
Setelah menyampaikan sambutannya tadi, Sherly langsung turun dari panggung dan menuju area belakang tempat acara di adakan untuk menghindari keberadaan Raka tetapi usahanya sia - sia karena sejak tadi Raka sudah mengikuti kemana Sherly pergi.
Melihat kedatangan Raka yang berjalan menghampirinya, membuat Sherly ingin berlari pergi, tetapi tangannya terlebih dahulu di cekal oleh Raka.
"Jangan berlari lagi Sher, kita perlu bicara"
"Lepas Ka, sudah berapa kali aku katakan kalau tidak ada yang perlu kita dibicarakan lagi, semuanya sudah berkahir" Ucap Sherly dengan nada yang mulai meninggi, dia berusaha melepaskan tangan Raka.
"Tidak, masih banyak hal yang harus kita bahas dan seleseikan" Ucap Raka yang menarik tangan Sherly menuju tempat parkir dimana mobilnya berada.
"Kamu mau membawaku kemana, HAH" Ucapnya yang diliputi rasa panik dan amarah.
"Ikut denganku dan kita bicarakan semuanya, jangan buat aku melakukan hal yang tidak akan kamu sukai"
"Kalau kamu tetap memaksaku, aku akan teriak" Sherly masih berusaha untuk kabur dari genggaman Raka saat ini.
"Berteriaklah, dan semua orang akan tahu hubungan apa yang sudah pernah kita lakukan dulu" Ancam Raka kepada Sherly.
Mendengar ancaman Raka, akhirnya Sherly menuruti perkataan Raka untuk masuk ke dalam mobil.
Selama beberapa menit terjadi keheningan di dalam mobil, hingga ucapan Raka yang terlontar dari mulutnya memecah keheningan tersebut.
"Maaf" Ucap Raka pelan.
Sherly terkekeh kecil "Kamu sudah pernah mengatakannya dan aku sudah memaafkan kan kamu" Ucapnya "Kalau hanya itu yang ingin kamu katakan, aku akan pergi" lanjutnya.
Ketika Sherly akan turun dari mobil, Raka menghentikannya dengan mengunci mobilnya secara otomatis.
"Ka, apa yang kamu lakukan" Sherly berusaha membuka pintu mobil tapi tetap tidak bisa "Cepat buka pintunya" Ucap Sherly beralih menatap Raka.
"Tidak akan, sebelum kamu mendengarkan semua penjelasanku" Raka beralih menatap Sherly dengan mata yang terlihat putus asa.
"Jujur, aku menyesal Sher, aku masih berharap kamu mempertahankannya, dan aku sudah katakan kalau bukan aku yang menyuruh kamu untuk menggugurkan kandunganmu, aku tidak akan Setega itu untuk membunuh darah dagingku sendiri " Ucapnya lirih.
Raka mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan membuka sebuah file gambar kemudian memberikannya kepada Sherly.
"Sebelum meninggal Tania sempat menulis permintaan maafnya ke kamu, aku sengaja memfoto isi surat itu agar ketika aku tidak sengaja bertemu denganmu, kamu bisa membacanya karena aku tidak mungkin membawa surat itu kemanapun aku pergi"
Sherly menerima ponsel yang di berikan Raka dan membaca isi dari surat yang di tulis Tania untuknya.
^^^Dear Kak Sherly...^^^
Kak, aku minta maaf sudah merusak hubungan kalian....
__ADS_1
Kak Raka tidak bersalah atas semuanya, aku yang sudah mengirim pesan itu ke kakak, sekali lagi aku minta maaf, aku berharap kakak tidak benar - benar menggugurkan anak kalian...
Aku sekarang sadar kalau sampai kapanpun, aku tidak akan bisa menggantikan posisi Kak Sherly di hati Kak Raka....
Bahkan ketika kakak pergi, Kak Raka masih setia menunggu kedatangan Kak Sherly kembali
Di situ aku merasa sudah kalah sebelum aku bisa masuk ke hati Kak Raka bahkan setelah kepergian kakak, sikap Kak Raka Kepadaku menjadi lebih dingin....
Tetapi setidaknya aku bersyukur di saat terakhirku Kak Raka masih mau memaafkan ku dan menemaniku...
Itu saja yang ingin aku tuliskan untuk Kak Sherly, semoga Kak Sherly dan Kak Raka selalu bahagia...
^^^Tania^^^
Sherly mengembalikan ponsel Raka kembali, setelah membaca surat dari Tania, sekarang dia mulai bingung sikap apa yang harus dia ambil, di sisi lain dia ingin memaafkan Raka, tetapi sisi lain di dirinya menginginkan dia tetap membenci Raka karena bagaimanapun Raka sudah membohonginya dan bahkan dulu Raka tidak mau menjelaskan apa yang sudah terjadi dan lebih memilih kesalahpahaman ini berlanjut hingga sekarang, andai dia menjelaskannya dan mau mengangkat setiap panggilannya atau paling tidak dia mau mengatakan yang sejujurnya tentu hal ini tidak akan terjadi.
