Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Rasa Malu dan Sedih


__ADS_3

Devan menatap Renatta yang masih tertidur lelap di sampingnya, di usapnya rambut Renatta dengan pelan, lalu dia mencium keningnya.


Sungguh terkadang Devan seperti mimpi bisa memiliki Renatta sepenuhnya, dulu dia masih ingat saat pertama kali menyukai Renatta, seorang gadis kecil yang bisa mengalihkan dunia Devan yang terlihat begitu kaku.


Lalu karena kesalahannya yang terulang di masa lalu dia harus kehilangan Renatta selama 6 tahun bersama anaknya yang bahkan baru dia tahu keberadaannya saat itu.


Dia juga masih ingat saat Renatta takut melihatnya hanya karena tidak sengaja memecahkan salah satu koleksi robot miliknya, dan dari situlah dia bisa mulai dekat dengan Renatta walau dia tidak pernah berani memberikan perhatian langsung kepada Renatta dan selalu memberikan perhatiannya lewat mendiang adiknya.


Lamunan Devan buyar saat merasakan Renatta menggeliatkan tubuhnya kemudian tidak lama kemudian mata Renatta terbuka yang di sambut senyuman oleh Devan.


"Apa tidurmu nyenyak?" Tanya Devan kepada Renatta.


Renatta mengangguk dan menyembunyikan kepalanya di dada Devan, sesekali dia mendusel - duselkan kepalanya di dada milik Devan.


Melihat kelakuan Renatta membuat Devan hanya bisa menggeleng - gelengan kepalanya merasa gemas sendiri dengan sikap Renatta yang lebih manja dari biasanya.


"Apa kamu tidak ada niatan untuk bangun Re" Tanyanya lagi pada Renatta.


Renatta sedikit menjauhkan tubuhnya dari Devan, lali mendongakkan kepalanya agar bisa melihat tepat ke arah Devan "Memang ini sudah jam berapa?" Ujarnya dengan suara serak khas seperti orang baru bangun tidur.


"Ini sudah hampir jam 7 malam" Jawab Devan yang seketika membuat Renatta membelalakkan matanya.


"Jam 7 malam" Ucap Renatta tidak percaya, apa dia tidur begitu lama, lalu bagaimana makan malam Devan tadi.


"Aku kira kamu tidak akan bangun sampai besok pagi" Goda Devan yang dibalas cibiran kesal dari Renatta.


Saat Renatta ingin bangun dari tidurnya, Devan menarik tubuh Renatta agar kembali berbaring di sampingnya.


"Aku mau ke kamar mandi Dev" Ujarnya.


"Apa kamu tidak ingin tahu ada kejadian apa saja saat kamu tidur tadi?" Tanyanya pada Renatta.


Renatta mengernyitkan keningnya "Memang apa yang sudah terjadi?


Devan memasang wajah seriusnya id hadapan Renatta "Tadi ada perawat yang hampir memergoki kita dalam keadaan telanjang saat mengantarkan makan malam" Ucapnya dengan nada seriusnya.


Renatta terkejut menatap pada Devan "Kamu tidak sedang berbohong kan?" Kedua pipi Renatta sudah merona merah mendengar perkataan Devan.

__ADS_1


Devan menggelengkan kepalanya "Tadi Raka sama Sherly juga melihat saat kamu memeluk tubuhku sangat erat, bahkan aku kesulitan melepaskan diri karena eratnya pelukan kamu" Ucapnya lagi kepada Renatta.


Rasa malu langsung menjalar di seluruh tubuh Renatta, dia yakin pasti Raka dan Sherly akan meledeknya habis - habisan karena sudah melakukan hal seperti ini di rumah sakit, apalagi dengan kondisi Devan yang belum sepenuhnya pulih.


"Kaammuu bohong kan?" Ujarnya sedikit terbata dan gugup, berharap apa yang di ucapkan Devan hanya kebohongan saja, tapi melihat ekspresi Devan yang tenang membuatnya semakin yakin kalau ucapan Devan benar adanya.


"Mana mungkin aku berbohong, kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanya langsung ke perawat yang tadi mengantarkan makanan ke sini, aku masih ingat jelas ekspresi malu dan terkejut perawat tersebut saat melihat posisi tidur dan kondisi tubuh kita tadi atau kamu bisa memastikan langsung kepada Raka maupun Sherly"


Devan menikmati wajah merah Renatta akibat perkataannya, dia sangat senang melihat rona merah pada kedua pipi Renatta.


Berusaha menyembunyikan rasa malunya, Renatta dengan segera lari ke arah kamar mandi dengan menutup kedua wajahnya untuk menutup rona merah di pipinya yang semakin memerah akibat tingkat malunya yang tiba - tiba muncul secara berlebihan.


"Hati - hati Re jangan berlari seperti itu, ingat kamu saat ini sedang hamil" Peringat Devan yang merasa khawatir saat melihat Renatta berlari menuju kamar mandi, dia khawatir kalau hal yang tidak di inginkan akan terjadi kepada anak dan juga istrinya karena kecerobohan yang di buat Renatta.


Devan lalu kembali tersenyum saat melihat pintu kamar mandi yang di tutup dengan sedikit kasar oleh Renatta, yang dikatakan Devan semuanya memang benar hanya saat dia sedikit berbohong saat mengatakan kalau tubuh mereka dalam kondisi telanjang padahal dia sudah merapikan semua pakaian mereka saat ada perawat yang masuk tadi.


.


.


.


Rasa penyesalan masih terus menghantuinya hingga saat ini, bahkan terkadang dia berharap semua luka yang dia berikan kepada Karin dan mendiang anaknya itu hanya mimpi tapi pada faktanya dialah yang sudah menjadi penyebab setiap kesedian Karin selama ini.


Bagaimana dia dulu begitu tega mencampakkan gadis sebaik Karin hanya demi menuruti egonya dan juga teman - temannya yang memberinya taruhan konyol seperti ini.


"Sekali lagi maafkan papah nak, gara - gara papah kamu tidak bisa melihat indahnya dunia dan papah harap kamu bisa membantu papah untuk bertemu dengan mamah kamu kembali" Pinta Devan di hadapan makam anaknya.


Tanpa sadar untuk pertama kalinya air matanya menetes mengingat bagaimana jahatnya dia dulu apalagi mengingat anaknya yang harus pergi terlebih dahulu sebelum dia mengetahui keberadaannya.


Dia beranjak dari makam anaknya, tidak sengaja dia melihat Karin yang berjalan tergesa saat melihatnya dirinya ada di makam anak mereka.


"Karin tunggu" Nicholas mengejar Karin yang sudah berlari sedikit jauh darinya.


Nicholas membalik tubuh Karin lalu memeluknya erat "Maaf, maafkan aku Rin" Ucapnya dengan suara yang hampir menangis.


"Lepas Kak" Cicit Karin yang merasa sedikit sesak pada dadanya karena pelukkan erat dari Nicholas.

__ADS_1


"Maaf" Hanya itu yang dari tadi di ucapkan Nicholas, rasa bersalahnya semakin besar saat melihat Karin.


Kemudian Karin merasakan bajunya basah lalu terdengar isakkan lirih dan tubuh Nicholas yang bergetar akibat tangisan.


Karin langsung mengurungkan niatnya untuk memaksa Nicholas melepaskan pelukkan tubuhnya dari Karin.


Matanya ikut berkaca - kaca "Pasti sakit kan mengetahui kebenarannya?" Tanyanya "Itu yang aku rasakan saat untuk pertama kalinya aku harus kehilangan dia yang bahkan sudah aku janjikan kebahagiaan jika kelak dia dewasa nanti"


Nicholas semakin mempererat pelukannya, sungguh hatinya saat ini sangat sakit mengetahui semua itu apalagi mendengar ucapan terakhir Karin barusan.


...🍃🍃🍃...


Hallo author come back🏃🏃


Selamat malam, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.


Ini sebenarnya ceritanya sudah nggak ada konflik berat lagi, tinggal kita seleseikan Maslah masalah kecil para tokohnya.


Jadi mungkin part part selanjutnya bakal lebih banyak happy nya di bandingkan dengan sedihnya.


Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.


Semoga semakin suka....


Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen nya ya.....


Kalau ada typo atau kesalahan dalam menulis bisa di tulis di komen...


Happy Reading


.


.


.


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2