Ujar Ray.


Devan terkekeh pelan "Apa aku terlihat selicik itu untuk memanipulasi semua kebenaran yang tidak pernah kamu ketahui karena kamu yang tidak pernah mau mendengar penjelasan ku saat itu"


"Rania tidak mungkin mengandung anakku, kami hanya melakukannya sekali" Lirih Ray yang pandangannya kembali terarah kepada foto USG yang tergeletak di atas meja.


"Kenapa kamu seyakin itu, bahkan saat itu kalian dalam keadaan sama - sama mabuk, bagaimana kamu bisa yakin kalau kalian hanya melakukan nya sekali" Ucap Devan.


Tidak ada jawaban apapun dari Ray, dia masih memikirkan segala kemungkinan yang memang sesuai dengan apa yang baru saja dia ketahui.


"Rania mengalami depresi karena memikirkan sakitnya dan juga kecerobohannya yang tidak bisa menjaga anak kalian dengan baik, walaupun aku juga ikut andil dalam bunuh diri yang di lakukan nya namun masih banyak alasan yang membuatnya dengan nekat mengakhiri hidupnya dan salah satunya adalah kamu yang sudah tidak ada lagi bersamanya saat dia begitu membutuhkanmu"


"Aku menjauhinya karena aku tahu kalau yang dia inginkan hanya kamu" Sahut Ray dengan mata memerahnya.


"Tapi kalau kamu benar - benar mencintai Rania kamu akan memperjuangkan nya, bahkan kamu tahu kalau dari awal aku tidak pernah benar - benar bisa mencintai Rania, tapi apa yang kamu lakukan justru semakin mendorong Rania untuk terluka bersamaku"


"Aku harap setelah kamu mengetahui semuanya kamu tidak lagi menyalahkanku atas kematian Rania, dan aku harap ini pertemuan terkahir kita sesuai yang kamu harapkan dulu kalau kamu tidak pernah ingin melihatku lagi"


Devan meninggalkan Ray sendiri dengan penyesalan dan juga rasa bersalah yang amat besar "Kenapa kamu tidak mengatakan kalau kamu saat itu sedang hamil Rania, kenapa?" Ray memukul dadanya yang terasa sesak lalu mengambil foto USG dan memeluknya erat seolah dia sedang memeluk anaknya bersama Rania.


"Maaf" Lirihnya.


Sedangkan di luar ruangan, Renatta sedang menunggu Devan, dia berharap semoga kesalahpahaman antara suaminya dan Ray segera bisa terselesaikan.


"Dev, bagaimana?" Tanya Renatta saat Devan keluar dari ruangan privat yang dipesannya tadi.


"Aku sudah menyerahkan semua barang peninggalan Rania kepada Ray, aku harap dengan semua bukti itu Ray tidak lagi menuduhnya lagi sebagai penyebab kematian Rania.


Lalu Devan memeluk tubuh Renatta erat "Aku sangat takut kalau kamu akan mempercayai apapun yang dikatakan Ray dan kembali meninggalkanku Re"


Renatta membalas pelukan Devan "Itu tidak akan terjadi lagi Dev, aku tidak mungkin menjadi egois kembali dengan memisahkan kamu dan anak - anak lagi, sudah cukup Zia dan dan Zio yang merasakan kurangnya kasih sayang ayahnya, aku tidak ingin Zea merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh kedua kakaknya"

__ADS_1


"Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan lagi Re"


"Kamu sudah sering mengatakannya Dev" Balas Renatta dengan kekehan nya.


"Aku tidak akan pernah berhenti mengucapkannya sampai kamu nantinya bosan mendengarnya"


Devan mengurai pelukkan nya "Aku cinta sama kamu Re"


"Aku juga cinta sama kamu Devandra Narendra Abimana" Balas Renatta.


Mereka saling menyatukan bibir mereka dengan ciuman yang penuh dengan cinta tanpa adanya rasa gairah sedikitpun.


Renatta terlebih dahulu melepaskan ciuman mereka dengan wajah yang merona karena dia baru saja menyadari kalau mereka berciuman di tempat umum.


"Aku masih sangat menyukai rona merah ini, aku harap pipi ini hanya akan merona karenaku" Goda Devan mengusap lembut pipi Renatta.


"Dev lebih baik kita sekarang pulang, anak - anak pasti menunggu kedatangan kita di rumah" Ucap Renatta berusaha menyembunyikan rasa malu dan gugupnya saat melihat beberapa orang sedang menatapnya dan juga mendengar ucapan Devan yang menggodanya.


Tanpa menunggu jawaban dari Devan, Renatta bergegas menjauh dari Devan dengan perasaan salah tingkah nya, setiap ucapan Devan memang benar - benar sangat mempengaruhinya.


"Astaga kenapa semakin hari Devan semakin ahli dalam merayu dan menggodaku" Lirih Renatta yang terus melangkahkan kakinya tanpa menoleh ke arah Devan yang sedang terkekeh melihat tingkah Renatta yang menurutnya terlihat sangat menggemaskan.


.


.


.


To Be Continue


Akhirnya author bisa balik lagi di cerita ini, cuma sekedar info satu part lagi cerita ini akan author tamatkan karena memang sudah tidak ada konflik lagi dan author akan fokus ke cerita author yang Cinta Tulus Mafia Kejam


Jangan lupa mampir ya🤗


Jangan Lupa Vote, Like dan Komennya ya🙏

__ADS_1


__ADS_2