Suami Bayaran Renatta

Suami Bayaran Renatta
Mengorbankan Nyawa


__ADS_3

Devan sudah sampai di lokasi yang tadi sempat dikirimkan seseorang lewat ponselnya, dia bisa melihat kalau di depannya ada sebuah bangunan kosong atau lebih tepatnya sebuah gudang kosong yang sudah tidak terpakai.


Dia segera keluar dari mobilnya untuk masuk ke dalam gudang, gelap dan sepi itulah kesan pertama saat dia berhasil memasuki gudang tersebut, tidak lama dia mendengar suara pukulan keras dari lantai atas, dengan cepat dia naik ke lantai atas untuk memastikan suara yang barusan di dengarnya, langkah kakinya semakin pelan ketika dia sudah tidak mendengar suara apapun lagi.


"Zio kamu di mana nak" Teriak Devan berusaha mencari keberadaan Zio.


Seorang perempuan yang mendengar suara teriakan Devan tersenyum senang, pandangannya mengarah ke arah Zio yang sudah terlihat lemas seperti ingin pingsan "Kamu dengarkan, papah kamu sudah ada di sini, yang artinya waktu kematian kamu semakin dekat" Ucapnya dengan seringai di wajahnya.


Zio yang memang sudah dalam kondisi lemah tidak terlalu paham dengan ucapan yang baru saja di katakan perempuan yang menculiknya saat ini "Kalian buka pintunya dan seret Devan ke hadapanku" Suruhnya kepada kedua anak buahnya.


"Baik bos" mereka keluar ruangan seperti perintah atasannya untuk menghampiri Devan dan membawa ke hadapan bos mereka.


Terdengar suara langkah kaki menghampirinya dengan spontan Devan mengambil pistol yang tadi di bawanya untuk berjaga jaga jika ada hal yang tidak di inginkan terjadi, tanpa di duga, dua orang pria di depannya juga mengarahkan pistol kepadanya "Letakkan pistol itu atau anakmu tidak akan pernah selamat" mendengar ancaman dua pria di depannya, Devan berjongkok lalu meletakkan pistol di lantai kemudian mengangkat tangannya ke atas.


"Dimana anakku?" Tanyanya.


"Ikut dengan kami dan jangan mencoba untuk memberontak" Di hampirinya Devan kemudian kedua tangannya di ikat jadi satu ke belakang tubuhnya.


Sebuah pintu terbuka menampakkan seorang perempuan dan juga Zio dengan kondisi yang membuat hati Devan sakit dan merasa sudah gagal menjadi seorang ayah karena tidak bisa melindungi anaknya dengan baik.


Tatapan Devan beralih menatap seseorang yang tertawa sinis ke arahnya " Aku senang sekali akhirnya kita bisa bertemu lagi Dev, aku sangat merindukan kamu"


Devan tampak terkejut melihat siapa orang yang berdiri tidak jauh dari posisi Zio yang terikat tali di atas sebuah kursi "Agnes, bukankah seharusnya kamu berada di penjara, bagaimana bisa kamu sudah bebas?"


Agnes mendekat ke arah Devan dan mengelus pipi Devan dengan penuh sayang "Kamu pasti terkejut karena aku bisa kabur dari penjara kan atau mungkin kamu saat ini senang melihat keberadaan ku sekarang" Devan sangat ingin sekali menepis tangan Agnes yang berada di kedua pipinya tapi tentu saja hal itu tidak bisa di lakukan apalagi kedua tangannya yang sedang terikat.


"Apa yang kamu inginkan Nes, urusan kamu denganku bukan dengan anakku" matanya berkali - kali melirik ke arah Zio yang sedang menatapnya dengan tatapan rasa takut, sungguh Devan tidak tega melihat wajah Zio yang sudah di penuhi lebam bahkan sudut bibirnya terdapat bekas darah yang sudah mengering.


"Justru itu karena aku tahu dia anak kamu, aku ingin sekali melenyapkannya, padahal tadi aku berniat untuk menculik istri kamu juga tapi karena yang saat itu berada di luar anak kamu jadi aku memilih membawanya untuk memancing kedatangan kamu kesini, aku sangat merindukan kamu Dev" Di peluknya Devan dengan perlahan dia mencium pipi Devan tanpa rasa malu, sedangkan Devan merasa jijik dengan apa yang di lakukan Agnes kepadanya, tetapi dia tidak bisa melakukan apapun, dia takut kalau sampai dia tidak sengaja menyinggung perasaan Agnes itu akan membuat Agnes melakukan hal nekat kepada Zio.


"Bukankah yang kamu inginkan aku kan, jadi aku mohon kamu lepaskan Zio dan kita bicarakan semuanya baik - baik, oke" Devan berusaha membujuk Agnes agar mau menuruti perkataanya.

__ADS_1


Agnes menggelengkan kepalanya pelan, tanpa di duga Agnes menjatuhkan air matanya "Kamu dulu juga berjanji untuk menikahi ku Dev, tapi apa yang aku dapatkan justru pengkhianatan dari kamu, dengan teganya kamu mempermalukan aku di depan semua orang dan memasukkanku ke dalam penjara" Ucapnya dengan histeris lalu dengan tiba - tiba dia mengusap air matanya lalu tertawa dengan keras "Ah tapi aku punya satu penawaran buat kamu" Ucapannya berhenti, dia menatap kedua anak buahnya "Keluarlah kalian dari sini, dan berjagalah di luar jangan sampai ada orang yang masuk ke dalam ruangan ini"


Kedua anak buah suruhan Agnes keluar meninggalkan Agnes, Devan dan Zio di dalam ruangan.


"Katakan apa yang kamu inginkan"


Agnes menjauh dari Devan kemudian mendekat ke arah Zio dan mengarahkan sebuah pistol tepat di samping kepala Zio "Aku hanya ingin kamu menceraikan Renatta dan membebaskan ku dari penjara lalu kamu harus menjadikan aku istri sah kamu Dev" Seringainya, dia semakin mendekatkan pistol kepada Zio "Dan satu lagi aku ingin kita melakukan s*x di sini, di saksikan oleh anak tersayang kamu" Ucapnya yang sudah melepas kancing bagian atas tubuhnya.


Devan menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan permintaan yang baru saja di lontarkan Agnes kepadanya "Apa kamu sudah gila, HAH" Teriak Devan kepada Agnes yang di balas tawa sumbang Agnes.


Devan berjalan lebih dekat dengan Agnes dan berusaha melepaskan ikatan tali di tangannya.


"Kalau kamu berjalan semakin mendekat ke arah sini, akan aku pastikan anak kamu mati di hadapan kamu sekarang juga" Ancamnya yang seketika menghentikan langkah Devan.


Karena dia tidak punya pilihan lain lagi Devan terpaksa menyetujui permintaan Agnes untuk keselamatan anaknya "Oke, aku akan menuruti permintaan kamu" Jawabnya final yang membuat senyum lebar di bibir Agnes


Dia berjalan ke arah Devan, dengan perlahan dia membuah kancing kemeja Devan sesekali dia berusaha menggoda Devan, sedangkan Devan memejamkan matanya, dalam hatinya berkali - kali dia meminta maaf kepada Renatta dan kedua anaknya karena sudah melakukan hal ini, matanya terbuka untuk melihat Zio yang juga sedang menatapnya dengan mata sayunya.


"Agnes" Ucap Renatta terkejut


Agnes tersenyum sinis ke arah Renatta "Terkejut, hah?"


Renatta berjalan pelan menghampiri Agnes dan Devan "Jangan mendekat"


"Nes, apa yang sudah kamu lakukan, kenapa kamu melakukan semua ini?" Tanya Renatta


"DIAM" Teriak Agnes yang sudah mulai tidak bisa mengontrol emosinya.


Agnes menekan pistol yang mengarah ke arah Renatta lalu tidak lama terdengar bunyi tembakan keras.


DORR.... DORR.....

__ADS_1


Ditekannya pistolnya dua kali ke arah Renatta "Akhh" Teriak Renatta menutup matanya.


Melihat siapa yang di tembaknya seketika membuat tangan Agnes bergetar.


Renatta tersadar kalau tidak ada rasa sakit di tubuhnya, saat membuka matanya dia justru melihat tubuh Devan sudah ambruk di depannya dengan luka tembak di kepala dan darah yang sudah memenuhi lantai.


"Dev" lirihnya dengan nada bergetar melihat kondisi Devan yang sudah berlumuran darah.


...🍃🍃🍃...


Hallo author come back🏃🏃


Selamat malam, semoga kalian semua nggak bosen dengan alur ceritanya.


Terima kasih masih setia membaca cerita Suami Bayaran Renatta.


Semoga semakin suka....


Kalau Suka dengan ceritanya bisa like, vote dan komen nya ya.....


Kalau ada typo atau kesalahan dalam menulis bisa di tulis di komen...


Happy Reading


.


.


.


To Be Continue

__ADS_1


__ADS_2