"Sher" Panggil Raka yang saat ini sudah menggenggam tangannya.
Dia melepaskan tangannya dari tangan Raka "Beri aku waktu dan biarkan aku memikirkan semuanya" Ucapnya.
Raka menghela nafasnya kemudian membuka kunci mobilnya, Sherly yang mengetahui kalau pintu mobil sudah tidak terkunci segera turun dari mobil.
Raka ikut turun dari mobil dan memeluk tubuh Sherly dari belakang "Bisakah kita memulainya semua dari awal" Ucap Raka yang sudah menenggelamkan wajahnya di cerukkan leher Sherly.
.
.
.
Acara sudah akan selesei tetapi dia belum melihat keberadaan Sherly, tadi kakaknya juga sempat pamit pulang terlebih dahulu kepada Renatta.
Tidak lama kemudian bunyi pesan masuk dari ponselnya, ternyata itu pesan dari Sherly yang meminta maaf kalau dia tidak bisa mengantarkan Renatta pulang karen ada kepentingan mendadak.
Renatta mendumel pelan setelah membaca pesan dari Sherly, hal itu membuat Axel yang masih berada satu meja dengan Renatta merasa penasaran.
"Kamu kenapa, apa terjadi sesuatu?" Tanya Axel kepada Renatta.
"Ah,itu tadi temanku yang datang bersamaku tidak bisa mengantarku pulang jadi aku akan memesan taksi online" Ucap Renatta kepada Axel.
"Kamu tidak perlu naik taksi, biarkan aku yang mengantarmu pulang, lagian ini juga sudah cukup larut malam" Axel menawarkan dirinya untuk mengantarkan pulang Renatta.
"Apa itu tidak merepotkan Kak Axel?" Tanyanya.
__ADS_1
"Tentu saja tidak" Jawab Raka yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Baiklah kalau begitu kak"
Renatta berjalan mengikuti Raka dibelakangnya, ketika dia akan masuk ke mobil milik Axel, tiba - tiba pintu mobil Axel di tutup kembali oleh seseorang.
"Aku yang akan mengantar Renatta" Ucap Devan yang saat ini sudah menggenggam tangan Renatta.
"Ayo" Ucap Devan yang menarik tangan Renatta menjauh dari mobil Axel, tetapi langkahnya di cegah oleh Axel.
"Kamu tidak bisa memaksa seorang wanita untuk ikut denganmu seperti itu Dev" Ucap Axel yang berusaha melepaskan genggaman tangan Renatta.
"Lepas Dev, aku akan pulang bersama Kak Axel" Ucap Renatta yang merasakan sakit di pergelangan tangannya akibat genggaman tangan Devan yang terlalu erat.
"Kamu dengar sendiri kan, apa yang di katakan Renatta, jadi lepaskan dia" Ujar Axel yang tidak di gubris oleh Devan.
Devan menatap Axel tajam "Apa kamu kira aku tidak tahu, tatapan seperti apa yang kamu berikan kepada Renatta" Tekan Devan pada setiap perkataannya.
Axel membalas tatapan Devan dengan tenang "Aku hanya ingin mengantarkan Renatta pulang, apa itu salah?" Tanya Axel "Lagian Renatta juga lebih memilih di antar pulang olehku daripada denganmu" Lanjutnya
"Brengsek" Devan melepaskan genggaman tangannya pada Renatta kemudian mencengkram kerah baju Axel.
"Jangan kira selama ini aku tidak tahu perasaan seperti apa yang kamu rasakan kepada Renatta, itu bukan hanya perasaan sayang seorang kakak ke adiknya tetapi itu perasaaan sayang seorang pria kepada wanita" Ucap Devan kemudian melepas cengkraman tangannya di kerah baju Axel dan menyeret Renatta kembali untuk ikut dengannya.
Renatta terkejut mendengar perkataan yang baru saja di katakan oleh Devan, apa benar yang dimaksud Devan kalau selama ini Kak Axel menyukainya.
Sebelum masuk ke mobil Devan, Renatta sempat menoleh sekilas ke arah Axel yang masih berdiri memandang kepergiannya, dia melihat senyum kecil muncul dari bibir Axel.
...🍃🍃🍃...
Yuhuuu author balik lagi nihh🥳🥳🥳
Semoga makin suka dengan ceritanya......
Next Next ada kejadian apa ya di apartemen Devan dan apa yang akan terjadi selanjutnya dengan Raka dan Sherly🤔🤔
Happy Reading.......
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue